
Dipaksa Menikah Bagian 44
Oleh Sept
Rate 18 +
Pagi itu mama Hana merasa aneh dengan perubahan sikap Sofi. Ia malah sempat berpikir Sofi mau kabur kembali. Karena begitu Garda berangkat kerja, Sofi malah ganti pakaian. Tapi tidak tahunya, putrinya itu mau ikut pergi bersama Garda, menantu pilihan mama Hana. Hampir saja ia ketar-ketir dibuatnya.
Melihat Garda kembali masuk rumah dan menghampiri mereka, mama Hana lantas berpesan pada menantu satu-satunya tersebut.
"Mama titip Sofi ya," pesan mama Hana sembari menatap menantunya.
Garda pun mengangguk sopan, pria itu kemudian mendekat. Menghampiri Sofi dan meraih lengannya, ia membawa istrinya ke luar menuju mobil. Karena menginap di rumah mertua, Garda tidak memakai sopir pribadi. Ia mengendarai mobilnya sendiri.
Bahkan Garda dengan perhatian membuka pintu untuk istrinya. Sepertinya, hubungan mereka menjadi hangat pasca malam itu. Malam di mana keduanya bersatu, saling terbuka dan saling mengutarakan perasaan masing-masing.
Seolah kini tidak ada dinding pemisah yang biasanya membuat jarak di antara mereka berdua. Sofi yang keras dan jutek pun mendadak menjadi gadis manja dan manis di mata suaminya.
Sementara itu di mata Sofi, sosok Garda yang biasanya sangat ia benci dan membuat ia uring-uringan, kini bagai canduu. Apa mungkin bawaan bayi? Karena Sofi sekarang jadi ingin dekat-dekat dengan suaminya itu. Atau Sofi malah kena kutukan, atau karma. Karena dulu sangat benci dengan pria bernama Garda tersebut.
Sekarang, Tuhan yang maha membolak-mbalik hati manusia, sudah membuat Sofi kelimpungan. Pesona Garda tidak bisa ia bendung. Alhasil, mereka kini seperti amplop dan perangko, nempel.
***
Tiba di Ragasha Group, Garda turun terlebih dahulu dari mobilnya yang mahal itu. Pria tersebut kemudian membuka pintu untuk istrinya.
"Pelan-pelan, awas kepalanya!" seru Garda meminta istrinya hati-hati ketika turun dari mobil. Dengan lembut Garda membatu Sofi turun dari mobilnya.
Mereka berdua pun masuk ke perusahaan dan langsung disambut para karyawan yang menaruh hormat pada keduanya. Setelah itu, Sofi dan Garda kini naik lift, menuju lantai atas. Di mana di sana adalah ruang kerja Garda Arkasa Rajasa.
Tiba di ruangannya, Garda sudah disambut oleh sang sekertaris. Di mejanya juga banyak tumpukan berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani.
Sofi mengeryitkan dahi ketika melihat banyak pekerjaan suaminya yang menumpuk. Ini mungkin karena suaminya yang tidak fokus akhir-akhir ini. Sofi merasa tidak enak, ia yakin ini semua pasti karena dirinya.
"Sepertinya sangat sibuk? Apa aku pulang saja?" tanya Sofi yang tidak enak. Ia juga menatap sekertaris suaminya yang memeluk map.
"Tolong tinggalkan kami," seru Garda pada sekretarisnya.
"Baik, Tuan. Oh ya ... satu jam lagi kita ada jadwal meeting, dan berikutnya ada pertemuan dengan klien penting, Tuan."
__ADS_1
Garda menatap sekretarisnya, ia kemudian mengangguk seolah sudah paham.
KLEK
Begitu sekretarisnya pergi, Sofi tambah merasa tidak enak.
"Sepertinya sangat sibuk, aku pasti menganggu!" ujar Sofi yang merasa tidak nyaman sendiri.
Garda beranjak dari tempat duduknya, ia kemudian menghampiri Sofi yang semula duduk di depannya.
