Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Anakku


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 38


Oleh Sept


Rate 18 +


Di dalam rumah, papa Danu sedang berbicara dengan menantunya di ruang tamu. Mereka berdua mengobrol, entah apa saja yang mereka bicarakan. Sepertinya tidak jauh-jauh dari tema tentang Sofi, kepergian Sofi memang menciptakan banyak masalah. Dan pasti membuat semua orang kepikiran. Terutama keluarga Sofi dan suaminya.


Sedangkan mama Hana, ia kini mengintrogasi putrinya di dapur. Ia tatap putrinya dengan wajah serius. Mama Hana sedang mencari kepastian tentang anak yang dikandung Sofi. Bagaimana bisa Sofi kabur ketika sedang hamil. Mama Hana ingin tahu, siapa ayah anak itu.


"Bener ini anak Garda?" tanya mama sambil bisik-bisik. Pandangan mama Hana tertuju pada perut Sofi. Takut menantunya mendengar, mama bicara amat pelan. Mama juga sesekali sambil menoleh ke belakang, takut jika tiba-tiba Garda mendadak masuk menghampiri mereka.


Sofi hanya memasang muka masam, kenapa ibunya sendiri meragukan anak yang ia kandung. Kesal, Sofi mengambil minum dari kulkas dan meninggalkan mamanya.


"Sof! Mama bicara sama kamu!" cegah mama Hana sambil memegangi tangan putrinya. Ketika Sofi mau meninggalkan dapur.


"Maaa! Mama pikir Sofi wanita apaan?" protes Sofi kesal. Ia marah karena mamanya sendiri tidak percaya. Malah meragukan putrinya sendiri.


"Mama mau jawaban dari kamu sendiri! Jujur sama Mama!"


"Astaga Mama!"


Sofi menghela napas panjang, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian tiba-tiba Garda masuk. Membuat mama Hana melepaskan putrinya.


"Sof, sudah minum obatnya?" tanya Garda sok perhatian. Sepertinya Garda sempat menguping tadi.


Sofi menggeleng, kemudian melangkah meninggalkan Garda dan juga mamanya. Sofi berjalan sambil menahan kesal pada sang mama. Dulu dipaksa menikah, sekarang sudah menikah dengan pria pilihan mereka. Kini sudah hamil anak pria tersebut, malah dicurigai. Sofi yang sedang hamil pun, dengan keadaan hormon dan mood yang naik turun, tidak bisa mengendalikan emosinya.


Ia masuk kamar lamanya, dengan kasar menutup pintu hingga mengeluarkan suara keras.


Brakkkk ...


Papa Danu hanya bisa memijit pelipisnya, mendengar keributan itu. Sedangkan mama Hana, ia sama pusingnya dengan sang suami.


Lain halnya dengan Garda, ia menahan napas sejenak, kemudian masuk kamar Sofi.


KLEK


Garda masuk, matanya memindai seluruh ruangan kamar yang identik dengan warna ungu tersebut. Ditambah wallpaper yang cukup manis, meski kecil tapi sepertinya nyaman.


Tanpa bicara, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sofi yang semula duduk di meja rias, menatap aneh pada tingkat suaminya.


[Kenapa dia belom pulang?]


Beberapa saat kemudian, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah.


"Cepat sekali mereka datang?" gumam Garda kemudian beranjak, pria itu lalu meninggalkan kamar. Tanpa satu patah kata pun.

__ADS_1


Sementara itu, Sofi masih bengong, terpaku di tempat. Garda seolah tidak menatapnya dan menganggap ia hanya angin.


Beberapa saat kemudian


Pintu kembali terbuka, Garda muncul dengan menarik dua koper.


[Dia bahkan mengantar semua baju-bajuku? ASTAGA!]


Sofi menatap sebal pada suaminya. Apakah secepat itu suaminya memulangkan semua pakaian-pakaian Sofi?


"Taruh di sana!" seru Garda sambil menoleh. Ia bicara pada seseorang di luar kamar, dan Sofi tidak tahu siapa itu.


[Perasaan pakaianku tidak sebanyak itu, dan ini bukan koper-kopetku?]


Sofi bertanya-tanya dalam hati, ketika Garda kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam kamarnya.


"Tunggu ... ini bukan milikku!" sela Sofi ketika suaminya memasukkan tas koper lain ke dalam kamar.


"Punyaku!" jawab Garda singkat.


[Lah ... ngapain punya dia di bawa ke sini?]


