Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
MY SOFI


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 34


Oleh Sept


Rate 18 +


POV Garda


Kulihat Sofi terbaring lemah, gadis yang kuat ini tiba-tiba tidak berdaya. Sebenarnya aku sangat marah, apalagi kulihat Juna. Teman pria istriku sebelum kami menikah. Hampir saja tanganku terangkat dan memukul wajahnya yang menatapku dengan pasrah.


Cih ... mungkin dia merasa tidak bisa lari lagi setelah dia lihat betapa banyaknya pengawal yang aku bawa untuk menjaga rumah sakit ini. Sudah pasti, dia tidak akan bisa lari ke mana-mana.


Tadi, hampir aku menyeret pria itu. Tapi, kehadiran seorang dokter jaga yang melihat keributan di kamar Sofi, membuat aku berusaha menelan kembali amarahku.


Langsung saja ku hampiri pria berjas putih dengan stethoscope di lehernya itu, aku ingin mengetahui apa yang terjadi pada istriku.


Di dalam ruangan serba putih, sepertinya ruang kerja dokter Arman. Aku tahu dari nama yang tertera pada bajunya. Kulihat sejak tadi ia menatapku dengan penuh selidik. Mungkin dia merasa curiga padaku. Karena aku datang bersama rombongan anak buah berbaju hitam-hitam.


Mungkin mereka pikir aku mafiaaa dari kota. Padahal, aku hanya seorang suami yang sedang sibuk mencari istri yang kabur sebulan lebih lamanya.


Tidak ingin buang-buang waktu, dan lagi aku juga ingin bertemu Sofi kembali. Aku pun langsung to the point. Bertanya tentang keadaan istriku pada dokter Arman.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


Kulihat dokter Arman menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan dariku.


"Benar Nona Sofi adalah istri Tuan?"


Aku mendesis kesal. Tidak bawa buku nikah ataupun KK, tapi aku membawa ponsel. Di mana di sana ada banyak foto pernikahan kami.


Dengan kesal, aku rogoh ponselku yang sonyalnya hanya tinggal satu dua tersebut.


"Sofi istri saya!" ucapku setengah galak. Itu karena aku sangat jengkel.


Dokter Arman lantas mengambil ponselku, ia melihat-lihat galery dalam smartphone milikku. Pria itu kemudian manggut-manggut.


"Keadaan keduanya kurang bagus!" ucap dokter Arman sambil mengulurkan ponsel padaku.


Mataku menajam. Aku tadi melihat Juna baik-baik saja. Pria itu sehat bugar tanpa kurang satu apapun. Apanya yang kurang bagus? Dalam hati aku kembali merutuk. Sepertinya dokter di pedalaman ini terlalu banyak omong kosong. Mereka suka halu.


"Saya ingin membahas istri saya, bukan pria yang bersamanya!" tukasku dengan nada ketus.

__ADS_1


Kulihat juga ekspresi masam dokter Arman. Dahinya mengkerut setelah mendengar perkataanku.


"Sejak tadi saya juga membahas istri Bapak!" ujar dokter Arman yang sepertinya menahan emosi. Aku lihat wajahnya juga menahan kesal. Harusnya aku yang marah, bukan dokter itu. Astaga, dokter di sini sepertinya tidak professional. Dan aku hanya bisa mengerutu dalam hati.


Kami sama-sama tegang, mungkin karena suasana yang kurang kondusif. Dan mungkin karena semua terganggu atas kehadiran anak buahku yang berjaga di luar sana. Hingga aku merasa dokter ini kesal padaku.


"Malam ini, saya akan membawa istri saya!" ucapku kemudian.


Dokter itu kemudian membetulkan posisi duduknya. Ia kemudian mengeluarkan buku laporan kesehatan Sofi.


"Tunggu stabil dulu, Pak!" kata dokter itu.


"Maaf, saya tidak mau mengulur waktu. Malam ini saya mau membawa istri saya. Dan dokter tidak bisa melarang! Karena dia istri saya!" ucapku ngotot. Pokoknya Sofi harus aku bawa ke rumah sakit di kota besar. Sofi harus dapat penanganan yang terbaik di sana. Aku yakin, rumah sakit di sini pasti semuanya serba terbatas. Itulah yang ada dalam kepalaku saat ini.


