Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
86. Daffa Yang Bucin


__ADS_3

"Argh... Sialan, semuanya jadi kacau!" Jerit Kartika, ketika baru saja masuk ke dalam kamarnya, dengan menjambak rambutnya sendiri.


"Lihat saja, Daff. Pada akhirnya, lo akan menjadi milik gue!" Monolog Kartika dengan menyeringai.


"Friska sudah mendekam di penjara, tinggal menyingkirkan kerikil satu lagi. Maka, lo akan menjadi milik gue Daffa hahaha."


***


Sedari pagi Bagaskara tidak merasa tenang selama di kantor, pikirannya seolah tersita oleh anak, dan menantunya yang dikabarkan akan pulang siang ini.


Sebenarnya Daffa sudah mengatakan bahwa keadaan keduanya baik-baik saja, tetapi Bagaskara tetap tidak tenang sebelum melihat keadaan keduanya secara


langsung.


Mobil Bagaskara baru saja memasuki halaman rumah, Bagaskara pun langsung buru-buru turun dari mobilnya, dan berjalan dengan langkah setengah berlari.


Sedangkan Aida yang berada di teras rumah, mengernyitkan dahinya samar ketika melihat Bagaskara berjalan tidak seperti biasanya.


"Pah, ada apa sih?" Tanya Aida, yang melihat Bagaskara nampak begitu gelisah.


"Mah, apa Daffa dan Fira sudah pulang?" Tanya Bagaskara dengan tidak sabar.


"Udah, siang tadi. Memangnya ada apa?" Jawab Aida dengan kembali bertanya.


"Bagaimana keadaan anak dan menantu kita, Mah? Lalu, apakah cucu kita baik-baik saja?" Tanya Bagaskara kembali, dengan raut wajah cemas.


Tidak sabar menunggu jawaban dari Aida, Bagaskara pun berniat pergi untuk melihat keduanya , agar bisa memastikan bahwa anak dan menantu, serta cucunya yang masih di dalam kandungan baik-baik saja.


"Aduh, Mamah lama sekali jawabnya, katakan kepada Papah di mana mereka saat ini?" Sergah Bagaskara tidak sabar.


"Sabar dong, Pah! Bagaimana Mamah mau menjawabnya, Papah saja tidak memberikan jeda untuk Mamah bicara," Jawab Aida, yang akhirnya berhasil menyela sederet pertanyaan dari Bagaskara.


"Mereka berdua ada di kamarnya, Pah." Sambung Aida kembali.


Tanpa mengatakan apa pun, Bagaskara langsung melanjutkan langkahnya kembali yang sempat terhenti, dan menuju kamar Daffa yang berada di lantai dua, dengan


menaikki anak tangga satu-persatu.


Tok tok tok.


Tidak lama, putra semata wayangnya membukakan pintu.


"Di mana menantu kesayangan Papah?" Tanya Bagaskara, sebelum Daffa mengeluarkan suara.


"Tuh." Jawab Daffa, mengarahkan pandangannya ke arah Safira.


"Apa Papah boleh masuk?"


"Silahkan, tapi jangan lama-lama. Mengganggu saja!" Gerutu Daffa yang sedari tadi merasa terganggu oleh para penghuni rumah itu, yang terus mengetuk pintu kamarnya.


"Fira, bagaimana kondisimu, Nak? Apa ada yang terluka?" Tanya Bagaskara kepada Safira, ketika sudah masuk ke dalam kamar Daffa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, tidak ada yang terluka Pah. Kata Dokter Kayla hanya butuh istirahat saja." Jawab Safira.


"Lalu, bagaimana dengan cucu Papah? Apakah baik-baik saja?" Tanya Bagaskara kembali.


"Tenang saja, Pah. Cucu Papah baik-baik saja." Saut Daffa, yang sudah memasang wajah malas.


Mendengar itupun, Bagaskara langsung menghela napasnya lega.


"Syukurlah, Papah jadi tenang sekarang."


"Sudah 'kan, Pah?" Tanya Daffa.


Mendapati pertanyaan ambigu dari putra semata wayangnya, Bagaskara lantas hanya mengerutkan keningnya samar, sebagai isyarat, bahwa dia tidak mengerti maksud pertanyaan Daffa tadi.


Daffa menghirup napasnya dalam.


"Mohon maaf, Papahku tercinta. Jika sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, harap kembali ke kamar Papah sendiri. Karena aku ingin menikmati waktu berama istriku, tanpa ada gangguan dari siapapun."


Kata Daffa, dengan tersenyum ramah


sepanjang berbicara.


"Dasar anak ini, sudah berani kamu mengusir Papah?" Gerutu Bagaskara seraya menjewer telinga Daffa.


"Aduh Pah, sakit!" Pekik Daffa kesakitan.


