
Di setiap cobaan akan selalu ada penyelesaian.
Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan kita.
Maka bersabarlah.
Anisa meremas rambutnya. Dia tidak tahu bagaimana mencari uang 2 Milyar dalam waktu sebulan. Nisa tidak mengerti mengapa Tuan Kusuma ingin menikahkan dia dengan anaknya. Padahal banyak perempuan yang lebih baik dan lebih sederajat.
Anisa sangat tidak bersemangat, dia bekerja sambil memikirkan perkataan Tuan Kusuma sampai waktu menunjukkan pukul 5 sore. Setelah datang karyawan opershiff, Anisa pergi keruangan Managernya.
Tok,,,tok,,,tok
"Permisi pak, ini saya Nisa."
"Silahkan masuk Nisa. Ini uang yang kamu minta, tapi lain kali saya sudah tidak bisa memberikan lagi."
"Baik Pak, terima kasih banyak, saya permisi pulang pak."
"Ya silahkan. Terima kasih kamu sudah bekerja dengan baik hari ini."
"Sama-sama pak."
Anisa keluar dari ruangan Manager lalu pergi ke loker untuk berganti pakaian dan bergegas pulang.
Sepanjang perjalanan Anisa memikirkan apa yang dikatakan Tuan Kusuma.
"Apa yang harus aku lakukan, bagai mana aku bisa membayar uang sebanyak itu. Apa aku pergi ke rumah paman dan bibi saja untuk meminta bantuan mereka."
"benar, sebaiknya besok aku menemui paman dan bibi saja, semoga mereka mau membantuku"
Setelah Anisa sampai di depan rumah, dia mendengar suara tangisan seseorang dari dalam kontrakan kecilnya. Anisa segera membuka pintu rumahnya dan mencari Dewi.
Dewi,,,, Dewi,,,,
"hiks,,, hiks,,,, Mbak,,,,"
Anisa membuka pintu kamar dan mendapati Dewi terbaring di tempat tidur dan menangis.
"Dewi, ada apa? Kenapa kamu menangis, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Nisa bertubi-tubi.
"Kaki Dewi Mbak,,, hiks,,, hiks,,, kaki Dewi yang kiri gak bisa di gerak-gerakkan."
Anisa terkejut. Tangannya gemetar, Anisa sangat takut terjadi sesuatu pada Dewi. Karna hanya Dewi yang menemaninya dan menjadi penyemangat hidupnya. Tanpa di sadari air matanya pun menetes.
"Bagaimana bisa kaki kamu gak bisa di gerakkan Dewi. Apa kamu terjatuh, dan badan mu ini panas sekali." Nisa menempelkan punggung tangannya ke dahi Dewi.
"hiks,,, hiks,,,, Dewi gak tahu Mbak. Setelah pulang sekolah Dewi langsung tidur. Tapi setelah bangun kaki Dewi langsung gak bisa di gerakkan, kaki Dewi seperti mati rasa Mbak."
__ADS_1
Anisa memeriksa kaki Dewi, dia melihat pergelangan kaki Dewi bengkak.
"Sepertinya pergelangan kakimu bengkak, ayo kita pergi ke rumah sakit."
Anisa membangunkan Dewi dan membantunya berjalan keluar kontrakan. Setelah menutup pintu. Mereka berjalan perlahan ke pinggir jalan dan memberhentikan angkutan umum untuk menuju rumah sakit.
Di dalam angkot Anisa terus memeluk Dewi. Sampai di depan rumah sakit Anisa dan Dewi berhenti dan membayar ongkosnya. Mereka masuk ke dalam rumah sakit.
Anisa menunggu di luar saat Dewi di periksa. Anisa berjalan mondar mandir dan tak henti-hentinya mengucapkan do'a, dia sangat gelisah. Entah apa yang terjadi pada adiknya.
Kenapa dokter lama sekali keluarnya. Ya tuhan, semoga Dewi baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksa Dewi keluar.
"Bagaimana keadaan Dewi dok?"
"Apa anda keluarga Nona Dewi?"
"Saya saudara kandungnya dok."
"Kalau begitu ikut ke ruangan saya, kita bicarakan kondisi Dewi di ruangan saya saja."
Anisa melangkah mengikuti dokter ke ruangannya.
Sesampai di ruangan, dokter mempersilahkan Anisa duduk.
"Bagaimana kondisi Dewi dok, dia baik-baik saja kan?"
"Maksud dokter apa, jangan membuat saya takut dok." Anisa menjadi tambah gelisah dengan ucapan dokter.
