
"SEAN!"
Sean yang tengah menundukkan wajahnya dengan murung, langsung menolehkan wajahnya. Dia cukup terkejut, saat seseorang memanggil namanya dengan suara tinggi.
"Yeri." gumam Sean menatap wajah wanita itu dengan kedua mata yang sayu, entah apa yang akan dia jelaskan pada Sahabatnya Sulli jika Sulli telah kembali pada sang pemilik raga.
Yeri sedikit berlari menghampiri Sean, dibelakang wanita itu Jack yang sejak tadi mengekorinya.
"A-da apa ini? Kenapa Jack menjemput aku? Apa telah terjadi sesuatu dengan Sulli?" tanya Yeri dengan beruntun, terlihat kedua tangannya yang bergetar.
Sean masih menutup rapat mulutnya.
"Sean, bicaralah jangan membuat aku berspekulasi buruk." Seru Yeri sambil memukul dada bidang Sean, entah sejak kapan Yeri yang awalnya benar-benar takut dan sungkan terhadap Sean tapi saat ini mulai berani dan terlihat santai pada lelaki itu.
"Cepat katakan padaku.."
"Nona Yeri, tenanglah. Sebaiknya Anda langsung temui nona Sulli." Sela Jack mencoba menenangkan Yeri yang terus memukuli Sean.
"Tidak apa Jack."
__ADS_1
"........" Jack menatap Tuannya prihatin, dia ini memang tidak mudah untuk Tuannya.
"Yeri, aku harap kau bisa menerima ini semua. Maafkan aku baru memberitahumu, Sulli sempat sadar lalu...."
Yeri mencoba mendengarkan apa yang akan Sean katakan selanjutanya, bohong jika dia tak cemas dengan situasi seperti ini.
"Maafkan aku Yeri. Sulli.... d-dia, telah t-tiada."
Deg. Tubuh Yeri langsung terpaku ditempat. Tulang-tulang yang berada ditubuhnya seakaan lepas begitu saja, membuatnya luruh jatuh ke bawah.
"N-nona Yeri."
Jack dengan sigap menangkap tubuh Yeri. "Nona... Anda tidak apa-apa?"
"Bawa ke dalam Jack, biarkan dia tenang." titah Sean pada Jack.
"B-baik Tuan." Jack langsung menggendong Yeri masuk ke kamar rawat Sulli dan membaringkannya di sofa.
"Minumlah Yeri." Sean memberikan air minum pada Yeri.
__ADS_1
Yeri membuka mulutnya dan meminum air putih itu, ini seperti mimpi untuknya. "Hiks ... hikss.... hikss.. Sulli." Yeri menangis menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maafkan aku Yeri, ini terjadi begitu cepat." sesal Sean. "Aku sengaja meminta agar Dokter menunda operasi Sulli mengenai donor organnya agar kau bisa menemui Sulli terlebih dahulu."
Yeri mengusap kedua matanya kasar, menolehkan wajahnya ke arah tempat tidur Sulli. Di sana tubuh sahabatnya telah di tutup dengan kain putih dengan pelan dia menurunkan kakinya dari sofa. "A-aku ingin melihatnya." bisik Yeri dengan sesegukan.
Jack langsung membantu Yeri untuk berdiri karena tubuh wanita itu terlihat lemas.
Tepat di depan tubuh sahabatnya, Jack membantu membuka kain penutup itu hingga memperlihatkan wajah Sulli yang sangat pucat. Dengan jari yang gemetar, Yeri merangkup wajah sahabatnya. "D-dingin, tubuhmu dingin." gumam Yeri lirih. " K-kau tega meninggalkan aku seorang diri, padahal kita akan pergi berkeliling Korea. Kenapa, kenapa kau pergi dengan cepat?"
Jack mendekat ke arah Sean dan berbisik padanya. "Tuan, apa tidak sebaiknya Nona Sulli segera di bawa ke ruang operasi. Nona Crystal harus segera melakukan donor ..."
"Jack!" sela Sean menatap tak suka ke arah Jack. "Aku tahu Crystal membutuhkannya dengan cepat, tapi kita tidak bisa begitu saja mengabaikan Yeri. Berikan dia waktu untuk meratapi kesedihannya, tunggu setengah jam lagi. Setelah itu, baru kita bisa memanggil Dokter untuk melakukan prosedur itu." Tolak Sean dengan tegas. Dia melakukan hal itu karena tahu bagaimana rasa sakitnya ditinggal orang terkasih. Maka dari itu, dia tidak ingin menjadi egois karena kepentingannya seorang meski dia tahu Crystal dalam keadaan kritis.
"Aku mengerti Tuan."
"Coba hubungi kembali Kevin, segera hubungi aku jika terjadi hal buruk di sana." perintah Sena cukup tenang.
"Baik Tuan, akan saya laksanakan."
__ADS_1