
Di alam bawah sadar Crystal. Dia merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri, tubuhnya terasa mati rasa. Bahkan untuk membuka kedua matanya pun dia tak bisa.
"Crys."
Crystal dapat mendengar suara itu, dia sangat mengenalnya. Sekali lagi, dia mencoba membuka kedua matanya namun nihil.
"K-au kenapa kau belum kunjung sadar, aku merindukanmu." terdengar helaan nafas berat dari suara wanita itu. "kami sungguh mengkhawatirkan mu." sambung wanita itu lagi.
'Wendy' Yah itu memang Wendy sahabatnya, dia sangat mengenali suara itu. Betapa dia ingin berbicara dengan Wendy, tapi dia sungguh tak bisa. Tubuhnya seperti terikat oleh puluhan tali yang mengekang, bahkan dadanya terasa berat hanya untuk bernafas.
'Kedua anaknya? Di mana mereka? Apakah dia tidak bisa bertemu dengan kedua anaknya lagi? TUHAN, kenapa aku tidak bisa membuka kedua mataku? Bibirku pun terasa terkunci rapat. Aku ingin bangun dan bertemu merek.
"Cleo dan Ana tengah berada di rumah, aku membawa mereka untuk beristirahat di temani beberapa orang untuk menjaga mereka. Kau tak perlu mengkhawatirkan mereka." Bisik Wendy, seakan mengerti kegelishan yang tengah di hadapi Crystal saat ini.
Crystal merasa lega mendengar mengenai kedua anaknya.
"Tapi kenapa tubuhmu dingin?" ucap Wendy sambil menggenggam lengan Crystal yang terasa dingin seperti batu es. "Apa kau tidak baik-baik saja hiks?" Wendy menangis lirih.
Wendy tidak berkata apa-apa lagi, yang Crystal dengar hanya tangisan Wendy yang membuat hatinya ikut tersayat.
"A-ku... seandainya aku bisa memberikan jantungku hiks..."
'TIDAK! JANGAN LAKUKAN ITU WENDY' teriak Crystal meski dia tahu bahwa Wendy tidak dapat mendengarnya, tapi dia tak ingin sahabatnya memberikan hal yang sangat penting dalam tubuhnya hanya untuk dirinya seorang.
Wendy menatap wajah Crystal dan terkejut saat cairan bening itu keluar dari kedua mata Crystal. "K-kau menangis? Kenapa kau menangis?" tanya Wendy sangat terkejut. "apakah terasa sakit sehingga kau menangis dalam tidurmu?"
__ADS_1
'Menangsi?' Apakah Wendy bisa melihatnya menangis?'
"Jangan menangis." bisik Wendy mengusap lelehan air mata Crystal. "Jangan menangis, Crsytal."
'Bodoh! Bagaimana kau bisa menyuruhku untuk tidak menangis, sedangkan kau di sini menangis seperti anak kecil.' Teriak Crystal kesal.
"Aku akan berada di luar sebentar untuk menemui Kevin, aku akan datang lagi." Ucap Wendy melepas genggamannya pada lengan Crystal. Setelah mengatakan itu Wendy berjalan keluar.
Setelah Wendy pergi, tubuhnya pun serasa ikut tertarik oleh cahaya yang menyilaukannya hingga akhirnya dia kembali tak sadarkan diri.
...****************...
"Sayang." panggil pria itu saat melihat Istrinya keluar dari ruangan Crystal. "Kenapa?" tanya nya saat melihat wajah Istrinya yang tertekuk kebawah.
Kevin sangat terkejut dengan perkataan Istrinya, terlihat wajahnya yang memerah karena terlihat marah. Dia mengerti perasaan Wendy, saat ini mereka tak memiliki banyak waktu lagi.
Kevin menarik tubuh Istrinya ke dalam dekapan tubuhnya. "Bersabarlah, Tuhan pasti memberikan jalan yang Indah untuk Crystal." bisik Kevin sambil mengusap punggung Istrinya lembut.
"A-ku takut Kevin, aku benar-benar takut hiks..." Wendy menangis dalam pelukan suaminya. "B-bagaiamana j-jika dia tak datang tepat waktu hiks..."
"sssttt, jangan berkata seperti itu. Dia pasti akan datang, aku yakin dia akan datang." Bisik Kevin. 'Sean, aku tahu kau tengah berusaha keras' Batin Kevin. Dia kembali melihat arlojinya, waktu yang terus berjalan.
...****************...
Sean langsung berdiri saat pintu Operasi itu berdenyit dan tak lama beberapa Dokter dan suster keluar dari dalam ruangan.
__ADS_1
"D-Dokter." Panggil Sean cepat, dia langsung menghampiri sang Dokter. "Bagaimana hasilnya?" tanya nya tak sabaran.
"Tuan Sean, kami baru saja melakukan pengangkatan organ dan pemeriksaan. Hasilnya butuh waktu untuk keluar...."
"Berapa lama?" Sean menyela perkata Dokter, dia tahu ini tidak sopan. Tapi dia gak bisa menunggu lebih lama lagi. "Berapa lama pemeriksaan itu akan keluar? Berapa persen kemungkinan hasilnya baik? Tolong katakan padaku dengan jelas Dokter." Pinta Sean.
"Tenanglah Tuan Sean, syukurnya organ Nona Sulli masih bagus dan hasilnya akan keluar setengah jam lagi. Setelah mengetahui hasilnya, baru kita bisa mengetahui apakah Jantung Nona Sulli bisa di donorkan atau tidak." Jelas Dokter.
Sedikitnya Sean bisa bernafas lega, mengetahui bahwa Jantung Sulli masih baik-baik saja.
"Ah yah, untuk Nona Sulli sendiri suster tengah membersihkannya. Setelah selesai bisa langsung di makamkan."
"Baik, T-terimakasih Dokter."
"Tidak masalah Tuan, kalo begitu saya permisi terlebih dahulu." ujar Dokter itu pamit undur diri.
Setelah selesai berbicara dengan Dokter, Sean kembali mendudukkan tubuhnya di samping Yeri.
"Kau sebaiknya menunggu hasilnya di sini Sean, untuk Sulli serahkan padaku."
Sean menolehkan wajahnya ke arah Yeri. Sekali lagi Sulli benar-benar beruntung memiliki Yeri yang selalu berada di sisinya.
"Terimakasih Yeri, aku akan berkunjung nanti."
"Hm, kau selesaikan dulu ini semua." Ujar Yeri menepuk bahu Sean.
__ADS_1