
"Lo kenal dia, Fir?" Tanya Fitria yang tak kalah dibuat kaget, dengan menunjukkan jarinya ke arah Agatha.
Bagaimana bisa Safira mengenal laki-laki yang menjengkelkan seperti dia! Batin Fitria menggerutu kesal.
"Dia yang pernah menolongku, saat aku diculik oleh Friska dulu, Fit." Terang Safira memaparkan, berharap kekesalan Fitria mereda.
"Lo salah orang kali, Fir. Nggak mungkin manusia sombong kayak dia mau menolong orang lain, jelas-jelas dia berbuat salah saja kayak santai banget gitu." Sindir Fitria sinis.
Sementara Agatha yang tidak menanggapi sindiran Fitria, hanya menatap lekat ke arah Safira seperti meneliti keadaan wanita bercadar itu, apakah baik-baik saja atau tidak, karena Agatha masih ingat,
bagaimana Kartika begitu menghindari Daffa saat di rumah sakit tempo lalu, Agatha merasa bahwa ada yang tidak beres dengan Kartika hari itu.
Seperti ada sesuatu hal besar yang dia lakukan. Sedangkan Daffa yang menyadari
Agatha tengah menatap istrinya, pun
langsung berdehem hingga berhasil
membuyarkan Agatha dari lamunannya.
"Fit. udah ya." Kata Safira mencoba menenangkan Fitria.
"Nggak bisa gitu dong, Fir--"
Belum sempat Fitria menyelesaikan ucapannya. Safira sudah lebih dulu memotongnya, agar masalah Fitria dan Agatha cepat selesai.
"Aku mewakili temanku, meminta maaf jika ada ucapannya yang terdengar kasar." Ucap Safira, meminta maaf kepada Agatha.
Membuat Fitria membolakan matanya sempurna.
"Fira, jelas-jelas dia yang salah di sini. Kenapa jadi lo yang minta maaf mewakili gue?" Protes Fitria, karena merasa bahwa dirinya di posisi yang benar.
"Jadi cewek bar-bar banget sih, lo! Telinga gue sampai sakit dengar ocehan lo dari tadi." Ejek Agatha dingin, yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa formal karena
sudah hilang kesabarannya yang
setipis tisu itu.
"What? Apa tadi lo bilang?" Tanya Fitria tidak terima.
"Bar-bar." Jawab Agatha mengulangi.
"Beraninya lo mengatakan itu kepada gue, gue akan laporin kejadian ini ke atasan lo, agar lo dipecat dari pekerjaan ini." Ancam Fitria penuh intimidasi.
"Silahkan, gue nggak perduli." Sahut Agatha memasang wajah menantang.
"Bukankah dia dulunya kenalan Friska? Kayaknya nggak mungkin kalau Friska mau bergaul dengan seorang pelayan." Monolog Daffa dalam hati, yang tidak percaya bahwa Agatha bekerja di sana.
__ADS_1
Daffa yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, pun akhirnya mulai membuka suara.
"Lo kerja di sini?" Tanya Daffa memastikan bahwa perkiraannya tidak salah.
"Iya." Jawab Agatha seadanya.
Sebenarnya alasan Agatha sendiri bekerja menjadi pelayan di restoran itu hanya untuk mengisi waktu luangnya saja, agar dirinya bisa menghindari bertemu dengan Bayu
yang terus mendesaknya untuk mengambil pilihan.
Sementara Daffa yang tidak percaya dengan jawaban Agatha, hanya mengerutkan keningnya samar.
Tidak lama, seorang pelayan lainnya memanggil Agatha dan memintanya untuk mengantarkar makanan ke pengunjung lainnya.
Fitria yang merasa bahwa urusannya dengan Agatha belum selesai, pun langsung menahan lengan Agatha, agar laki-laki itu tidak pergi.
"Urusan kita belum selesai, jadi jangan coba-coba kabur!" Ucap Fitria menatap Agatha tajam.
"Apa lagi sih? Minta maaf udah gue lakukan, kan? Ribet banget lo, cewek bar-bar." Desah Agatha kesal, lalu pergi meninggalkan Fitria tanpa ingin meladeninya lebih jauh.
"GILA! Minta maaf macam apa kayak gitu, demi apa pun gue benci banget sama dia!" Gerutu Fitria penuh emnosi.
"Hati-hati, Fit. Benci dan cinta itu bedanya tipis." Ucap Daffa menimpali.
