
Ketika mendengar bahwa Safira mengalami kecelakaan, Bagaskara memilih pulang ke rumahnya terlebih dahulu, sebelum dia pergi ke rumah sakit agar bisa berangkat bersama dengan Ibu, dan juga istrinya.
Padahal di rumahnya pun memiliki banyak sopir dan juga ajudan yang bisa mengantarkan kedua wanita berbeda generasi itu, namun, Bagaskara tidak ingin mengambil resiko, karena bisa saja kesehatan Oma Rahma menurun dengan
tiba-tiba, ketika mendengar bahwa Safira tengah berada di rumah sakit pasca kecelakaan yang dialaminya.
Ketika mobil Bagaskara telah terparkir di halaman rumahnya, Bagaskara buru-buru turun, dan langsung berlari mencari keberadaan Oma Rahma terlebih dahulu,
Bagaskara khawatir jika Oma Rahma
mendengar kabar ini lebih dulu sebelum dirinya yang menyampaikannya.
"Bu..." Panggil Bagaskara, mendekat ke arah Oma Rahma yang saat ini tengah bersantai di ruang Oma Rahma yang semula tengah sibuk dengan buku di tangannya, pun langsung melepaskan kaca mata baca miliknya.
"Tumben sekali jam segini sudah pulang, Gas?" Tanya Oma Rahma.
"Bu, apakah ibu belum mendengarnya?" Tanya Bagaskara ragu-ragu.
"Mendengar apa?"
"Mmm... Aku bingung mengatakannya, Bu."
"Ada apa sebenarnya, Bagas? Jangan membuat Ibu penasaran, cepat katakan." Titah Oma Rahma yang dibuat penasaran.
Sebelum Bagaskara menjawab, Bagaskara memilih mendudukkan dirinya di sisi Oma Rahma terlebih dahulu.
"Bu, Fira kecelakaan." Ucap Bagaskara hati-hati, dengan merangkul pundak wanita berusia senja itu.
Oma Rahma terkesiap ketika mendengar kabar itu dari mulut
"Bagaimana dengan keadaan Fira saat ini? Apakah Fira baik-baik saja?" Tanya Oma Rabma tidak sabar.
Tiba-tiba saja, ada rasa nyeri pada bagian dada Oma Rahma. Oma Rahma pun langsung memegangi bagian dadanya seraya mengatur napas.
"Ibu, tenanglah. Fira baik-baik saja." Kata Bagaskara, yang berusaha menenangkan Oma Rahma agar tidak mengalami syok.
Oma Rahma pun mengambil napasnya dalam, untuk menetralkan kepanikannya.
"Di mana Fira saat ini?" Tanya Oma Rahma lirih.
"Saat ini Fira berada di rumah sakit, Bu. Dia harus menjalani perawatan dalam beberapa hari." Jawab Bagaskara, yang dikuti anggukan dari Oma Rahma.
"Baiklah, kalau begitu tunggu Ibu sebentar. Ibu akan mengganti pakaian dulu." Kata Oma Rahma, lalu pergi meninggalkan Bagaskara menuju kamarnya.
Bagaskara menghela napasnya lega ketika Oma Rahma tidak mengalami syok, saat mendengar kabar itu.
Sementara, Bagaskara memilih naik ke lantai dua untuk menemui Aida. Karena semenjak Aida mendapati nasehat dari Bagaskara, Aida banyak sekali menghabiskan waktunya di kamar. Tidak lagi gemar wara-wiri bersama circle sosialitanya.
Tok tok tok.
"Mah," Ucap Bagaskara yang langsung menerobos masuk.
__ADS_1
"Apa Daffa sudah menghubungi Mamah?" Tanya Bagaskara, setelah ikut duduk bergabung bersama Aida di sofa.
"Tidak. Pah. Ada apa memangnya?" Jawab Aida dengan bertanya.
"Fira kecelakaan, Mah."
Mendengar kabar yang membuat degup jantungnya tak beraturan, Aida hanya bisa diam mematung tanpa mengatakan apa pun.
"Mah, Papah dan Ibu akan ke rumah sakit sekarang, apakah Mamah ingin ikut dengan kami?"
Aida hanya menggelengkan kepalanya pelan, dengan mulut yang masih bungkam.
"Baiklah, Papah tidak akan memaksa Mamah agar ikut ke rumah sakit dengan Papah dan juga Ibu. Papah mengerti, pasti butuh waktu untuk Mamah agar bisa menerima semuanya, 'kan?"
"Papah sangat berharap besar kepada Mamah, semoga Mamah bisa menerima menantu kita dengan hati yang lapang." Sambung Bagaskara.
"Kenapa Daffa hanya menghubungi Papahnya saja, sedangkan aku tidak diberitahu." Monolog Aida dalam hati, yang
merasa kecewa karena merasa tidak
dianggap oleh putra semata wayangnya.
"Mah, kalau begitu Papah akan berangkat ke rumabh sakit bersama Ibu sekarang." Kata Bagaskara, yang berhasil menyadarkan Aida dari lamunannya.
