Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
127. Berlibur Ke Jepang


__ADS_3

Setelah kemarin Agatha dan Fitria, Daffa berangkatkan honeymoon ke Maldives. Kini giliran Daffa dan Safira yang akan melakukan perjalanan babymoon mereka ke negara sakura, sekaligus untuk menikmati musim semi di sana.


Saat keduanya tengah berada di dalam pesawat menuju Jepang, Safira tertidur pulas dengan tangan yang terus Daffa usap lembut, sesekali Daffa pun mencium tangan Safira.


Sepanjang Safira tidur, Daffa tidak henti-hentinya menatap istrinya itu. Meskipun hanya mata Safira saja yang bisa Dafa lihat, tetapi bagi Daffa apa yang ada di diri Safira sungguh candu baginya.


Daffa pun ikut terlelap menyusul Safira yang sedari tadi sudah tidur lebih dulu.


Saat Safira terbangun dari tidurnya, Safira melihat ke arah Daffa yang tengah tertidur dengan menggenggam erat tangannya.


"Masyaallah, tampan sekali suamiku ini." Puji Safira seraya mengusap lembut rambut Daffa.


Tidak lama, Daffa pun terbangun saat pesawat sebentar lagi akan landing.


Setelah pesawat sudah landing di bandara, para penumpang pun mulai berhamburan untuk keluar dari pesawat itu, begitu juga dengan Daffa dan Safira.


Saat keduanya sudah keluar dari bandara, kini Daffa dan Safira pun bergegas menuju hotel yang sudah Daffa pesan sebelum keberangkatan keduanya ke negara sakura dengan menaiki taksi.


Sepanjang perjalanan, Safira terus saja dibuat kagum dengan keindaban bunga sakura yang mulai bermekaran di sepanjang jalan.


"Maha suci Allah yang telah menciptakan keindahan." Gumam Safira berdecak kagum melihat pemandangan yang begitu


memanjakan matanya dari balik kaca


jendela.


"Apakah kamu menyukainya, sayang?" Tanya Daffa ikut melihat pemandangan yang menghiasi sepanjang jalan itu.


"Hmm... Aku sangat menyukainya, Mas. Terimakasih banyak telah membawaku kemari." Ucap Safira menatap Daffa penuh


bahagia.


"lya sayang, sama-sama. Jika kamu menyukai negara ini, aku bisa membeli rumah di sini untukmu. Jadi, jika kamu merindukan suasana di jepang, kamu bisa bebas kemari kapan pun kau mau. Aku pasti akan membawamu kemari, ke rumah kita." Ujar Daffa.


"Nggak perlu, Mas. Itu berlebihan. Oh iya, bagaimana kabar Agatha dan Fitria di sana, ya? Dari semenjak keberangkatan mereka,


Fitria belum memberiku kabar."


"Aku rasa mereka sedang sibuk menikmati waktu bulan madunya, sayang." Sahut Daffa yang langsung dimengerti oleh Safira.


"Hmm, benar juga apa yang Mas Daffa katakan." Ucap Safira membenarkan.


Tidak terasa taksi yang ditumpangi Daffa dan Safira pun telah sampai di sebuah hotel mewah yang berada di Tokyo.


Keduanya pun bergegas turun setelah Daffa membayar biaya transportasi kepada sopir taksi, dan sung masuk ke dalam hotel


langsung tersebut.

__ADS_1


Setelah Daffa selesai melakukan check in, keduanya pun mulai masuk ke dalam kamar. Safira mengedarkan pandangannya ke sembarang arah ketika dirinya dibuat kagum kembali dengan desain kamar hotel yang akan Daffa dan Safira tempati untuk


beberapa hari ke depan yang begitu luxury namun tetap kental dengan nuansa Jepang.


"Bagaimana, sayang? Apakah kamu nyaman dengan hotel ini?" Tanya Daffa yang langsung disambut anggukkan kepala oleh Safira.


"Udara di Jepang benar-benar sangat dingin ya sayang, apa karena saat ini masih musim semi, ya?" Tanya Daffa seraya mengatupkan kedua tangannya dan menggosok-gosokkan agar terasa


hangat.


"Iya, Mas. Lihat saja di sepanjang jalan tadi, banyak sekali bunga sakura yang mulai bermekaran. Dan biasanya bunga sakura itu hanya mekar satu tahun sekali, itupun hanya ada di musim semi." Jawab Safira


memaparkan.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Daffa kembali.


"Aku memang gemar mencari tahu banyak hal hehehe." Ujar Safira terkekeh kecil.


"Dingin sekali ya, sayang." Ucap Daffa menatap Safira.


"Iya, Mas." Sahut Safira apa adanya.


Kemudian, Daffa menaikkan kedua alisnya dengan menatap Safira lekat.


"Kenapa, Mas?" Tanya Safira ketika tidak menangkap maksud dari isyarat yang Daffa berikan.


Daffa melangkah mendekat ke arah Safira dan memeluknya dari belakang.


"Baiklah, aku akan mengambil handuk dan baju ganti kita dulu."