"Cih! Nggak akan gue menaruh cinta ke manusia kayak dia." Sahut Fitria cepat.
***
Safira yang sudah duduk di meja makan ternganga, ketika melihat deretan hidangan yang begitu menggugah selera dalam jumlah yang banyak.
"Ayo sayang, cepat dimakan. Nanti keburu dingin." Titah Aida kepada Safira.
"Liya, Mah." Jawab Safira, yang tidak langsung menyantap makanan yang Aida ambilkan, dengan porsi yang menggunung di atas piringnya.
"Kenapa sayang? Apa kamu tidak menyukainya?" Tanya Aida yang menyadari bahwa menantunya itu hanya menatap makanannya tanpa memakannya.
"Bu-bukan seperti itu, Mah--"
"Daff, mendingan kamu yang duduk di bangku Mamah deh, agar Mamah bisa dekat dengan Fira, jadi kalau Fira butuh apa-apa, Mamah bisa langsung mengambilkannya untuk dia." Titah Aida kepada Daffa agar menukar tempat duduknya.
Tanpa banyak protes, Daffa pun menuruti keinginan Aida. Sedangkan Bagaskara dan Oma Rahma yang sedari tadi hanya melihat
tingkah Aida yang terlihat begitu perhatian kepada menantunya itu, pun hanya mengulas senyuman bahagia.
Safira yang mulai memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, pun tak luput dari netra Aida yang terus menatap ke arahnya. Seperti memiliki hobi baru bagi Aida, ketika melihat menantunya makan dengan lahap.
Di sela-sela aktivitas makan Safira dan yang lainnya, Safira tiba-tiba meletakan alat makannya di atas piring. Membuat Aida menoleh ke arahnya cepat.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Tanya Aida.
Sesaat, Aida melihat ke arah tangan Safira yang sudah memegangi
"Apakah perutmu sakit, Fira?" Tanya Aida yang sudah terlihat panik.
Membuat atensi yang lainnya langsung tertuju ke arah Safira.
"Sayang, apakah perutmu baik-baik saja?" Tanya Daffa yang langsung mendekatkan dirinya ke arah Safira.
"Tidak apa-apa, Mas. Perutku hanya sakit--"
"Aduh, Daff, cepat hubungi Dokter Kayla!" Titah Aida memotong ucapan Safira.
"Mah, aku--"
"Atau, langsung antarkan Fira ke rumah sakit saja, Daff." Sahut Oma Rahma yang memotong ucapan Safira tanpa sadar.
Sedangkan Safira hanya menghela napasnya pelan ketika melihat semua orang terlihat riuh mengkhawatirkan dirinya.
"Mas, Mah, Pah, Oma. Aku tidak apa-apa." Kata Safira membuat suasana yang semula terdengar begitu riuh, menjadi hening dalam waktu singkat.
"Tapi perutmu sakit, Fira. Kamu harus segera diperiksa oleh Dokter." Ucap Aida, dengan mengusap lembut perut Safira.
"Sakit perutku bukan karena yang Mamah dan yang lainnya bayangkan." Ujar Safira menahan malu.
"Lalu?" Tanya Aida yang sudah menunggu kelanjutan dari ucapan Safira.
"Aku hanya ingin, poop Mah." Ucap Safira dengan memelankan Suaranya.
"Hahaha." Dengan bersamaan, semuanya tertawa lepas ketika mendengar ucapan dan tingkah Safira yang terlihat begitu malu-malu namun lucu.
Tidak lama, Safira pun langsung pamit untuk ke toilet.
"Bagaimana dengan pelakunya, Daff? Apakah sudah ditemukan?" Tanya Bagaskara membuka suara.
"Belum, Pah." Jawab Daffa seadanya.
Tiba-tiba saja Aida mengingat ancaman dari Kartika dan Linda yang pernah dilemparkan kepadanya waktu itu.
"Apakah mereka berdua dalang dibalik ini semua?" Monolog Aida dalam hati, dengan pikirannya sendiri.
***
"Ingat ya, Fit. Waktumu tinggal tiga minggu lagi." Celetuk Arya, membuat Fitria yang semula sedang asik menikmati acara televisi kesayangannya, pun langsung
menoleh ke arah laki-laki paruh baya yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, Pah. Tenang saja, aku tidak akan lupa." Sahut Fitria dengan memutar bola matanya malas.