Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
141. Kebahagiaan


__ADS_3

Netra yang semula tengah terpejam, perlahan mulai terbuka dan langsung mengarahkan pandangannya ke tempat di mana Daffa biasanya berada.


Padahal sebelum tidur, Safira berharap


semuanya hanya mimpi dan akan kembali seperti biasanya keesokan harinya. Namun, saat netranya tidak menemukan kehadiran Daffa di sana. Safira tersadar kembali bahwa kepergian Daffa adalah nyata.


Air mata yang sejak kemarin sudah banyak tumpah melepaskepergian Daffa, pun mulai keluar kembali saat mengingat


kebersamaannya bersama suaminya itu.


Tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihannya, Safira pun segera bangkit dari posisinya saat ini untuk melakukan shalat subuh, dan bermunajat kepada Allah agar Daffa selalu dalam lindungan-Nya.


Seorang wanita paruh baya menatap meja makan saat tidak mendapati Safira di sana. Padahal, setiap pagi Safira tidak pernah


melewatkan sarapannya.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, asisten rumah tangga itu pun


langsung buru-buru berjalan menuju kamar Safira yang berada di lantai dua.


Tok tok tok.


"Non Fira, apa sudah bangun?" Tanyawanita parubh baya itu dari balik pintu.


"Ada apa, Bi?" Tanya Safira tanpa membuka pintu kamarnya.


"Sarapannya sudah siap sejak tadi, Non. Apa perlu Bibi hangatkan kembali?"


Ceklek.


"Tidak perlu, Bi." Kata Safira setelah membuka pintu kamarnya dengan wajah yang nampak sedikit pucat dan mata yang begitu sembab.


Jelas sekali terlihat bahwa Safira tengah begitu sedih saat ini. Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Safira langsung berjalan menuruni anak tangga satu per satu tanpa mengatakan apa pun kepada


wanita paruh baya yang masih berdiri di depan kamarnya itu.


"Kasihan sekali Non Fira, pasti semalaman dia terus menangis sampai matanya sembab seperti itu." Monolog asisten rumah tangga menatap kepergian Safira.


Sesampainya di meja makan, Safira hanya menatap makanan yang tersedia di sana tanpa menyentuhnya. Rasanya tidak ada nafsu makan sedikit pun bagi Safira untuk


menyantap makanan itu.


Padahal sejak semalam Safira belum mengisi perutnya dengan makanan apa pun. Sedangkan wanita paruh baya yang sebelumnya memanggil Safira di kamar, kini berdiri dari arah yang tidak begitu jauh dari meja makan dan menatap Safira dengan tatapan iba.


Sesekali Safira melirik ke arah ponselnya yang di letakan di atas meja, namun tidak ada panggilan masuk maupun pesan dari Daffa di sana. Ingin sekali jari Safira mengetik sesuatu dan mengirimkannya kepada Daffa, namun Safira tidak ingin jika


pesan darinya bisa mengganggu Daffa


di sana.


Safira pun menyandarkan bahunya pada sandaran kursi dengan helaan napas panjang. Sudah cukup lama Safira berada


di sana tanpa menyentuh makanannya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya lainnya datang menghampiri Safira dengan membawa satu buket bunga berukuran cukup besar di tangannya.


"Non, ini ada kiriman bunga." Kata asisten rumah tangga yang baru saja tiba seraya memberikan buket bunga itu kepada Safira.


"Dari siapa, Bi?" Tanya Safira setelah buket bunga itu sudah berada di tangannya.


"Bibi tidak tahu, Non. Soalnya yang mengantarkan bunga itu tidak mengatakan apa pun."


"Terimakasih banyak, Bi."


"Sama-sama, Non." Pungkas wanita paruh baya itu sebelum pergi.


Safira berpikir sejenak memikirkan siapa pengirim bunga itu dengan netra yang masih menatap buket bunga di tangannya. Sesekali Safira menggelengkan kepalanya


pelan saat mengira Oma Rahma atau Aida yang mengirimkan bunga untuknya.


Pasalnya tidak mungkin jika kedua wanita berbeda generasi itu yang mengirimkan buket bunga. Saat netra Safira mendapati


kertas berwarna merah muda berukuran kecil yang terdapat dibuket bunga itu, Safira langsung meraih dan membacanya.


"Selamat pagi sayang, apakah semalam tidurmu nyenyak? Jangan lewatkan makanmu, dan jaga kesehatan, ya. Berjanjilah kepadaku jangan bersedih selama aku tidak ada di sampingmu. Dariku, Daffa."


Lagi-lagi, cairan bening milik Safira kembali mengalir setelah membaca isi pesan itu.


Ting.


Sebuah notifikasi masuk pada ponsel Safira yang terletak di atas meja. Buru-buru Safira mengusap air matanya menggunakan tangannya dan meraih benda pipih itu.


