
Ketika asisten butik itu telah bangun dari posisinya saat ini, Fitria pun langsung menoleh ke arah Agatha yang saat itu tengah menatap ke arahnya lekat membuat Fitria salah tingkah.
Sesaat, Fitria melihat ke arah tangannya yang saat itu tengah menggenggam erat tangan Agatha lalu langsung melepaskannya detik itu juga.
"Lo salah makan, atau salah minum obat?" Tanya Agatha.
"Kenapa memangnya?" Tanya Fitria seolah tidak mengerti dengan ucapan Agatha.
"Kenapa tadi tiba-tiba--"
Buru-buru Fitria membekap mulut Agatha menggunakan tangannya sebelum Agatha melanjutkan ucapannya itu.
"Sudah ku katakan kalau menguap itu ditutup mulutnya, sayang." Ucap Fitria membuat Agatha membelalakkan matanya sempurna.
"Sayang? Sejak kapan hubungan gue dan Fitria sebaik itu? Apa jangan-jangan dia mengalami depresi karena pernikahan ini?"
Tanya Agatha dalam hati.
Ketika Fitria melepaskan tangannya dari mulut Agatha, Agatha benar-benar tidak berhenti menatap ke arah Fitria.
"Ini pakaian lainnya yang sudah Nyonya Evi minta untuk Tuan dan Nona coba." Ucap pemilik butik itu seraya memberikan beberapa pakaian kepada keduanya.
Fitria dan Agatha pun langsung mencoba semua pakaian itu hingga selesai, kemudian keduanya pun langsung memutuskan untuk pulang.
Namun saat Fitria akan masuk ke dalam mobilnya, Agatha buru-buru meraih tangan Fitria dan mengajaknya masuk ke dalam
mobilnya hingga membuat Fitria
melayangkan protes kepada laki-laki itu.
"Lo mau bawa gue kemana, Ta? Gue mau pulang." Kata Fitria yang tidak di dengarkan oleh Agatha.
"Lebih baik lo ikut gue sekarang, lagi pula lo nggak boleh mengendarai mobil sendiri. Itu hanya akan membahayakan nyawa lo saja." Ujar Agatha setelah Fitria telah masuk ke
dalam mobilnya.
"Kemana? Gue nggak mau ikut lo, gue bisa bawa mobil sendiri." Protes Fitria menolak ajakan Agatha.
"Gue mau bawa lo ke Psikiater." Jawab Agatha membuat Fitria membelalakkan matanya sempurna saat mendengarnya.
"Gue nggak gila, Ta! Ngapain lo bawa gue ke sana." Ujar Fitria menaikkan nada bicaranya.
"Nggak ada orang gila yang merasa dirinya gila, Fit. Lebih baik lo diam dan duduk manis saja sampai kita tiba di rumah sakit."
"GUE NGGAK GILA, AGATHA!"
"Gue paham, Tik. Pasti pernikahan yang mendadak ini sangat mengejutkan lo, 'kan? Sampai lo harus mengalami depresi seperti ini."
"Astaga, kenapa lo berpikir seperti itu? Jelas-jelas gue itu waras, Ta!"
"Kalau lo memang waras, kenapa tadi lo bersikap aneh seperti itu?" Tanya Agatha membuat Fitria gugup.
"Lo nggak bisa jawab, 'kan? Atau lo memang nggak sadar dengan sikap lo itu? Sudahlah, Fit. Lebih baik gue antar lo ke Psikiater agar gangguan jiwa lo itu ditangani sejak dini."
__ADS_1
"GUE NGGAK GILA! Berapa kali sih gue harus bilang? Gue melakukan itu karena-"
Belum sempat Fitria melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ponsel Agatha berdering.
"Tunggu sebentar, gue angkat telepon dulu." Kata Agatha sebelum mengusap tombol berwarna hijau ke atas.
Sedangkan Fitria yang tidak ingin berlama-lama di dalam mobil Agatha memilih keluar tanpa mengatakan apa pun.
Setelah Agatha telah memutuskan panggilannya, Agatha langsung keluar mencari keberadaan Fitria. Namun sialnya mobil Fitria baru saja meninggalkan halaman butik itu.
***
Keesokan harinya, Arya berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Fitria.
Tok tok tok.
"Fit, apa kamu sudah bangun?" Tanya Arya namun tidak ada jawaban apa pun dari dalam sana.
Tok tok tok.
"Fitria, jangan bilang kalau kamu belum bangun?" Tanya Arya kembali tetap tidak mendapati jawaban dari dalam sana.
TOK TOK TOK.
"Bangun Fitria, apa kamu tidak tahu ini jam berapa?" Teriak Arya dari luar.
