Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
140. Berpisah


__ADS_3

Tanpa terasa, perlahan Daffa memejamkan matanya selama menunggu Safira duduk di sofa. Sedangkan Safira yang baru saja


selesai dari mandinya, pun mulai keluar dari dalam sana.


Safira diam mematung sesaat, ketika mendapati Daffa tengah duduk di sofa dengan mata yang terpejam. Perlahan Safira berjalan mendekat ke arah suaminya itu.


Terlihat jelas betapa lelahnya Daffa dari raut wajahnya yang begitu nampak lesu tak bersemangat. Membuat Safira tidak tega melihatnya.


"Mas..." Panggil Safira lembut seraya membelai rambut Daffa.


Hingga berhasil membuat Daffa bangun dari tidurnya yang tak lelap itu.


"Apa kamu sudah selesai mandinya, sayang?" Tanya Daffa menggosok-gosokkan matanya menggunakan tangan.


"Hmm, Mas Daffa mandi gih, setelah itu istirahat. Biar aku dan Bibi yang akan mengurus semua keperluan Mas Daffa yang akan di bawa ke Amerika." Titah Safira yang langsung disambut anggukkan kepala


oleh Dafa.


"Apa kamu sedang menggodaku?" Tanya Daffa dengan netra yang melihat Safira dari atas hingga bawah.


Sedangkan Safira yang saat itu masih menggunakan bathrobe, pun buru-buru langsung menyilangkan tangannya di depan dada.


"Ti-tidak, tadi aku lupa membawa pakaianku ke dalam kamar mandi. Jadi, mau tidak mau harus menggunakan ini dulu."


"Oh, aku kira kamu akan mengajakku--" Belum sempat Daffa menyelesaikan ucapannya, Safira buru-buru membekap mulut Daffa dengan menggunakan tangannya.


"Cepat mandi, Mas. Jangan meracau terus." Ucap Safira menahan malu.


"Baiklah." Sahut Daffa dengan menurunkan tangan Safira dari mulutnya.


"Aku akan menyiapkan pakaian ganti untuk Mas Daffa dulu kalau gitu." Kata Safira bersiap mengayunkan langkahnya menuju lemari pakaian.


Namun, baru satu langkah Safira pergi meninggalkannya, Daffa langsung meraih tangan Safira dan menahannya.


"Ada apa, Mas?" Tanya Safira.


Namun tidak dijawab oleh Daffa.


"Mas?" Panggil Safira melambaikan salah satu tangannya ke arah Daffa, saat suaminya hanya menatap dirinya lekat tanpa mengatakan apa pun.


"Apa ada sesuatu yang Mas Daffa butuhkan? Jika tidak ada, lebih baik Mas Daffa sekarang mandi, lalu segera beristirahat."


Sama seperti sebelumnya, Dafa masih menatap lekat Safira tanpa mengeluarkan suara.


Saat Safira hendak melanjutkan langkahnya kembali, tiba-tiba Daffa langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Safira dan memeluknya dari belakang.


"Mas..." Ucap Safira lirih.


Tidak mendapati sahutan apa pun dari Daffa, Safira hanya diam mematung seperti itu agar memberikan Daffa ruang untuk


meluapkan kesedihannya yang pasti tengah Daffa rasakan seperti apa yang Safira rasakan juga. Tanpa sadar air mata Daffa mengalir, hingga cairan bening itu


mengenai tangan Safira.

__ADS_1


Menyadari Daffa tengah menangis, Safira buru-buru melihat ke arah wajah Daffa. Namun, dengan cepat Daffa menenggelamkan wajahnya pada tubuh Safira agar istrinya itu tidak mengetahui


kesedihan yang tengah dirasakannya


saat ini.


"Jangan melihatku." Kata Dafa dengan suara yang sedikit serak khas orang menangis.


Safira yarng memahami, pun hanya bisa menuruti ucapan Daffa dan mengusap pucuk kepala suaminya lembut untuk mengurangi kesedihannya.


***


Dua wanita paruh baya nampak sibuk menyiapkan barang yang akan Daffa bawa ke Amerika, tidak terkecuali dengan Safira yang juga ikut sibuk membantu mengemasi sekaligus memastikan barang yang akan dibawa suaminya tidak ada yang


ketinggalan.


"Non, apa ada barang lagi yang akan dikemas?" Tanya salah satu asisten rumah tangga Daffa setelah selesai memasukkan semua barang ke dalam koper berukuran besar.


"Insyaallah tidak ada, Bi." Jawab Safira ketika dirasa sudah tidak ada lagi barang yang tertinggal.


"Lalu, koper ini mau ditaruh di mana, Non?" Tanya salah satu wanita paruh baya itu.


"Diletakan di sana saja, Bi." Kata Safira dengan mengarahkan tangannya di salah satu sudut ruangan.


Tidak lama, Daffa tiba menghampiri ketiga wanita yang baru saja selesai mengemas pakaiannya.


"Sayang, aku lapar." Kata Daffa memasang wajah manja.


"Tuan ingin makan apa? Biar Bibi siapkan." Tanya salah satu asisten rumah tangga itu menyahuti ucapan Daffa.


"Apa kamu tidak keberatan, sayang?" Tanya Daffa kepada Safira.


"Tentu saja tidak, Mas! Justru aku senang, akhirnya aku diperbolehkan masak lagi." Kata Safira nampak begitu semangat.


