Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
108. Alasan Sebenarnya


__ADS_3

"Ternyata laki-laki yang terlihat arogan seperti Agatha sebenarnya banyak menyimpan luka." Gumam Fitria dalam hati, setelah mendengar pemaparan dari Rosa.


Sementara, Rosa yang baru saja selesai berbicara pun menatap Fitria heran ketika wanita muda di bawah usianya jauh itu tengah terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Fit?" Tanya Rosa menepuk bahu Fitria, hingga membuatnya tersentak kaget.


"Ah, nggak ada, Tante."


"Maafkan Tante ya jika mengagetkanmu."


"Nggak kok Tan, santai saja." Ujar Fitria, yang disambut anggukkan kepala oleh Rosa sebagai jawaban mengerti.


Karena Rosa tidak ingin membuat Agatha menunggu lama, Rosa pun langsung mengeksekusi semua bahan masakan yang sudah dia dan Fitria siapkan hingga bahan masakan itu berubah menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera bagi siapa pun yang melihatnya.


Setelah memakan waktu tiga puluh menit, hidangan makan siang yang hanya dua menu itu sudah matang, Rosa pun langsung bergegas membawanya ke depan agar langsung di nikmati oleh Agatha beserta Fitria dan juga dirinya.


"Ayo Fit dimakan." Titah Rosa kepada Fitria, ketika hidangannya sudah diletakan di atas meja yang berukuran tidak begitu besar itu.


"Iya, Tante." Sahut Fitria malu-malu.


"Ini siapa yang memasaknya, Mah?" Tanya Agatha yang baru saja menyuapkan sendok yang berisi nasi dan lauknya ke dalam mulutnya.


"Tentu saja Mamah dan Fitria, bagaimana rasanya, Ta? Enak 'kan?"


"Apa ini, Mah?" Tanya Agatha ketika melihat potongan wortel yang setebal setengah ibu jari.


"Itu wortel, Ta. Masa seperti itu saja tidak tahu." Sahut Rosa menjelaskan.


"Bukan, maksudku, kenapa ukurannya seperti roda mainan anak-anak, Mah?"


"Berarti, Fitria ingin agar kamu cepat kenyang, Ta." Timpal Rosa menggoda Agatha.


Sesaat, Agatha pun langsung menatap ke arah Fitria dan menghela napasnya dalam dengan menunjukan sendok yang berisi wortel di atasnya.


Sedangkan Fitria yang merasa tidak enak karena mengacaukan masakan Rosa pun langsung menyambar wortel yang berada di sendok Agatha tersebut.


"Kenapa malah lo makan?" Protes Agatha bingung.


"Loh, bukannya lo gak mau makan wortelnya? Ya sudah, nih gue balikin lagi." Ujar Fitria hendak mengeluarkan wortel yang sudah dia kunyah dari dalam mulutnya.


"JOROK BANGET LO FITRIA!" Teriak Agatha jijik, yang di sambut gelak tawa oleh Rosa.


"Hahaha sudah, sudah. Kenapa Mamah berasa punya anak kecil lagi sih di sini." Ucap Rosa melerai keduanya.


"Tante, Maaf ya. Kalau aku merusak hidangannya. Sejujurnya, tadi itu pertama kalinya bagiku memotong sayur di dapur." Kata Fitria merasa tidak enak.


"Merusak bagaimana? Rasanya tetap enak kok, itu hanya potongan sayurnya saja yang terlalu besar. Tetapi tidak masalah bagi Tante." Terang Rosa lembut, agar Fitria tidak merasa bersalah.


Rosa sebenarnya sengaja tidak menegur Fitria saat memotong wortel dengan ukuran yang salah. Bukannya Rosa tidak ingin mengajarinya, namun, Rosa ingin membuat Fitria merasa nyaman berada di dekatnya.


Mengingat pertemuan itu adalah pertama kalinya bagi mereka, Rosa pun ingin memberikan kesan hangat untuk Fitria.


Di sela-sela makan siang ketiganya, seorang pelanggan Rosa datang. Membuat Rosa yang tengah menikmati makan siang, pun harus menghentikan aktivitas makannya sejenak untuk menemui pelanggan itu.


"Mamah tinggal sebentar ya, Ta, Fit." Ucap Rosa sebelum pergi meninggalkan keduanya, yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Agatha dan Fitria.

__ADS_1


Kini hanya tersisa Agatha dan Fitria saja di sana, dengan masing-masing yang tengabh sibuk menyantap makan siang buatan Rosa.


"Beliau, adalah alasan gue tidak bisa meninggakan Indonesia." Ucap Agatha tiba-tiba, membuat Fitria langsung menatap ke arahnya penuh tanya.


"Memangnya lo mau pergi ke mana?" Tanya Fitria penasaran.


"Amerika. Jika gue menolak perjodohan ini, maka gue harus siap di kirim Papah ke sana." Jawab Agatha dengan tersenyum hambar.


"Sekarang gue mengerti, alasan dia enggan menolak perjodohan ini." Gumam Fitria dalam hati menatap lekat wajah Agatha.


