Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
156


__ADS_3

Jack baru saja sampai di Kantor Tuan nya, setelah beberapa saat yang lalu menerima telpon dari Crystal yang mengatakan rasa kekhawatirannya mengenai pria itu.


Clek.


Suara pintu terbuka membuat Jack sedikit terkejut dan kedua matanya sedikit membola saat melihat siapa yang keluar dari ruangan Sean.


"Jess..." Seru Jack pelan.


Wanita itu pun terlihat terkejut dengan kehadiran Jack, dia membungkukkan tubuhnya dengan lesu. "Hai Jack." Sapa Jessica dengan senyuman yang terlihat di paksakan.


"Kau belum pulang?" tanya Jack, terlihat bingung.


"Hn, begitulah." Jawab Jessica seadanya, dia sedikit memijat lehernya yang terasa kaku. "Kau tau, Boss mu itu benar-benar kejam." Ujar Jessica dengan suaranya yang sangat pelan. "Sudah hampir berbulan-bulan, ah menyebalkan" keluhnya.


"Lagi?" Ujar Jack, wajahnya mengerut dan kedua alisnya saling bertaut. Lengannya memijat pelipisnya, sangat tergambar di wajahnya bahwa dia pun tak bisa mengatasi situasi saat ini.


"Ah, maafkan aku Jes. Aku akan menangani sisanya, sebaiknya kau pulang."


"Pulang? Yang benar saja, nanti Tuan Sean bisa-bisa memecatku." timpal Jessica, menatap tak percaya usulan dari Jack.


"Aku yang akan bertanggung jawab." Jack, mencoba menyakinkan Jessica.


Jessica menatap Jack dengan serius hingga akhirnya, wanita itu menyetujui apa yang diperintahkan Jack.


"Baiklah, sebelumnya terimakasih Jack."


"Hn, kau hati-hati. Sebaiknya minta kekasihmu untuk menjemput."


"hm, kalo begitu Aku pamit pulang." Timpal Jessica membungkukkan tubuhnya, meninggalkan Jack.


Setelah kepergian Jessica, Jack menarik nafas dalam. Dengan pelan dia membuka pintu, masuk ke dalam ruangan yang terlihat sunyi. Benar saja, di sana Sean masih sibuk dengan dokumennya. Entah apa yang di pikirkan pria itu saat ini yang jelas Jack tidak bisa memahami pikiran Tuannya.


"Tuan.."


"Aku tau apa yang akan kau katakan." Potong Sean dengan suaranya yang terdengar santai, kedua matanya masih fokus membaca dokumen yang tengah dia pegang. "Sebaiknya kau selesaikan kerjaan Jessica, aku juga tak ingin berlama-lama di sini." Sambung Sean dengan telak, tanpa menatap lawan bicaranya.


Jack hanya diam melongo mendengar penuturan Sean, dia sama sekali tak akan menduga dengan yang dikatakan Sean.

__ADS_1


"Cek, menyebalkan." Desis Jack, sangat pelan.


"Apa kau bilang?"


"Apa?" tanya Jack balik, kedua matanya menatap Sean dengan lekat meski pada kenyataannya pelipisnya sudah berkeringat karena gugup. 'Apa dia mendengarnya? Aish, dasar bodoh.' celetuk Jack dalam hati.


Sean memicingkan kedua matanya menatap balik Jack dengan intens, baru saja mulutnya hendak mengeluarkan suaranya.


"Tuan Sean Saya akan mengerjakan semuanya dengan teliti dan tanpa mengeluh." Jack mengucapkan itu dengan satu kali tarikan nafas, dia tak ingin membuat Sean semakin murka dengannya. "Kalo begitu, saya permisi terlebih dahulu." Sambungnya bergegas pergi meninggalkan ruangan Sean.


"Padahal aku ingin menawarkan makan, ada apa dengannya?" Gumam Sean merasa bingung dengan kelakuan Jack.


...****************...


