
"J-jadi Tante sudah tahu?" Tanya Fitria terbata-bata yang langsung disambut anggukkan kepala oleh Rosa.
"Ya, Tante sudah mendengarnya dari Agatha semalamn. Tante mengerti, pasti perjodohan yang begitu mendadak ini sangat mengejutkan bagi kalian." Jawab Rosa membuat Fitria menghela napasnya lega.
"Syukurlah, ternyata Tante Rosa tidak berpikir ke arah sana." Gumam Fitria dalam hati.
"Setelah ini, lo akan pulang kan?" Tanya Agatha kepada Fitria.
"Hmm." Jawab Fitria hanya bergumam yang disambut langsung oleh Agatha dengan anggukkan kepala.
Setidaknya, Agatha tidak perlu mengkhawatirkan wanita itu lagi jika dia pulang.
Setelah sarapan ketiganya telah selesai, Agatha pergi mengantarkan Rosa ke toko bajunya. Sementara Fitria yang sudah berpamitan, pun langsung memutuskan untuk pulang.
***
Pagi ini, Safira yang baru saja mengecek ponselnya dikejutkan oleh kabar yang Evi berikan melalui pesan singkat yang baru saja Safira baca, bukan hanya pesan saja, di sana pun terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari wanita paruh baya itu.
Sementara Daffa yang sedang duduk sofa menatap istrinya heran, ketika menangkap ekspresi wajah yang tak biasa dari istrinya itu.
"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Daffa ingin tahu.
Sesaat, Safira pun langsung menatap Daffa dengan tangan yang masih menggenggam ponsel miliknya.
"Fitria pergi dari rumah, Mas." Ucap Safira panik membuat Daffa tersentak kaget mendengarnya.
Safira pun langsung buru-buru menghubungi nomor Fitria, namun masih tidak bisa seperti yang Evi katakan pada pesan yang di kirimkan kepadanya.
Akhirnya Safira pun memutuskan untuk menanyakan keberadaan Fitria kepada Evi melalui pesan.
Tidak butuh waktu lama, pesan yang Safira kirimkan pun langsung di balas oleh Evi yang mengatakan bahwa Fitria baru saja pulang.
"Mas, bisakah mengantarkanku ke rumah Fitria? Aku rasa dia sedang membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya saat ini.
Ya, meskipun aku tidak tahu apa masalah
yang membuat Fitria pergi dari rumah. Namun paling tidak, kehadiran kita bisa menjadi support
system bagi dia, 'kan?" Ujar Safira yang langsung di setujui oleh Daffa.
Setelah Dafa bersedia mengantarkan Safira ke rumah Fitria, Safira pun bersiap dan langsung bergegas pergi dengan menggunakan mobil yang dikemudikan sendiri oleh Daffa menuju kediaman Fitria.
Saat mobil Daffa sudah memasuki halaman rumah Fitria, keduanya langsung turun dari mobilnya. Namun, baru saja Daffa dan Safira berjalan beberapa langkah
sudah terdengar suara dari laki-laki dengan intonasi yang sangat tinggi.
"Om Arya." Ucap Safira menduga bahwa suara itu berasal dari laki-laki paruh baya yang dikenalnya.
Tiba-tiba pikiran Safira langsung tertuju kepada Fitria saat ini. Safira khawatir jika Fitria tengah mendapatkan hukuman dari Arya karena pergi dari rumah semalam.
Safira pun langsung mempercepat langkahnya. Dan benar saja sesuai dugaan
Safira, Arya tengah memarahi Fitria di teras depan yang saat itu juga ada Evi di sana.
"Apa dengan cara pergi dari rumah seperti itu kamu mengira Papah akan membatalkan pernikahanmu dengan Agatha? Jika kamu mengira seperti itu, maka kamu salah besar!" Ucap Arya dengan nada tinggi, membuat Safira iba melihat Fitria namun hanya bisa melihat
tanpa melakukan apa pun.
Bagaimanapun juga Safira tidak bisa
ikut campur.
