
Azriel yang tidak mempercayai ucapan dari Agatha dan juga Fitria hanya tersenyum simpul. Apalagi setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Fitria yang
menurutnya sangat terlihat sekali jika
mantan kekasihnya itu tengah membohonginya.
"Oh ya?"Tanya Azriel menyeringai sama sekali tak mempercayai ucapan dari Fitria itu.
"Lo benar-benar tidak pandai dalam berbohong, Fit!" Sambungnya kembali.
"Terserah, lo mau percaya atau nggak! Yang pasti lo gak berhak maksa gue kayak gini." Ucap Fitria tidak terima dengan sikap Azriel yang menurutnya sudah sangat kasar.
"Lepasin tangan Fitria sekarang juga!" Titah Agatha dengan menunjuk ke arah tangan Azriel yang masih menggenggam kuat
tangan Fitria.
Tapi, bukannya Azriel melepaskan tangan Fitria, dia justru semakin mengeratkan genggamannya hingga membuat Fitria meringis kesakitan.
"Lepasin gue, Ziel. Tangan gue sakit." Cicit Fitria yang tidak berhenti berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Azriel.
"Nggak! Gue nggak akan melepaskan lo, sebelum lo ikut gue sekarang juga." Kata Azriel dengan menatap tajam Fitria.
"Apa lo tuli? Jelas-jelas dia dari tadi terus menolak ajakan lo." Timpal Agatha yang dibuat geram dengan sikap Azriel.
Bagaimana bisa ada laki-laki yang memiliki keras kepala seperti wanita? Batin Agatha
merutuki laki-laki itu.
"Diam, dan gak usah ikut campur" Bentak Azriel yang menganggap Agatha sebagai pengganggu.
"Gak usah ikut campur kata, lo? Hei brother, dia saja calon istri gue, bagaimana bisa gue harus diam saja ketika laki-laki pshyco kayak lo membawanya pergi." Papar Agatha dengan menatap remeh Azriel.
"Hahaha, sayangnya gue nggak percaya sama sekali dengan ucapan lo itu!" Sahut Azriel mentertawakan Agatha.
Mendapati Azriel yang terus tidak mempercayai ucapannya dan juga Agatha, Fitria pun mulai memanggil Agatha dengan panggilan selayaknya kekasih, agar Azriel percaya dengan ucapan keduanya.
"Sayang, tolongin aku." Ucap Fitria membuat Azriel yang semula tengah menatap Agatha, kini beralih menatap dirinya dengan tatapan tajam.
Namun, usaha Fitria bukannya membuat Azriel percaya. Azriel yang mendengar itu justru tersulut emosinya.
Sesaat, Azriel langsung melepaskan genggamannya dari tangan Fitria, dan langsung memukul Agatha hingga tersungkur di aspal untuk meluapkan kekesalannya.
Sedangkan Agatha yang menangkap bahwa saat ini Azriel tengah dikuasai rasa cemburu, pun hanya menyeringai.
"Gue gak tahu, ada urusan apa lo dengan calon istri gue. Tapi gue minta selaku calon suaminya, mulai sekarang jangan ganggu dia lagi, atau lo akan menyesal." Ucap Agatha setelah dia berdiri kembali.
"Gak mungkin kalau Fitria itu calon istri lo, jelas-jelas dia saja belum move on dari gue!" Kata Azriel dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Hahaha kepercayaan diri lo memang patut diacungi jempol!" Ejek Agatha dengan mengacungkan kedua ibu jarinya di hadapan Azriel.
Mendapati dirinya tengah direndahkan oleh Agatha, kemarahan Azriel yang sedari tadi sudah meluap pun semakin dibuat mendidih oleh laki-laki yang mengaku sebagai calon suami dari mantan kekasihnya itu.
BUGH!
Tanpa banyak mengatakan apa pun, Azriel kembali melayangkan pukulannya kepada Agatha. Kali ini, bukan hanya pada bagian wajahnya saja, melainkan di bagian tubuh
Agatha yang lainnya.
Sedangkan Fitria yang melihat itu, pun berteriak seraya berlari ke arah Agatha dan melindunginya dari pukulan Azriel yang saat itu sudah membabi buta.
Agatha bukannya tidak bisa berkelahi, hanya saja Agatha sengaja melakukan itu agar Azriel bisa menjadi tersangka jika
Agatha membawa kasus ini ke jalur
hukum, kalau sampai Fitria tetap nekat Azriel bawa.
"Hentikan, Ziel! Jangan sakiti dia lagi." Ucap Fitria dengan suara tinggi.
Sedangkan Azriel yang melihat bagaimana Fitria melindungi Agatha, langsung menghentikan pukulannya dan bergeming sesaat.
