Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
147


__ADS_3

"Sean, apa kau serius Nak akan berangkat sekarang?" Tanya Nyonya Williams menatap penuh khawatir putra bungsunya. "bagaimana jika tunda saja dulu setelah kau selesai ditangani ... "


Sean yang sejak tadi sibuk mengancingi kemeja nya langsung menatap tajam ke arah Eomma nya. "Stop! Aku tidak ingin mendengarnya lagi Eomma, tidak ada yang lebih penting saat ini selain Crystal. Saat ini ..." pria yang terlihat dingin namun rapuh di dalam itu menjede kata-katanya.


Tuan Williams dan Jack hanya bisa menyaksikan perbedaan pendapat dari seorang Ibu dan anak, tanpa ikut campur. Pada dasarnya, baik Appa dan Jack mengetahui sifat keras kepala Sean.


"Kau tau, kau juga butuh perawatan bagaimana bisa kau pergi saat kondisi dirimu sendiri seperti ini Sean. Tolong dengarkan Eomma kali ini saja, tolong." Ujar wanita paruh baya itu dengan kedua mata yang sudah penuh dengan air mata. "Eomma mohon, Sean." Lanjutnya.


"Jack, sudah siap pesawatnya?" Tanya Sean, mengabaikan Eomma nya.


Sebelum menjawabnya, Jack melirik sebentar ke arah Nyonya besar. "S-sudah, Tuan." Jawab Jack sedikit gugup.


"Sebaiknya kita langsung pergi, tak ada waktu lagi." Ujarnya dingin, melangkah pergi meninggalkan kedua orang tua nya.


"Sean, Tunggu Sean!" Teriak Nyonya Williams.


"Sudahlah sayang, sebanyak apapun kau bicara dia akan tetap dengan keputusannya." Ujar Tuan Williams, mencegah Istrinya untuk mengejar Sean.


Nyonya Williams menghapus air matanya dengan kasar. "Kenapa sejak tadi kau diam saja? tidakkah kau mengkhawatirkan putra mu itu?" Tanya Nyonya Williams dengan suara yang ketus.


"Tentu saja dia akan mengabaikan dirinya sendiri dan lebih memilih Istrinya dan kedua anaknya, aku juga jika di posisi Sean akan seperti itu. Jadi, kau tidak perlu berpikir jelek lagi, Sean masih bisa menunggu untuk di operasi. Tapi Crystal, entahlah bagaimana kondisi menantu kita itu." Jelas Tuan Williams, mencoba memberikan pengertian pada Istrinya.


"Apakah sebaiknya kita menyusul mereka? Aku juga cukup khawatir dengan kondisi Crystal, di tambah kedua cucuku ... Ah, anak yang malang, kenapa kedua orang tua nya harus di beri sakit seperti ini." ucapnya merasa prihatin dengan kondisi cucunya.


"Sudahlah, sebaiknya kita menunggu saja di sini dan berdoa untuk keselamatan semuanya."


...****************...


Di atap Rumah Sakit telah ada helikopter yang menunggu mereka.

__ADS_1


"Tuan, sebaiknya Anda pakai terlebih dahulu pengamannya." Ujar Jack, mengingatkan Tuan nya.


"Hn," jawab Sean menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat lalu, setelah Sean sadar dari pingsannya. Sean memang langsung meminta pada Jack untuk segera menyediakan helikopter dan meminta perizinan penerbangan, meski terbilang mendadak dan tiba-tiba Jack memang bawahan yang kompeten dan dapat diandalkan.


"Ketika Tuan sampai di sana, sudah ada yang menunggu dan membantu Tuan, jadi tolong jaga diri Tuan." Ujar Jack menatap serius ke arah Sean.