Safira pun langsung berjalan ke arah koper miliknya dan Daffa berada. Sedangkan Daffa memilih duduk di sofa dengan netra yang terus menatap Safira tanpa henti.


***


Sesuai ajakan Agatha semalam, siang ini Fitria pun melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Dengan telatennya Agatha terus mengurus Fitria. Bukan itu saja,


Agatha begitu setia menemaninya selama melakukan berbagai macam rangkaian pemeriksaan, hingga pemasangan gips pada salah satu kaki Fitria yang terdapat cedera di sana.


"Gue nggak menyangka, hanya karena terpeleset di kamar mandi saja kaki gue sampai berujung seperti ini." Ucap Fitria yang baru saja keluar dari ruang tindakan dengan menggunakan kursi roda yang Agatha dorong dari belakang.


"Ini nggak akan lama kok, hanya beberapa bulan saja." Sahut Agatha.


"Hmm... Maafin gue ya, Ta. Karena kaki gue, honeymoon kita jadi berantakan," Gumam Fitria yang masih terdengar di telinga Agatha.


"Nggak masalah, lagi pula kita bisa mengulang honeymoon kita lagi saat kaki lo sudah sembuh, dan, honeymoon ataupun tidak, kita akan terus satu atap, 'kan?" Kata Agatha membuat jantung Fitria berdebar


mendengarnya.

__ADS_1


"Oh iya, setelah ini kita akan jalan-jalan kemana?" Tanya Fitria mengalihkan topik pembicaraan agar suasana tidak canggung.


"Kita akan kembali ke hotel. Karena kondisi kaki lo sedang cedera, lebih baik jika lo banyak istirahat." Jawab Agatha yang masih mendorong kursi roda itu.


"Sorry ya, Ta. Lo jadi ikut menanggung susahnya. Coba saja kaki gue nggak kayak gini. Mungkin ki-ta, tidak, maksud gue, lo bisa menikmati liburan selama di Maldives." Ucap Fitria merasa tidak enak, namun tidak diperdulikan oleh Agatha.


Saat Agatha sudah berada di depan rumah sakit, Agatha menghentikan taksi untuk membawa dirinya dan Fitria kembali ke hotel.


Setelah Agatha sudah membantu Fitria masuk ke dalam taksi, Agatha pun mengembalikan kursi roda yang baru saja Fitria naiki.


Saat Agatha sudah masuk ke dalam talksi, mobil yang ditumpanginya itu, pun langsung melaju membelah jalan raya.


Hanya memakan waktu selama lima belas menit, taksi yang ditumpangi keduan


ya pun sudah sampai di hotel. Agatha pun mulai keluar dari taksi itu dengan menggendong Fitria, namun bukannya Agatha masuk ke dalam hotel, Agatha justru memilih mampir di pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari hotel itu.


Agatha terus menggendong Fitria hingga langkahnya terhenti di tepi pantai. Namun jaraknya tidak begitu dekat, sehingga, jika ada sapuan ombak datang tidak sampai mengenai Fitria.


Dengan hati-hati Agatha mendudukkan Fitria di atas pasir pantai berwarna putih itu.


"Tunggu di sini sebentar, ya." Kata Agatha sebelum pergi meninggalkan Fitria.


Fitria mengangguk mengerti. Agatha pun berjalan ke arah pedagang yang berada di sekitaran pantai itu, entah apa yang alkan


Agatha beli, Fitria hanya mengamatinya dari kejauhan.


Hembusan angin laut yang begitu mendamaikan hati siapa pun yang berada di sana, termasuk dengan Fitria. Membuatnya yang semula tengah memperhatikan Agatha, kini beralih menatap ke arah laut berwarna biru yang begitu memanjakan matanya.


Desiran ombak yang damai seperti berhasil membuat Fitria terhanyut dalam lamunannya. Tiba-tiba, sosok laki-laki tampan yang sudah dua hari ini telah sedikit mencuri perhatiannya berdiri di


hadapannya dengan membawa dua buah kelapa muda, beserta satu botol cairan berwarna merah muda dengan tutup botol berbentuk lumba-lumba di tangannya.


"Ini, minumlah." Kata Agatha setelah meletakan kedua buah kelapa muda itu di sisi Fitria saat ini.


Kemudian setelah itu, Agatha langsung menarik gagang lumba-lumba dari botol dan mulai Senyuman Fitria seketika mengembang, saat melihat banyak


gelembung yang terbang di udara dari


hasil tiupan Agatha itu.


Tanpa Fitria sadari, Agatha menatap ke arahnya yang tengah menyaksikan gelembung yang berterbangan di udara.


"Apa lo menyukainya?" Tanya Agatha terus menatap Fitria tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Gue menyukainya, terimakasih banyak, ya." Jawab Fitria ikut menatap Agatha, hingga keduanya terhanyut oleh tatapan yang saling beradu itu.


"Sama-sama." Ucap Agatha, meniup gelembung itu kembali.

__ADS_1


"Gue nggak menyangka, hal sederhana seperti ini ternyata bisa membuat hati bahagia." Gumam Fitria dalam hati seraya menatap Agatha dan gelembung yang


beterbangan secara bergantian.


__ADS_2