__ADS_1
"Sayang, jangan dengarkan Papahmu. Lebih baik kamu masuk saja ke dalam." Kata Evi mengajak Fitria masuk, agar tidak terjadi pertengkaran antara suami dan
anaknya.
"Mamah, tolong jangan ikut campur! Papah belum selesai berbicara dengan anak yang tidak tahu aturan ini," Bentak Arya saat Evi
hendak mengajak Fitria masuk.
"Sepertinya pernikahan adalah keputusan yang tepat untukmu, Fitria. Agar kamu bisa berpikir dewasa." Sambung Arya kembali dengan berbicara kepada Fitria.
"CUKUP, PAH! Kenapa Papah tid--" Ucap Evi yang terpaksa menaikkan nada bicaranya.
Namun belum sempat Evi menyelesaikan
ucapannya, Fitria sudah memotongnya lebih dulu dengan jawaban di luar dugaan keduanya.
"Tenang saja Pah, aku tidak akan meminta Papah untuk membatalkan pernikahan ini." Ucap Fitria lalu pergi meninggalkan keduanya.
Sementara Arya dan Evi yang mendengar itu hanya saling beradu pandang tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Bagaimana mereka tidak heran, karena biasanya Fitria selalu protes untuk masalah ini, namun kali ini mengapa dia menerima semuanya semudah itu? Apa dia anakku? Batin Arya.
Saat Evi baru sadar sudah ada Daffa dan Safira tengah berdiri di tempat yang tidak begitu jauh dari dirinya saat ini, Evi langsung mendekat ke arah keduanya.
"Assalamu'alaikum, Tante." Ucap Safira ketika Evi sudah berada di hadapannya.
"Wa'alaikumussalam. Ya ampun Fira, kapan kalian datang? Kenapa tidak langsung masuk?" Tanya Evi merasa tidak enak.
"Belum lama kok Tante, Tante bagaimana kabarnya?" Tanya Safira balik bertanya.
"Alhamdulillah Tante baik, Fir. Ngobrolnya di dalam saja yuk." Ajak Evi yang dijawab anggukkan kepala oleh keduanya.
Evi pun langsung mengajak Daffa dan juga Safira untuk masuk ke ruang tamu. Namun sebelum masuk, Daffa dan Safira juga sempat menyapa Arya yang saat itu tengah sibuk dengan ponselnya, seperti sedang
"Apa kamu sedang hamil, Fira?" Tanya Evi setelah dia dan kedua tamunya sudah duduk di sofa.
"Alhamdulillah, Tante." Jawab Safira ramah.
"Wah... Selamat ya untuk kalian berdua! Pasti Mamah kamu sangat senang ya, Daff?"
"Begitulah Tante, namanya juga cucu pertama." Sahut Daffa membuat Evi seketika menghela napasnya pelan.
"Coba saja jika Tante yang berada di posisi Aida, pasti Tante sangat bahagia sekali akan segera menimang cucu." Ucap Evi lirih.
"Tante juga akan ada di posisi itu kok nantinya, mungkin sekarang belum saatnya saja." Ujar Safira mengusap bahu Evi lembut.
Di sela-sela perbincangan ketiganya, Arya masuk bersama Agatha.
"Silahkan duduk dulu, Ta. Om akan memanggil Fitria dulu,"Titah Arya kepada Agatha.
"Iya, Om." Sahut Agatha lalu duduk bergabung bersama Daffa dan yang lainnya di ruang tamu.
"Biar Mamah saja yang memanggil Fitria di kamarnya, Pah." Cegah Evi saat Arya hendak pergi ke kamar Fitria.
"Kalau begitu kalian mengobrol dulu saja, ya. Om ada urusan sebentar" Kata Arya sebelum keluar.
Tidak lama, Fitria pun sampai di ruang tamu. Fitria langsung membelalakkan matanya sempurna ketika melihat Agatha berada di sana, padahal sebelumnya Evi sudah memberitahunya saat menyusul dirinya di kamar.
"L-lo!" Ucap Fitria terbata-bata, mengingat kejadian pagi tadi saat di rumah Rosa membuat Fitria malu untuk bertemu Agatha.
