Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
79. Pingsan


__ADS_3

Siapa yang tidak tahu dengan Baron di desanya? Siapa yang tidak segan terhadapnya? Dan, siapa yang berani melawannya? Hampir semua orang-orang di desanya tunduk dan patuh terhadap laki-laki yang biasa di panggil Baron itu.


Tapi tidak kali ini, untuk pertanma kalinya harga diri Baron seperti diinjak-injak ketika dirinya diseret paksa oleh para ajudan Daffa yang disaksikan langsung oleh banyak warga.


"Arrgghh!" Geram Baron dengan memukulkan tangannya pada dinding hingga keluar sedikit darah segar.


"Bos, apa yang terjadi?" Tanya anak buah Baron yang memiliki tato naga di lengannya.


"Kumpulkan yang lainnya di sini sekarang, cepat!" Titah Baron dengan rahang mengeras.


"Ba-baik. Bos."


"Sialan! Bisa-bisanya Mang Ardi tidak memberitahuku jika Neng Fira dinikahi oleh laki-laki lain, padahal dia tahu, kalau aku sudah menginginkan keponakannya sejak


lama," Monolog Baron.


"Cih, lagi pula apa bagusnya laki-laki itu? Kualitasku jelas jauh di atas dia, apa Neng Fira buta? Akang akan sadarkan kamu Neng, kalau Akang lah yang pantas bersanding denganmu, bukan laki-laki itu!"


Lanjut Baron kembali.


"Pak, apa Baron sudah pergi?" Tanya Rani yang sebelumnya bersembunyi di dalam kamar.


"Sudah, Bu." Jawab Ardi seadanya.


Melihat banyak laki-laki berbadan kekar di rumahnya, Rani pun memasang ekspresi seperti Ardi sebelumnya.


"Bi, gak usah takut. Mereka ajudan Papah." Ucap Daffa yang tidak ingin Bi Rani berpikir macam-macam.


"Oalah, Bi Rani kira anak buahnya Baron." Saut Rani lega.


"Kembalilah ke posisi kalian masing masing." Titah Daffa kepada kelima ajudan Bagaskara.


"Baik, Tuan muda." Jawab kelima


ajudan itu bersamaan.


"Apa tidak sebaiknya mereka tidur di sini saja, Daff? Kebetulan Mang Ardi ada tikar, sepertinya cukup untuk tidur mereka berlima." Ucap Ardi menawarkan.


"Nggak perlu, Mang. Mereka memang sengaja bersembunyi agar tidak diketahui kehadirannya oleh Baron dan anak buahnya."


"Oh, seperti itu." Jawab Ardi seraya menganggukkan kepalan sebagai jawaban.


"Assalamu'alaikum." Ucap laki-laki dari depan pintu, membuat atensi semua orang beralih ke arahnya.


Daffa yang memang sudah mengenal laki-laki itu pun seketika mengernyitkan kedua alisnya heran.


"Ngapain dia ke sini?" Gumam Daffa dalam hati.


"Wa'alaikumussalam." Jawab semua orang bersamaan.

__ADS_1


"Nak Reyhan kapan pulang?" Tanya Ardi dengan mengusap lembut bahu Reyhan.


"Siang tadi, Mang. Ini, aku bawakan martabak terang bulan untuk Mang Ardi, dan Bi Rani." Kata Reyhan seraya memberikan satu plastik berisi martabak.


Melihat kedekatan Reyhan dan keluarga dari istrinya, Daffa pun seketika kesal. Daffa takut jika nanti Reyhan bukan hanya merebut hati mereka, namun juga Safira.


"Pak Daffa? Bapak kemari juga?" Sapa Reyhan yang baru sadar jika ada atasannya di sana.


"Iya! Kenapa memangnya? Nggak suka?" Jawab Daffa ketus.


"Bukan seperti itu, Pak. Saya hanya sedikit terkejut saja." Kata Reyhan menjelaskan agar Daffa tidak salah paham.


"Kenapa terkejut? Wajar dong saya berada di sini, lagi pula saya ini S-U-A-M-I dari Safira Anastasya." Ucap Daffa dengan pengucapan yang sengaja diperjelas.


"Mas Daffa" Panggil Safira yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Iya sayang."


"Mas, aku lapar." Ucap Safira mendekat.


"Ini ada martabak Neng, baru saja Reyhan membawanya." Saut Mang Ardi seraya mnemberikan plastik berisi martabak kepada Safira.


"Wah... Terimakasih banyak ya, Rey!" Kata Safira senang.