"Saya sudah memeriksa berkali-kali tetapi hasilnya tetap sama. Dewi memiliki tumor di pergelangan kakinya, dan harus segera di operasi secepatnya."
Anisa seperti tersambar petir, dia kaget dengan apa yang di katakan dokter. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, Anisa menangis dalam diam. Selama ini dia tidak pernah tahu kalau Dewi sakit. Anisa masih tidak bisa percaya akan kenyataan yang telah di ucapkan dokter.
"Bagaimana mungkin adik saya memiliki tumor, selama ini dia baik-baik saja dan tidak pernah mengeluh sakit dok."
"Saya yakin Dewi sering mengalami sakit di pergelangan kakinya, mungkin dia tidak pernah bicara saat dia merasakan sakit."
"Kira-kira berapa biaya untuk operasinya dok?"
"Biaya operasinya kurang lebih 75 juta, setelah dana masuk 50% operasi sudah bisa langsung dilakukan."
"Baiklah dok, saya akan usahakan secepatnya membayar uang mukanya agar Dewi bisa segera di operasi."
"Baiklah, Dewi akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap."
"Terima kasih dokter, saya permisi dulu."
__ADS_1
"Iya silahkan."
Anisa keluar dari ruangan dokter, dia berjalan melewati lorong rumah sakit. Tubuhnya sangat lemas. Dia sudah tidak mampu menahan air matanya lagi.
"Apa salahku Tuhan, kenapa begitu banyak cobaan yang Engkau berikan."
Anisa terduduk lemas di bangku ruang tunggu. Dia melamun dengan mata sembabnya.
Waktu pun berlalu Anisa mengusap wajahnya, dia bangkit dari duduknya menuju ruangan Dewi di rawat.
Setelah memasuki ruang rawat inap Dewi, dia melihat Dewi terbaring lemah di atas kasur rumah sakit.
Dia mengusap lembut pucuk kepala Dewi.
" Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu sakit. Mbak gak tega melihat kamu terbaring lemah begini. Bertahanlah, Mbak akan mencari biaya untuk operasimu. Mbak sudah menelpon paman dan bibi, sebentar lagi mereka akan datang."
Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu, ternyata yang datang paman dan bibi Anisa.
Paman dan bibi Anisa datang dengan wajah yang penuh emosi.
"Paman bibi apa kabar?"
Anisa berniat mencium tangan mereka namun di tepis.
"Tidak perlu basa basi, paman ke sini hanya ingin membicarakan masalah ini."
Paman melempar map berisi berkas berkas data pinjaman ayah Anisa yang kemarin di berikan oleh Asisten Tuan Kusuma.
"Gara-gara kamu menolak pernikahan itu, perusahaan saya akan jatuh bangkrut.
Orang tuamu yang berhutang kenapa kami yang mendapat imbasnya." Ucap paman Anisa dengan wajah merah padam.
"Anisa bibi gak mau pamanmu sampai bangkrut. Mau gak mau kamu harus segera menikah dengan anak Tuan Kusuma." Bibi anisa berbicara dengan angkuhnya.
"Benar. Lagi pula kamu gak mungkin bisa membayar operasi adikmu, dan paman juga gak bisa membantumu."
"Tapi paman, Nisa gak mengenal anak Tuan Kusuma, bagaimana mungkin Nisa bisa menikah dengan orang yang gak Nisa kenal."
"Paman dan bibi gak mau tahu. Kamu harus menikah dengan anak Tuan Kusuma. Pikirkan jika kamu masih ingin Dewi sembuh."
"Bibi sudah menelpon Tuan Kusuma, besok dia akan datang dan membiayai semua kebutuhan untuk operasi Dewi. Besok bibi akan datang memastikan kamu menerima pernikahan itu." Timpal bibi Anisa
"Jika sampai kamu menolak, liat saja akibatnya. Paman akan membawa Dewi pergi sejauh mungkin." Ancam paman Nisa
Paman dan bibi Anisa pergi meninggalkan ruangan Dewi di rawat.
Anisa menangis sejadi-jadinya. Tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan dan mengerti perasaannya. Bahkan paman dan bibinya pun memaksanya untuk menikah. Dia tidak ingin berpisah dengan Dewi.
__ADS_1
"Ya Tuhan. apa yang harus aku lakukan,aku ingin Dewi sembuh. Aku ingin Dewi bahagia, dan aku gak ingin paman bangkrut."
Anisa menangis sepanjang malam hingga kepalanya pusing dan langsung terlelap tidur.