Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
76. Tekad Kartika


__ADS_3

Disela-sela aktivitas makan malam keluarga Bagaskara, tiba-tiba saja suara bel rumah terdengar. Tidak lama, asisten rumah tangga yang lain pun memberi tahu bahwa ada seseorang yang sudah menunggu di ruang tamu.


Aida yang baru saja selesai dari aktivitas makannya, memutuskan untuk menemui tamu yang baru saja datang.


"Jeng Linda, kenapa gak ngabarin dulu kalau mau ke sini." Ucap Aida yang baru saja tiba di ruang tamu, dengan saling mencium pipi kanan dan kiri.


"Kami memang sengaja jeng, ingin memberikan kejutan. Iya kan, Tik?" Saut Linda kepada Aida dilanjut dengan bertanya kepada Kartika.


"Iya tante, benar." Timpal Kartika membenarkan ucapan sang Mamah.


"Ya ampun, saya kira ada apa loh, jeng."


"Hehehe, oh iya jeng. Saya dengar katanya Daffa sudah menikah? Kenapa undangannya gak sampai ke rumah saya?" Tanya Linda seraya menyikut lengan Kartika.


"Bukannya saya tidak ingin mengundang jeng Linda, tapi Daffa sendiri yang meminta agar pernikahannya dilaksanakan dengan sederhana, dan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Jadi mohon maaf kalau terkesan menutupi." Tutur Aida.


"Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat kepada jeng Aida atas pernikahan putranya ya."


"Terimakasih banyak jeng, saya doakan juga untuk Tika, semoga segera menemukan laki-laki yang baik. segera menikah." Kata Aida yang membuat Kartika membelalakkan matanya sempurna.


Begitu pula dengan Linda, yang langsung


menatap ke arah Kartika. Tidak ingin terlihat buruk, Linda pun langsung memasang senyuman pada wajahnya detik itu juga.


"Tika sebenarnya sudah menemukan laki-laki pilihannya jeng, bahkan sudah sangat lama dia menaruh rasa pada laki-laki itu. Menurut sava, bukan karena Tika yang buruk, tetapi karena laki-laki itu


saja yang sepertinya buta. Jadi tidak


melihat Tika yang menyukainya selama ini." Sindir Linda.


Sedangkan Aida yang peka terhadap sindiran Linda pun hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara apa pun.


"Tante, Daffa dan yang lainnya di mana?"


Tanya Kartika kepada Aida.


"Yang lain sedang makan malam, Tik. Apa jeng Linda dan Tika sudah makan? Saya sampai lupa menawarkan hehehe."


"Sud-"


Ucapan Linda terhenti ketika Kartika dengan cepat memotongnya.


"Belum tante." Kata Kartika berbohong.


Sebenarnya sebelum datang ke rumah Bagaskara, Kartika dan Linda pun sudah makan malam di luar.


"Kalau begitu, bagaimana jika bergabung makan malam dengan yang lainnya saja?" Tanya Aida kepada kedua wanita berbeda


generasi yang berada di hadapannya.


"Boleh tante, kebetulan perutku sudah terasa lapar." Jawab Kartika.

__ADS_1


Akhirnya ketiga wanita itu pun berjalan menuju meja makan untuk bergabung dengan yang lainnya di sana.


"Hai, Daff" Sapa Kartika kepada Daffa.


Daffa yang tidak ingin berurusan lagi dengan Kartika pun hanya memutar bola matanya malas.


"Siapa wanita ini, jeng?" Tanya Linda kepada Aida dengan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Itu menantu saya, jeng." Jawab Aida tanpa melihat ke arah Safira.


Mendengar dirinya diakui sebagai menantu oleh Aida, Safira pun menatap ke arah wanita paruh baya itu tanpa henti. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Safira saat ini.


Sedangkan dari arah lain, Kartika mengepalkan tangannya kuat, karena tidak terima mendengar Aida yang mengatakan bahwa Safira adalah menantunya. Apakah hubungan keduanya sudah membaik? Batin Kartika.


"Oh, jadi dia istri Daffa." Ucap Linda seraya tersenyum hambar.


"Kapan kamu pulang ke tanah air, Tika?" Tanya Bagaskara.


"Sudah sebulan lebih, Om." Jawab Kartika.


"Sudah lumayan lama, ya. Kamu mengambil cuti atau bagaimana?" Tanya Bagaskara kembali.


"Tidak, Om. Aku berencana akan menetap di sini. Untuk memperjuangkan cinta kepada seseorang." Tutur Kartika dengan


melirik ke arah Daffa.


"Wah... Perjuanganmu tidak main-main, ya. Demi seorang laki-laki, bahkan kamu rela melepaskan karirmu di Jerman. Beruntung sekali laki-laki yang sedang kamu perjuangkan itu." Ucap Bagaskara yang tidak mengetahui bahwa laki-laki yang di maksudkan Kartika adalah anaknya sendiri.


