
Aida yang sedang sibuk melihat ke arah mobil Kartika yang baru saja tiba, membuat Safira yang melihatnya, pun ikut penasaran. Safira turut mengikuti arah netra Aida yang
tengah melihat ke arah di mana mobil
Kartika berada.
Safira yang tidak mengenali mobil itu, pun lantas bertanya kepada Ibu mertuanya itu.
"Mobil siapa itu, Mah?"
"Itu mobil Tik--"
Belum sempat Aida menyelesaikan ucapannya, Daffa sudah datang lebih dulu dan ikut duduk bergabung bersama Aida dan juga Safira.
Baru saja Daffa mendudukkan dirinya di kursi itu, tiba-tiba saja netra Daffa tidak sengaja menangkap keberadaan mobil Kartika yang tengah terparkir di halaman depan rumah milik Bagaskara.
"Untuk apa mereka datang kemari, Mah?" Tanya Daffa kepada Aida.
"Entahlah, tapi menurut Mamah, sepertinya Tika dan Tante Linda sengaja datang kemari agar kita tidak menaruh curiga kepada mereka," Jawab Aida menerka, yang dijawab anggukan kepala oleh Daffa.
"Daff, tolong jangan tunjukan sikap tidak sukamu kepada mereka, ya." Titah Aida melanjutkan ucapannya kembali.
"Memangnya kenapa?" Tanya Daffa dengan menaikkan salah satu alisnya.
Jelas-jelas Kartika adalah satu-satunya orang yang dicurigai oleh dirinya dan juga keluarga besarnya atas kecelakaan yang Safira alami. Bagaimana bisa Aida meminta agar Daffa bersikap baik kepada
wanita yang Daffa sangat benci itu?
"Asal kamu tahu saja, kemarin Mamah sudah memasang penyadap di rumah Tante Linda, untuk mencari bukti agar bisa membongkar kebusukan mereka. Maka dari itu, kamu berpura-pura saja tidak
mencurigainya." Terang Aida menjelaskan.
"Baiklah, Daffa mengerti maksud Mamah." Sahut Daffa seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Sedangkan Safira yang tengah duduk di antara anak dan Ibu itu, pun hanya mendengarkan percakapan keduanya tanpa mengatakan apa pun.
Tidak lama, Kartika yang sudah turun dari mobilnya bersama Linda, pun langsung berjalan mendekat ke arah Aida dan lainnya yang tengah duduk bersantai di sebuah taman pribadi yang berada di rumah
"Hai Tante." Sapa Kartika ramah seraya memeluk Aida yang dikuti oleh Linda setelahnya.
Setelah Kartika melepaskan dirinya dari pelukan Aida, Kartika melihat ke arah Safira yang tengah duduk menatap dirinya.
Kartika yang ingin mencari muka kepada Daffa dan juga Aida, seketika langsung memasang wajah sendu seraya mendekat ke arah Safira.
"Fira, gue dengar dari Tante Aida, katanya lo mengalami kecelakaan. Maafin gue, ya. Yang baru tahu kabar ini." Ucap Kartika seraya memeluk Safira erat, yang tidak lepas dari tatapan Daffa dan juga Aida.
"Ah, iya Tik. Alhamdulillah aku sudah sehat kembali sekarang." Sahut Safira ramah.
"Syukurlah, gue ikut senang melihat kondisi lo yang sudah membaik seperti sedia kala." Ujar Kartika memasang wajah perduli.
"Fira, asal kamu tahu saja, ya. Setelah Tika mendengar bahwa kamu mengalami kecelakaan dari Jeng Aida, Tika sama sekali tidak bisa tidur, loh. Bahkan dia terus memikirkan kondisimu, dan ingin cepat-cepat kemari." Sahut Linda menimpali ucapan dari putri semata wayangnya itu, untuk meyakinkan semua orang bahwa Kartika benar-benar perduli
akan kondisi Safira saat ini.
Sedangkan Safira yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, yang bisa dilihat dari matanya yang menyipit.
"Dasar pembohong!" Gerutu Aida dalam hati.
