
Dipaksa Menikah Bagian 49
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tolong jaga mulut anda!" ujar Sofi dengan keras. Lama-lama ia jadi kesal. Tensinya mungkin sudah naik pesat.
"Kau melakukan dengan pria lain, kan?" tuduh Amelia.
Di sini jelas Sofi marah. Berani sekali wanita di depannya itu menuduh yang bukan-bukan. Dan lagi, Sofi pun berani bersumpah. Hanya Garda yang melakukan itu dengannya.
Mengenai Juna, pria dari masa lalu Sofi. Mereka tidak pernah bertindak sejauh itu. Karena Sofi tidak pernah mau kalau berhubungan seperti itu. Paling cuma tium-tium yang sedikit membuat jiwa mudanya bergejolak. Sofi dan Juna tidak sampai berbuat hal yang jauh.
Mereka berdua akan berhenti ketika tubuh mereka mulai mengelora. Senakal-nakalnya Sofi, ia tidak akan menyerahkan mahkotanya begitu saja.
Sofi kini malah bersyukur, karena Garda sendiri yang membuka segelnya. Jadi, kalau Amelia macan-macam, Sofi tidak takut. Bahkan kemarin-kemarin ia pergi jauh, bukan karena ia takut pada Amelia.
Sofi pergi karena merasa sakit hati, merasa Garda hanya menjadikan dia alat pelampisaan saja. Tapi sekarang, Sofi sudah yakin. Suaminya hanya mencintai dirinya dan anak mereka. Persetann dengan ulet bulu seperti Amelia.
Sambil mengepalkan tangan, Sofi kini menatap tajam pada wanita yang mau menganggu rumah tanggannya tanpa rasa malu tersebut.
"Yang suka obral ... mungkin kamu! Betapa menyediakan! Aku kasihan sama kamu! Sebegitukah putus asanya kamu sampai mengejar-ngejar suamiku!" sindir Sofi sinis.
Tangan Amelia ikut mengepal. Wajahnya seperti kepiting rebus, menahan kesal.
"Jaga mulutmu!"
"Mengapa? Apa aku salah?" tantang Sofi yang memang tidak pernah takut pada orang lain. Garda dulu saja ia lawan, apalagi ini hanya Amelia. Sofi tidak mau mengalah.
__ADS_1
"Jangan sombong! Garda menikahimu hanya karena kamu mirip denganku! Kamu tidak lebih dari sebuah bayangan masa lalu yang dicarinya selama ini!"
"Lalu kenapa sekarang dia menendangmu sekarang? Kalau aku hanya bayang-bayang, harusnya dia tetap bersamamu? Buka mata ... anda hanya masa lalu!" celetuk Sofi sambil melipat tangan.
"Tunggu saja! Akan aku buktikan, kamu hanya pelampisaan semata. Tidak lebih dari bayang-bayangku!" ujar Amelia dengan wajah tanpa dosa.
"Cih!" Sofi mencebik. Entah harus bagaimana membuat Amelia menjauh dari suaminya.
"Rupanya kamu masih belum mengerti juga. Kami sudah hidup bahagia sekarang, selama aku minta baik-baik untuk menjauh dari kehidupan kami. Tolong ... pergilah!" sambung Sofi dengan nada yang mulai merendah. Sepertinya ia juga sudah merasa lelah. Perang mulut dengan wanita seperti Amelia, hanya membuat sakit perut.
"Kau mau apa kalau aku tidak mau, hem? Karena dari awal Garda adalah milikku!" tantang Amelia dengan raut wajah yang serious. Sebuah obsesi tergambar jelas pada sorot matanya yang tajam.
[Astaga! Wanita seperti apa dia? Kok bisa suamiku jatuh cinta pada monster seperti ini?]
"Sadarlah! Kalian sudah berakhir!" ucap Sofi kemudian dengan nada tinggi kembali.
"Belum! Selama salah satu diantara kami masih memendam rasa! Tidak ada yang namanya akhir! Ini bahkan semakin menarik, aku tidak perlu bermain di belakangmu. Kita lihat, bagaimana aku bisa mendapatkan dia lagi!"
Sofi tidak menyangka, ternyata pelakor itu lebih galak dari pada istri sah.
***
Ketika Sofi masih ribut-ribut dengan Amelia, asisten yang semula merasa mulas, kini sudah kembali. Ia mencari di mana Sofi. Panik, asisten mencari ke depan. Di sana mobil masih terparkir.
Tok tok tok
"Nona sofi mana?" tanya asisten pada sopir.
"Bukannya tadi di dalam?"
__ADS_1
"Ya ampun!" Asisten masuk lagi ke dalam. Ia bertanya pada pelayan. Tapi tidak ada yang tahu.
"Bisa minta lihat rekaman CCTV?" pinta asisten suruhan Garda.
Pegawai kafe merasa aneh. Namun, saat asisten mengeluarkan sebuah kartu nama. Pihak kafe mau bekerja sama.
Nah, dari sana nampak Sofi masih ribut dan berdebat dengan seorang waniat.
"Di mana ini?" tanya asisten pada pegawai tersebut.
Setelah mengetahui di mana Sofi berada, sang asisten langsung menyusul.
Tap tap tap
KLEK
"Nona!"
Sofi dan Amelia menoleh. Sofi pun pergi, karena percuma bicara panjang lebar pada Amelia. Semua ucapan Sofi sepertinya bagai angin bagi Amelia.
"Pastikan kau juga lakukan tes DNA!" celetuk Amelia saat Sofi meninggalkan dirinya.
Sofi pun berbalik, dan asisten berusaha mencegahnya.
"Lepaskan!" Sofi mencoba menepis tangan sang asisten.
"Aku bilang lepaskan!" sentak Sofi yang kesal karena ia ingin membalas ucapan Amelia.
"SOFIII!"
__ADS_1
Sebuah suara membuat atmosphere di dalam sana seketika berubah membeku.
BERSAMBUNG