"Ya sudah, kalau begitu Papah keluar dulu ya Nak Fira. Nanti kalau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakan kepada Daffa, dan juga yang lainnya, ya?" Pungkas Bagaskara sebelum keluar dari kamar


Setelah Bagaskara sudah keluar dari kamarnya, Daffa langsung mencari sebuah spidol berwarna hitam, dan satu lembar kertas. Entah mendapatkan ide dari mana, Daffa pun langsung menulis sebuah kalimat di atas kertas itu 'JANGAN KETUK PINTU, KAMI SEDANG TIDAK INGIN DIGANGGU. INI KAMAR, BUKAN PASAR', yang membuat Safira tertawa geli melihatnya.


"Mas, mau diapakan kertas itu?" Tanya Safira yang sudah tidak lagi heran dengan ide-ide konyol yang dibuat oleh suaminya.


"Aku ingin menempelkan kertas ini di pintu kamar kita, sayang." Jawab Daffa yang sibuk menempelkan kertas itu.


"Mas, kamu ini ada-ada saja. Nanti kalau Oma, dan yang lainnya ingin masuk, bagaimana?" Tanya Safira, ketika Daffa baru selesai menempelkan kertasnya pada daun pintu.


"Itulah fungsi dari kertas yang aku buat, sayang. Untuk mencegah mereka agar tidak menganggu kita lagi."


Baru saja Daffa menyombongkan idenya, kini suara ketukan pintu sudah kembali terdengar. Safira yang ingin sekali


menertawakan suaminya itu pun hanya bisa menahan tawanya susah payah.


"Siapa lagi sih ini?! Apa dia tidak bisa membaca tulisanku itu? Padahal aku sudah menulisnya dengan ukuran besar!" Gerutu Daffa kesal dengan tatapan yang sudah setajam elang.


Dengan malas, Daffa pun meraih gagang pintu untuk membukanya.


"Apa kamu tidak melihat tulisan ini?" Bentak Daffa dengan menunjuk ke arah kertas yang menempel pada pintu kamarnya itu.


"Ma-maaf, Tuan muda. Saya hanya ingin mengantarkan ini." Ucap laki-laki, yang sebelumnya Daffa perintahkan untuk membeli kebab untuk Safira.


"Berikan kepadaku, dan jangan kembali lagi."

__ADS_1


"Ba-baik, Tuan muda."


***


Saat jam makan malam telah tiba, berbagai macam hidangan yang menggugah selera sudah tertata rapih di meja makan berbahan kaca.


Bagaskara, dan yang lainnya tengah menikmati hidangan yang terasa menggoyang lidah itu dengan lahap.


Namun, tidak dengan Daffa yang hanya bisa memakan kentang dan telur rebus saja, karena perut Daffa masih saja merasakan mual, ketika mencium aroma kuat dari makanan.


"Pah." Ucap Daffa yang membuka obrolan disela-sela makannya.


"Hmm?" Jawab Bagaskara hanya bergumam.


"Malam ini, aku dan Fira akan pulang ke rumah, Pah."


"Kenapa tidak menginap saja? Lagi pula ini sudah malam, apalagi kalian baru saja pulang dari perjalanan jauh siang tadi." Saut Oma, yang menginginkan keduanya agar tetap tinggal.


"Benar apa yang Oma katakan, Daff. Apalagi Fira sedang hamil muda, kalau kelelahan bagaimana? Tenang saja, Papah sudah mengatakan keseluruh asisten rumah tangga, ajudan, hingga satpam dan tukang kebun, agar tidak ada lagi yang


mengetuk pintu kamarmu." Timpal


Bagaskara.


"Bukan itu masalahnya, Pah."


"Lalu?" Tanya Bagaskara.


"Hanya saja, Daffa merasa tidak tenang jika istri Daffa berada di sini."


"Tidak tenang bagaimana maksudmu? Bukankah di sini ada Papah, Oma, Mamah dan juga yang lainnya."


Daffa hanya bergeming, tanpa mengeluarkan suara.


"Apa Daffa mengira bahwa aku akan berniat jahat kepada istrinya? Dasar bodoh! Bagaimana mungkin Mamah melakukan itu, sedangkan ada cucu Mamah di dalam perut Fira." Monolog Aida dalam hati, yang masih enggan menunjukkan bahwa dirinya


telah berubah.


***


Sementara itu, Disebuah cafe, Agatha yang sedang menikmati secangkir latte tidak sengaja mendengar percakapan seseorang yang duduk tidak begitu jauh dari dirinya. Suara itu terdengar tidak asing di telinga Agatha.


"Cari tahu tentang laki-laki yang kemarin menyekap Fira, dan kabari saya secepatnya, setelah mendapatkan informasi itu." Titah seorang wanita kepada laki-laki yang sudah dipastikan itu orang


bayarannya.


"Fira disekap?" Monolog Agatha dengan membelalaklkan matanya sempurna.


Seketika, Agatha pun melihat ke arah wanita yang baru saja berbicara dengan memicingkan matanya.


"Sepertinya gue pernah melihatnya, tapi di mana--Ah, gue baru ingat! Dia 'kan wanita yang tempo hari menyerang Fira saat di

__ADS_1


rumah sakit." Kata Agatha yang sempat menghentikan ucapannya.


__ADS_2