"Apa kamu sudah menerima bunga dariku, sayang" Tulis Daffa pada pesan yang dikirimkan kepada Safira.


Baru saja jari Safira hendak mengetik balasan lasan pesan, sebuah panggilan video tiba-tiba saja masuk pada ponsel milik Safira. Dengan gerakan cepat, Safira


langsung mengusap tombol hijau ke

__ADS_1


atas.


"Halo, assalamu'alaikum." Ucap Safira dengan mengarahkan layar ponsel ke wajahnya.


"Wa'alaikumussalam, sayang. Bagaimana dengan bunganya? Apa kamu menyukainya?' Tanya Daffa melalui panggilan video.


"Aku menyukainya Mas. Terimakasih banyak, ya."


"lya sayang, sama-sama. Tunggu-tunggu, ada apa dengan wajahmu sayang? Kenapa matamu begitu sembab? Apa kamu menangis?" Tanya Daffa menginterogasi dengan menatap Safira cemas yang bisa


dilihat dari layar ponsel itu.


Tidak ingin membuat Daffa khawatir, Safira langsung membuang wajahnya ke arah lain.


"Astaghfirullah... Aku belum sarapan, Mas. Aku sarapan dulu ya." Ujar Safira mengalihkan pembicaraan.


"Ya Allah, sayang. Kenapa kamu bisa melewatkan sarapan, sih? Ya sudah, sekarang kamu sarapan dulu. Nanti aku hubungi lagi."


"Iya Mas, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam." Pungkas Daffa diikuti terputusnya panggilan video itu.


Setelah Safira meletakan ponselnya di atas meja kembali, Safira meraih buket bunga dan menghirup aromanya seraya tersenyum menatapnbunga dari Daffa.


Safira tidak menyangka jika Daffa tetap akan melakukan hal manis untuknya


meskipun Daffa tidak berada di sisinya. Setidaknya bunga dari Daffa telah berhasil sedikit mengobati hati Safira dari kesedihan yang sejak kemarin Safira rasakan.


Setelah suasana hati Safira sudah membaik, Safira pun mulai menyantap sarapannya hingga habis tak tersisa.


Seperti sudah menjadi kebiasaan yang rutin, setiap pagi saat Safira sarapan, keduanya selalu melakukan panggilan vide hingga tanpa terasa Daffa sudah satu minggu berada dinegara Paman Sam.


Namun, di hari ke delapan Daffa berada di sana. Tidak ada pesan atau panggilan masuk pun dari Daffa seperti hari-hari sebelumnya. Netra Safira tidak henti-hentinya terus menatap layar ponsel itu, dengan harapan Daffa akan menghubunginya seperti biasanya.


Setelah menghirup napasnya dalam, Safira memberanikan diri menghubungi Daffa saat suaminya itu belum juga mengabarinya hingga Tubuh Safira melemas saat mendapati nomor Daffa tidak bisa dihubungi.


Berkali-kali Safira mencoba, namun hasilnya tetap sama. Safira yang saat itu tengah da di lantai dua hanya bisa menatap langit malam dari balkon kamarnya.


"Sedang apa kamu sebenarnya di sana, Mas? Kenapa seharian ini kamu tidak menghubungiku?" Monolog Safira menatap ke arah langit.


***


Keesokan harinya...


Safira benar-benar mengurung dirinya di kamar, tidak ada semangat untuk melakukan apa pun, hingga membuat seluruh pekerja di rumah Daffa ikut mengkhawatirkan Safira.


pikiran sudah mengisi kepala Safira hingga membuatnya pening. Entah kenapa tiba-tiba Safira ingin sekali menonton televisi, padahal biasanya Safira jarang sekali menyalakan televisi di kamarnya.


Saat televisi itu baru saja menyala, sebuah acara berita tengah menyiarkan tornado besar yang terjadi di Amerika hingga memakan korban jiwa.


Sementara Safira yang nampak terkejut saat melihat berita itu, pun langsung melemas dan menjatuhkan dirinya di lantai.


"Ya Allah, apa Mas Daffa baik-baik saja di sana?" Monolog Safira lirih dengan netra yang masih melihat layar televisi.


Dengan menjadikan sofa sebagai pegangannya, Safira pelan-pelan mulai berdiri kembali dan meraih ponselnya untuk menglhubungi Daffa. Badan Safira semakin lemas tak bertenaga saat nomor Daffa masih belum bisa dihubunginya.


"Mas Daffa.. Hiks hiks hiks."


Tangisan Safira pecah bersamaan dengan ponselnya yang terjatuh ke lantai.


"Ya Allah jaga suamiku di sana." Ucap Safira dengan wajah yang sudah di basah karena air mata.


