
"Bagaimana jika kita mandi bersama sekarang, hmm?" Bisik Daffa kembali membuat wajah Safira merah padam.
Sesaat, Safira langsung mendorong tubuh Daffa dan kembali membuka lemari pakaiannya.
Sedangkan Daffa yang tidak ingin jauh dari tubuh istrinya, pun langsung memeluk Safira dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di perut yang sudah sedikit membuncit itu.
"Sayang." Ucap Daffa dengan menyandarkan dagunya di pundak
Safira.
"Hmm." Sahut Safira bergumam.
"Kita mandi bersama, ya?" Tanya Daffa yang tidak mendapatkan jawaban dari Safira.
"Sayang, aku berjanji, kita hanya mandi saja." Ujar Daffa setelah memutar tubuh Safira agar menghadap ke arahnya.
"Benarkah?" Tanya Safira memicingkan matanya tidak percaya.
"Aku berjanji, sungguh. Tapi--" Jawab Daffa menggantungkan ucapannya.
Tanpa mengatakan apa pun, Safira berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Daffa yang masih berdiri di depan lemari. Daffa yang tidak ingin ditinggal Safira begitu saja,
langsung buru-buru menggendong tubuh Safira tanpa permisi dan mendudukkannya di sofa yang tersedia di kamarnya.
"Sudah ku katakan bahwa aku ingin mandi bersama, kenapa kamu malah meninggalkanku, sayang?" Protes Daffa seraya membuka hijab Safira.
"Masya Allah... beruntungnya aku memiliki bidadari sepertimu, sayang. Bukan hanya cantik parasnya saja, tetapi juga hatinya." Puji Daffa yang selalu dibuat terpesona oleh kecantikan Safira.
CUP.
"Kita ke kamar mandi sekarang, ya?" Tanya Daffa setelah mendaratkan ciuman singkat di bibir mungil istrinya itu.
Sedangkan Safira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban setuju.
Setelah Safira menyetujui, Safira langsung berjalan ke kamar mandi dengan diikuti oleh Daffa di belakangnya. Setelah keduanya telah selesai membersihkan diri, Daffa dan Safira keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Namun, saat Safira hendak menggunakan
pakaiannya, Daffa buru-buru mencegahnya dan langsung mengangkat tubuh mungil Safira, kemudian diletakan di atas ranjang dan mengungkungnya.
"Sayang, boleh ya?"Tanya Daffa tiba-tiba membuat Safira malu mendengarnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Safira, Daffa langsung mencium perut Safira yang sudah terlihat sedikit membesar itu.
"Sayang, kamu pasti merindukan Papah, 'kan? Bagaimana jika kita bersenang-senang sebentar?" Tanya Daffa seolah mengajak janin yang ada di dalam perut Safira berbicara.
***
Keesokan harinya, saat Safira dan Daffa akan turun ke bawah untuk sarapan. Terlihat sudah banyak hidangan di meja makan dengan jumlah yang tidak seperti biasanya, bukan hanya itu saja, pagi ini Aida sudah begitu sibuk memberikan
komando kepada seluruh asisten rumah tangga yang ada di rumah Daffa.
"Bi, jangan lupa letakan di sana buahnya, ya." Titah Aida kepada salah satu asisten rumah tangga itu.
__ADS_1
Ketika Aida menangkap keberadaan anak dan menantunya yang baru saja tiba di ruang makan, Aida buru-buru menuntun Safira untuk duduk di salah satu kursi yang
sudah Aida sediakan khusus untuk Safira yang terdapat bantal tambahan yang begitu empukdi sana.
Aida melakukan itu bukan karena kursi
yang berada di rumah Daffa tidak terasa nyaman ketika di duduki. hanya saja Aida ingin Safira merasa lebih nyaman lagi.
Sebelum Safira memulai aktivitas makannya, Aida buru-buru berjalan ke arah dapur.
"Tolong jangan ada yang melakukan aktivitas apa pun selama kami sedang makan, saya tidak ingin kalau sampai menantu saya merasa terganggu dengan suara apa pun." Titah Aida kepada para asisten rumah tangga di sana.
"Baik, Nyonya." Jawab para asisten rumah tangga itu bersamaan.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang bisa menganggu kenyamanan Safira, Aida kembali ke ruang makan dan bergabung bersama anak dan menantunya di sana.
"Mah, apa ini tidak berlebihan?" Tanya Safira yang merasa tidak enak mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa dari Ibu mertuanya.
"Tidak sayang, ini sudah kewajiban Mamah memberikan kenyamanan untukmu, dan juga cucu Mamah."
"Terimakasih banyak, Mah." Ucap Safira.
Betapa beruntungnya Safira mendapatkan keluarga yang begitu menjaga dan mencintainya.
Meskipun awalnya hanya air mata yang Safira dapatkan, namun sekarang keadaan itu berbanding terbalik. Bukan hanya kebahagiaan saja, tetapi juga banyaknya cinta yang Safira dapatkan.
Memang pilihan Allah adalah yang terbaik! Batin Safira.
"Oh iya, Mah. Pagi ini Mamah nggak ada acara, 'kan?" Tanya Daffa di sela-sela aktivitas makannya.