Sofi memutar otak, ia kemudian mengeryitkan dahi.


"Kamu mau nginep di sini?" tanya Sofi sambil mendekat. Ia berjalan menghampiri suaminya yang terlihat begitu santai tersebut. Bak kamar Sofi adalah kamar pria tersebut.


Garda menggeleng, dengan santai pria itu mendorong masuk tas semakin dalam. Menaruhnya tepat di depan lemari jati yang besar di samping ranjang.


Sementara itu, Garda kini berdiri tegap. Kemudian menatap sosok wanita yang menatapnya dengan tak bersahabat.


"Aku akan tinggal di sini!"


Alis Sofi langsung menungkik tajam ke bawah.


[Tunggu ... apa maksudnya dengan tinggal di sini? Dia mau di sini bersamaku? Bukannya kita lagi marahan dan ... ASTAGA!]


"Kamu mau memenjarakanku di rumah mama rupanya?" gumam Sofi dengan hidung yang sudah kembang-kempis.


"Rumah ini kecil, kamu pasti tidak nyaman! Ranjangnya kecil ... lebih baik pulanglah!" ujar Sofi kemudian. Ia berusaha untuk membuat Garda tidak nyaman di rumahnya.


"Aku rasa tidak, cukup luas kalau kita tidur bersama di sana ... Asal kita tidur dengan tenang pasti tidak apa-apa!"


Sofi menghela napas dengan berat. Ia pikir Garda sudah melepaskan dirinya saat akan diantar pulang, tidak tahunya pria itu malah ikut. Kalau begini, ia tambah sebal dengan Garda.


***


Beberapa saat kemudian

__ADS_1


Garda sudah di luar, ia duduk bersama sang mertua sambil menikmati kopi hangat, ia kembali mengobrol serius dengan mertuanya.


"Tinggal di sini?" tanya papa Danu merasa aneh. Mantunya itu rumahnya besar, yang ia tahu Garda punya banyak rumah. Kenapa malah ikut tinggal bersama mereka.


"Saya mau ada yang mengawasi Sofi, Pa ... Ma ... Jujur, saya tidak mau dia kabur-kabur lagi. Saya juga bisa tenang kalau saya tinggal. Apalagi Sofi hamil, Sofi harus diawasi dengan ketat."


Mama Hana merasa tidak enak, karena punya anak yang doyan kabur.


"Apa Papa Mama keberatan?"


Papa dan mama spontan menggeleng bersamaan. Dalam hati Garda merasa puas, karena sudah pasti kedua mertuanya itu selalu mendukung dirinya.


Sedangkan di dalam kamar, Sofi mulai merasa tidak nyaman. Padahal kemarin ia tidak merasakan apapun. Kini perutnya malah terasa tidak enak.


Huek ... huek ...


Sofi mual muntah. Mendengar istrinya mual-mual, reflek Garda langsung masuk kamar, ia meninggalkan kedua mertuanya. Sedangkan papa dan mama hanya memperhatikan dari luar.


Tap tap tap,


Garda masuk, kemudian mencari Sofi. Dilihatnya pintu kamar mandi di dalam kamar itu terbuka.


Perlahan ia masuk, lalu mendekati Sofi.


"Jangan mendekat!" cegah Sofi saat menyadari suaminya mendekat.


"Ada apa denganmu?" tanya Garda.


"Aku bilang jangan ke mari. Tolong keluar!"


Huek ... huekk ...


Habis ngomel-ngomel, Sofi kembali mual muntah. Hingga tidak fokus pada rasa amarahnya.


"Udah sana!" ucapnya lirih ketika Garda memijit tengkuk lehernya. Pria itu mengusap punggung Sofi, sebenarnya agak nyaman. Hanya saja Sofi jengkel dan gengsi. Akhirnya ia malah mendorong tubuh suaminya dengan sebelah sikunya.


"Diamlah, Sof!" Garda lama-lama juga tidak tahan.


"Udah sana! Nggak usah sok peduli sama aku. Urusin saja wanita dan anakmu itu!" cetus Sofi galak. Akhirnya keluar juga apa yang dari kemarin ia tahan.


"Dia bukan ananku! Anakku hanya ini!" ujar Garda pelan.


Sofi pun langsung mendongak, kemudian menatap perutnya yang sudah disentuh Garda. BERSAMBUNG


***


Baca juga ya ... novel Sept yang lain

__ADS_1


*Dinikahi Milyader sudah TAMAT*



__ADS_2