Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
113. Terbongkar


__ADS_3

"Berani sekali lo menampar wajah gue." Ujar Kartika setelah Safira memberikan sebuah tamparan pada wajahnya.


"Karena kamu berhak mendapatkannya." Ucap Safira membuat Kartika menatapnya kesal.


"Maksud lo apa?" Tanya Kartika melangkah mendekat ke arah Safira, namun dengan cepat Daffa langsung menyembunyikan Safira di belakangnya.


"Lebih baik sekarang lo keluar dari rumah gue! Sebelum gue memanggil satpam agar menyeret lo keluar dari sini." Bentak Daffa


mengusir Kartika.


"Mas, biarkan aku berbicara sebentar dengannya." Ucap Safira yang langsung disambut anggukkan kepala oleh Daffa.


"Jangan karena selama ini aku hanya diam saja, kamu bisa seenaknya melewati batas seperti itu, Tika!" Ujar Safira menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Tahu apa lo tentang batas? Lo itu hanya wanita miskin yang beruntung saja bisa menikah dengan Daffa. Tanpa itu, lo bukan siapa-siapa Fira. Jadi, lo nggak berhak untuk menasehati gue!" Sahut Kartika tidak


terima ketika dirinya mendapati nasehat dari wanita yang dianggapnya sebagai saingannya itu.


"TIKA!" Bentak Daffa yang langsung dihentikan Safira.


"Ya, ucapanmu benar. Aku memang wanita miskin, dan aku tidak lupa akan hal itu. Tetapi paling tidak aku lebih bermoral di sini, daripada kamu. Apa ucapanku salah?" Kata Safira membuat Kartika mengepalkan


tangannya kuat.


"Wanita bermoral tidak akan mau mendekati laki-laki yang sudah beristri, Tik. Apa kamu tidak malu dengan semua tindakanmu selama ini?" Sambung Safira berusaha menyadarkan Kartika berharap


wanita itu berubah.


"Nggak usah repot-repot menasehati gue, karena dari awal lo yang sudah merebut Daffa! Jika saja lo nggak merebut dia dari gue, mungkin gue nggak akan bertindak


sampai sejauh ini." Bentak Kartika meluapkan semua emosinya.


"Merebut katamu?" Tanya Safira membuat Kartika tidak tahan lagi mendengar nasehat yang menurutnya sangat memuakkan itu.


Sesaat Kartika pun melayangkan tangannya dan akan mendaratkan di wajah Safira.


"Cukup, Tika!" Ucap Safira dengan suara penuh penekanan, mencegah tangan Kartika yang nyaris mendarat di wajahnya.


"Lepasin tangan gue, Fira!" Berontak Kartika ketika tangannya dipegang erat oleh Safira.


Tanpa mengatakan apa pun, Safira langsung menarik tangan Kartika dan membawanya keluar. Sementara Kartika yang tidak terima dengan perlakuan Safira, terus memberontak agar Safira melepaskan tangannya.


"Maaf, Tik. Sepertinya kami tidak bisa menerima tamu sepertimu di sini,"Ucap Safira setelah berhasil membawa Kartika keluar.


"Hati-hati di jalan, assalamu' alaikum." Pungkas Safira sebelum masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Arrggh. Sialan! Berani sekali wanita miskin kayak lo mengusir gue seperti ini." Teriak Kartika ketika Safira meninggalkan dirinya begitu saja.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Kartika pun memutuskan untuk pergi dari kediaman Daffa. Namun baru beberapa langkah Kartika meninggalkan pintu utama, tiba-tiba Aida datang membuat Kartika


mengurungkan niatnya kembali untuk pergi.


"Tante Aida." Sapa Kartika ramah menyembunyikan kekesalannya.


"Sedang apa kamu di sini, Tik?" Tanya Aida.


"Tadinya aku mau berkunjung ke rumah Dafa untuk menemui Fira, Tan. Tapi Fira malah mengusirku seperti ini, hiks hiks hiks." Jawab Kartika berusaha menarik simpati dari Aida.


"Ya ampun, kalau begitu ikut masuklah dengan Tante saja, Tik." Ajak Aida yang langsung disambut anggukkan kepala oleh Kartika.


Setelah itu, Aida pun masuk ke dalam rumah Daffa di ikuti oleh Kartika di belakangnya. Sementara Daffa dan Safira yang melihat kedatangan Aida langsung


menyambutnya senang, namnun setelah melihat ada Kartika yang berjalan di belakang Aida, membuat Daffa menatap keduanya tajam.


"Untuk apa Mamah membawa dia masuk?" Tanya Daffa kesal.


Tanpa menjawab pertanyaan Daffa, Aida mengajak Kartika untuk duduk di sofa.


"Daffa, Fira, duduklah." Titah Aida membuat Daffa menatapnya heran.


"Ada apa, Mah? Katakan saja. Aku tidak sudi jika harus duduk di dekat wanita itu." Sahut Daffa menolak untuk duduk.