"Nih, dari Mamah." Agatha memberikan paper bag berisi makanan yang dibuat oleh Rosa khusus untuk Fitria.
__ADS_1
"Thank you!" Sahut Fitria setelah menerima paper bag itu tanpa melihat ke arah Agatha untuk menghindari kontak mata dengannya.
"Excuse me, gue dan Fira itu manusia, bukan rumput yang bergoyang. Kenapa kami diabaikan seperti ini?" Protes Daffa kepada Agatha dan Fitria.
"Astaga gue sampai lupa!" Sahut Fitria.
"Jangan-jangan lo sudah mulai menyukai Agatha ya, Fit?" Tembak Daffa membuat Fitria membulatkan matanya sempurna.
"Nggak!" Jawab Fitria cepat.
"Kalau dilihat-lihat kalian tuh cocok, loh." Ujar Daffa membuat keduanya protes dalam waktu bersamaan.
"Nggak!"
"Wohoo, lihat? Kalian ini bukan hanya cocok saja, tetapi kalian juga begitu kompak." Goda Daffa kepada keduanya.
"Daffaaaaaa!" Teriak Fitria agar Daffa berhenti menggodanya.
"Cie salah tingkah." Goda Daffa semakin menjadi-jadi.
Setelah Daffa dan Safira berbincang selama tiga puluh menit bersama Fitria dan juga Agatha, keduanya pun memutuskan untuk pulang.
Saat keduanya sudah sampai di rumah, Daffa langsung menatap tajam ke arah mobil yang tengah terparkir di halaman rumahnya.
Daffa yang sudah mengenali mobil itu, pun
langsung buru-buru masuk ke dalam untuk melihat si pemilik mobil yang sudah
dipastikan orang yang Daffa kenal.
"Daffa, Fira." Sapa Kartika yang baru saja bangkit dari duduknya, setelah melihat kedatangan keduanya.
"Dari mana lo tahu alamat rumah baru gue?" Tanya Daffa tanpa basa-basi.
"Lo nggak perlu tahu gue mendapatkan alamat rumah ini dari mana, apa salah kalau gue tahu alamat rumah baru lo ini?"
Sebelum Daffa menjawabnya, Kartika langsung berpura-pura sakit untuk menarik simpati dari Safira.
"Aww." Pekik Kartika seraya memegangi kepalanya yang berpura-pura terasa pening.
"Kamu kenapa, Tik?" Tanya Safira langsung mendekat ke arahnya, dan membantu Kartika agar duduk kembali.
"Kepala gue tiba-tiba terasa sangat sakit, Fir. Apa lo memiliki obat untuk meredakan rasa sakit?" Tanya Kartika.
"Ada, tunggu sebentar ya. Akan aku carikan obatnya dulu." Jawab Safira lalu pergi mencari obat itu.
Sementara Daffa yang masih berdiri hanya menatap Kartika tidak perduli. Rasanya detik itu juga Daffa ingin sekali membawa wanita itu keluar dari rumahnya.
Namun tidak mungkin, melihat istrinya yang memiliki hati selembut sutra, mana
mungkin Safira bisa tega membiarkan
Kartika yang saat ini sedang sakit diseret keluar olehnya.
Tidak lama, Safira kembali setelah berhasil menemukan obat pereda sakit yang akan dia berikan kepada Kartika.
Sedangkan Kartika yang menyadari jika Safira tengah berjalan ke arahnya, pun langsung buru-buru berdiri dan mendaratkan tubuhnya ke dada bidang milik Daffa agar Safira salah paham melihatnya.
"Apa yang lo lakukan?" Bentak Daffa berusaha menjauhkan Kartika dari tubuhnya.
Dengan tidak tahu dirinya, bukannya Kartika menjauh dari tubuh Daffa, Kartika justru semakin menempel seolah dia sudah tidak memiliki rasa malu.
__ADS_1
Sedangkan Safira yang baru saja tiba di sana dan melihat itu langsung menarik lengan Kartika agar menjauh dari suaminya.
PLAK!