
Dengan wajah yang sudah menampakkan kekesalannya, Daffa berjalan ke ruang tamu untuk menemui Fitria, yang diikuti oleh Safira di belakangnya.
"Fitriaaaaa!" Panggil Daffa, yang sengaja berteriak dari jarak yang belum begitu dekat.
Sementara Fitria yang tengah duduk menunggu kedatangan pasangan suami istri itu, pun menolah ke arah Daffa ketika dirinya dipanggil tidak seperti biasanya.
Daffa menatap Fitria dengan tajam, ketika langkahnya sudah berhenti tepat di depan tamu yang tak diundang itu.
"Kenapa lo melihat gue kayak gitu?" Tanya Fitria dengan menaikkan salah satu alisnya, saat Daffa menatapnya penuh intimidasi.
Tidak ingin menanggapi Daffa lebih jauh, Fitria pun langsung melihat Safira yang tengah berdiri disisi Daffa.
"Ya ampun, Fira... Berapa lama ya kita gak ketemu, gue kangen banget tahu nggak." Kata Fitria, yang hendak menghamburkan pelukannya kepada Safira.
"Stop!" Cegah Daffa, dengan menyembunyikan Safira di belakangnya, membuat Fitria mengurungkan niatnya untuk memeluk Safira.
"Lo lagi kenapa sih, Daff? Kayaknya sensi banget sama gue." Desah Fitria kesal.
"Gimana gue gak sensi sama lo, Fit. Lo selalu aja mengganggu waktu gue sama Fira." Gerutu Daffa yang tidak kalah kesal.
"Astaga... Hahaha sorry deh sorry," Ucap Fitria tertawa lepas.
"Minggir dong, gue mau peluk Fira." Sambung Fitria kembali, meminta Daffa untuk menggeserkan tubuhnya agar tidak menghalangi langkahnya.
Tanpa banyak berbicara, Daffa pun langsung menggeserkan tubuhnya. Sedangkan Fitria yang sudah merasakan rindu kepada temannya itu, pun langsung
mengamburkan pelukannya yang sempat tergagalkan sesaat tadi.
"Pelan-pelan Fitria!" Ucap Daffa, dengan menarik kerah baju bagian belakang milik Fitria seperti induk kucing yang membawa anaknya.
"Ish, apa-apan sih, lo! Gue bukan anak kucing." Protes Fitria kesal, karena Daffa terus saja merecoki dirinya.
"Kalau mau peluk Fira bisa pelan-pelan nggak, sih? Anak gue bisa gak nyaman tau!" Ucap Daffa membuat Fitria tersentak kaget mendengarnya.
"Hah? Maksud lo, Fira hamil?" Tanya Fitria yang membutuhkan penjelasan.
"Hmm." Jawab Daffa dengan bergumam.
"Astaga Fira, kenapa lo gak bilang sama gue, sih? Selamat ya." Ucap Fitria yang ikut bahagia mendengar kabar itu.
Sedangkan Safira yang sedari tadi belum mengeluarkan suara, pun hanya mengulas senyuman dari balik cadarnya, yang bisa dilihat dari matanya yang menyipit.
"Duduk dulu yuk, Fit." Ajak Safira, yang dijawab anggukkan kepala oleh Fitria.
"Bisa-bisanya lo gak kasih tau kabar baik kayak gini ke gue." Kata Fitria, dengan menepuk lengan Safira.
Melihat Safira yang mendapati tepukan di bagian tubuhnya, Daffa langsung membolakan matanya sempurna, menatap Fitria dengan tajam.
"Fit, mending lo jangan sentuh Fira kalau mau membahayakannya." Kata Daffa kesal.
__ADS_1
"Apa lagi sih, Daff?" Desah Fitria yang merasa gerah dengan larangan yang terus keluar dari mulut Daffa.
"Fira baru aja sembuh dari kecelakaan, jadi jangan sembarangan asal tepuk dia." Terang Daffa memaparkan.
Fitria yang mendengar itu, pun seketika tersentak kaget.
"Hah? Kapan? Kok gue gak tahu?" Tanya Fitria, dengan sederet pertanyaan yang dia lontarkan.
"Udah, udah. Yang penting sekarang aku udah baik-baik aja kok. Oh iya, ada apa Fit? Kok tumben mau datang gak ngabarin dulu." Kata Safira, mengalihkan pembicaraan.
Fitria yang tidak ingin memaksa Safira menceritakan, pun hanya melemparkan pandangannya ke arah Daffa, memberi isyarat bahwa dirinya masih penasaran dengan kronologi kecelakaan yang Safira alami.
Sebelum Fitria menceritakan masalahnya, Fitria menghirup napasnya dalam terlebih dahulu.
"Daffa, Fira, please tolongin gue." Ucap Fitria dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Tolongin apa, Fit? Insyaallah kalau aku bisa, aku akan bantu." Sahut Safira.