Tidak lama, Rosa pun kembali. Membuat obrolan keduanya terhenti.


"Aduh, maaf yah Fit kalau tadi Tante tinggal." Kata Rosa setelah bergabung duduk kembali.


"Nggak apa-apa, Tante. Justru aku yang merasa tidak enak, jadi merepotkan Tante." Ucap Fitria segera.


"Tante tidak merasa direpotkan sama sekali, Fit. Justru Tante senang Agatha membawamu kemari," Ujar Rosa, membuat Fitria lega.


"Oh iya, bagaimana masakan Tante? Apakah enak?" Lanjut Rosa kembali dengan bertanya.


"Enak Tante, apakah kapan-kapan aku boleh belajar masak dengan Tante?" Tanya Fitria penuh harap.


"Tentu saja boleh, Tante justru malah senang, ada yang ingin belajar masak bersama Tante. Apalagi Tante tidak memiliki anak perempuan."


"Berarti selama ini Mamah merasa kesepian memiliki anak laki-laki?" Protes Agatha cemburu, ketika Rosa lebih antusias menyambut Fitria daripada


dirinya.


"Aduh, anak Mamah sedang merajuk ternyata." Ucap Rosa mengusap kepala Agatha lembut.


Setelah makan siang ketiganya telah selesai, Fitria mengambil alih untuk mencuci piring-piring kotor itu,nmeskipun hal itu baru pertama kali lagi bagi dirinya.


Dengan usaha yang sangat keras, Fitria pun berhasil menyelesaikan semua cucian piring tersebut.


"Terimakasih banyak ya, Fit. Sudah membantu Tante untuk mencuci piringnya." Ucap Rosa, saat Fitria sudah kembali dari dapur.


"Iya Tante, sama-sama."


Baru saja Fitria duduk, Agatha sudah meminta agar mengantarkannya kembali ke cafe untuk mengambil mobilnya yang


masih terparkir di sana.


Fitria yang geram dengan permintaan Agatha yang tidak tahu waktu, pun langsung siap melayangkan protesnya.


Jelas-jelas baru saja duduk, apa diantidak bisa melihatnya? Batin Fitria


kesal.


Namun, belum sempat Fitria melayangkan protesnya. Rosa sudah mencubit Agatha lebih dulu, agar tidak banyak merepotkan Fitria.


"Berhenti merepotkan Fitria, Agatha! Apa kamu tidak melihatnya kalau dia baru saja duduk? Lagi pula taksi kan banyak."


"Aww... Lepasin, Mah. Sakit."


"Nggak apa-apa Tante, lagi pula aku juga sekalian pulang." Sahut Fitria yang akhirnya bersedia mengantar Agatha untuk mengambil mobilnya.

__ADS_1


"Lihat, Fitria saja tidak masalah, Mah." Kata Agatha menimpali.


"Ya sudah Tante, kalau begitu, aku langsung pamit pulang sekarang, ya,"


"Iya Fit, hati-hati di jalan ya. Nanti kalau ada walktu lagi sering-sering mampir ke toko Tante, ya."


"Iya, Tante."


Setelah keduanya berpamitan, kemudian keduanya pun langsung pergi meninggalkan Toko itu.


Sama seperti saat berangkat tadi, kali ini


Agatha kembali yang menyetirnya. Di tengah-tengah perjalanan menuju cafe, Fitria yang hendak mengatakan sesuatu kepada Agatha nampak begitu ragu-ragu.


Sedangkan Agatha yang menyadari itu dari kaca spion dalam, memilih diam tanpa


memulai percakapan lebih dulu.


"Ta." Panggil Fitria lirih.


"Hmm" Sahut Agatha tanpa menoleh ke arah Fitria sedikit pun.


"Bagaimana jika kita menerima perjodohan ini saja?" Ucap Fitria tanpa basa-basi, membuat Agatha langsung mengerem mendadak mobil yang tengah melaju itu.


Beruntungnya mobil yang sedang dikemudikan Agatha melintasi jalanan yang tidak begitu ramai kendaraan berlalu lalang.


"Apa gue gak salah dengar?" Tanya Agatha memastikan pendengarannya, yang disambut gelengan kepala oleh Fitria.


"Apakah lo yakin?" Tanya Agatha kembali.


"Iya, gue yakin!"


"Tapi, bukankah sebelumnya lo gencar banget untuk membatalkan perjodohan ini?"


"Ucapan lo gak salah, Ta."


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran seperti itu? Pernikahan bukan ajang untuk main-main loh, Fit!"


"Apakah gue terlihat sedang main-main?" Tanya Fitria, yang disambut Agatha dengan


mengedikkan bahunya sebagai jawaban tidak tahu.


PLETAK!


"Berpikirlah!" Kata Fitria, setelah mendaratkan sebuah sentilan tepat di


dahi Agatha.


***


Tanpa terasa, mobil yang di kendarai Agatha pun sudah sampai di depan cafe. Agatha yang masih enggan turun karena masih banyak pertanyaan yang berkumpul di kepalanya, pun hanya diam menatap


Fitria.


"Ada apa lagi?" Tanya Fitria.

__ADS_1


__ADS_2