
"G-gue mandi dulu." Ucap Fitria lalu berlari ke arah kamar mandi dengan cepat.
Belum sempat Agatha menjawab, suara teriakan sudah terdengar dari dalam sana.
"Aaaaaa..." Teriak Fitria yang begitu nyaring terdengar di telinga Agatha.
Agatha yang panik, pun langsung bergegas menghampiri Fitria yang saat itu tengah berada di dalam kamar mandi.
Tok tok tok.
"Lo nggak apa-apa?" Tanya Agatha dari balik pintu.
"Aaww... Tolongin gue, Ta." Ucap Fitria dari dalam sana.
"Gue buka pintunya, ya?" Tanya Agatha meminta izin lebih dulu sebelum memutuskan untuk masuk.
"Iya masuk aja, kebetulan pintunya belum sempat gue kunci kok" Jawab Fitria.
Tanpa menunggu waktu lama Agatha langsung menerobos masuk. Saat Agatha sudah berada di dalam kamar mandi, terlihat Fitria tengah duduk di lantai meringis kesakitan.
"Ya ampun, kenapa bisa sampai jatuh sih? padahal jelas-jelas lantai kamar mandinya masih kering begini." Tanya Agatha seraya membantu Fitria bangun.
"Nggak mungkin kalau gue bilang karena gugup tadi, makanya gue bisa terpeleset seperti ini." Gumam Fitria dalam hati.
"Namanya juga jatuh, bisa saja karena gue tersandung kaki gue sendiri." Jawab Fitria yang langsung dimengerti oleh Agatha.
"Jadi, sekarang bagaimana caranya lo mandi?"
"Tenang, gue masih bisa mandibsendiri kok." Jawab Fitria lalu melepaskan
tangannya dari Agatha untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Namun, baru satu langkah Fitria berjalan tanpa bantuan Agatha, pekikan Fitria sudah kembali menggema di ruangan itu.
"Jangan dipaksakan kalau nggak bisa. Apa perlu gue bantu lo man-di?" Tanya Agatha ragu-ragu menawarkan bantuan.
BUGH.
"DASAR MESUM!" Bentak Fitria setelah memukul dada bidang Agatha.
"Gue hanya berniat membantu lo saja, kalau lo nggak mau, ya sudah. Silahkan mandi sendiri." Ucap Agatha memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Gue akan mandi sendiri, tapi tolong tunggu gue di depan pintu kamar mandi ya. Soalnya gue butuh bantuan lo nanti."
"Iya." Jawab Agatha lalu keluar meninggalkan Fitria di dalam sana.
Setelah itu, Fitria pun langsung mandi dengan berpegangan di dinding kamar mandi hingga selesai. Saat Fitria sudah memakai pakaiannya yang sebelumnya dia
bawa ke dalam sana, Fitria pun mengetuk pintu dari dalam.
Tok tok tok.
"Lo masih di situ, 'kan, Ta?" Tanya Fitria memastikan.
"Iya, apa lo sudah selesai?" Tanya Agatha kembali.
"Sudah." Ucap Fitria setelah membuka pintu kamar mandi itu.
"Sini." Kata Agatha meminta agar Fitria berpegangan padanya.
"Nggak usah, lo cukup awasin gue saja. Kalau gue mau jatuh, tolong tangkap gue, ya." Tolak Fitria dan memilih jalan lebih dulu agar Agatha mengikutinya dari belakang.
Melihat Fitria yang kesulitan berjalan, Agatha langsung menggendong Fitria ala bridal style tanpa memperdulikan berbagai
macam protes yang Fitria layangkan
__ADS_1
kepadanya.
Ketika berbagai protesnya diabaikan oleh Agatha, Fitria memilih diam dan terus menatap wajah Agatha yang tengah menggendongnya. Tidak bisa dipungkiri wajah laki-laki yang saat ini sudah menjadi suaminya itu benar-benar sangat tampan.
"Kenapa ngeliatin gue terus? Jangan bilang kalau lo mulai suka sama gue?" Tanya Agatha tanpa menoleh ke arah Fitria sedikit pun.
"Hah? Suka? Cih, besar kepala sekali!" Sahut Fitria saat dirinya ketahuan diam-diam menatap Agatha.
Saat langkah Agatha sudah sampai di sisi ranjang, dengan pelan-pelan Agatha mendudukkan Fitria di sana.
"Apa ada sesuatu yang lo butuhkan?" Tanya Agatha.
"Nggak."
"Kalau nggak ada, gue mau mandi dulu."
"Hmmm."
"Kalau suka bilang saja, jangan berpura pura dingin seperti itu." Goda Agatha seraya mencubit pipi Fitria Membuat Fitria malu, dan membuang wajahnya ke arah lain.
Agatha pun berjalan ke arah kamar mandi kembali setelah memastikan bahwa Fitria tidak membutuhkan bantuannya lagi.
Melihat Agatha yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Fitria langsung mengusap dadanya berkali-kali.
Jantung gue, ada apa dengan jantung gue? Kenapa berdetak begitu cepat seperti ini?" Monolog Fitria seraya mengatur napasnya pelan.
Fitria yang tengah duduk di sisi ranjang terus memijat kakinya yang terasa sakit akibat terpeleset tadi, beruntungnya kepala Fitria tidak sampai terbentur tembok ataupun benda tumpul lainnya, sehingga
hanya kaki saja yang terdapat cedera.
Selama lima menit berlalu, Agatha pun mulai keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan ke arah Fitria saat ini.
"Apa kaki lo masih sakit?" Tanya Agatha seraya menatap kaki Fitria.