"Sebagai petugas medis, saya sudah ingatkan. Bahwa kondisi keduanya tidak stabil. Istri Bapak hampir saja kehilangan janinnya! Dan resiko besar, bila tetap dibawa."


"Janin?"


Apa aku tidak salah dengar? Apa Sofi hamil? Tunggu, ada yang salah.


Kulihat dokter Arman menghela napas dalam-dalam.


"Jangan katakan Bapak tidak tahu kondisi istri Bapak yang tengah hamil?"


Aku butuh waktu untuk berpikir. Anak siapa ini?


"Berapa? Berapa ... usia janinnya?"


Aku gelisah ketika menunggu jawaban dokter. Dalam hati aku berharap, janin itu adalah anakku sendiri. Aku tidak mau drama Amelia kembali terulang.


"Enam minggu!" jawab dokter Arman.


Mendengar jawaban yang membuatku resah tersebut, aku hanya bisa mengusap wajahku dengan berat.


"SOFIII!" dalam hati aku memanggil nama istriku. Istriku yang suka kabur itu, ternyata pergi membawa benih yang sudah aku tanam.


Banyak pertanyaan dalam hatiku, kenapa dia pergi? Kenapa dia pergi saat dia hamil anakku? Adakah dia sangat membenciku? Beribu tanya dalam hati.


Aku sampai tidak fokus pada apa yang dokter Arman katakan. Aku hanya ingin melihat Sofi sekarang, aku hanya ingin melihat mereka.


BRUKKKK ...

__ADS_1


Karena terburu-buru, kakiku sampai menabrak apa saja yang ada di depanku. Aku bergegas ke bangsal Sofi, hingga tidak terlalu fokus pada apapun.


KLEK


"Dia hamil!" ucap Juna yang melihatku masuk ke dalam ruang rawat Sofi.


Aku melirik sekilas, kemudian berjalan ke arah ranjang. Ku tarik satu kursi, kemudian ku usap kepala Sofi yang belum mau membuka mata tersebut.


"Bisa tinggalkan kami?" pintaku pada Juna.


Sesaat kemudian, aku mendengar langkah yang semakin menjauh.


KLEK


Pintu pun tertutup. Aku kembali menatap Sofi, ku ajak bicara Sofi. Meksipun dia belum merespon.


"Kali ini kamu mau lari ke mana?" bisikku sambil mengusap dahinya dengan lembut.


"Mengapa lari dengan pria itu? Kau bahkan lari bersama anakku.. Ini sudah keterlaluan, Sof." Aku terus saja bicara.


"Jangan marah ya, jika nanti aku patahkan kakinya!" aku sedikit mengancam.


"Kau bilang kau menyukai pria itu kan? Baiklah ... Aku tidak akan mengalah."


"Mungkin jika kau bangun, dia hanya tinggal nama!" Aku menegaskan kata-kataku. Biar Sofi dengar dan paham.


Ku amati kelopak matanya, sedikit bergerak-gerak. ASTAGA Sofi! Dia sepertinya begitu menyukai pria itu.


Aku tersenyum getir. Cukup sakit, tapi tidak apa-apa. Selama aku bisa melihat Sofi, semuanya tidak jadi soal. Biar siapa yang ada dalam hatinya, yang pasti dia tetap milikku.


Beberapa saat kemudian, Sofi masih betah menutup matanya. Mungkin karena lelah dan rasa kantuk yang menyerang, akhirnya aku putuskan tidur.


Ya, aku tidur sambil duduk di samping Sofi. Ku letakkan kepalaku di atas ranjang. Berharap ketika aku bangun, Sofi juga sudah sadar.


***


Satu jam kemudian, aku terbangun. Sofi masih belum siuman. Aku pun keluar sebentar. Kulihat Juna duduk di depan kamar. Tak jauh dari sana juga banyak penjaga yang sedang berjaga.


Masih sangat larut, aku pun kembali masuk ke dalam. Namun, saat aku berbalik kulihat Sofi malah menatapku. Dia sudah bangun, gadis nakallll ini sudah mau menatapku. BERSAMBUNG


__ADS_1



IG : Sept_September2020


__ADS_2