
Sepanjang perjalanan Safira menuju kantor Bagaskara, Safira tidak menyadari sedikitpun jika dirinya saat ini tengah di ikuti dari belakang oleh seseorang, begitu pula dengan sopir taksi yang
ditumpanginya.
Ketika taksi yang Safira tumpangibsudah sampai di depan kantor, tidak ingin membuat suaminya menunggu lama, Safira pun langsung bergegas menuju ruangan kerja milik Daffa.
Tidak seperti Safira biasanyanyang sangat pemalu, kali ini Safira justru berniat mengerjai suam yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Saat Safira sudah di depan pintu ruangan Daffa, Safira membuka sedikit pintu dengan sangat pelan. Kemudian masuk dengan cara merangkak dan mengendap-endap agar kehadirannya tidak di ketahui oleh Daffa.
Safira pun terus merangkak hingga sampai di belakang kursi di mana Daffa duduki, lalu Safira pun berdiri dari posisinya.
Sebelum membuat Daffa terkejut, Safira pun membuka cadar miliknya lalu mencium pipi Daffa.
CUP
"Assalamu'alaikum mas Daffa" Ucap Safira seraya tersenyum setelah berhasil mendaratkan ciumannya.
Daffa yang sedari tadi tidak menyadari kehadiran Safira pun terkesiap ketika mendapati Safira berada di ruangannya dengan tingkah yang sebelumnya Safira tidak pernah tunjukkan kepadanya.
"Wa'alaikumussalam, kamu kapan datangnya sayang? Kok aku gak tau?" Tanya Daffa seraya meraih tangan Safira.
"Baru saja mas, hehehe aku memang sengaja masuk dengan merangkak sambil mengendap-endap untuk mengejutkanmu mas"
"Kemarilah sayang, pasti lututmu sakit ya?" Tanya Daffa dengan mendudukkan Safira di pangkuannya.
"Nggak kok, oh iya mas. Ini aku bawakan bekal untuk makan siang"
"Wah, aku jadi tiba-tiba lapar sayang. Apa aku boleh memakannya sekarang?"
"Nggak boleh! Mas Daffa harus adil dengan karyawan yang lain. Meskipun ini kantor milik orang tua mas Daffa, tapi mas Daffa juga harus mengikuti aturan. Lagi pula waktu istirahat kan setengah jam lagi mas,
jadi laparnya ditahan dulu ya?"
"Iya sayang, kalau begitu kamu temani aku bekerja dulu, bagaimana? Agar nanti kita bisa makan siang bersama"
"Iya mas'" Kata Safira dengan berdiri dari posisinya saat ini.
"Mau kemana sayang?" Cegah Daffa dengan menahan tangan Safira.
"Mau duduk di sofa mas, katanya tadi mas Daffa memintaku untuk menemani" Jawab Safira.
"Temani aku di sini" Titah Daffa dengan mendudukkan Safira kenmbali di pangkuannya.
"Tapi mas, bagaimana bisa mas Daffa bekerja jika aku duduk di sini" Protes Safira.
"Itu hal yang mudah sayang, jadi diam dan patuhlah"
"Baiklah" Ucap Safira patuh.
Dengan posisi Safira yang saat ini berada di pangkuannya, Daffa pun mulai melanjutkan pekerjaannya kembali yang sempat terhenti sejenak.
Karena merasa dirinya menganggu Daffa, Safira pun sesekali berniat bangkit dari duduknya namun dengan cepat Daffa mencegahnya.
Tok tok tok.
"Pak, ini dokumennya--" Kata Azam menggantungkan ucapannya ketika melihat Safira berada di sana dengan posisi berada di pangkuannDaffa.
__ADS_1
Karena terburu-buru, Azam menyelonong masuk begitu saja. Namun siapa sangka jika ada Safira di dalam? Karena setau Azam, Safira sudah tidak lagi bekerja.
Sedangkan Safira yang sedang tidak menggunakan cadar pun dengan cepat menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Daffa yang membuat siapapun yang melihat keduanya saat ini pasti akan di buat iri oleh Daffa dan Safira.
"Azam! Berani sekali kamu menyelonong masuk ke ruangan saya" Bentak Daffa dengan rahang yang mengeras.
Beruntungnya Azam belum sempat melihat wajah Safira, sehingga emosi Daffa masih bisa terkontrol.
"Ma-maaf pak, saya kira tidak ada bu Safira di sini" Ucap Azam dengan membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Daffa dan
Safira.
"Mau ada istri saya atau tidak, menyelonong masuk seperti itu tetap tidak di benarkan!" Kata Daffa dengan menaikkan nada bicaranya.
Tidak ingin Azam terkena masalah, Safira pun mengelus dada bidang suaminya untuk memberi isyarat agar tidak perlu di perpanjang lagi.