"Hmm" Gumam Fitria.
Sepanjang Agatha berbicara di telepon, Fitria terus menatap ke arah laki-laki itu dengan senyuman yang tanpa di sadari sudah bertengger di wajahnya.
Sesaat Fitria langsung mengalihkan wajahnya ke sembarang arah saat Agatha tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Tunggu sebentar, makanannya sebentar lagi akan datang." Ucap Agatha kepada Fitria setelah menutup panggilannya.
Tiba-tiba Agatha langsung duduk di sisi ranjang dan menyentuh kaki Fitria yang terasa sakit akibat terpeleset tadi.
"AWw.." Cicit Fitria kesakitan.
padahal Agatha menyentuh kakinya dengan sangat pelan.
"Lain kali kalau di kamar mandi jalannya pelan-pelan." Ucap Agatha seraya mengusap pucuk kepala Fitria.
DEG.
Agatha dan Fitria mematung ketika pandangan keduanya saling bertemu.
TING NONG.
Lagi-lagi suara bel kamar terdengar di saat yang tidak tepat. Alam seakan menghukum Fitria akibat gemar mengganggu waktu
Daffa dan Safira, bahkan saat honeymoon mereka dulu.
Sesaat keduanya langsung memalingkan wajahnya arah ke arah lain.
"Cepat selkali makanannya datang." Ucap Agatha lalu berdiri dari posisinya saat ini dan berjalan ke arah pintu.
Ketika pintu sudah terbuka, terlihat seorang pelayan laki-laki masuk dengan mendorong troli berisi makanan yang Agatha pesan, dan meletakannya di atas meja. dan
__ADS_1
langsung kembali keluar setelah selesai melakukan tugasnya.
"Ayo makan!" Ajak Agatha kepada Fitria.
Fitria pun berusaha berdiri hendak berjalan ke arah sofa.
"Apa susahnya minta tolong, sih?" Ucap Agatha kembali menggendong Fitria untuk memudahkan wanita itu agar sampai tujuannya.
"G-gue bisa jalan sendiri kok, lagi pula jaraknya 'kan dekat." Gumam Fitria setelah duduk di sofa.
"Sudah, lebih baik kita makan sekarang agar bisa istirahat lebih awal." Kata Agatha memberikan piring berisi makanan kepada Fitria.
Keduanya pun menikmati makan malamnya hingga selesai. Setelah keduanya telah menghabiskan hidangan makan malamnya, Fitria pun kembali ke
ranjang dengan jalan yang tertatih tanpa meminta bantuan kepada Agatha.
Agatha yang tidak tega melihat Fitria, pun langsung berdiri dan menggendongnya kembali.
"Bagaimana jika besok kita ke Dokter saja?" Tanya Agatha setelah.mendudukkan Fitria di sisi ranjang.
"Nggak usah, Ta. Besok juga sembuh kok." Tolak Fitria.
"Lebih baik kita ke Dokter saja untuk memastikan apakah keadaan kaki lo parah atau nggak."
"Nggak usah, gue lebih tahu kondisi gue sendiri."
"Lo nggak bisa membiarkan kaki lo begitu saja, Fit. Bisa-bisa keadaan kaki lo semakin parah. Memangnya lo mau kalau sampai di amputasi?" Ujar Agatha sengaja menakuti Fitria agar menuruti ucapannya. Fitria menggelengkan kepalanya cepat.
"Baiklah, kita ke Dokter!" Ucap Fitria setuju.
Tidak lama, seorang pelayan kembali masuk untuk mengambil piring kotor dari kamar mereka, dan membawanya pergi.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, keduanya pun bersiap untuk tidur.
Setelah Agatha mematikan lampu, Agatha langsung merebahkan dirinya di atas sofa. Sedangkan Fitria yang sudah merebahkan dirinya lebih dulu masih terus terjaga, dan sulit untuk memejamkan matanya.
"Ta, apa lo sudah tidur?" Tanya Fitria saat tidak mendengar suara dari Agatha sedari tadi.
"Belum, kenapa?"
"Gue nggak bisa tidur, Ta." Mendengar itu, pun Agatha langsung duduk kenmbali dan menatap ke arah Fitria yang tengah berbaring di ranjang dengan posisi menyamping, menghadap ke arahnya yang saat ini tengah duduk di sofa.
"Kenapa? Apa rasa sakit di kaki lo sudah tidak bisa di tahan lagi?" Tanya Agatha menerka.
"Bukan soal kaki, gue hanya nggak bisa tidur saja.'
Agatha pun berjalan ke arah Fitria dan ikut berbaring di atas ranjang. Sedangkan Fitria yang melihat itu pun langsung terkesiap
saat Agatha sudah berada di sisinya
saat ini.
"A-apa yang lo lakukan?" Tanya Fitria terbata-bata.
"Menemani lo." Jawab Agatha santai.
"Ng-nggak perlu-" Tanpa memperdulikan ucapan Fitria, Agatha langsung menarik
lembut kepala Fitria, dan menyandarkannya di dada bidang miliknya, hingga membuat ucapan Fitria terhenti ketika mendapati
perlakuan seperti itu dari Agatha secara tiba-tiba.
"Ta..." Gumam Fitria lirih menatap wajah Agatha yang jaraknya begitu dekat.
"Tidurlah, gue akan menemani lo di sini." Ucap Agatha seraya mengusap pucuk kepala Fitria lembut.
__ADS_1
"Kenapa dia tiba-tiba bersikap manis seperti ini?" Gumam Fitria dalam hati, perlahan Fitria pun mulai memejamkan matanya.