Dari belakang, ia rangkul tumbuh Sofi yang sedang duduk tersebut. Sembari berbisik, "Semuanya tidak penting, aku bisa cancel!"
Sofi tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah, lakukan saja tugasmu. Aku akan tunggu di sini."
"Tidak apa-apa?"
"Nggak apa-apa."
Garda menghela napas panjang, pekerjaan memang penting. Karena sudah terlalu banyak waktunya tersita akibat fokus mencari istrinya yang kabur tersebut.
Beberapa saat kemudian
Ruang kerja Garda seperti cafe dadakan. Di mejanya tersedia menu yang bervarian. Garda memesan banyak makanan dan banyak jenis camilan untuk istrinya. Padahal mau ditinggal meeting sebentar bukan mau kemah atau camping.
"Aku nggak tau, kamu pengennya apa. Nanti pas aku nggak ada biar kamu tinggal pilih."
"Lama-lama, belum genap sebulan BB aku naik drastis!" kata Sofi sambil menggeleng. Ia kemudian memindai makanan yang terlihat enak di depannya. Sangat lezat kelihatannya.
"Bisa gemuk secara instan ini!" tambah Sofi.
"Gak apa-apa, tambah enak kalau berisi!"
Sofi langsung mendongak, dan mata keduanya bertemu sekilas.
Garda pun berjongkok, dia kemudian berbisik.
"Lanjut nanti, aku meeting dulu!"
CUP
__ADS_1
Sebuah bibir mendarat tepat di pucuk rambutnya yang harum.
"Kalau butuh apa-apa langsung telpon."
Seperti anak kucing yang jinak, Sofi mengangguk kalem. Seketika ia menjelma jadi sangat penurut. Mungkin karena sudah ketemu pawangnya.
Karena sudah ditunggu banyak orang, Garda pun meninggalkan Sofi di ruang kerjanya. Seolah dejavu, bedanya kali ini Sofi di perusahaan itu tanpa pengawal.
Bahkan ia tadi melihat, di depan ruang kerja suaminya sama sekali tidak ada orang. Kan ia tidak ada niatan untuk kabur. Dan sepertinya Garda sudah percaya pada dirinya.
***
Sembari menunggu suaminya meeting, Sofi ngemil sampai puas. Tidak lupa nonton TV. Lama-lama ia bosan, karena tidak ada acara yang menarik. Ingin mencari udara segar, Sofi pun memutuskan turun ke lantai bawah.
Tidak ada penjaga ataupun pengawal, Sofi bebas ke mana saja sekarang. Meskipun, gerak-geriknya sekarang masih dipantau. Hanya saja Sofi tidak tahu.
Garda sendiri yang sudah di dalam ruang meeting, wajahnya terlihat begitu serius. Bukan karena fokus pada presentasi anak buahnya, matanya malah fokus pada layar ponsel. Di mana di situ terpantau Sofi sedang menuju lobi.
Panik, takut istrinya kabur lagi. Tanpa bicara, pimpinan Ragasha Group itu langsung berdiri dan meninggalkan ruang meeting.
"SOFIII!" batin Garda.
Tap tap tap ...
Ia berjalan cepat menuju lift. Pintunya pakai acara lama terbuka, membuat Garda langsung uring-uringan.
"Tuan!" panggil sekretarisnya.
KLIK ....
Pintu terbuka, Garda langsung pergi tanpa menoleh.
Tap tap tap ...
Derap langkanya begitu cepat. Begitu keluar dari dalam lift, Garda berjalan setengah berlari hingga sampai ke lobby.
"Ke mana kamu, Sof?"
Garda menatap ke segala arah. Istrinya tidak ada, ia pun keluar mencari Sofi kembali.
__ADS_1
Bukkk ...
Sofi terhenyak, punggungnya terasa hangat, tiba-tiba seseorang memeluknya dengan keras. Mendekap erat seperti jeratan. BERSAMBUNG