"Aku harus hubungi Mamah Aida untuk menanyakan kabar Mas Daffa." Sambung Safira kembali dengan tangan yang meraih ponselnya yang tergeletak di lantai.


Saat Safira menghubungi Aida, nomor Ibu mertuanya pun tidak bisa dihubunginya. Safira yang sudah tidak sabar ingin tahu mengenai kabar Daffa, pun langsung buru-buru mengganti pakaiannya berniat pergi ke kediaman Bagaskara.


Setelah Safira sudah mengenakan gamis berwarna hitam, senada dengan hijab dan cadarnya. Safira pun mulai keluar dari kamarnya. Safira menghentikan langkahnya saat melihat begitu banyak kelopak bunga mawar merah yang terdapat di sepanjang lantai.


Dengan langkah perlahan, Safira terus mengikuti arah di mana terdapat taburan kelopak bunga mawar merah berada hingga sampai di depan pintu utama.


Safira membelalakkan matanya sempurna saat mendapati Daffa tengah berdiri tepat di depan pintu setelah Safira membukanya. Dengan membawa buket mawar berwarna


putih, Daffa melangkah mendekat ke arah Safira dan mendaratkan ciuman pada kening istrinya itu.


"Mas Daffa." Gumam Safira tak percaya mendapati Daffa di sana.


"Iya sayang, ini aku." Kata Daffa memeluk Safira erat.


"Hiks hiks hiks... Mas Daffa jahat!Bisa-bisanya tidak memberiku kabar. Apa Mas Daffa tahu kalau aku benar-benar sangat mencemaskan Mas Daffa?" Tangis Safira kembali pecah seraya memukul-mukul dada bidang Daffa.


"Maafkan aku sayang, aku hanya ingin memberimu kejutan." Tidak lama... Oma Rahma, Bagaskara, dan Aida pun muncul dari arah lain mendekat ke arah keduanya.


"Mamah di sini juga? Pantas saja aku menghubungi Mamah tidak bisa." Tanya Safira melepaskan dirinya dari pelukan Daffa.


"Iya sayang, Mamah dan yang lainnya memang sengaja mematikan ponsel agar kamu tidak bisa menghubungi kami." Ujar Aida.

__ADS_1


Dengan deraian air mata, Safira meluapkan semua kekhawatiran yang sejak kemarin dia rasakan melalui tangisannya. Betapa leganya Safira ketika melihat Dafa telah kembali kepadanya.


"Loh, loh. Kenapa kamu menangis?" Kata Oma Rahma segera mendekat ke arah Safira.


"Aku sangat senang akhirnya Mas Daffa kembali juga, Oma." Jawab Safira menghentikan tangisannya.


Dengan gerakan lembut, Daffa menyeka air mata yang sudah membasahi cadar Safira dengan menggunakan ibu jarinya dan


memandang istrinya lekat.


"Maafkan aku telah membuatmu cemas." Ucap Daffa lalu menenggelamkan Safira ke dalam pelukannya.


"Ssshhh... Aaaaw." Rintih Safira tiba-tiba dengan mencengkram lengan Daffa.


"Kenapa, sayang? Apa pelukanku menyakiti perutmu?" Tanya Daffa cemas setelah melepaskan pelukannya.


"Tidak Mas, tapi, entah mengapa perutku tiba-tiba merasa sangat sakit." Jawab Safira dengan tangan yang semakin meremas kuat tangan Daffa.


"Sssshhhh." Safira kembali meringis kesakitan membuat Aida yang lainnya cemas.


"Kayaknya itu kontraksi deh, Daf. Lebih baik kita bawa Fira ke rumah sakit saja sekarang." Kata Aida dengan mengusap lembut punggung Safira.


Setelah mendengar ucapan Aida, dengan sigap Daffa langsung menuntun Safira berjalan ke arah mobilnya.


"Bi, tolong ambilkan koper berwarna pink yang berada di kamarku, ya. Di dalam koper itu sudah ada pakaian Fira dan juga pakaian bayi yang sudah aku dan Fira siapkan." Titah Daffa kepada asisten rumah tangga sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Lebih baik kamu cepat bawa Fira ke rumah sakit sekarang Daff. Biar Papah dan Mamah yang akan membawa koper itu ke sana." Kata Bagaskara yang disambut anggukan kepala oleh Daffa.


Setelah Daffa dan Safira telah masuk ke dalam mobil, mobil berwarna hitam itu pun mulai melaju meninggalkan kediaman Daffa dengan di kemudikan oleh sopir


pribadinya.


Sepanjang perjalanan, Daffa terus mengusap lembut punggung Safira untuk memberikan sedikit kenyamanan saat Safira terus merintih kesakitan.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah sakit, mobil hitam yang membawa Safira pun berhenti tepat di depan ruang instalasi gawat darurat. Dengan sigap, Daffa yang baru saja keluar dari mobilnya, pun langsung berlari hendak mengambil kursi roda untuk membawa Safira.