Sean kembali menganggukkan kepalanya, "Kau tidak perlu berlebihan, sebaiknya kau urus perusahaan dengan baik." Timpal Sean dingin,


Jack tersenyum mendengar jawaban Tuannya, meski menimpali seperti itu pria itu tau apa maksud dari perkataan Tuannya. "Saya mengerti." Ujar Jack membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada Tuannya sebelum akhirnya helikopter itu terbang mengudara.


"Tuan, saya harap Anda bisa melihat Nona Crystal lagi." Gumam Jack sambil tersenyum.


Dia memang belum mendapatkan kabar apapun dari pihak Kevin atau pun perihal kondisi Nona Crystal, dia juga belum menanyakannya karena terlalu khawatir dengan kondisi Tuan nya saat itu.


Sejenak, Jack kembali menatap jam di ponselnya. "Tersisa 4 jam lagi." Gumamnya.


...****************...


Sedangkan di Rumah sakit yang berada di pusat kota Wellington-New Zealand, semua orang yang menunggu operasi Crystal belum juga bisa menarik nafas dengan tenang. Ditambah sejak tadi Suster yang sibuk bulak balik masuk ruang operasi, terlihat dari wajahnya seperti ada yang tidak beres dan benar saja saat salah satu Dokter yang mengoperasi Crystal keluar.


"Kenapa Dokter?" tanya Dokter David terlihat cemas, yang baru saja bergabung dengan kedua pasangan suami Istri itu karena baru selesai bertugas.


"Ada masalah saat di tengah-tengah operasi, kami membutuhkan lebih banyak darah golongan AB+. Tapi ... "


"Tapi kenapa Dokter?" Potong Wendy dengan cepat.


"Tenanglah sayang." Bisik Kevin.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Aku tahu golongan darah itu ..." Wendy tak bisa melanjutkan kata-katanya, karena itu sangat menyakitkan untuknya.


Kai dan Jenni menatap bingung, karena mereka memang bukanlah seorang Dokter jadi kedua nya hanya bisa mendengarkan dan menunggu maksud dari pembicaraan tersebut.


"Kami telah kehabisan stoknya, tadi suster telah mengambil stok terakhir dan ternyata itu masih kurang." Ujar Dokter itu dengan raut wajah sedihnya.


"Astaga." Erang Dokter David, karena dia tidak bisa mendonorkan darahnya pada Crystal.


"Untuk itu, saya meminta pada kalian yang memiliki golongan darah ber-rhesus negatif untuk bisa mendonorkannya segera." Pinta sang Dokter.


Perlu diketahui bahwa pemilik golongan darah AB negatif dapat menerima donor darah dari semua golongan darah ber-rhesus negatif. Hal ini berarti pemilik golongan darah AB- dapat menerima donor dari pemilik golongan darah O negatif, A negatif, B negatif, dan tentu saja sesama AB negatif.


Namun, pemilik golongan AB negatif hanya bisa mendonorkan darahnya ke orang-orang yang memiliki golongan darah AB positif dan AB negatif.


"Ah, aku tidak bisa." Desis Kai, karena golongan darahnya adalah O.


"Maafkan aku sayang, aku juga tidak bisa." ucap Jenni penuh sesal.


"Tidak apa sayang."


"Sayang, kamu golongan nya ber-rhesus negatif kan?" tanya Wendy penuh harap pada suaminya.


"Benarkah, sepertinya bukan. Golongan darahku A+..."


"Coba kau periksa dulu, aku yakin karena waktu itu aku pernah melihat hasil pemeriksaan milikmu saat itu."


"Hm, baiklah. Sepertinya aku memang tidak terlalu ingat mengenai golongan darahku." Ujar Kevin sedikit terkekeh. "Dokter, ambil saja darah saya." Ucap nya dengan yakin.


"Baiklah, sebelumnya suster akan mengecek golongan darah mu dan kondisi mu terlebih dahulu, Tuan."

__ADS_1


"Hm, aku mengerti Dokter." Timpal Kevin, berjalan mengikuti Suster wanita yang telah lengkap dengan peralatannya.


__ADS_2