Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
99. Sandiwara Fitria dan Agatha


__ADS_3

Mendapati anak bungsunya membawa seorang wanita secara tiba-tiba tepat di depan matanya, Bayu yang tidak langsung


mempercayai Agatha, pun hanya memasang wajahnya datar.


Sementara Agatha yang mengetahui bahwa Bayu tidak mempercayai jika Fitria sebagai pacarnya, Agatha langsung merangkul Fitria erat untuk mempertegas bahwa mereka sedang dalam ikatan sebagai pasangan kekasih.


"Sayang, kok kamu ke sini gak bilang-bilang aku dulu, sih? Kalau aku tahu kamu mau ke sini, aku pasti akan menjemput ke rumahmu." Ucap Agatha penuh dengan kelembutan.


"Ah, maafkan aku sayang. Aku memang sengaja tidak memberitahumu, agar tidak


merepotkanmu." Sahut Fitria mengikuti sandiwara yang Agatha buat.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu, aku sama sekali tidak pernah merasa direpotkan olehmu." Ujar Agatha seraya mengusap lembut pucuk kepala Fitria.


"Dasar pembual! Kalau saja gue gak membutuhkan bantuannya, gue benar-benar tidak mau melakukan ini!" Gerutu Fitria dalam hati.


Sementara Bayu yang sedari tadi belum mengeluarkan suara, pun hanya berdehem ketika melihat dua sejoli di depannya yang membuatnya geli sendiri.


"Papah kira aku akan kalah dengan perintah Papah? Lihat saja, bahkan saat ini saja Papah tidak bisa berkata apa-apa, 'kan?" Monolog Agatha dalam hati.


"Sayang, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan saja?" Tanya Agatha kepada Fitria dengan senyuman yang sedari tadi sudah bertengger di wajahnya.


"Ide bagus, sayang!" Sahut Fitria memasang ekspresi penuh gembira.


"Pah, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan. Aku dan Fitria pamit dulu," Pungkas Agatha kepada laki-laki paruh baya yang sedari tadi hanya melihat keduanya tanpa


mengatakan apa pun.


"Ayo sayang!" Lanjut Agatha kembali, seraya mengajak Fitria untuk pergi dari sana.


"Om, saya permisi dulu, ya." Ucap Fitria berpamitan.


Baik Agatha maupun Fitria, pun langsung berjalan keluar restoran itu dengan tangan yang masih saling mengandeng satu sama lain untuk menunjukan kepada Bayu, bahwa hubungan keduanya bukan hanya


sandiwara semata.


Ketika keduanya sudah keluar dari restoran itu, Fitria langsung menarik tangannya dari genggaman Agatha.


"Kenapa lo gak bilang gue sebelumnya tentang hal ini?" Tanya Fitria kesal, karena Agatha tiba-tiba saja menggunakan dirinya untuk bersandiwara tanpa memberitahunya


terlebih dahulu.


"Apa itu penting? Lagi pula, bukankah lo juga meminta bantuan kepada gue untuk hal ini, 'kan?" Jawab Agatha dengan balik bertanya.


"Lo lupa? Gue meminta lo menjadi pasangan pura-pura gue, karena lo gak mau minta maaf ke gue kemarin. Dan gue anggap impas kalau lo melakukan itu. Tapi, bukan berarti lo bisa sesuka hati menjadikan gue pasangan pura-pura lo juga." Terang Fitria memaparkan dengan nada kesal.


"Ribet banget sih, lo jadi orang! Tinggal ikuti alurnya saja, apa tidak bisa?" Desah Agatha dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Astaga.. Bukannya berterimakasih sudah gue bantu, ini malah ngegas terus. Lo makan batu atau apa sih?" Gerutu Fitria.


Di sela-sela percakapan antara Agatha dan Fitria, tiba-tiba saja ponsel milik Fitria berdering. Fitria yang melihat bahwa Arya yang menghubunginya pada layar


ponselnya, pun langsung menjawab


panggilan itu.


"Halo, Pah." Jawab Fitria malas, karena Fitria sudah tau kemana arah perbincangan yang akan Arya lemparkan.

__ADS_1


'Kamu lagi di mana, Fit?' Tanya Arya melalui sambungan suara.


"Aku sedang--" Jawab Fitria menghentikan sejenak ucapannya.


"Aku sedang di rumah teman, Pah. Ada apa?" Sambung Fitria melanjutkan ucapannya dengan membohongi Arya.


'Kapan kamu akan pulang ke rumah?' Tanya Arya kembali.


"Entahlah, karena rumah temanku sangat jauh. Mungkin tengah malam nanti, atau bisa saja besok pagi."


'Apa kamu tidak bisa, jika sore ini sudah di rumah?'


"Tidak bisa, Pah. Aku sudah mengatakannya kalau rumah temanku sangat jauh."


'Kalau begitu, kirimkan alamat temanmu kepada Papah. Biar Papah meminta sopir untuk menjemputmu ke sana sekarang juga.' Pinta Arya yang membuat Fitria tersentak kaget mendengarnya.


Bagaimana bisa Fitria mengirimkan alamat temannya, sedangkan ucapannya saja hanya kebohongan semata.


"Ng-nggak usah, Pah." Sahut Fitria terbata-bata.