"Sayang, jangan dimakan. Aku bisa membelikanmu martabak yang lain, bahkan yang lebih enak dan mahal dari ini." Cegah Daffa ketika Safira hendak memasukkan sepotong martabak ke dalam mulutnya dengan menyibakkan sedikit cadarnya.


Tidak ingin istrinya merasakan kelaparan, Daffa pun akhirnya memilih diam dan pasrah.


"Apakah enak, Fir?" Tanya Reyhan yang melihat Safira makan begitu lahap.


"Enak Rey, Masya Allah. Ngomong ngomong kamu kapan pulang?"


"Siang tadi, Fir." Jawab Reyhan canggung, karena Daffa sedari tadi sudah menatapnya dengan begitu tajam.


Sedangkan Safira yang menangkap wajah Reyhan seperti tidak nyaman, Safira pun melihat ke arah Daffa yang saat itu sudah


memasang wajah tidak bersahabat.


Tidak ingin membuat Reyhan semakin tidak nyaman, Safira pun menyenggo lengan Daffa sebagai isyarat.


"Assalamu'alaikum, Teh Fira.. " Ucap seorang gadis berlari dan memeluk Safira dengan begitu erat.


"Naomi, bagaimana sekolahnya?" Tanya Safira yang masih dalam pelukan Naomi.


"Alhamdulillah lancar Teh, Teh Fira kenapa gak pernah pulang? Apa tidak merindukanku? Hiks hiks hiks." Tanya Naomi seraya menangis.


"Maafkan Teteh ya, Nao. Bukan Teteh tidak rindu dengan Naomi, bukan pula Teteh tidak ingin pulang, tapi--"


Belum sempat Safira menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Ardi memotongnya.

__ADS_1


"Lepaskan dulu Nao pelukannya, kasian Teh Fira bisa sesak napas." Titah Ardi kepada putri semata wayangnya.


"Apa dia suami Teh Fira?" Tanya Naomi dengan menunjuk ke arah Daffa.


"Iya, Nao. Kenalin, dia Daffa suami Teteh." Ucap Safira mengenalkan Daffa kepada


sepupunya.


"Halo, Kang." Sapa Naomi kepada Daffa.


Daffa terbatuk-batuk ketika dirinya mendapati panggilan seperti itu dari Naomi.


"Apa tadi? Kang? Jangan panggil seperti itu, aku tidak ingin disamakan dengan Baron." Protes Daffa.


"Bagaimana jika, Mas?" Tanya Naomi kepada Daffa.


"Jangan, aku tidak ingin ada yang menyamakan panggilan istriku kepadaku. Kamu bisa panggil aku, kakak saja."


"Baiklah, kak Daffa."


Disela-sela obrolan mereka, tiba-tiba saja ada seorang tetangga yang datang ke rumah Ardi dengan berlari.


"Ardi, kiosmu-" Kata laki-laki paruh baya menggantungkan ucapannya dengan mengatur napas susah payah Ardi yang semula duduk pun langsung bangkit dari posisinya dengan wajah yang sudah menegang.


"Ada apa dengan kiosku, Kang?" Tanya Ardi cemas.


"Ada seseorang yang membakar kiosmu, Di."


"Astaghfirullah, siapa Kang?" Tanya Ardi kepada tetangga itu.


"Saya kurang tahu. Lebih baik kamu langsung ke sana saja sekarang." Tanpa banyak bicara, Ardi pun langsung menyambar kunci motornya dan pergi menuju kios yang kebetulan hari ini sedang tutup.


Rani yang ikut panik pun memutuskan ikut bersama Ardi untuk melihat keadaan kiosnya, diikuti oleh Naomi dan Reyhan di belakangnya.


Kini tersisa hanya Safira dan Daffa saja di rumah Ardi, baru saja Safira ingin mengajak Daffa untuk pergi mengikuti yang lain, tiba-tiba saja seorang laki-laki memukul Daffa dari belakang menggunakan balok


kayu hingga Daffa kehilangan


kesadarannya.


Safira yang terkejut pun langsung berteriak, namun dengan cepat mulutnya dibekap oleh laki-laki yang lainnya.


Keduanya pun di bawa oleh segerombolan laki-laki melalui pintu belakang.


***


Daffa yang baru saja sadar dari pingsannya, perlahan membuka matanya dan melihat ke arah sekitar yang tampak begitu asing tempat itu baginya.


Saat Daffa hendak menggerakkan tubuhnya, ternyata tangan dan kaki Daffa terikat begitu kuat. Tidak ingin istrinya dalam bahaya, Daffa pun mengedarkan pandangannya ke arah lain untuk mencari keberadaan Safira.

__ADS_1


__ADS_2