"Oh iya, besanmu memiliki bisnis di bidang apa jeng?" Tanya Linda yang membuat aktivitas makan semua orang terhenti kecuali Kartika dan dirinya.


Daffa pun meletakan sendok dan garpunya di atas meja dengan cukup keras. Sedangkan Safira hanya menundukkan kepalanya ketika di singgung tentang bisnis orang tuanya. Bisnis? Bahkan orang tua saja sudah tidak ada.


"Sayang, apakah makananmu sudah habis?" Tanya Daffa kepada Safira.


Safira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Bagaimana jika kita kembali ke kamar sekarang, sayang?" Tanya Daffa kembali.


"Iya mas." Jawab Safira dengan kepala yang masih menunduk.


Tiba-tiba saja Daffa pun menggendong Safira ala bridal style yang membuat mata Kartika membola sempurna.


"Mas." Cicit Safira.


"Aku tidak akan membiarkan kakimu terluka akibat berjalan di lantai, sayang. Apalagi sampai hatimu yang terluka. Akan aku pastikan, tidak ada siapapun yang berani melukaimu sedikitpun. Sindir Daffa sebelum meninggalkan meja makan.


"Terimakasih banyak, Mas." Ucap Safira ketika Daffa mendudukkan dirinya di atas ranjang.


"Tidak perlu berterimakasih sayang, itu sudah menjadi tugasku, untuk memastikan kamu aman dari gangguan tangan dan lisan orang lain." Kata Daffa seraya membantu membukakan hijab dan cadar Safira.


Masya Allah, apa kamu salah satu keajaiban dunia sayang?" Puji Daffa ketika melihat wajah istrinya yang begitu cantik di matanya.

__ADS_1


"Mas Daffa!" Pekik Safira menahan malu.


Tidak ingin istrinya merasakan sedih akibat ucapan dari Linda tadi, Daffa pun memeluk Safira seraya membelai lembut rambutnya.


"Sayang, meskipun Ayah dan Bunda sudah tidak ada. Tapi masih ada aku dan keluargaku, serta Mang Ardi dan Bi Rani, juga calon anak kita. Jadi berjanjilah kepadaku, jangan bersedih lagi. Hmm?"


"Iya, Mas." Jawab Safira yang akhirnya menumpahkan cairan bening yang sedari tadi susah payah dia tahan.


"Hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini, sayang." Ucap Daffa dengan menyeka air mata Safira.


"Bagaimana jika besok kita berkunjung ke rumah Mang Ardi? Sudah lama juga kan, kamu tidak pulang ke desa?" Lanjut Daffa


kembali.


"Sungguh? Terimakasih banyak Mas Daffa." Kata Safira dengan menghamburkan pelukannya.


Daffa pun senang melihat Safira yang kembali ceria, setidaknya ini bisa mengobati rasa sakit yang sempat Safira rasakan tadi.


Kartika yang sedari tadi menangkap gelagat Aida yang tidak seperti biasanya, bahkan terkesan seperti ingin menjauhkan dirinya dari Daffa.


"Tante, apa yang terjadi?" Tanya Kartika ketika dirinya bersama Aida.


"Maksudmu apa, Tik?" Jawab Aida dengan kembali bertanya.


"Aku rasa tante sudah tidak lagi mendukungku untuk bersama dengan Daffa, apa itu hanya perasaanku saja, Tan?"


Aida menghela napasnya panjang, sebelum menjawab pertanyaan dari Kartika.


"Tika, kamu itu cantik, pintar, dan segalanya ada padamu. Namun, lebih baik kamu mencari laki-laki lain saja, tante yakin di luar sana banyak laki-laki yang menyukaimu."


"TIDAK! Aku hanya ingin bersama Daffa. Ada apa dengan tante sebenarnya? Kenapa tante mengatakan seperti itu kepadaku."


"Tante rasa semua yang kamu lakukan hanya sia-sia saja."


"Aku tidak akan menyerah tante, tidak akan! Aku akan merebut Daffa dari wanita gembel itu, bagaimanapun caranya!"


PLAK


"Tante, apa baru saja tante menampar wajahku?" Tanya Kartika tidak percaya.


Belum sempat Aida menjawab, terlihat Linda sedang berjalan ke arahnya.


"Tik, ayo pulang, keburu malam." Ajak Linda yang baru saja tiba dari toilet.


"Terimakasih banyak ya jeng, sudah repot-repot datang kemari." Saut Aida.


"Iya jeng, terimakasih banyak ya atas makan malamnya. Jadi tidak enak, mau bertamu malah numpang makan hehehe." Kata Linda dengan terkekeh.


"lya jeng, sama-sama."


"Kalau ada waktu nanti mampir ke rumah ya jeng."

__ADS_1


"Iya jeng, pasti."


"Sial! Jadi tante Aida sudah tidak lagi berpihak ke gue. Lihat saja apa yang akan gue lakukan!" Ancam Kartika dalam hati.


__ADS_2