Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
69. Mual


__ADS_3

"Aku bisa pesan makanan untuk makan malam nanti sayang, jadi kamu tidak perlu capek-capek masak seperti ini."


"Nggak mas, kita harus hidup hemat. "


"Hahaha kamu lupa siapa suamimu sayang? Bahkan hartaku tidak akan habis hingga tujuh turunan. Jadi untuk apa hemat?" Tanya Daffa dengan terkekeh.


"Tetap saja mas-"


Ucapan Safira terhenti ketika Daffa dengan cepat menggendong Safira untuk


mendudukkannya di atas sofa yang berada di ruang keluarga.


"Mas Dafa, turunkan aku. Aku belum selesai masak."


"Duduklah di sini, dan temani aku sayang" Ucap Daffa ketika sudah mendudukkan Safira dan merebahkan dirinya di sofa dengan menjadikan kaki bagian atas Safira


sebagai bantalannya.


Tidak ingin banyak protes, Safira pun akhirnya diam dan menuruti seraya membelai lembut rambut Daffa. Mendapati belaian lembut dari istrinya, Daffa pun memengubah posisinya yang semula. terlentang menjadi ke arah perut Safira.


"Geli mas. " Cicit Safira.


Bukannya menjauh, Daffa justru semakin menenggelamkan wajahnya pada perut Safira yang menurutnya nyaman.


Kruyuk.


Terdengar suara dari dalam perut Safira yang begitu nyaring di telinga Daffa, sesaat Daffa pun membuka matanya yang semula terpejam dan menatap ke arah Safira.


"Cacing di perutmu sepertinya sudah saling unjuk rasa, sayang." Goda Daffa seraya mengelus perut Safira.


Padahal saat ini belum waktunya untuk makan malam, tetapi belakangan ini entah mengapa perut Safira sering merasakan lapar.


"Hehehe, " Safira hanya terkekeh malu.


"Aku ingin membuat mie instan dulu deh mas, untuk mengganjal perutku. " Lanjut Safira kembali.


"Aku pesankan makanan saja sayang, tunggu sebentar. " Kata Daffa seraya meraih ponselnya di atas meja.


"Nggak usah mas, lagi pula kan sebentar lagi waktunya makan malam. Lebih baik aku makan mie instan dulu untuk sekedar mengganjal.


"Hmm, baiklah sayang." Ucap Daffa mengalah.


"Ya udah kalau gitu mas Daffa geser sebentar, aku mau ke dapur dulu. " Pinta Safira kepada Daffa yang masih menjadikan kaki bagian atasnya sebagai bantalan.


"Aku ikut sayang. " Kata Daffa yang sudah mengubah posisi sebelumnya.


"Baiklah."


Safira pun mulai berjalan menuju Dapur diikuti oleh Daffa di belakangnya.

__ADS_1


Sesampainya di dapur, Daffa masih terus saja mengekori dirinya dari belakang yang membuat pergerakan Safira terbatas.


"Mas, mendingan duduk saja di kursi. Dari pada mengikutiku terus seperti ini. "


Tidak ingin jauh dari Safira, Daffa mencebikkan bibirnya seraya menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan.


Sedangkan Safira hanya bisa menghela napasnya panjang.


"Baiklah." Gumam Safira pasrah.


Tidak lama, mie instan yang sebelumnya Safira masak pun telah matang.


"Mas Daffa, mau? " Tanya Safira sebelum menyantap mie instan buatannya.


"Nggak, aku tidak suka. Mie instan itu kurang sehat sayang, mulai sekarang kamu jangan terlalu sering memakannya ya? "


"Tapi mie instan itu enak dan praktis loh mas, sayang sekali jika mas Daffa tidak menyukainya, " Kata Safira.


"Kalau gitu aku makan duluan ya mas, bismillah. " Lanjut Safira kembali yang mulai nmenyuapkan mie ke dalam mulutnya.


Sedangkan Daffa yang awalnya menolak untuk memakan mie instan buatan Safira pun hanya bisa menelan salivanya berkali-kali ketika aroma dari mie tersebut tercium oleh indera penciumannya.


"Mas Daffa yakin gak mau nyobain sedikit?" Tanya Safira.


