
Dipaksa Menikah Bagian 46
Oleh Sept
Rate 18 +
"Sof," panggil Garda dengan lembut sembari membantu Sofi mengeringkan rambutnya.
"Hemm."
Garda berdiri di belakang Sofi yang sedang duduk menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Sambil bicara santai, Garda terus mengerakkan hair dryer agar rambut Sofi cepet kering.
"Makasih, ya?" ucap Garda tulus.
"Makasih apa?" Sofi sedikit malu-malu. Pipinya juga menghangat. Malu karena ingat apa yang baru saja mereka lakukan di dalam kamar mandi barusan. Hingga sekarang suaminya itu membantu mengeringkan rambutnya.
"Terima kasih, karena kamu sudah mau menerima aku," terang Garda. Tangannya sambil menyisir rambut panjang Sofi.
"Oh ... itu ... sama-sama," jawab Sofi dengan canggung. Mereka seperti ABG yang baru jadian. Malu-malu kucing, malu tapi mau.
"Jangan kabur lagi, ya?"
Sofi langsung menoleh ke belakang.
"Apaan sih?" ucap Sofi sambil manyun. Bibirnya mengerucut karena Garda membahas kabur dan kabur lagi.
"Aku serius, seberat apapun nanti masalah kita, aku gak mau kamu pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan aku seperti yang dulu."
SETTT ....
Sofi memutar kursinya. Hingga kini ia berhadapan dengan Garda.
"Itu karena dulu aku gak cinta sama kamu!" terang Sofi dengan ekspresi serius.
Garda manggut-manggut saat mendengar perkataan Sofi. Pria itu kemudian berjongkok, dan menimpali ucapan istrinya itu.
"Jadi sekarang kamu sudah cinta dong sama aku?" tebak Garda dengan penuh percaya diri.
[Astaga pria ini, dia gak mau ungkapin cinta duluan. Malah mojokin aku kaya begini? Gensinya dia!]
__ADS_1
Sofi lantas langsung mendongak, ia menatap mata suaminya lekat-lekat.
"Tebak sendiri saja!"
SETTT ....
Sofi beranjak, ia berdiri dan berniat meninggalkan Garda. Jujur, Sofi malu juga kalau bilang cinta secara terang-terangan. Dia kan cewek, maunya cowoknya yang bucin ke dia. Bukan sebaliknya. Mereka sama-sama gensi ternyata.
"Kebiasaan! Aku bahkan belom selesai bicara."
"Udah kering rambutku, aku mau ganti baju." Sofi berkelit, karena tidak mau bilang cinta duluan.
Melihat Sofi berjalan menuju walk-in closet, Garda terus saja mengekor di belakang istrinya itu.
"Katakan! Kamu cinta kan sama aku, Sof?" paksa Garda seperti anak kecil mau ice cream.
Sofi seolah tidak mendengar rengekan suaminya tersebut. Ia dengan cuek membuka dan memilah pakaian ganti.
"SOFFF!"
"Aku mau ganti baju, mau lihat?" ucap Sofi dengan asal.
"Ya sudah. Ganti aja, aku tunggu."
"Iya, aku keluar. Tapi jawab dulu ... kamu cinta aku, kan?"
Sofi menghela napas dalam-dalam. Kemudian menatap suaminya dengan intense.
"Kalau nggak cinta, mana mau aku hamil anak kamu?"
Mendengar jawaban Sofi, seketika pria berbadan tegap itu langsung merengkuh pinggang Sofi. Ia menengelamkan wajah Sofi dalam dekapan.
"Makasih, Sofi."
Sofi hanya diam, menikmati sensasi hangat dalam pelukan Garda.
"Love you, Sofi. Love you so much!" ucap Garda sembari menghujani kecupann pada wajah, kepala, dan rambut Sofi.
"Iya, tapi aku ganti baju dulu," sela Sofi karena Garda tidak mau melepas pelukannya.
__ADS_1
Sadar, Garda pun melepas pelukannya itu. Dan kembali menempelkan bibirnya. Mengabsen setiap inci bagian Sofi. Sampai Sofi tidak bisa berkata-kata. Suaminya bener-bener bucin parah.
"Ini kapan aku ganti bajunya?" tanya Sofi kembali.
Garda tersenyum mempesona, terlihat sangat tampan. Pria garang dan seperti salju kutub itu terlihat sangat jauh berbeda. Kini terkesan gampang membuat hati Sofi meleleh.
"Gak usah ganti aja, nanti juga dilepas lagi!"
Setttt ...
Garda membopong tubuh Sofi keluar dari walk-in closet.
"Eh, aduh ... turunin!"
Garda terus berjalan, seperti ingin mengganti moment pengantin baru mereka.
***
"Aku hamil, jangan banyak-banyak!"
Garda tersenyum, kemudian memeluk tubuh Sofi.
"Tenang saja, aku juga gak ingin dia kenapa-kenapa. Cuma begini saja, rasanya damai banget!"
Garda sudah terbaring, lengannya tidak mau lepas. Keduanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Ternyata, menikah kalau ada cinta di dalamnya, semua jadi terasa begitu indah.
Sembari tidur bersama, jari jemari Garda tidak bosan membelai rambut Sofi yang ada di bahunya. Hingga wanita itu pun akhirnya kembali lelap. Paling enak memang rebahan ada temennya.
***
Pagi yang cerah, secerah wajah Garda. Bangun tidur pria itu sudah sumringah. Dilihatnya Sofi yang masih tidur, ia pun membelai pelan kemudian turun dari ranjang secara perlahan.
Garda mau mandi, karena harus ke perusahaan pagi-pagi. Dan ketika ia sedang asik mandi. Ponselnya tiba-tiba berdering.
Sofi yang mendengar dering ponsel yang tanpa henti, akhirnya mengerjap dan terbangun, tangannya pun meraba-rabaa mencari sumber suara.
Ia mengerjap, menatap ponsel suaminya.
"Amelia?" gumam Sofi setengah mengantuk. Ia memperjelas pandangan saat melihat nama yang tertera dalam layar smartphone milik Garda.
__ADS_1
BERSAMBUNG