"Pelan-pelan sayang." Ucap Daffa membantu Safira duduk di kursi roda yang Daffa bawa.


Setelah memastikan Safira telah duduk dengan nyaman, Daffa langsung mendorong kursi roda itu dengan langkah setengah berlari memasuki ruang instalasi gawat darurat.


Daffa mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari keberadaan Dokter yang tengah bertugas di sana. Saat


netra Daffa telah menangkap seorang wanita yang menggunakan jas snelli berwarna putih, Dafa pun langsung buru-buru menghampiri wanita yang sudah di pastikan berprofesi sebagai Dokter di rumah sakit itu.


"Dok, tolong istri saya." Kata Daffa dengan napas naik turun dan wajah yang nampak begitu panik.


Oma Rahma dan Bagaskara tengah duduk di depan ruang persalinan menunggu kelahiran anak pertama Daffa. Sedangkan Aida yang sangat mencemaskan menantu dan calon cucunya terus berjalan


bolak-balik tanpa henti di depan pintu ruang persalinan.


"Aduh Pah, kenapa lama sekali, ya? Apa Fira baik-baik saja di dalam sana?" Tanya Aida kepada Bagaskara nampak frustasi saat Dokter yang menangani Safira belum keluar juga sejak tadi.


"Insyaallah baik-baik saja Mah, kita banyak berdoa saja untuk menantu dan cucu kita agar mereka berdua bisa melewati proses


persalinan ini dengan lancar." Kata Bagaskara berusaha memenangkan Aida.


Baru saja Aida duduk, tiba-tiba suara bayi begitu melengking hingga terdengar di telinga seluruh anggota keluarga Bagaskara yang tengah menunggu di depan ruang persalinan.


Aida yang sejak tadi sudah sangat cemas menunggu kehadiran sang cucu, pun langsung memanjatkan syukur saat mendapati cucunya telah lahir dengan selamat.


Sementara di sisi lain, Daffa yang sejak tadi selalu berada di sisi Safira, pun turut menyaksikan bagaimana perjuangan wanita yang dicintainya ketika melahirkan buah hatinya hingga Daffa menangis haru saat putra pertamanya telah lahir ke dunia,


"Sayang, lihatlah, anak kita sudah lahir." Ucap Daffa bahagia dengan berderai air mata.


"Terimakasih banyak atas perjuanganmu, sayang. kamu benar-benar wanita hebat." Sambung Daffa kembali seraya mencium kening Safira.


Sedangkan Safira yang masih merasakan lemas setelah melahirkan hanya tersenyum dengan wajah yang nampak begitu lelah.


Setelah Dokter dan Suster sudah menyelesaikan tugasnya, anggota keluarga Daffa yang lain pun sudah di perbolehkan masuk. Aida yang sejak tadi sudah tidak sabar menunggu di luar, pun langsung bergegas masuk ke dalam ketika sudah diperbolehkan dan diikuti oleh Oma Rahma dan Bagaskara di belakangnya.


"Sus, di mana cucu saya?" Tanya Aida kepada salah satu Suster yang berada di ruangan itu.


"Di sebelah sana, Nyonya." Jawab Suster itu dengan mengarahkan tangannya ke arah box bayi yang berada di sisi ranjang Safira.


"Lihat Pah, cucu kita begitu tampan." Ucap Aida menatap anak Daffa penuh haru.


"Iya Mah, akhirnya sekarang kita sudah resmi menjadi Kakek dan Nenek, ya." Sahut Bagaskara dengan netra menatap ke arah bayi yang baru saja lahir ke dunia.


Raut bahagia sangat nampak jelas terlihat di wajah seluruh anggota keluarga Bagaskara yang berada di sana. Begitupun dengan cairan bening yang sudah menggenang di setiap netra masing-masing dari mereka yang disaksikan oleh Safira.


"Pilihan Allah adalah yang terbaik. Siapa yang mengira bahwa aku akan bertemu kembali dengan Mas Daffa setelah bertahun-tahun kami tidak saling bertemu satu sama lain? Betapa indahnya skenario Allah ketika kita bisa mentadabburi-nya


dengan baik. Meskipun harus melalui kisah yang terjal, asalkan kita bersabar dengan keputusan-Nya. Maka, Allah akan mempermudah jalannya." Monolog Safira dalam hati dengan netra yang menatap ke arah Daffa dan yang lainnya penuh bahagia.


...THE END....

__ADS_1


...Terimakasih banyak untuk seluruh pembaca yang sudah mengikuti Novel ini dari episode awal dan bertumbuh bersama hingga akhir....


__ADS_2