"Ekhem, baiklah kalau kamu memaksa. " Ucap Daffa yang menyembunyikan bahwa sebenarnya dirinya kini ingin mencoba rasa dari mie instan itu.


Daffa pun mulai mengambil alih garpu pada tangan Safira, dan mulai menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


"Enak sayang. " Jawab Daffa yang menyantap mie dengan lahap.


Karena saking lahapnya menyantap mie itu, tanpa Daffa sadari ternyata mie instan milik Safira kini habis tak tersisa.


Seketika Daffa pun meringis malu.


"Nyobain mie atau lapar mas? Hehehe. " Sindir Safira dengan terkekeh.


"Maaf sayang, mienya gak sengaja aku habiskan." Kata Daffa seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


"Iya mas, nggak papa. "


Tiba-tiba saja Safira merasakan mual setelah mengkonsumsi mie instan tadi. Padahal jumlah mie yang Safira makan tidak begitu banyak.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Daffa cemas, ketika melihat Safira tengah menahan muntah.


"Perutku mual mas. Apa karena asam lambungku naik ya? gara-gara makan mie instan ini. "


"Sudah ku katakan bahwa mie instan itu-"


Ucapan Daffa terhenti ketika Safira lari ke dalam toilet. Tidak ingin terjadi apa-apa

__ADS_1


dengan istrinya, Daffa pun dengan cepat menyusulnya.


"Sayang, kamu gak papa? " Tanya Daffa dari luar toilet.


"Hoek, hoek, hoek. " Terdengar suara Safira tengah mengeluarkan paksa isi perutnya.


"Apa kamu memiliki obat lambung di rumah sayang? Jika tidak ada, aku akan membelinya di apotek.


"Ada mas, aku taruh di dalamn laci kamar."


"Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu. " Pungkas Daffa lalu pergi ke kamarnya.


Safira yang sudah merasakan lega setelah memuntahkan isi perutnya pun kembali duduk di kursi.


Sedangkan Daffa yang baru saja mengambil obat lambung milik Safira pun langsung memberikannya kepada Safira.


"Ini obatnya sayang. " Kata Daffa dengan memberikan obat kepada Safira.


"Terimalkasih banyak mas. "


"lya sayang, sama-sama. Lain kali jangan makan mie instan lagi ya."


"Hmm, aku gak janji mas hehehe." Ucap Safira sambil terkekeh.


***


Sesuai perintah Daffa sore tadi yang melarang Safira untuk menyiapkan hidangan makan malam, dan rencananya Daffa akan memesan makanan dari luar untuk makan malamnya bersama Safira.


"Assalamu'alaikum. " Ucap Daffa yang baru saja pulang dari masjid setelah shalat isya.


"Wa'alaikumussalam. " Jawab Safira yang baru selesai dari aktivitas membaca Alqurannya.


"Sayang, kamu mau makan apa malam ini?" Tanya Daffa seraya mengambil ponselnya di atas nakas.


"Bagaimana kalau kita makan di pinggir jalan saja mas? " Jawab Safira dengan bertanya.


Mendengar ucapan Safira, membuat Daffa selketika menaikkan salah satu alisnya. Pasalnya dari dulu Daffa tidak pernah membeli makanan yang di jual di kaki lima.


"Tapi makanan di pinggir jalan itu tidak higienis sayang, nanti kalau perutmu bermasalah lagi bagaimana?"


"Nggak mas, tidak akan. Lagi pula makanan yang dijual di pinggir jalan juga bersih kok. Tidak seperti yang mas Daffa bayangkan. "


"Tetap saja sayang kebersihannya tidak terjamin."


"Pokoknya aku akan memesankan makanan dari restoran saja, atau kamu mau makan di sana langsung? "


"Mas Daffa jahat!" Ucap Safira lalu merebahkan dirinya di atas kasur dan menutupi tubuh hingga wajahnya dengan menggunakan selimut.


"Sayang, bukannya aku jahat. Aku hanya tidak ingin kamu sakit." Ucap Daffa seraya membuka selimut itu, namun dengan cepat Safira menarik kembali selimutnya.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks, apa salahnya dengan makanan di pinggir jalan mas? Aku hanya ingin memakan itu, apa tidak boleh? " Tanya Safira dengan menangis.


__ADS_2