"Nggak ada, memangnya kenapa?"
"Apakah Mamah bisa menjaga Fira dulu di sini? Soalnya aku ada urusan di luar sebentar."
"Tanpa kamu minta pun, Mamah akan terus menjaga Fira. Memangnya kamu ada urusan apa di luar? Bukankah ini hari minggu?" Tanya Aida ingin tahu.
Sesaat Daffa melirik ke arah Safira yang disaksikan oleh Aida. Sedangkan Aida yang menangkap isyarat itu dari putra semata
wayangnya, pun langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Fira, apa kalian tidak ingin melakukan Babymoon?" Tanya Aida kepada Safira.
"Bagaimana jika kita Babymoon ke Maldives saja, sayang? Kebetulan saat honeymoon kita belum sempat ke sana kan?" Tanya Daffa mengusulkan ide.
"Aku akan memikirkannya, Mas." Jawab Safira yang masih mempertimbangkan ke mana dia akan melakukan Babymoon nanti.
Tidak lama, setelah ketiganya telah selesai sarapan. Daffa langsung menyambar kunci mobilnya yang terletak di tempat khusus
penyimpanan berbagai kunci kendaraan yang dimilikinya, dan langsung berjalan menuju halaman setelah berpamitan dengan Safira dan juga Aida.
"Sebenarnya kamu mau kemana sih. Daff?" Tanya Aida yang mengekori Daffa di belakangnya.
__ADS_1
"Aku ingin menemui Kartika di kantor polisi, Mah. Tolong rahasiakan ini dari Fira, ya. Aku tidak ingin Fira mengalami syok lagi karena mendengar nama wanita itu." Jawab Daffa memelankan suaranya agar
tidak di dengar oleh Safira yang saat itu tengah duduk di sofa yang jaraknya belum begitu jauh dari posisi Daffa saat ini.
"Untuk apa kamu menemuinya?" Tanya Aida kembali.
"Aku ingin berbicara kepadanya, Mah. Aku akan buat dia tidak berani macam-macam dengan Fira di kemudian hari." Pungkas Daffa sebelum memasuki mobilnya.
Aida yang belum selesai berbicara dengan Daffa, pun hanya bisa menatap kepergian mobil yang mulai melaju meninggalkan kediaman putra semata wayangnya itu.
Dengan rahang yang mengeras, dan tatapan yang setajam elang. Daffa mengemudikan mobilnya menuju tempat di mana Kartika ditahan.
Saat mobil Daffa sudah sampai tujuan, Daffa langsung turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam. Rasanva Daffa ingin sekali memukul Kartika, jika Kartika
bukanlah seorang wanita.
Saat Daffa tengah menunggu Kartika yang sedang dipanggil oleh petugas, tidak lama, Kartika pun datang dengan memasang wajah senang. Kartika pikir Daffa akan
membantunya keluar dari sana.
"Akhirnya lo datang juga, Daf." Ucap Kartika ketika baru saja duduk.
Tanpa menanggapi ucapan Kartika, Daffa justru terus menatap wanita itu tajam.
"Daff, apakah lo bisa menolong gue agar keluar dari sini?" Tanya Kartika berusaha meraih tangan Daffa hendak menggenggamnya.
"Jangan berani sentuh gue, ******!" Bentak Daffa membuat Kartika dan petugas yang
mendampinginya tersentak kaget mendengarnya.
"Setelah apa yang sudah lo lakukan kepada istri dan calon anak gue, sekarang lo masih bisa meminta agar gue membebaskan lo dari sini? Gue benar-benar gak habis pikir, apa urat malu lo sudah putus?"
"Ok, FINE! Gue minta maa, gue tahu gue salah. Tapi tolong bebaskan gue dari sini, agar gue bisa menebus semua kesalahan gue."
"Hahaha, lo pikir dengan cara minta maaf semua rasa sakit yang Fira rasakan akan hilang begitu saja? NGGAK, TIKA! Bahkan lo saja nyaris melukai calon anak gue!" Ucap Daffa dengan meninggikan nada bicaranya.
"Daff-_"
"Menebus kesalahan, kata lo? Seujung kuku pun gue gak percaya, TIKA!" Sambung Daffa kembali setelah memotong ucapan Kartika.
"Kenapa lo setega ini sama gue, Daff? Kenapa lo nggak pernah memberikan gue kesempatan di hati lo? Apa lo selama ini buta, atau pura-pura nggak tahu kalau gue
menyukai lo sejak dulu!" Kata Kartika meluapkan semua isi hatinya.
"CUKUP TIKA! Akhiri saja obsesi gila lo itu. Sampai kapan pun gue nggak akan menyukai wanita jahat.dan licik kayak lo!"
BRAK!
"Safira Anastasya, ini semua gara-gara lo. Kenapa saat kecelakaan itu lo gak mamp"s saja! Aarrghh..." Teriak Kartika setelah menggebrak meja karena tidak bisa lagi menahan emosinya.
BRAK!
__ADS_1
"Tutup mulut lo, ******! Setelah ini gue pastikan hidup lo, dan juga keluarga lo akan hancur!" Ancam Daffa sebelum meninggalkan Kartika.