"Hanya untuk kali ini, sayang. Setelah itu aku tidak mengizinkanmu masak kembali. Aku tidak ingin kamu lelah. Lagipula jika Mamah tahu, bisa-bisa aku dimarahi oleh Mamah."


"Baiklah." Kata Safira dümbuhi helaan napas panjang di akhir.


Setelah itu Safira dan Daffa, pun mulai berjalan ke arah dapur. Sepanjang Safira memotong sayuran, Daffa terus memeluk istrinya dari belakang dan mendaratkan


dagunya pada bahu Safira hingga


membuat kedua asisten rumah tangga


itu iri saat menyaksikan interaksi kedua pasangan sejoli yang tengah dimabuk cinta.


Sudah setengah jam Safira memasak di dapur dengan di temani oleh Daffa yang setia berada di sisinya. Kini masakan yang Safira buat pun sebentar lagi akan siap di hidangkan.


"Mas, coba cicipi sebentar. Apa rasanya ada yang kurang?" Ucap Safira seraya menyodorkan sendok berisi masakannya ke arah mulut Daffa.


Daffa yang langsung menuruti ucapan Safira, pun langsung mendekat ke arah sendok itu. Namun bukannya Daffa mencicipi masakan istrinya, Daffa justru mendaratkan ciuman pada bibir Safira hingga membuat wanita yang tengah


memegangi sendok, pun terkesiap saat mendapati ciuman tiba-tiba yang cukup mengagetkannya.

__ADS_1


"Mas Daffa!" Cicit Safira dengan wajah yang sudah merah padam.


"Aaaa." Dengan santainya Daffa meminta agar Safira menyuapi masakannya ke dalam mulutnya setelah berhasil membuat Safira membeku seperti itu.


Hari di mana Daffa akan pergi ke Amerika pun telah tiba. Setelah dua koper miliknya sudah di masukan ke dalam bagasi, Daffa pun ikut masuk ke dalam mobil setelah memastikan Safira sudah duduk di dalam mobil dengan nyaman.


Dengan diantarkan sopir pribadinya, mobil Daffa mulai melaju membelah jalan raya menuju bandara. Selama perjalan menuju bandara, tidak ada wajah ceria di wajah


keduanya. Daffa yang seakan tidak ingin jauh dari Safira, pun terus memeluknya tanpa melepaskan sedetik pun.


"Sayang, apa kamu yakin tidak ingin ikut denganku?" Tanya Daffa kepada Safira.


"Tidak, Mas. Aku ingin kamu fokus dengan pekerjaan di sana."


"Aku berjanji akan berusaha menyelesaikan masalah itu secepatnya, agar bisa kembali


sebelum anak kita lahir." Kata Daffa optimis.


"Aku akan selalu menunggu Mas Daffa kembali."


Tidak terasa mobil milik Daffa sudah sampai di bandara, keduanya pun mulai turun dari mobil dikuti oleh sopir di belakangnya yang mendorong troli berisi koper milik Daffa.


Saat keduanya tengah berjalan, Oma Rahma, Bagaskara, dan Aida melambaikan tangan ke arah Daffa dan Safira. Sepertinya ketiga orang itu sudah sejak tadi menunggu keduanya di sana.


Dengan mengimbangi langkah Safira yang tidak begitu cepat karena sudah hamil tua, Daffa berjalan santai menghampiri Nenek dan kedua orang tuanya itu.


"Kenapa tidak memberitahuku jika Oma, Papah, dan Mamah akan ikut mengantarku kemari?"Tanya Daffa setelah langkahnya sudah terhenti tepat di hadapan keluarganya.


"Kami sengaja tidak memberitahumu, agar kalian terkejut" Sahut Aida menjawab.


"Fira, apa kamu baik-baik saja, Nak?" Tanya Oma Rahma mendekat ke arah Safira.


Bohong jika Safira baik-baik saja saat dirinya sebentar lagi akan berpisah dengan Daffa. Safira yang tak ingin menjawab, pun hanya tersenyum dari balik cadarnya yang


nampak dari matanya yang menyipit.


Daffa tersentak kaget saat melihat ke arah arloji yang melingkar di tangannya saat waktu sudah menunjukkan bahwa sebentar lagi penerbangan dirinya ke Amerika akan


segera tiba.


"Oma, Papah, Mamah. Daffa titip Safira, ya." Ucap Daffa membua seluruh keluarganya ikut sedih mendengarnya.


Begitu berat hati keluarga Bagaskara melepaskan Daffa pergi disaat Safira tinggal menghitung hari menuju persalinannya. Namun, Bagaskara dan yang lainnya, pun tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi cabang perusahaan Bagaskara di Amerika sangat membutuhkan Daffa di sana agar masalahnya segera terselesaikan.


"Sayang..." Ucap Daffa sebelum memeluk Safira erat.


"Jaga dirimu dan anak kita baik-baik selama aku tidak ada di sisimu ya, sayang. Aku berjanji akan secepatnya kembali." Sambung Daffa.


"Iya, Mas. Mas Daffa juga hati-hati di sana. Jaga kesehatannya. Dan, kabari aku jika sedang senggang Ujar Safira dengan netra yang sudah berkaca-kaca.


CUP.


Daffa pun mulai melangkah pergi setelah mencium kening Safira. Sedangkan Safira yang sedari tadi susah payah menalhan air matanya, pun akhirnya tumpah saat melihat kepergian Daffa.

__ADS_1


Melihat menantunya tengah menangis, Aida pun mendekat ke arah Safira dan mengusap lembut bahunya agar sedikit membuatnya tenang.


__ADS_2