Daffa yang menangkap isyarat dari istrinya pun menghembuskan napasnya panjang untuk menetralkan kembali emosinya.
"Baiklah, taruh saja dokumen itu di sana dan kembalilah bekerja" Titah Daffa kepada Azam.
"Saya permisi dulu pak, maaf telah mengganggu waktunya" Pungkas Azam, lalu dengan cepat keluar dari ruangan Daffa.
"Mas" Panggil Safira ketika Azam sudah keluar.
"Iya sayang?"
"Mas Daffa marah?"
"Tentu saja! Azam memang harus di--"
CUP
"Sayang!" Kata Daffa terkesiap, Daffa tidak percaya jika Safira melakukan hal semacam itu.
Pasalnya Safira adalah wanita yang sangat
pemalu. Karena menunggu Safira terlalu
lama di dalam mobil, membuat tenggorokan wanita berhoodie hitam itu merasakan haus.
***
"Ck, Sialan! Ngapain aja sih dia di dalam sana, kenapa lama banget! Sebaiknya gue cari minum dulu di sekitar sini deh" Monolog wanita berhoodie hitam yang mulai keluar dari mobilnya.
Saat wanita berhoodie hitam itu tengah membeli minuman di salah satu cafe yang tidak jauh dari kantor milik Bagaskara, ternyata ada sepasang mata yang mengenalinya meskipun wanita itu mengenakan topi dan kacamata hitam serta masker untuk menutupi wajahnya.
"Bukankah itu Friska?" Tanya Agatha pada diri sendiri dengan memicingkan matanya.
"Ngapain dia berpenampilan seperti itu? Gerak-geriknya juga terlihat mencurigakan, gue harus mencari tau" Sambung Agatha
kembali dengan bersembunyi, agar tidak diketahui oleh Friska.
Ketika Friska telah selesai membeli minuman, Friska pun kembali lagi ke dalam mobilnya untuk menunggu Safira keluar.
Agatha pun buru-buru mengambil motor sportnya untuk membuntuti Friska dari belakang, namun Friska justru tidak melajukan mobilnya ketika sudah masuk ke
dalam mobil.
__ADS_1
Agatha yang masih penasaran pun diam-diam memantau Friska darinjarak yang tidak begitu jauh.
"Mas aku pulang dulu ya" Kata Safira setelah merapihkan kotak makan siangnya yang sudah kosong.
"Apa tidak sebaiknya pulang bareng aku saja sayang?"
"Tidak mas, aku tidak mungkin menunggu di sini selama tiga jam kan? Lagi pula aku sedikit lelah, rasanya ingin segera beristirahat di kamar"
"Apa aku perlu pesankan kasur untukmu beristirahat di sini sayang?"
"Hahaha gak perlu mas, aku pulang dulu ya kalau gitu. Assalamu' alaikum" Pungkas Safira dengan mencium tangan Daffa.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan ya sayang. Segera kabari aku jika sudah sampai rumah" Titah Daffa seraya mnencium kening Safira.
"Iya mas"
Safira pun keluar dari ruangan Daffa dengan sebuah lunch bag di tangannya yang tidak lagi berisi makanan.
Saat Safira sudah keluar dari kantor dan hendak menunggu taksi di bahu jalan, tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti di depan Safira bersamaan dengan dua laki-laki suruhan Friska berpakaian serba
hitam turun dari dalam mobil dan membius Safira hingga pingsan.
"****** sialan! Jadi dari tadi dia di sini untuk mengintai Fira dan menculiknya! Gue harus kejar mereka!" Monolog Agatha geram ketika melihat Safira dibawa masuk ke dalam mobil hitam dalam keadaan
pingsan.
Tidak ingin gegabah, sebelum Agatha mengejar kepergian mobil yang membawa Safira. Agatha mengutus seseorang untuk
menyampaikan pesan kepada Daffa
kalau Safira saat ini tengah di culik oleh Friska.
Agatha pun melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil yang baru saja membawa Safira.
Entah mengapa amarah Agatha saat ini sangat berapi-api ketika melihat Safira di
bawa oleh orang suruhan Friska, padahal Agatha tahu bahwa Safira telah memiliki suami.
Apa karena Agatha menyukai Safira dalam diam? Agatha sendiri pun tidak mengerti
dengan perasaannya saat ini.
Tok tok tok.
"Masuk" Titah Daffa dari dalam ruangannya.
"Pak. maaf mengganggu waktunya sebentar. Ada seseorang yang ingin menemui pak Daffa di lobi" Kata salah satu resepsionis wanita.
"Katakan kepadanya, saya sedang sibuk" Titah Daffa yang tidak ingin diganggu.
"Tapi pak-"
"Apa kamu tidak mendengar ucapan saya tadi?" Sergah Daffa.
"Tapi orang itu mengatakan bahwa bu Safira baru saja diculik pak"
Tutur resepsionis itu dengan cepat.
__ADS_1