"Gue harus membawa laki-laki kehadapan Papah, agar gue bisa terlepas dari perjodohan yang pernah gue ceritakan waktu di puncak itu."
"Ya udah, tinggal bawa aja pacar lo. Gampang, kan?" Kata Daffa menimpali.
"Kalau gue punya pacar, nggak mungkin gue pusing cari laki-laki untuk menjadi pasangan pura-pura gue di depan Papah kayak gini."
"Fit, apa kamu ingin membuat cerita bohong hanya untuk mengelabuhi Papah kamu?" Tanya Safira yang terkejut dengan
pemaparan Fitria tadi.
"Tapi tindakan kamu itu salah Fit."
"Gue tau Fir. Tapi gue gak ada cara lain--"
"Kenapa lo gak minta Farhan aja buat jadi pacar pura-pura lo." Sahut Daffa memotong ucapan Fitria.
"Ih, Mas Daffa! Kenapa malah mendukung tindakan Fitria, sih." Protes Safira seraya memukul lengan Daffa pelan.
"Ah iya, aku lupa sayang," Ucap Daffa meringis samar.
"Fit, lupain ucapan gue barusan." Sambung Daffa kembali berganti berbicara dengan Fitria.
"Gue udah minta Farhan sebelumnya, tapi dia menolak membantu gue," Ujar Fitria dengan wajah putus asa.
"Oh iya, kita makan siang di luar yuk Fir." Sambung Fitria kembali, dengan mengajak Safira.
"Nggak!" Jawab Daffa cepat, sebelum Safira menjawabnya.
"Gue gak nanya sama lo, ya!" Desah Fitria kesal.
"Mas, bagaimana jika kita makan siang di luar bareng Fitria? Lagi pula kita sudah lama tidak makan di luar kan?" Ajak Safira, membuat Daffa yang semula enggan menerima ajakan Fitria, seketika mengiyakan ketika Safira yang memintanya.
__ADS_1
Detik itu juga, Daffa langsung beranjak pergi untuk mengambil kunci mobilnya.
***
Di sela-sela ketiganya menunggu pesanannya datang, Fitria dan Safira tengah asik berbincang. Namun tidak dengan Daffa yang hanya memilih diam, dan menjadi pendengar yang baik bagi kedua wanita itu.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman yang semula sudah mereka pesan. Sedangkan Fitria yang sudah merasakan dahaga pada tenggorokannya, pun langsung menyambar sebuah gelas berisi jus mangga dan meminumnya.
Sedangkan pelayan yang baru saja meletakan piring berisi makanan dan juga gelas berisi minuman di atas meja hendak beranjak pergi, namun tak sengaja menyentuh siku Fitria hingga jus yang sedang diminumnya tumpah mengenai wajahnya.
"Argh!" Ucap Fitria geram, dengan menatap tajam ke arah pelayan laki-laki yang menggunakan masker itu.
"Maaf." Kata pelayan itu dengan singkat.
"Coba ulangi?" Titah Fitria, yang dibuat semakin kesal karena pelayan itu hanya mengatakan maaf tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Maaf." Ucapnya, dengan mengulangi lagi.
"Heran, orang kayak lo kok bisa bekerja di sini!" Gerutu Fitria.
Tanpa mengatakan apa pun, pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Fitria begitu saja.
"Gue belum selesai bicara!" Cegah Fitria, menarik lengan pelayan itu.
"Apa lagi? Saya sudah mengatakan maaf "kan tadi?" Ujar pelayan itu dingin, membuat Fitria semakin kesal dibuatnya.
"Apa mata lo buta? Lihat wajah, hingga pakaian gue, semua jadi kotor gara-gara lo.
Dan lo, hanya bilang maaf seenteng itu?" Terang Fitria memaparkan dengan wajah yang sudah merah padam.
Sedangkan pelayan itu langsung mengambil beberapa helai tisu yang
berada di atas meja, dan memberikannya kepada Fitria.
"Kamu bisa membersihkannya dengan menggunakan ini." Kata pelayan itu tanpa menanggapi wajah Fitria yang sudah terlihat kesal.
"Fit, sudah." Sahut Safira berusaha menenangkan Fitria.
"Nggak Fir, pelayan ini harus diberi pelajaran." Jawab Fitria dengan tatapan yang tidak beralih dari pelayan bermasker itu.
"Saya sudah kenyang belajar saat sekolah dulu, mbak. Jangan menambahi lagi, saya sudah pusing dengan pelajaran."
Sementara Fitria yang mendengar ucapan dari pelayan itu hanya tersenyum simpul.
"Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya kembali bekerja dulu." Pungkas pelayan itu, yang enggan berlama-lama di sana.
BRET!
Fitria yang sedari tadi sudah dibuat geram oleh pelayan itu, pun langsung menarik maskernya hingga memperlibhatkan wajah tampannya yang sebelumnya ditutupi oleh
__ADS_1
masker.
"Agatha." Ucap Safira tersentak kaget, ketika melihat laki-laki yang pernah menolongnya di sana.