__ADS_1
Menyadari ada laki-laki pujaan hatinya di sana, lantas Kartika pun langsung menyapa Daffa dengan memberikan senyuman manisnya.
"Hai, Daff." Sapa Kartika yang disambut dengan senyuman samar yang begitu singkat dari Daffa.
Sebenarnya Daffa sangat malas sekali
meladeni wanita itu, tetapi demi kelancaran rencana Aida, Daffa pun harus bekerjasama.
"Astaga, apakah baru saja Daffa memberikan senyumannya kepada gue?" Monolog Kartika tersentak kaget, ketika mendapati respon dari Daffa yang di luar dugaannya.
"Jeng Linda dan Tika, ada apa sampai repot-repot datang kemari?" Tanya Aida berpura-pura tidak tahu maksud kedatangan kedua wanita itu.
"Itu loh, Jeng. Si Tika katanya mengkhawatirkan kondisi Fira, makanya dia ingin melihat keadaan Fira secara langsung." Jawab Linda memaparkan.
"Tika sungguh perhatian sekali kepada Fira ya, Jeng." Ucap Aida yang sebenarnya sudah geram dengan semua skenario yang dibuat oleh kedua wanita itu.
"Sudah seharusnya dong Jeng. Bagaimanapun juga mereka itu kan teman sekolah dulu. Iya kan sayang?" Kata Linda, yang dilanjutkan dengan meminta dukungan dari Kartika.
"Benar sekali. Mah." Sahut Kartika membenarkan ucapan Linda.
"Ya sudah, bagaimana jika kita mengobrolnya di dalam saja." Ajak Aida yang disetujui oleh yang lainnya.
Kemudian Aida pun mulai berjalan masuk ke dalam rumahnya, diikuti oleh Linda dan Kartika di belakangnya.
Sedangkan Daffa yang enggan berlama-lama di sekitar Kartika, pun memilih pergi menuju kamarnya seraya menggandeng tangan mungil milik Safira.
Di sisi lain, Kartika yang menyadari kalau Daffa tidak ikut bergabung dengannya di sana, pun langsung melayangkan protesnya kepada laki-laki pujaan hatinya itu.
"Daffa, kok lo malah pergi, sih?" Tanya Kartika berusaha mencegah kepergian Daffa.
Dengan perasaan malas, akhirnya Dffa pun mengurungkan niatnya dan ikut duduk bergabung bersama yang lainnya.
"Bagaimana, Jeng? Apakah sudah menemukan pelakunya?" Tanya Linda tiba-tiba, membuat atensi Daffa dan Aida langsung tertuju ke arah wanita paruh baya itu.
"Belum, Jeng. Masih dalam proses pencarian." Jawab Aida tersenyum simpul.
"Gue benar-benar sudah muak dengan kebohongan yang dibuat oleh kedua wanita ini. Tunggu saja, sampai gue mengumpulkan semua bukti bahwa kalian adalah pelakunya. Setelah itu, gue akan seret kalian berdua ke dalam jeruji besi!" Monolog Daffa dalam hati yang benar-benar merasa geram.
***
Sore ini, Fitria memutuskan untuk menetralkan pikirannya setelah semalam Fitria mendapatkan kejutan berupa fakta, bahwa Agatha adalah sosok laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.
Dengan berjalan-jalan di sebuah taman kota yang terdapat danau kecil yang saat itu cukup sepi pengunjung, Fitria berniat
menghabiskan waktu sorenya di sana.
"Terkadang, menepi seperti ini memang dibutuhkan untuk menetralkan pikiran." Monolog Fitria seraya berjalan dengan langkah yang cukup pelan.
Melihat ada sebuah bangku taman yang cukup dekat dengan danau itu, Fitria pun langsung mendudukkan dirinya di sana.
Karena merasa nyaman berada di sana, netra Fitria pun tidak berhenti untuk terus memandangi danau itu dengan cukup lama.
Namun, tiba-tiba saja suara dari seorang laki-laki yang tidak asing terdengar di telinganya.