'Apa kamu sedang membohongi Papah?' Tanya Arya yang menyadari bahwa Fitria tengah mengelabuhinya.


"Ti-tidak!" Jawab Fitria cepat.


'Benarkah? Kalau begitu kirimkan alamat temanmu sekaran juga.


"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri. Papah tidak perlu cemas." Ucap Fitria gagal menghindari orang tuanya itu.


'Baiklah, kalau gitu Papah tutup dulu.' Pungkas Arya seraya memutuskan sambungan teleponnya.


Agatha yang sedari tadi hanya berdiri di depan Fitria, pun ikut mendengarkan percakapan antara anak dan ayah itu.


"Nggak usah banyak komentar, gue sama lo itu nggak jauh beda," Sahut Fitria tidak terima.


"Nanti malam lo gak sibuk, 'kan?" Sambung Fitria kembali dengan bertanya.


"Kenapa memangnya? Lo mau ngajak gue kencan?" Jawab Agatha dengan kembali bertanya, yang disambut sinis oleh Fitria.


"Najis! Kepedean banget lo." Jawab Fitria seraya memutar bola matanya malas.


"Terus?" Tanya Agatha dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Lo ingat 'kan tentang penawaran gue kemarin malam?"


"Iya, gue ingat."


"Kalau gitu, gue tunggu kedatangan lo nanti malam di rumah."


"Gue nggak tahu alamat lo." Sahut Agatha beralasan.


"Mana ponsel, lo?" Pinta Fitria dengan mengulurkan tangan kanannya ke arah Agatha.


Agatha yang tidak banyak protes, pun langsung memberikan ponselnya kepada Fitria.


"Ini nomor ponsel gue, nanti gue akan kirimkan alamatnya melalui pesan." Ujar Fitria setelah menyimpan nomornya di ponsel milik Agatha.


****

__ADS_1


Di sisi lain, Bayu yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, memilih duduk di sana lebih lama.


"Papah tidak akan membiarkanmu menikah dengan gadis itu, Ta! Seberapa keras kamu menolak, Papah tetap akan


membuatmu menikah dengan gadis


pilihan Papah." Monolog Bayu dengan ponsel di tangannya.


"Sepertinya aku harus cepat mengatur pernikahan anak itu, agar dia tidak gegabah memilih wanita lain yang tidak jelas asal-usulnya." Sambungnya kembali.


***


Tok tok tok.


Mendengar suara ketukan dari arah luar, wanita paruh baya pemilik rumah itu pun langsung membukakan pintunya segera.


"Jeng Aida, ada apa kemari?" Tanya Linda sinis, ketika baru saja membukakan pintu rumahnya.


"Apa aku boleh masuk, Jeng?" Tanya Aida yang berusaha ramah.


"Masuk? Aku rasa tidak perlu, Jeng Aida bisa berbicara dengan berdiri di depan pintu seperti itu. Katakan saja, aku akan


mendengarkannya dengan baik." Jawab Linda ketus.


Aida yang sebenarnya sudah terpancing emosinya, pun sebisa mungkin menahannya agar bisa menemukan bukti.


"Apakah Jeng Linda tahu, kalau menantuku mengalami kecelakaan tempo hari?" Tanya Aida tanpa basa-basi.


"Ha? Lalu, bagaimana keadaan dia, Jeng?" Jawab Linda yang pura-pura tidak mengetahuinya.


"Apakah saat ini dia sedang berakting? Pintar sekali wanita ini dalam memainkan perannya." Monolog Aida dalam hati.


"Jadi, Jeng Linda belum mendengarnya, ya?"


"Aku benar-benar belum mendengarnya, Jeng."


"Tapi, aku rasa kecelakaan yang dialami menantuku itu seperti telah direncanakan oleh seseorang, Jeng." Ujar Aida yang sengaja memancing pembicaraan ke arah sana.


"Tega sekali orang yang melakukan itu." Sahut Linda berpura-pura empati.


"Namun, Kalau dilihat, menantuku itu mustahil memiliki musuh. Jika bukan orang yang memang sengaja ingin


menyingkirkannya. Tidak mungkin kan jeng kalau itu Tika yang melakukan?"


Sementara Linda yang mendapati pertanyaan itu dari Aida, pun langsung terlihat begitu gugup.


"Hahaha, mana mungkin Tika yang melakukannya, Jeng. Jeng Aida kan tahu kalau mereka teman satu SMA dulunya." Sahut Linda sengaja tertawa untuk menutupi kegugupannya saat ini.


"Tapi... Kalau diingat, bukankah Tika pernah mengancamku saat terakhir berkunjung ke rumahku, Jeng? Aku sempat berpikir ini semua perbuatan Tika agar aku menyesal


sesuai ancaman Tika tempo hari itu loh,"


"Hehehe maaf ya Jeng, kalau aku sempat asal mengira." Sambung Aida kembali yang sengaja mengulik secara halus.


"Lihatlah, setelah aku mengatakan itu wajahmu begitu pucat, Linda. Tidak salah lagi, kalian memang dalang di balik semua ini." Gumam Aida dalam hati setelah


menangkap ekspresi dari Linda yang

__ADS_1


sudah pucat pasi.


__ADS_2