Setelah itu Aida langsung mengambil sebuah alat perekam suara dari dalam tasnya, dan memutarkan sebuah rekaman agar semuanya mendengar isi dari


"Mah, apakah sopir yang menabrak Fira sudah Mamah singkirkan? Aku takut jika Daffa dan keluarganya berhasil menemukan dia. Bisa-bisa kita dalam bahaya." Ujar seorang wanita dari isi rekaman itu.


Kartika yang mendengar itu langsung buru-buru merebut alat perekam itu, namun aksinya digagalkan oleh Aida yang berhasil


merebutnya lebih dulu. Sementara Daffa dan Safira yang mendengar itu langsung menatap ke arah Kartika bersamaan.


"Nggak, itu bukan suara aku, Tan. Itu pasti suara orang lain," Ucap Kartika berusaha mengelak, dengan wajah yang sudah pucat pasi.


"Daff, ini nggak seperti apa yang lo bayangkan. Rekaman itu pasti hanya manipulasi saja, atau efek suara yang dibuat seolah-olah agar mirip dengan suara gue." Sambung Kartika beralih meyakinkan Daffa.


"Tega sekali kamu melakukan itu kepada menantu Tante, apa kamu kira menyingkirkan Fira dengan cara kotor seperti itu kamu akan bisa menggantikan posisi dia? Asal kamu tahu saja Tika, sampai mati pun Tante tidak akan membiarkan wanita jahat sepertimu bisa bersanding dengan anak Tante, meskipun kamu wanita satu-satunya di dunia ini!" Ujar Aida meluapkan emosinya.


"Tante, percayalah.. Itu bukan suaraku, sungguh." Kata Kartika yang terus saja berusaha meyakinkan Aida.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengakuinya. Biarkan bukti yang akan berbicara," Ucap Aida geram.


"Masuk!" Sambung Aida memerintahkan orang suruhannya agar masuk ke dalam.


Tidak lama seorang laki-laki berpakaian serba hitam pun datang dengan membawa sebuah laptop.


"Ini, Nyonya." Ucap laki-laki itu memberikan laptop kepada Aida.

__ADS_1


Dengan cepat Aida pun langsung memutar video rekaman CCTV untuk diperlihatkan kepada semua orang di sana agar Kartika tidak bisa lagi mengelak.


Daffa dan Safira membelalakkan matanya sempurna saat melihat rekaman itu yang terlihat Kartika tengah memberikan sejumlah uang kepada seorang laki-laki di sebuah ujung jalan yang terlihat cukup sepi.


"A-aku hanya memberikan uang kepada Ayah dari temanku saja, Tan, apakah aku salah jika membantu mereka?" Ucap Kartika yang lagi-lagi mengelak membuat Aida menggelengkan kepalanya tidak


percaya. Benar-benar wanita ular! Batin Aida.


"Seret laki-laki itu masuk dan bawa kemari. Agar dedemit ini tidak bisa lagi mengelak lagi!" Titah Aida kepada laki-laki yang berpakaian serba hitam itu.


Kemudian laki-laki itu pun bergegas keluar, dan masuk kembali ke dalam dengan diikuti oleh dua orang berpakaian hitam lainnya yang membawa seorang laki-laki yang terdapat banyak luka di bagaian


wajahnya.


Kartika yang semula merasa percaya diri karena dia mengira akan lolos begitu saja dengan semua bukti yang Aida bawa, seketika langsung tersentak kaget saat melihat laki-laki yang baru saja masuk ke dalam.


Kartika tidak percaya Aida bisa menemukan keberadaan sopir bayaran yang Kartika tugaskan untuk menabrak Safira.


"Bagaimana bisa dia berada di sini? Bukankah Mamah sebelumnya mengatakan bahwa dia sudah pergi ke Singapura dan menetap di sana?" Monolog Kartika dalam hati, dengan menatap tajam ke arah sopir bayarannya itu.


"Kenapa sekarang kamu hanya diam saja, Tik? Apa kamu sudah tidak bisa mengelak lagi?" Tanya Aida menatap sinis Kartika.


"Tante, aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti apa yang Tante bayangkan. Aku sama sekali tidak mengenal laki-laki ini, Tan." Ucap Kartika membela diri.


PLAK!


"CUKUP KARTIKA! Tante sudah muak dengan semua sandiwaramu. Seberapa keras pun kamu menjelaskan, Tante tidak akan percaya dengan ucapanmu itu." Bentak Aida setelah menampar wajah


Kartika.


Dengan memegangi wajahnya yang terasa nyeri, Kartika melirik ke arah Safira yang sedari tadi hanya diam menyaksikan tanpa


mengeluarkan suara apa pun.


Kartika pikir Safira adalah satu-satunya orang yang akan mempercayai ucapannya


dan akan membelanya di depan Daffa


maupun Aida.


"Fira, lo percaya dengan gue, kan?" Tanya Kartika mendekat ke arah Safira untuk meminta pembelaan darinya.


PLAK!


Bukannya sebuah pembelaan yang Kartika dapatkan, Kartika malah justru mendapatkan sebuah tamparan kembali pada wajahnya yang masih terasa nyeri.


"Apa kamu sadar bahwa tindakanmu itu hampir saja membahayakan nyawa anakku?" Tanya Safira dengan suara bergetar menahan emosi.

__ADS_1


__ADS_2