Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
RUN


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 30


Oleh Sept


Rate 18 +


POV Sofi


Sudah sebulan lebih aku di sini, di tempat yang tenang. Tanpa suara bising, benar-benar jauh dari nuansa perkotaan. Meski sepi, tapi ini lebih baik. Lebih baik karena aku tidak harus bertemu dengan Garda. Apalagi bertemu dengan wanita itu. Lebih baik menjauh, menghilang hingga Garda tidak bisa menemukanku.


"Sof ... Sofi!"


Juna memanggil sambil membawa teh herbal ke depan teras.


"Terima kasih," ucapku. Masih dengan tatapan kosong menerawang ke depan.


Kulihat pemandangan yang cukup membuatku tenang. Hamparan perbukitan, dan gunung yang nampak diselimuti kabut dan awan.


Di sini, aku mencari ketenagan diri. Bersama Juna, tapi aneh. Aku merasa tidak seperti dulu. Cintaku yang mengebu-ngebu, kini terasa sudah terkikis.


Bahkan saat dia memperlakukan aku dengan hangat dan baik, hatiku tidak tersentuh. Aku hanya menganggap dia teman sekarang. Entah dengan dirinya, yang jelas aku sepertinya sudah tidak ada rasa lagi seperti yang dulu.


"Sof,"


"Hem," jawabku lagi dengan ekspresi datar.


"Tante dan Om menghubungiku. Apa harus ku katakan yang sebenarnya?"


"Jangan!" seruku dengan tegas.


Aku tidak ingin mama dan papa tahu aku ada di sini. Pria itu pasti bisa menekan papa dan mama. Aku sangat paham, bagaimana pemaksanya suamiku itu. Ya, dia suamiku. Ya Tuhan ... bagaimana bisa suamiku punya anak dengan wanita lain?


Aku menghela napas panjang, menutup mata dalam-dalam. Berharap ini hanya mimpi, setelah aku membuka mata, semuanya akan jadi baik-baik saja. Sayang, ketika mataku terbuka, kenyataan pahit ini tidak kunjung pergi.


***


"Jun!"


Juna menoleh ketika aku panggil namanya. Pria muda, dengan wajah tampan dan posture gagah itu berhenti mengusap kuda hitam di sampingnya.


"Boleh aku mencoba kuda ini?" tanyaku. Aku bosan. Ingin melakukan sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


Juna menatapku sambil sambil mengeryitkan dahi.


"Jangan! Kamu belum pandai berkuda!"


"Please! Aku bosan, Jun!" rengekku pada pria dengan tatapan sayang tersebut.


"Sekali putaran!" tawar Juna.


Jelas aku langsung mengangguk, dengan perasaan kosong aku naik ke atas kuda yang cukup besar tersebut. Ku pacu kuda itu, awalnya berlari cukup pelan. Tapi, beberapa saat kemudian, ku pacu dengan kencang. Aku yakin, Juna sangat panik. Karena aku dengar dia berteriak memanggil namaku.


Beberapa saat kemudian


"Lain kali tidak usah berkuda!" Juna marah sambil menurunkan aku dari kuda hitam yang sudah berhenti.


Aku hanya tersenyum, tidak peduli dengan pria yang mengomel tersebut. Aku benar-benar pada titik bosan dan juga marah. Marah pada suamiku, tapi tidak bisa melampiaskan amarahku.


Alhasil, Juna yang selalu ku buat mengomel. Entah mengapa, ia masih peduli padaku. Tanpa aku cerita, sepertinya dia sangat paham akan masalahku. Hanya Juna, pria yang bisa aku pinjam pundaknnya untuk bersandar saat ini.


Hanya Juna, yang menyediakan banyak tisu ketika aku tiba-tiba menangis, aku sampai heran, kenapa dia begitu tulus padaku? Padahal statusku masih istri sah Garda. Apa dia mengharap hubungan kami kembali?


Tapi sayang, untuk saat ini aku mengunci rapat pintu hatiku. Bahkan saat Juna mengungkit dan ingin membahas masalah asmara, aku memilih menghindar dan mengalihkan perhatian. Lukaku belum sembuh, aku ingin sendiri dulu. Meski statusku masih istri sah pria brengsekkk tersebut.


Sekarang, tidak mau mendengar Juna marah-marah karena aku berkuda. Aku lantas pergi dan masuk ke dalam rumah.


***


Aku menoleh, telpon di rumah tempatku bersembunyi tiba-tiba menyala.


Tap tap tap


Juna berlari di belakangku.


"Jangan angkat!"


Aku menatap pria itu, dalam hati penuh tanya. Apa suamiku sudah mengendus keberandaan kami.


"Siapkan baju-bajumu, Sof!"


"Tapi ..."


Kring ... kring ...

__ADS_1


Telpon terus berdering. Aku yang semula tidak panik sekarang jadi gelisah. Dengan langkah cepat, aku berlari ke kamar. Mengemasi pakaianku yang hanya beberapa lembar ini.


"Passport? Identitas diri?" tanya Juna setelah masuk ke dalam kamarku.


"Sudah!" jawabku.


Setelah pamit pada paman Juna, kamu langsung meninggalkan perternakan. Sepertinya tempat itu sudah tidak aman. Untung sekali dalam rekeningku terdapat banyak uang. Itu adalah uang mahar yang Garda berikan padaku.


ASTAGA! Bodohnyaa aku. Suamiku pasti tahu lewat jejak penarikan uang yang aku lakukan kemarin.


"Jun! Bisa kendarai mobilnya lebih cepat!" seruku panik. Aku yakin, Garda sudah tahu aku di mana.


"Ini mobil tua, Sof!" keluh Juna.


Ya, mobil paman Juna memang terbilang tua. Jadi aku harus sabar ketika baja besi ini berjalan sangat lamban.


Dua jam kemudian, akhirnya kami tiba di sebuah Bandara. Aku dan juna bergegas masuk ke dalam. Tapi, kami langsung bersembunyi. Aku lihat banyak pria berpakaian hitam, dengan kacamata hitam dan memakai earphone. Aku semakin panik, aku rasa itu semua adalah anak buah suamiku.


"Bagaimana ini, Jun? Kurasa kita gak bisa lari. Jumlah mereka sangat banyak," ucapku panik.


"Pakai ini!"


Juna memasangkan topi miliknya ke kepalaku, ia juga mengambil kacamata yang semula ada pada kera bajunya.


"Rileks! Jalan santai, semoga tidak ada yang mengenalimu!" seru Juna sambil memasukkan semua rambutku ke dalam topi.


Aku mengangguk, berharap bisa lolos dari kawanan penjaga yang aku kira anak buah suamiku.


Kami berdua keluar dari tempat persembunyian, kembali berjalan membaur bersama orang-orang , tiba-tiba tangan Juna merengkuh pinggangku. Jelas aku tersentak, aku kaget. Padahal, dulu kami sangat dekat. Tapi, sentuhan Juna saat ini membuatku sangat canggung.


"Diamlah!" bisik Juna yang sepertinya tahu kalau aku tidak merasa nyaman.


Kami pun melewati salah satu bodyguard Garda, dan parahnya lagi, dia adalah salah satu yang pernah membawaku ke Villa milik Garda.


Panik, aku semakin merapat pada Juna. Berharap pengawal itu tidak mengenaliku.


"BERHENTI!"


"Sialll!" Kami berdua pun langsung lari.


BERSAMBUNG

__ADS_1



__ADS_2