
Dipaksa Menikah Bagian 35
Oleh Sept
Rate 18 +
"Kenapa dia di sini?" batin Sofi.
Pandangan Sofi masih buram, kabur dan tak begitu jelas. Akan tetapi, ia bisa mengenali sosok yang berjalan ke arahnya. Aroma parfum Garda sudah ia hafal betul di luar kepala.
Garda yang setengah terkejut karena Sofi sudah bangun, ia pun terus melangkah. Dan berdiri di tepi ranjang. Sembari tangannya menyentuh tangan Sofi.
Setttt ...
Sayang, Sofi menarik tangannya dengan lemas. Dan itu membuat Garda menahan emosi. Tapi karena Sofi sedang hamil benih cintanya, maka sikap Sofi kali ini akan Garda maklumi.
"Bagaimana kabarmu?"
Sofi memalingkan muka. Ia memilih menatap ruang kosong dari pada melihat wajah suaminya. Entah mengapa, jika kemarin ia sempat merindukan sosok suaminya itu. Sekarang, mendengar hembusan napas suaminya saja Sofi sangat kesal.
Melihat Sofi yang tidak mau bicara atau menatapnya, akhirnya Garda hanya duduk di tepi ranjang. Meski Sofi tidak suka, ia tetap ada di dalam ruangan itu. Menjaga Sofi sendiri 24 jam. Sambil menunggu keadaan Sofi stabil dan membawanya pulang ke kota besar.
***
__ADS_1
Beberapa jam kemudian
Matahari bersinar sangat cerah, secerah hati Garda. Tapi tidak dengan Sofi dan Juna. Keduanya terlihat suram dan muram. Terutama Juna, pria itu kini sudah memegang ticket.
Garda sudah mengurusi kepulangan Juna terlebih dulu. Garda ingin menjauhkan Juna dari Sofi secepat mungkin. Bahkan orangnya sendiri yang akan mengantar Juna kembali. Dan tentunya dengan surat pernyataan. Bahwa pria itu tidak akan dekat-dekat lagi dengan istrinya. Jika tetap dilanggar, maka Garda tidak segan-segan menyeret pemuda itu ke jeruji besi.
Awalnya Juna menolak keras, tapi kenyataan bahwa Sofi hamil anak Garda, membuat perjuangan Juna sia-sia. Juna seperti kalah di medan pertempuran. Ia kalah besar sebelum bertanding.
***
Kamar Semeru nomor 8
Terlihat Juna berdiri agak jauh, di belakangnya ada dua pengawal.
"Sof, jaga dirimu baik-baik!"
"Aku pergi!" ucap Juna sekali lagi. Dan Sofi hanya menutup matanya. Ada bulir bening yang keluar dari sudut mata Sofi. Garda pun melihatnya. Pria itu pun semakin kesal. Berharap Juna segera keluar dari kamar perawatan sekarang.
Rasanya Juna ingin memeluk Sofi untuk salam perpisahan, tapi sorot mata Garda mengisyaratkan jika ia lakukan hal itu, maka siap-siap tubuhnya kembali babak belur. Akhirnya dia pergi dengan tangan kosong.
***
Sesaat kemudian setelah kepergian Juna. Atmosphere di dalam ruangan itu terasa dingin. Sejak semalam Sofi sama sekali tidak mau berkomunikasi dengan suaminya.
__ADS_1
Sampai waktunya kunjungan dokter. Kebetulan pagi ini masih dokter Arman m Dokter yang kemarin sempat kesal juga dengan sikap Garda.
"Selamat pagi, Bu Sofi!" sapa dokter Arman.
Sofi tersenyum ramah. Namun, ketika Garda mendekat, ia kembali memasang muka masam.
"Bagaimana kabar pagi ini? Ada keluhan? Semalam bisa tidur nyenyak?" tanya dokter Arman sambil melirik Garda.
Garda balas melirik, dengan wajah yang mengeras. Sedangkan Sofi, ia hanya menggeleng pelan.
Setelah diperiksa sebentar, dan berbicara sedikit hal, dokter Arman pun keluar. Kembali memeriksa pasien yang lainnya.
"Sampai kapan kamu marah?" celetuk Garda yang sudah tidak tahan perang dingin di antara mereka.
"Tinggalin aku sendiri!" balas Sofi dingin.
Garda menghela napas panjang, pria itu bukannya pergi malah menarik tangan Sofi. Mengusap lembut, kemudian menatap mata istrinya dengan dalam.
Ditatap seperti itu, Sofi kembali membuang muka.
"Besok kita balik."
Ucapan Garda masih membuat Sofi bergeming. Ia diam tanpa merespon.
__ADS_1
"Kita akan pulang ke rumah orang tuamu!" ucap Garda serius.
Seketika Sofi menoleh, ia melihat wajah Garda sekilas. Apa artinya mereka akan berpisah? Apa artinya Sofi dipulangkan ke rumah orang tuanya? BERSAMBUNG