
"Apa-apaan lo, Ta. Turunin gue sekarang juga!"
Fitria terus memberontak sepanjang langkah Agatha menggendong Fitria, namun tidak diperdulikan oleh laki-laki
tampan itu.
"Agatha, apa lo tuli? Gue bilang turunin gue sekarang!" Kata Fitria kembali saat Agatha tak menanggapi ucapannya.
Sesaat Agatha menghentikan langkahnya sejenak dan menatap tajam ke arah Fitria yang masih dalam gendongannya saat ini.
"Kenapa sih lo berisik banget? Apa nggak bisa diam sebentar?" Tanya Agatha kesal dengan semua protes yang Fitria lemparkan kepadanya.
"Lagian ngapain lo gendong gue tiba-tiba?" Tanya Fitria balik.
"Apa lo nggak lihat kalau kaki lo itu sakit? Dan gue hanya berniat membantu, agar lo nggak kesulitan jalan,"
"Gue nggak perlu bantuan lo, gue bisa jalan sendiri." Ujar Fitria membuat Agatha menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Oke." Ucap Agatha lalu melepaskan gendongannya begitu saja.
BRUK.
"Awww... Kenapa lo malah menjatuhkan gue sih, Ta? Sakit tau nggak!" Ucap Fitria kesal ketika tubuhnya di jatuhkan oleh Agatha di pasir pantai.
"Loh, bukannya tadi lo yang memintanya?" Tanya Agatha tanpa merasa bersalah.
"Iya, tapi bukan berarti lo harus menjatuhkan tubuh gue seperti ini juga!"
Di sela-sela perdebatan keduanya, tiba-tiba saja seorang wanita datang menghampiri Agatha dan Fitria.
"Tuan, Nona, apa yang terjadi?" Tanya Dona ketika melihat Fitria tengah duduk di atas pasir.
"Bantu dia untuk bangun, dan ayo kita mulai pemotretannya sekarang juga." Ucap Agatha dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, lalu berjalan meninggalkan Fitria bersama Dona.
Melihat Agatha yang meninggalkan dirinya begitu saja, lantas Fitria pun mengambil
segenggam pasir pantai itu dengan menggunakan tangannya, dan dilemparkan ke arah Agatha yang saat itu baru berjalan beberapa langkah.
"Arrrggghh... Dasar menyebalkan" Teriak Fitria saat lemparannya tidak berhasil mengenai Agatha.
Sedangkan Agatha terus melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Fitria sedikit pun hingga sampai di mana Alex dan yang lainnya berada, lalu di susul oleh
Fitria dan Dona setelahnya.
Setelah Agatha dan Fitria sudah berada di sana, keduanya pun langsung di arahkan ke bibir pantai untuk mulai melakukan pemotretan hingga selesai.
***
Semenjak kejadian di mana Safira mengalami syok pada saat itu, Daffa memutuskan untuk belkerja dari rumah karena Daffa terlalu mencemaskan istrinya, Daffa khawatir jika terjadi sesuatu kembali
dengan Safira dan bisa membahayakan janinnya.
Terdengar berlebihan memang, tetapi itulah
__ADS_1
yang Daffa rasakan. Namun bukan hanya itu saja, Daffa juga sebenarnya memang tidak bisa jika dirinya berjauhan dengan Safira. Seperti memiliki magnet tersendiri, Daffa selalu ingin berdampingan dengan
Safira tanpa mengenal waktu.
Meskipun Daffa saat ini mengerjakan pekerjaannya dari rumah, tetap saja Daffa selalu meminta agar Safira selalu menemaninya selama dia bekerja. Meskipun Safira hanya diam tanpa mengatakan apa pun, asalkan berada di sisinya, itu tidak masalah bagi Daffa.
Di sela-sela Daffa yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja yang berada di rumahnya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar di telinga Daffa dan Safira, membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke asal sumber suara.
"Biar aku saja yang membukanya, Mas." Ucap Safira saat Daffa hendak bangkit dari posisi duduknya saat ini.
"Baiklah." Sahut Daffa menatap kepergian Safira yang tengah berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
"Maaf mengganggu waktunya, Nona. Ini ada undangan untuk Tuan dan Nona." Ucap wanita paruh baya ketika Safira telah membuka pintu, dan langsung memberikan undangan berwarna merah muda kepada istri dari majikannya itu.
Safira pun meraih undangan berwarna merah muda itu dari tangan wanita paruh baya yang baru saja memberikan kepadanya. Betapa mengejutkannya saat Safira melihat nama yang tertera di sana, Safira pun menatap undangan itu penuh bahagia.
"Terimakasih banyak, Bi." Ucap Safira kepada asisten rumah tangganya itu.
"Iya Nona, sama-sama. Kalau begitu Bibi permisi dulu." Pungkasnya lalu pergi dari hadapan Safira.