Di tempat lain, Wanita itu tengah sibuk membacakan dongeng pengantar tidur untuk putri kecilnya. Entah sudah berapa kali dia membacakannya, tapi sepertinya Ana belum ingin tidur terlihat dari kedua matanya yang masih nampak segar.


"Kenapa Sayang?" Tanya Crystal menatap putrinya.


Ana, menolehkan wajahnya ke arah Eomma nya. "Appa, aku ingin bertemu Appa." Gumam Ana pelan.


"Kenapa Appa tak pernah berada di rumah, Eomma?" Tanya Ana kembali.


Wajah Crystal berubah sedih mendapati pertanyaan seperti itu dari Putrinya. "Hm, Appa sedang sibuk bekerja. Kau tau kan, akhir-akhir ini Bisnis Appa sedang berkembang."


Crystal sebisa mungkin memberikan pengertian pada putrinya.


"Tapi Eomma, Appa hampir tidak pernah pulang ke rumah. Ia hanya beberapa kali singgah dan langsung pergi dan Appa juga tak pernah mengajak kita jalan-jalan. Padahal, teman-temanku selalu bertamasya dengan kedua orang tua nya setiap hari libur."


Hati Crystal terasa dihantam dengan beribu jarum, ini membuat dadanya sesak. Dia tak tahu harus memberikan alasan apalagi pada Putrinya.


"Ana." Panggil Crystal lembut, dia menarik Ana dalam pelukannya. "Sekarang tidurlah, Eomma akan berbicara dengan Appa untuk menyisihkan waktunya pergi bertamasya."


"Benarkah?"


"hm." Crystal menganggukkan kepalanya dengan pelan, mengusap lembut punggung putrinya. "Tidurlah sayang."


"hm, Eomma juga." Timpal Ana, kedua lengannya beringsut memeluk tubuh Eomma nya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, setelah di rasa putrinya sudah terlelap. Crystal beranjak dari tempat tidur, dia membenarkan letak selimut.


"Selamat tidur." Bisik Crystal, mengecup dahi putrinya.


...****************...


Setelah keluar dari kamar Putrinya, Crystal tak bisa tidur. Sejak tadi, dia hanya berjalan ke sana kemari di ruang tv. Crystal meremas handphone ditangannya, ragu-ragu mau menghubungi Sean atau tidak. Pikirannya terasa berat, apa yang harus dia katakan pada Sean sedangkan pria itu seakan mengindari dirinya.


"Apa aku harus menghubungi Jack saja?" Gumamnya.


Sebelumnya, setelah makan malam tadi. Dia sempat menghubungi Jack dan memintanya untuk melihat keadaan Sean di kantor.


'Hallo...' Jawab pria itu dari sebrang telpon.


"Ah, Jack. Maafkan Aku menghubungimu lagi." Ujar Crystal merasa tak enak hati.


'Tidak masalah Nona, jangan sungkan dengan Saya.'


"Terimakasih Jack, kau memang baik sekali." Timpal Crystal tersenyum lebar mendengar ucapan Jack.


'Kenapa Nona menelpon Saya? Apa Nona memerlukan sesuatu?' Tanya Jack.


"Hm, y-yah begitulah." Jawab Crystal ragu. "I-ini soal Sean. Apa dia masih di kantor?"


'Benar, Tuan Sean masih di Kantor. Sepertinya dia tengah menyelesaikan beberapa dokumen.'


"Ah, begitu." 'Ternyata dia memang sibuk'


'Apa Nyonya ingin berbicara dengan Tuan Sean?'


"T-tidak, Tidak Jack. Aku hanya ingin tahu apakah dia masih di kantor atau tidak. Kalo begitu, terimakasih yah Jack. Aku akan menutup telponnya."


'Baik Nyonya.'


Panggilan itu pun selesai, Crystal mengigit bibirnya cemas. Dia tak tahu harus berbicara dengan Sean lewat apalagi.


"Ini melelahkan." Gumamnya sendu.

__ADS_1


__ADS_2