Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
87. Siapa Mereka?


__ADS_3

Setelah satu minggu telah berlalu, aktivitas Daffa dan Safira pun kembali seperti sebelumnya, Daffa yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Safira


menghabiskan waktunya di rumah,


sesuai keinginan Daffa.


Tidak seperti sebelumnya, rumah besar dan mewah yang hanya berpenghuni dua manusia, kini, Daffa telah mempekerjakan dua wanita, dan dua laki-laki berusia paruh baya di rumahnya.


Sehingga, rumah Daffa tidak lagi sepi ketika dirinya berada di kantor.


"Mas, apa belum cukup dengan melihatku melalui layar monitor itu?" Tanya Safira, dengan mengarahkan layar ponsel ke arah wajahnya.


Sebenarnya, Daffa tidak ingin jauh dari istrinya meskipun hanya sebentar. Namun, ada pekerjaan Daffa yang tidak bisa ditinggalkan, oleh karena itu, Daffa akhirnya


memasang banyak CCTV di setiap sudut rumahnya, agar Daffa tetap bisa melihat Safira dari jarak jauh.


Definisi budak cinta, benar-benar melekat


pada diri Daffa.


"Kenapa memangnya? Apa kamu tidak menyukainya jika aku menghubungimu dengan panggilan vidio seperti ini?" Jawab Daffa, dengan raut wajah cemberut, yang


terlihat jelas pada layar ponsel milik Safira.


Tidak ingin Daffa merajuk, Safira pun dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Bukan seperti itu maksudku, Mas."


"Lalu, apa?"


"Maksudku, bukankah di kamar kita saja sudah ada empat CCTV, Mas? Belum lagi, di tempat yang lainnya juga. Apa itu belum cukup, untuk mengobati rindu Mas Daffa?"


"Tentu saja belum, meskipun kita berbicara melalui panggilan vidio seperti in, tetap masih belum cukup untuk mengobati rasa rinduku."


Mendengar ucapan Daffa, Safira pun tersipu malu yang membuat Daffa semakin gemas melihatnya.


"Sayang, melihatımu seperti itu, rasanya jadi ingin cepat pulang." Goda Daffa.


"Ssstt, Mas Daffa!" Pekik Safira.


seraya meletakan jari telunjuk di bibir


mungilnya, sebagai isyarat agar Daffa tidak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa sayang?" Tanya Daffa heran.


"Kalau Bi Ratih, dan yang lainnya bisa dengar, bagaimana?"


"Hahaha kamu tenang saja, sayang. Lagi pula kamar kita itu kedap suara, dan juga, tidak mungkin ada yang berarni menguping pembicaraan kita." Kata Daffa, yang semakin dibuat gemas oleh kepolosan istrinya itu.


"Iya juga, ya." Ucap Safira, dengan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku kembali ya, sayang.


"Iya, Mas. Nanti hubungi aku ya, jika Mas Daffa ingin makan sesuatu untuk hidangan makan malam nanti, agar aku bisa menyiapkannya."


"Aku tidak mengizinkanmu mengerjakan pekerjaan rumah apa pun, sayang. Apalagi sampai memasak. Pasti sangat melelahkan. Lebih baik kamu bersantai saja, agar anak kita di dalam kandungan pun merasakan nyaman."


"Baiklah, baiklah." Ucap Safira patuh, dengan menghembuskan napasnya pelan.


"Aku tutup dulu, ya. Assalamu' alaikum." Pungkas Daffa sebelum menekan tombol merah pada benda pipih miliknya.


"Iya, Mas. Wa'alaikumussalam."


Setelah panggilan vidio bersama Safira berakhir, Daffa pun langsung menyambar beberapa dokumen yang sebelumnya sudah asistennya siapkan untuk meeting siang ini.


Di sisi lain, Safira yang baru saja mendapatkan sebuah ide, langsung buru-buru keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Bi Ratih.


Safira berjalan dengan berusaha bersembunyi dari jangkauan CCTV yang terpasang di setiap sudut rumahnya.


"Bi, Ratilh." Bisik Safira, yang bersembunyi di balik sofa.


Wanita paruh baya yang sedang mengelap perabotan rumah, pun seketika menoleh ke sembarang arah untuk mencari keberadaan asal suara yang baru saja di dengarnya.