Setelah itu, Safira pun menutup pintunya kembali dan berjalan ke arah Daffa dengan langkah setengah berlari karena tidak sabar ingin segera memberitahu kepada Daffa mengenai undangan itu.
"Sayang pelan-pelan jalannya, nanti kamu bisa jatuh." Ucap Daffa cemas hingga berdiri dari posisinya saat ini.
"Lihat, Mas." Kata Safira ketika sudah berada di hadapan Daffa, dan langsung memberikan undangan berwarna merah muda itu kepadanya.
"Lain kali kalau jalan jangan seperti itu ya, sayang. Sungguh, aku sangat takut jika kamu sampai jatuh." Ujar Daffa seraya meraih undangan dari tangan Safira.
"Kemarilah," Titah Daffa menarik lembut tangan Safira agar duduk di pangkuannya.
"Rupanya Fitria sudah menyebarkan undangannya." Lanjut Daffa kembali saat membaca undangan itu.
"Hmm," Gumam Safira seraya menganggukkan kepalanya pelan.
Saat Safira ikut membaca undangan itu dari tangan Daffa, Safira tiba-tiba saja kembali teringat dengan permintaan Fitria tempo hari, yang Safira saja sampai lupa dengan permintaan teman baiknya itu.
Sesaat Safira pun langsung menoleh ke arah Daffa.
"Ada apa sayang?" Tanya Daffa menaruh undangan itu di atas meja, lalu mengubah posisi duduk Safira agar menghadap ke arahnya.
"Mmm.."
"Ada apa sayang? Katakanlah, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Daffa kembali saat Safira tidak menjawab pertanyaannya.
"Begini, Mas--" Jawab Safira sengaja menggantungkan ucapannya, dan mengirup napasnya dalam.
"Katakanlah, jangan membuatku penasaran."
"Mengenai babymoon kita.. Bagaiman jika kita pergi bersama dengan honeymoon Fitria dan Agatha, Mas?" Tanya Safira ragu-ragu, khawatir Daffa akan menolak
permintaannya.
__ADS_1
Karena Safira sangat tahu jika Daffa tidak suka jika waktu bersama dirinya diganggu oleh siapa pun. Daffa bergeming sesaat setelah mendengar pertanyaan dari Safira,
tidak ada jawaban apa pun dari mulut
laki-laki itu.
"Bagaimana, Mas?" Tanya Safira kembali.
"Kenapa kita harus pergi bersama mereka?" Tanya Daffa kembali membutuhkan alasan.
"Fitria memintaku agar nanti pergi bersama, Mas. Sampai dia memohon kepadaku. Aku sungguh merasa tidak enak jika menolak ajakannya." Jawab Safira
memaparkan.
"Aku mengerti, kamu tenang saja sayang. Biar aku sendiri yang akan mengurusnya." Ucap Daffa mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Jadi bagaimana, Mas? Kita akan pergi bersama mereka, 'kan?" Tanya Safira penasaran dengan jawaban Daffa.
"Iya sayang, bila perlu aku yang akan membelikan tiketnya dan menyediakan penginapan untuk mereka selama honeymoon nanti." Jawab Daffa yang disambut senyuman oleh Safira.
"Terimakasih banyak, Mas." Ucap Safira memeluk Daffa erat.
***
Hari pernikahan Agatha dan Fitria pun telah tiba, pernikahan yang di lakukan secara meriah itu di lakukan di salah satu hotel mewah di Jakarta.
Dengan menggunakan ball gown wedding dress berwarna putih yang terbuat dari lace and fur, membuat Fitria tampak begitu berkelas dan anggun secara bersamaan di hari pernikahannya.
Sedangkan Agatha yang saat ini menggunakan pakaian tuxedo berwarna hitam terlihat begitu sangat maskulin dan menawan, siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa kagum dengan penampilan
laki-laki itu.
Fitria yang saat itu tengah berdiri di pelaminan bersama Agatha nampak begitu gugup ketika melihat begitu banyak tamu yang datang ke acara pernikahannya.
Namun tidak dengan Agatha, yang begitu terlihat santai tidak ada sedikit pun raut
wajah gugup yang bertengger di sana.
"Apa yang lo lakukan?" Tanya Agatha dengan wajah yang melihat ke arah depan tanpa menoleh ke arah Fitria sedikit pun.
"G-gue gugup, Ta." Jawab Fitria terbata-bata.
Sesaat Agatha melihat ke arahbwanita yang saat ini sudah menjadi istrinya, dan langsung meraih tangan Fitria lalu menggenggamnya erat.
Mendapati perlakuan seperti itu, Fitria yang semula terus menundukkan kepalanya, pun
langsung mengangkat wajahnya dan
menatap lekat Agatha dari sanmping
tanpa mengatakan apa pun.
"Kenapa?" Tanya Agatha ikut menatapnya lekat, hingga netra mereka saling bertemu.
__ADS_1
"Euh? Nggak." Jawab Fitria langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.