Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Only You


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 39


Oleh Sept


Rate 18 +


"Dia bukan ananku! Anakku hanya ini!" ucap Garda sembari memegang perut Sofi.


Sofi spontan mendongak, kemudian menatap perutnya yang sudah disentuh oleh Garda. Dan perkataan suaminya barusan cukup membuatnya tertegun.


"Aku tidak bisa dibohongi lagi! Dia memanggilmu papa, dan ...!" Sofi berhenti sejenak.


"Aku tidak mau jadi bayang-bayang perempuanmu itu!" lanjut Sofi dengan emosi. Bila membicarakan Amelia, darahnya seolah mendidih. Dan dia jadi tambah kesal pada suaminya.


Mana ada wanita yang mau berbagai hati dengan wanita lain. Sofi menolak keras akan gagasan tersebut. Apalagi Amelia terang-terangan memintanya mundur. Meski sekarang terlanjur hamil anak Garda, bukan berarti semua kembali seperti sedia kala.


Perasaan Sofi sudah terlanjur dipenuhi marah dan kecewa pada pria yang kini masih berstatus suaminya tersebut.


"Siapa yang menjadikanmu bayang-bayang? Yang benar saja! Dan untuk wanita itu ... dia hanya masa lalu. Sama seperti denganmu, bukankah kamu juga memiliki masa lalu dengan Juna?"


Sofi langsung memasang muka sebal.


"Juna lebih baik darimu! Dia bahkan tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku!" ketus Sofi. Hal itu memancing kemarahan Garda.


"Ketika aku membicarakan masa lalu, bukan berarti kamu bebas membahas pria lain di depanku! Apa lagi kau memuji-mujinya ... ASTAGA!" ujar Garda cemburu.


"Kenapa? Aku bicara apa adanya. Aku mengatakan apa yang sesungguhnya ... Juna bahkan tidak pernah menduakanku!" serang Sofi.


Mata Garda menyalak marah, tidak peduli Sofi hamil. Kalau masalah Juna ia selalu hilang kendali. Dengan keras ia mencengkram bahu Sofi.


"Jangan lagi menyebut nama pria lain di depanku!"


Setttt ....


Sofi menepis lengan suaminya dengan keras. Ia juga tersulut emosi.


"Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan wanita lain yang ada dalam hidupmu? Bagaimana dengan anak itu? Harusnya kamu biarkan aku pergi!! Hidup saja bersamanya!" teriak Sofi frustasi.


Kedua orang tua Sofi langsung masuk kamar. Mereka panik karena Sofi berteriak kencang.


"Sof!!!" panggil mama Hana.

__ADS_1


Mereka berdua melihat ketegangan di kamar Sofi. Apalagi tangan Garda juga sudah mengepal. Panik, mama Hana kemudian membawa Sofi ke luar kamar.


Ia membawa Sofi dan menundukkan putrinya itu di ruang tamu.


"Kamu hamil, jangan seperti ini!" pinta mama Hana memelas. Ia terlihat putus asa, karena Sofi tidak pernah patuh pada mereka.


"Lalu Sofi harus bagaimana, Ma?" Sofi membuang muka, dan mengusap pipinya. Ternyata istri Garda tersebut malah menangis. Mungkin situasi seperti ini sangat membuatnya tidak nyaman.


Baru menginap sehari, sudah ribut besar seperti ini. Papa jadi khawatir, rumah tangga keduanya itu akan jadi seperti apa untuk kedepannya. Dari sini, papa mulai merasa keputusan yang ia ambil dulu adalah salah. Kekayaan mungkin bukan jadi sumber kebahagian bagi putrinya. Punya suami yang memiliki segalanya, bukan berarti Sofi terjamin bisa bahagia.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya papa pada Garda yang masih mencoba menahan kesal.


Mereka kini duduk berempat di ruang tamu. Suasana terasa amat tegang. Apalagi Sofi dan Garda sama-sama tidak mau menatap.


"Pisah! Sofi mau pisah!" ucap Sofi yang memecah ketegangan.


Tangan Garda semakin mengepal.


"Sepertinya kamu ingin sekali hidup dengan pria brengsekkk itu!" tuduh Garda dengan mata berapi-api. Seolah siap membakar siapa yang ia tatap.


Sofi menahan napas, sedikit sakit ketika ia dituduh. Padahal yang mendua adalah suaminya. Yang begitu kejam menjadikan dirinya sebagai bayang masa lalu suaminya itu.


"Sof! Kamu sudah menikah, kenapa masih berhubungan dengan pria lain?" tanya mama Hana yang sepertinya berpihak pada Garda.


"ASTAGA! Dia hanya masa lalu Sof! Dan anak itu bukan anakku. Kami sudah melakukan tes DNA!" ujar Garda tak kalah emosi.


Sofi menggeleng pelan, "Kamu bisa merekayasa hasilnya! Dia sendiri yang bilang kalian akan memulai lagi dari awal!"


Garda berdiri tegap, ia memejamkan mata menahan kesal. Kemudian mendekati Sofi.


Sofi yang melihat suaminya mendekat, mendadak merasa mual.


Huek ... huek ...


Ia kemudian berdiri, berjalan cepat ke kamar mandi.


Sesaat kemudian


Sofi keluar membuka pintu kamar mandi, ia sempat terhenyak saat melihat Garda bersandar di dinding sambil mengamati dirinya.


"Jangan dekat-dekat, membuatku mual!" celetuk Sofi.

__ADS_1


Garda tersenyum kecut.


"Apa-apaan ini?" gumam Garda kesal. Sambil merutuk ia mengikuti Sofi dari belakang.


Sedangkan Sofi, ia tidak habis pikir. Mengapa Garda terus saja dekat-dekat dengannya. Padahal mereka sedang ribut besar.


"Kamu nggak apa-apa, Sof?" tanya mama sambil membawakan segelas teh hangat.


Sofi menggeleng.


"Kamu nggak boleh banyak pikiran, apalagi kamu sedang hamil begini." Mama menasehati putrinya.


"Benar apa kata mamamu, Sof. Dan kamu harus lebih percaya dari suamimu dari pada orang lain," timpal papa.


"Terus saja dibela! Kalian semua memang gak ada yang ngertiin Sofi!" Sofi marah lantaran merasa tidak ada yang peduli dengan perasaanya. Selalu membela Garda. Kedua orang tuanya tidak pernah berada di pihaknya.


"Kami hanya ingin yang terbaik buat kamu, Sof!" Mama mencoba memberikan pengertian.


"Yang terbaik bagi Mama bukan berarti terbaik juga untuk Sofi! Sekarang Mama lihat kan, suami pilihan kalian? Dia sudah memiliki perempuan lain!"


Garda tidah tahan, ia kemudian menarik tangan Sofi agar mendekat padanya.


"Tidak ada wanita lain! TIDAK ADA!" ujar Garda tegas. Ia tatap Sofi dengan tajam. Begitu juga Sofi, mereka malah saling menatap.


Entah apa yang merasuki Garda. Mungkin juga karena rindu lama tidak menyapa. Melihat wajah Sofi begitu dekat, matanya malah fokus ke bibir ranum yang lama tidak ia jamahhh tersebut. Pria itu tiba-tiba saja menempelkan bibirnya begitu saja. Mama, papa dan Sofi, semua yang ada di sana sampai terbengong-bengong dibuatnya. BERSAMBUNG


Dasar Papa lobak!






IG Sept_September2020


Yuk, 10 hari lagi pengumuman give away.


Semangat menang!!!

__ADS_1



__ADS_2