"Apakah saat ini, lo sedang merasa kesepian?" Tanya seorang laki-laki dengan suara baritonnya yang tengah berdiri di belakang Fitria yang tengah duduk di bangku taman itu.
Sesaat, Fitria pun langsung melihat ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Azriel?" Ucap Fitria terkesiap, ketika mendapati mantan kekasihnya tengah berada di sana.
"Sudah lama kita gak ketemu, Fit." Ucap Azriel yang ikut bergabung duduk di sisi Fitria saat ini.
"Hmm." Sahut Fitria hanya bergumam.
"Apa yang lo lakukan di sini?" Tanya Azriel dengan menatap lekat wajah Fitria, sedangkan Fitria terus melihat ke arah danau tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.
"Bukan urusan, lo." Jawab Fitria dingin, yang disambut anggukkan kepala oleh Azriel.
"Apakah lo sudah memiliki pacar setelah dua tahun yang lalu putus dari gue?" Tanya Azriel tiba-tiba, membuat atensi Fitria langsung tertuju kepadanya.
"Kenapa lo diam saja? Pasti lo belum move on dari gue, 'kan?" Tanya Azriel kembali.
"Percaya diri sekali anda!" Ucap Fitria sinis.
"Ucapan gue nggak salah kan?" Tanya Azriel yang tidak sabar menunggu jawaban.
"Gue belum punya pacar, bukan berarti gue belum move on dari lo, Ziel!" Jawab Fitria seraya menyambar tasnya, lalu pergi meninggalkan Azriel begitu saja.
"Tunggu!" Cegah Azriel mengejar Fitria seraya meraih tangannya Yang langsung ditepis oleh Fitria detik itu juga.
"Ikut gue!" Titah Azriel menarik tangan Fitria.
"Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Fitria berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Azriel.
"Lo akan tahu nanti." Jawab Azriel yang semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Fitria.
"Lepasin gue, Ziel! Gue nggak mau ikut sama lo." Ucap Fitria menolak, membuat Azriel menghentikan langkahnya sejenak.
"Kenapa? Bukannya lo masih cinta sama gue?" Tanya Azriel yang disambut dengan senyuman sinis oleh Fitria.
"Gue sama sekali udah gak cinta sama lo sejak dulu!" Jawab Fitria membuat Azriel kesal.
"Bohong! Pokoknya gue mau hubungan kita kayak dulu lagi." Seru Azriel memaksa Fitria agar menjadi kekasihnya kembali.
"Nggak! Gue nggak akan sudi menjalin hubungan dengan laki-laki psycho kayak lo!" Bentak Fitria menolaknya mentah-mentah.
Sedangkan Azriel yang sudah tidak bisa menahan emosinya, pun langsung menyeret tangan Fitria kembali menuju mobilnya yang tengah terparkir di bahu jalan yang tidak jauh dari taman itu.
"Ziel, lepasin gue, atau gue akan teriak!" Ucap Fitria yang terus memberontak.
"Silahkan saja, lagi pula kondisi jalan sedang sepi. Tidak ada orang yang akan menolong lo." Sahut Azriel menyeringai.
di saat keduanya tengah berdiri di sisi mobil milik Azriel, dengan Fitria yang terus memberontak. Agatha yang kebetulan melintas di sana, pun langsung menepikan
mobilnya ketika melihat Fitria tengah ditarik paksa oleh seorang laki-laki.
"Lepasin dia!" Ucap Agatha ketika sudah turun dari mobilnya.
"Lebih baik lo pergi, dan jangan ikut campur dengan urusan orang lain." Ujar Azriel menatap Agatha tajam.
"Gue berhak ikut campur, karena wanita yang saat ini lo seret itu adalah calon istri gue." Terang Agatha yang membuat Fitria tersentak kaget dan membelalakkan matanya sempurna ketika mendengarnya.
"Apakah yang baru saja dia katakan itu benar, Fit?" Tanya Azriel yang membutuhkan penjelasan.
"Be-benar! D-dia adalah calon suami gue." Jawab Fitria terbata-bata seraya menganggukkan kepalanya cepat.
__ADS_1