
Suara gaduh keduanya membuat suasana yang tadi sunyi, kini menjadi bising oleh ocehan kedua nya.
"Appa, kenapa Appa tidak tinggal bersama kita? Padahal kan, Eomma sudah pulang dan berkumpul lagi bersama kita. Hah, Appa menyebalkan." Ujar Ana dengan raut wajahnya yang kesal.
"Hahaha, Appa banyak sekali kerjaan. Kau tau kan, Appa ini sibuk sekali Nak. Jadi maafkan Appa yah yang belum bisa menemani mu dan Oppa mu." Ujar Sean mengelus kepala Putrinya dengan lembut.
"Hah, Appa bohong!" Ana meninggikan suaranya karena merasa kesal dengan Sean. "Pokoknya Ana kesal dengan Appa." Teriaknya berlalu pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"ANA..." Panggil Sean, wajahnya tertekuk merasa bersalah pada Putrinya.
"Biarkan saja." Cegah Crystal, "Dia pasti akan mengerti, aku akan berbicara padanya nanti." sambungnya, kedua matanya menatap ragu wajah Sean.
Sean tak menggubris perkataan Crystal, pria itu hanya diam.
"Cleo, sebaiknya kau juga masuk ke kamar mu dan bersihkan badanmu terlebih dahulu." Ucap Crystal pada Putranya yang sejak tadi hanya menyaksikan drama yang ditimbulkan oleh adiknya.
__ADS_1
"Baik Eomma." Jawab Cleo, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Ana.
Sepeninggal, kedua anaknya. Sean hendak berjalan dan mengacuhkan Crystal.
"Sean, tunggu.." Panggil Crystal, ketika melihat Sean yang hendak pergi.
Namun, sepertinya pria enggan menanggapi panggilan Crystal.
"Sean."
Wajah Crystal langsung masam, ketika melihat ekspresi wajah Sean yang datar di pandangannya.
"Kenapa?" tanya Sean, masih dengan wajah datarnya. Sesekali bola matanya melihat ke handphone nya.
Crystal menautkan kedua jarinya, dengan ragu dia membuka mulutnya untuk berbicara. "S-sean, kau kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Crystal dengan penuh kehati-hati an.
__ADS_1
"Cek, sudah berapa kali kau menanyakan ini. Apa kau tak bosan? Sebaiknya aku pergi, hari ini aku ada jadwal di Kota." Ujar Sean, lalu berjalan pergi meninggalkan Crystal yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Crystal menatap nanar punggung Sean yang mulai menghilang di balik pintu, entah ini memang hanya perasannya saja atau apa. Tapi, dia memang sangat yakin Sean mulai berubah sejak seminggu dia siuman dari koma nya.
Sejak Crystal dinyatakan sudah sembuh dan setelah itu memutuskan untuk kembali ke Korea tinggal bersama kedua anaknya. Pada saat itu juga, Sean seperti memberi jarak pada Crystal. Entah apa yang tengah Pria itu pikirkan, hingga selalu menjaga jarak.
Pria itu, mulai menjauh dan berbicara seperlunya pada dirinya. Dia memang tak memiliki hak apapun atas diri pria itu, meski dia adalah Ayah dari anak-anaknya. Tapi, dirinya bukanlah siapa-siapa nya Sean. Meski begitu, dia tetap merasa sedih. Sean kembali seperti dirinya dulu, bersikap dingin padanya.
"Hah, hatiku terasa tercabik." gumam Crystal, kedua tangannya memegang dadanya yang terasa sesak.
...****************...
Sean menatap pintu yang menjulang tinggi di hadapannya. Wajahnya yang sejak tadi berekspresi datar, berubah 180°.
"Maafkan aku." Bisiknya lirih, beberapa kali Sean menarik nafasnya yang terasa sesak. "Ini demi kebaikan bersama." lagi, dia bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Sean segera keluar dari pekarangan rumah Crystal dan berlalu pergi menaiki mobilnya yang sejak tadi terparkir di depan.