"Iya, Pah. Hati-hati di jalan."
***
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Coba ceritakan kepadaku, bagaimana mobil itu bisa menabrak kalian." Tanya Daffa, ingin tahu kronologis sebenarnya.
"Dugaanku ternyata benar! Kecelakaan ini sepertinya sudah direncanakan oleh seseorang." Kata Daffa dalam hati.
"Mas, apakah Oma dan yang lainnya sudah tahu?" Tanya Safira, yang berhasil membuyarkan lamunan Daffa.
"Sudah sayang, baru saja Papah menghubungiku, jika mereka akan kemari."
Baru saja dibicarakan, Oma Rahma dan Bagaskara sudah muncul dari balik pintu, dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Fira.. Ya Allah, Nak. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Oma Rahma, dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk
"Jangan cemas, Oma. Saat ini keadaan Fira baik-baik saja." Saut Daffa, agar Oma Rahma tenang.
Merasa ada yang kurang, Daffa pun terus menatap ke arah pintu untuk menunggu kedatangan Aida.
"Kamu mencari siapa, Daff?" Tanya Bagaskara kepada Daffa.
"Apakah Mamah tidak ikut, Pah?" Tanya Daffa datar.
"Tidak, Daff. Mamah belum bisa kemari karena--"
"Karena belum bisa menerima semuanya, iya 'kan?" Kata Daffa yang memotong ucapan Bagaskara, dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, Daff. Hanya saja Mam--"
Belum sempat Bagaskara menyelesaikan ucapannya, kini ucapan Bagaskara pun terpotong kembali, bukan oleh Daffa, melainkan Oma Rahma.
"Bagas, Daffa. Sudah hentikan! Apa kalian tidak melihat keadaan Fira sedang sakit? Bisa-bisanya kalian berdebat di sini. Pergi saja sana kalau kalian ingin bertengkar." Bentak Oma Rahma, kepada kedua laki-laki
berbeda generasi itu.
"Apa semua ini ada kaitannya dengan Mamah? Apalagi, hingga detik ini Mamah begitu tidak menyukai Fira, jika dibalik ini semua adalah rencana Mamah, aku tidak akan memaafkannya sampai kapanpun."
Monolog Daffa dalam hati, yang sibuk
berpikir.
"Daffa."Panggil Bagaskara,
dengan memberi isyarat agar tidak lagi meneruskan perdebatan kecil di antara mereka itu.
"Jadi, Mamah Aida masih belum menerimaku." Gumam Safira dalam hati, setelah menyaksikan perbincangan dari suami dan mertuanya.
Setelah cukup lama Oma Rahma dan Bagaskara menjenguk Safira, keduanya pun kini pamit untuk pulang.
"Nak. lekas sembuh, ya. Oma pulang dulu, insyaallah besok Oma ke sini lagi." Kata Oma Rahma lembut.
"Iya, Oma. Terimakasih banyak ya sudah menyempatkan datang kemari."
"Iya Nak, sama-sama. Kalau begitu kami pamit dulu, ya. Assalamu' alaikum." Pungkas Oma Rahma, sebelum keluar dari ruang rawat inap. Dan diikuti oleh Bagaskara setelahnya. Safira terlihat begitu murung tidak seperti biasanya, setelah Oma Rahma dan Bagaskara sudah tidak
lagi berada di ruangan itu, yang disadari oleh Daffa.
"Hey, apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" Tegur Daffa, membuat Safira terkesiap.
"Kapan ya Mas, Mamah bisa menerimaku?" Ucap Safira lirih, yang berhasil membuat Daffa termenung.
"Mamah pasti akan menerima kamu kok sayang, mungkin sekarang belum saatnya." Jawab Daffa, yang sebenarnya tidak yakin.
Mendengar itu pun Safira hanya mengangguk lemah.
"Lebih baik kamu tidur saja, sayang. Daripada memikirkan macam-macam." Titah Daffa, yang duduk di sisi ranjang.
Daffa terus mengusap lembut pucuk kepala Safira yang dilapisi kain hijab terus-menerus, hingga Safira pun tidur pulas dalam belaiannya.
"Maafkan Mamahku yang belum bisa menerimamu, sayang." Gumam Daffa dalam hati, dengan netra yang terus menatap wajah Safira tanpa henti.
Belum lama dari Safira tertidur, tiba-tiba suara ketukan terdengar dari balik pintu, yang membuat Daffa bangkit dari posisinya saat ini.
"Maafkan Mamah datang terlambat, Daff." Kata Aida, ketika dirinya sudah berdiri di hadapan Daffa.
"Untuk apa Mamah datang kemari?" Tanya Daffa, dengan tersenyum simpul.
"Apa kamu tidak suka jika Mamah berada di sini?"
__ADS_1
"Bukankah ini yang Mamah inginkan?" Tanya Daffa, dengan suara baritonnya.
Aida yang belum mengerti maksud dari ucapan Daffa, pun hanya menatapnya bingung.