Azriel yang menyadari bahwa ucapan keduanya bukanlah kebohongan, Azriel pun langsung membuang wajahnya ke arah lain, dan meninggalkan keduanya begitu
saja tanpa mengatalkan apa pun.
"Gue jadi ragu, lo itu sebenarnya perempuan atau laki-laki, sih? Masa dipukul sampai babak belur seperti itu tidak ada perlawanan sama sekali."
"Bukannya berterimakasih, malah menggerutu seperti itu. Apa seperti ini cara Om Arya mendidik, lo?" Timpal Agatha kesal kepada wanita yang baru saja dia tolong.
"Maaf, maaf. Makasih banyak ya atas bantuannya tadi." Ucap Fitria lirih, yang dijawab Agatha hanya dengan bergumam.
Kemudian, Fitria melihat ke arah wajah Agatha yang mendapati beberapa luka lebam beserta darah segar yang mengalir di sana.
Fitria yang merasakan cemas, pun lantas menyentuhnya.
"Aww," Pekik Agatha meringis kesakitan.
"Maaf, sakit, ya?" Ucap Fitria lembut.
Sementara Agatha hanya diam mematung ketika mendapati pertanyaan dari Fitria, yang menggunakan nada bicara tidak
seperti biasanya.
"Tunggu sebentar." Sambung Fitria kembali seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Gue bersihkan darah lo dulu, ya. Tapi kalau lo sakit harus bilang." Kata Fitria dengan beberapa lembar tisu basah di tangannya.
__ADS_1
Sedangkan Agatha hanya memberikan anggukkan kepalanya saja sebagai jawaban setuju.
Dengan pelan-pelan, Fitria pun mulai membersihkan darah yang terdapat di bagian wajah Agatha.
"Di mana mobil, lo?" Tanya Agatha ketika Fitria telah selesai membersihkan lukanya.
"Gue ke sini naik taksi." Jawab Fitria seadanya.
"Ya sudah, ayo gue antar lo pulang." Ajak Agatha yang memutuskan untuk mengantar Fitria pulang menggunakan mobilnya.
Baru saja Agatha ingin membuka pintu kemudi, Fitria sudah menerobos masuk lebih dulu.
"Gue aja yang nyetir." Kata Fitria tanpa menunggu persetujuan dari Agatha.
"Gue aja. Minggir." Sahut Agatha.
"Nggak! Apa lo gak lihat, kalau wajah lo begitu banyak luka. Gue gak mau kalau sampai ada apa-apa di jalan." Terang Fitria memaparkan.
Sedangkan Agatha yang tidak ingin banyak berdebat, pun hanya diam menuruti.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Arya, tidak ada percakapan apa pun di antara Agatha dan Fitria.
Entah mengapa kali ini rasanya begitu canggung bagi keduanya, tidak seperti biasanya.
"Siapa dia?" Tanya Agatha tiba-tiba, membuat Fitria yang semula tengah fokus menyetir, pun melirik ke arah Agatha yang tengah duduk di sampingnya.
"Untuk apa lo ingin tahu? Jangan-jangan lo cenmburu, ya?" Tanya Fitria menggoda Agatha.
"Cemburu? Sorry, gue gak ada waktu untuk itu." Jawab Agatha seraya membuang wajahnya ke arah lain.
"Hahaha, yakin?" Goda Fitria kembali.
"Apa sih? Gak jelas banget lo." Sahut Agatha kesal dengan memutar bola matanya malas.
"Seperti yang lo dengar tadi, Ta. Dia adalah mantan kekasih gue dulu." Ucap Fitria menjawab pertanyaan Agatha.
"Lain kali kalau mau mencari laki-laki tuh yang benar, jangan laki-laki pshyco kayak gitu dijadikan kekasih. Ujung-ujungnya lo juga, kan yang rugi?" Ujar Agatha menasehati.
"Bukannya lo calon suami gue, ya? Jadi, gue rasa gak perlu cari laki-laki lain, hahaha." Goda Fitria menanggapi nasehat yang diberikan oleh Agatha.
Tidak terasa mobil Agatha yang dikemudikan oleh Fitria, pun telah sampai di kediaman Arya.
Sesampainya di sana, yang awalnya Agatha hanya berniat untuk mengantarkan Fitria pulang, tiba-tiba Arya dan Evi yang kebetulan sedang berada di depan runmah pun menahan Agatha yang hendak ingin pergi.
Sesaat, Arya dan Evi terkejut ketika melihat Agatha yang terdapat banyak luka di bagian wajahnya.
"Loh, ada apa dengan wajahmu,Ta?" Tanya Arya dengan ekspresi Cemas.
__ADS_1