"Hmm." Sahut Fitria ketika baru saja membuka pintu kamarnya dengan keadaan setengah sadar dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
"Tenang saja Pah, aku mengingatnya." Jawab Fitria mengangguk santai.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik sekarang kamu siap-siap, Agatha sudah menunggumu di bawah."
Seketika Fitria tersentak kaget saat mendengar bahwa Agatha sudah berada di kediamannya sepagi ini.
Fitria pun langsung berlari menuruni
anak tangga untuk memastikan bahwa ucapan Arya bukanlah bualan semata. Dan benar saja, ternyata sudah ada Agatha yang tengah menunggunya di ruang tan
bersamaan dengan netra Agatha yang
melihat ke arah Fitria.
GLUK.
Fitria langsung menghentikan langkahnya, dan menelan salivanya kasar. Tidak ingin Agatha melihat keadaan dirinya yang saat ini terlihat kacau, Fitria langsung memutar
tubuhnya dan berlari menaiki anak tangga satu persatu untuk kembali ke kamar nya.
Namun sialnya, langkah Fitria sempat terpeleset saat memijak salah satu anak tangga itu yang disaksikan oleh Agatha.
Fitria yang merasa malu untuk berdiri kembali, pun memilih merangkak menaiki anak tangga berharap Agatha tak melihatnya.
"Apa yang kamu lakukan. Fit?" Tanya Arya hendalk turun.
__ADS_1
"Ssssttt." Fitria memberi isyarat agar Arya berpura-pura tak melihatnya namun tidak ditangkap dengan baik isyarat itu oleh Arya.
"Kamu bukan bayi, Fit. Kenapa kamu merangkak seperti itu, sih? Apa kakimu baik-baik saja?" Tanya Arya kembali dengan suara yang cukup keras, bisa dipastikan bahwa Agatha ikut mendengarnya.
Tidak ingin Arya menanyakannya lebih jauh, Fitria terus merangkak kembali hingga memasuki kamarnya tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari Arya.
Sesampainya di kamar, Fitria langsung merutuki dirinya sendiri seraya memukul kepalanya pelan karena kecerobohannya tadi.
"Sungguh sangat memalukan!" Gerutu Fitria menalhan malu dengan tingkah lakunya sendiri.
Fitria yang lupa kalau dirinya saat ini belum mandi, langsung menyambar tasnya dan bersiap untuk keluar. Namun saat Fitria akan bercermin, Fitria langsung tersentak
kaget saat melihat dirinya yang masih
menggunakan piyama tidur dengan rambut yang berantakan tak beraturan.
"Ya ampun, gue baru ingat kalau belum mandi. Untung saja gue belum turun ke bawah, kalau nggak... Mau diletakkan di mana muka gue ini." Monolog Fitria yang masih berdiri di depan cermin.
Dengan langkah terburu-buru, Fitria meletakan kembali tasnya dan langsung menyambar handuk, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di sisi lain, Agatha yang sedang menunggu Fitria di ruang tamu nampak tengah berbincang dengan Arya di sana.
"Aduh Ta, kenapa harus repot-repot menjemput Fitria segala. Padahal Fitria juga bisa membawa mobil sendiri. Jadi merepotkan." Ucap Arya merasa tidak enak karena Agatha harus menunggu lama putri
semata wayangnya itu.
"Kalau bukan karena permintaan Papah, gue juga ogah menjemput Fitria. Mana lama banget! Sebenarnya apa saja yang dia lakukan di kamarnya, sih?" Monolog Agatha
menggerutu.
"Nggak apa-apa Om, lagi pula aku sedang senggang." Ujar Agatha.
"Perhatian sekali kamu, Ta. Benar-benar sangat menjaga calon istrinya dengan baik." Kata Arya membuat Agatha tersedak saat laki-laki tampan itu tengah meminum
kopinya.
"Pelan-pelan, Ta." Ucap Arya.
"I-iya, Om." Sahut Agatha terbata-bata.
"Geli sekali rasanya ketika mendengar kalimat itu." Gumam Agatha dalam hati.
Di sela-sela obrolan antara Agatha dan Arya, Fitria tiba-tiba saja datang menghampiri keduanya.
"Ayo!" Ajak Fitria kepada Agatha.
"Ya sudah Om, kalau begitu aku dan Fitria berangkat dulu, ya." Ucap Agatha kepada Arya.
"Hati-hati di jalan ya, Ta. Segera kabari Om kalau kalian membutuhkan sesuatu."
"Iya Om, assalamu'alaikum, " Pungkas Agatha mencium tangan laki-laki paruh baya itu disusul oleh Fitria setelahnya.
Setelah Agatha dan Fitria berpamitan kepada Arya, keduanya pun langsung berangkat ke loka pemotretan yang akan dilakukan secara outdoor.
__ADS_1