"Kayak ada suara wanita yang manggil saya, tapi kok tidak ada siapa-siapa, apa jangan-jangan hant--"


Belum sempat Bi Ratih menyelesaikan ucapannya, Safira kembali memanggil wanita paruh baya itu.


"Bi, Bi Ratih." Panggil Safira dengan berbisik.


"Bi, tolong buatkan bekal makan siang ya, aku akan bawakan ke kantor sebelum jam makan siang tiba." Titah Safira lembut.


"Siap, Non." Jawab Bi Ratih, yang hendak pergi.


"Bi, tunggu." Cegah Safira yang berhasil membuat langkah wanita paruh baya itu terhenti.


"Iya, Non? Apa ada lagi yang dibutuhkan?"


"Bi, jika sudah siap, tolong antarkan bekal itu di tempat satpam ya. Nanti, aku yang akan mengambilnya di sana."


"Loh, kenapa memangnya, Non?"


Safira pun mengarahkan pandangannya ke setiap CCTV.


"Aku tidak ingin tertangkap CCTV, Bi. Bisa-bisa Mas Daffa tahu, kalau aku akan mengantarkan bekal makan siang untuknya."


"Oh.. Jadi. Nona Fira ceritanya akan membuat kejutan untuk Tuan Daffa?"


"Iya, Bi. Hehehe."


"Kalau begitu, Bibi akan siapkan bekal makan siang yang sangat enak untuk Tuan Daffa, Non."


"Terimakasih banyak, Bi."

__ADS_1


Setelah memakan waktu setengah jam untuk membuatkan bekal makan siang, sesuai permintaan Safira. Kini, bekal makan siang itu pun telah siap.


Bi Ratih pun langsung meletakan bekal itu di tempat Satpam, yang langsung diambil oleh Safira setelahnya.


Kemudian, Safira pun langsung meminta sopir yang bekerja di rumahnya, agar mengantarkan dirinya ke kantor Bagaskara.


Ketika mobil yang ditumpanginya sedang melaju membelah jalan raya, nampak wajah gelisah dari sopir pribadinya itu. Sesekali sang sopir pun menoleh ke kaca spion luar.


"Non, sepertinya kita sedang diikuti oleh seseorang." Kata laki-laki paruh baya yang mengemudikan mobil.


Sesaat, Safira pun menoleh ke belakang untuk melihat mobil yang mengikutinya melalui kaca.


"Pak, tolong dipercepat sedikit, ya." Titah Safira kepada sopir pribadinya.


Sementara di tempat lain, Daffa yang tengah meeting, memilih mematikan monitor itu untuk sesaat, ketika dirinya sedang rapat. Berharap agar tidak ada orang yang bisa melihat monitor itu selain dirinya, karena bagaimanapun juga kamera


CCTV yang Daffa pasang bukan hanya


di ruang keluarga, maupun dapur atau sudut yang lainnya.


Tetapi juga di kamarnya, Daffa khawatir jika Safira tengah mengenakan pakaian


biasa, tanpa mengenakan hijab dan juga cadar.


Padahal biasanya, layar monitor yang terhubung dengan CCTV di rumahnya selalu menyala, meskipun Daffa sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.


Disela-sela meeting yang sedang berlangsung, tiba-tiba saja Daffa memikirkan Safira, ingin rasanya detik itu juga menghubungi istrinya untuk sekedar memastikan, apakah baik-baik saja di rumah?


Safira yang nampak gelisah, buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Daffa.


Tut tut tut.


"Halo, sayang. Assalamu'alaikum' Ucap Daffa ketika baru saja menjawab panggilan masuk pada benda pipih miliknya.


"Wa'alaikumussalam, Mas, tolong aku." Kata Safira dengan suara yang terdengar jelas bahwa dirinya kini sedang dilanda rasa takut.


Kejadian di mana dirinya pernah di culik hingga dua kali, oleh Friska, dan juga baron. Membuat Safira mudah diserang rasa takut berlebihan, jika kejadian itu akan menimpanya kembali.


"Sayang, kamu di mana sekarang?"Tanya Daffa.


"Aku di jalan, menuju kantor Pap--" Belum sempat Safira menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja sebuah mobil menabraknya dari sisi kanan.


BRAK.


'Sayang, apa kau baik-baik saja?"' Tanya Daffa cepat.


Namun tidak ada jawaban apa pun dari Safira.


"Sayang, jawab aku!'


" Sayang!"

__ADS_1


__ADS_2