
"Ah, ini... Tadi, saat diperjalanan menuju kemari aku melihat ada seorang Nenek tua yang tengah dijambret di jalan dan aku
menolongnya. Tetapi, karena para penjambret itu menyerangku, akhirnya kami berkelahi." Papar Agatha sengaja membuat cerita bohong.
"Apa tadi, katanya? Menolong Nenek tua? Apakah Nenek tua yang dia maksud adalah gue?" Gerutu Fitria kesal seraya menatap ke arah Agatha tajam.
Sedangkan Arya yang mendengar pemaparan dari Agatha, pun langsung
menatap laki-laki muda itu dengan penuh bangga.
"Wah... Memang tidak salah Om memilih kamu sebagai calon menantu." Ucap Arya memuji Agatha, seraya menepuk salah satu bahunya.
"Lihatlah, Fit. Kurang apa lagi coba calon suamimu ini, sudah tampan, baik hati pula. Jarang loh menemukan laki-laki seperti Agatha di zaman ini, beruntung sekali kamu memiliki kekasih seperti dia." Puji Evi
menimpali.
"Baik hati? Papah dan Mamah tidak tahu saja, ucapan yang baru saja dia katakan adalah dongeng yang dia buat." Monolog Fitria dalam hati, memasang senyuman tipis pada wajahnya sebagai bentuk tanggapan dari ucapan Ibunya itu.
"Ayo masuk dulu, Ta." Ajak Arya meraih pundak Agatha.
"Nggak usah, Om. Aku mau langsung pulang saja."
"Aduh, kenapa buru-buru sekali. Kenapa tidak makan malam saja dulu di sini." Kata Arya sedikit memaksa.
"Apa yang baru saja Om Arya katakan ada benarnya juga, Ta. Lebih baik kamu makan malam saja dulu di sini, lagi pula sebentar lagi waktu makan malam akan tiba. Dan juga agar Fitria bisa mengobati lukanmu
dulu." Timpal Evi yang ikut memaksa Agatha, sedangkan Fitria yang baru saja mendengar ucapan Evi, pun langsung membulatkan matanya sempurna.
"Aku ingin mandi, Mah. Biarkan saja dia yang mengobati lukanya sendiri." Sahut Fitria cepat.
"Tidak perlu, Tante. Aku bisa mengobati luka ini saat di rumah nanti." Ucap Agatha menimpali.
"Mmm, Pah. Tahu gak, saudara dari teman arisan Mamah kemarin katanya ada yang meninggal. Katanya sih penyebab awalnya karena telat mengobati lukanya, sehingga terkena bakteri dan akhirnya luka itu menjadi infeksi. Ngeri ya, Pah." Ujar Evi
berniat menakuti Agatha.
Arya yang menyadari jika istrinya itu tengah membuat cerita palsu, pun ikut menimpalinya.
__ADS_1
"Padahal hanya berawal dari sebuah luka ya, Mah. Tetapi efeknya bisa sangat membahayakan sekali." Seketika Agatha langsung menelan salivanya kasar setelah
mendengar percakapan di antara pasangan paruh baya itu.
Sedangkan Fitria yang menangkap ekspresi Agatha yang sangat jelas terlihat sedikit ketakutan, lantas menyeringai yang disaksikan oleh Agatha. Agatha yang tidak ingin harga dirinya sebagai laki-laki jatuh, pun langsung merubah ekspresinya detik
itu juga.
Setelah berbagai macam paksaan yang Arya dan Evi berikan kepada Agatha, akhirnya Agatha pun terpaksa mengiyakan.
Saat Arya dan yang lainnya masuk ke dalam rumah. Sesuai perintah Evi, Fitria kini mulai mengobati luka Agatha yang terdapat di bagian wajahnya.
"Ssshhh, kalau lo gak ikhlas mengobati, mending gak usah deh, dari pada menyiksa gue kayak gini." Protes Agatha, ketika Fitria
mengobati lukanya secara kasar.
"Sorry, gue memang sengaja!" Sahut Fitria membuat Agatha menatap ke arahnya tajam.
"Iya, iya. Nih gue pelan 'kan." Sambung Fitria kembali dengan memelankan gerakan tangannya.
Setelah itu, suasana pun mendadak hening.
"Apakah ada pilihan lain untuk kita, selain menerima perjodohan ini? Tidak, 'kan?" Jawab Agatha dengan kembali bertanya.
"Kamu bisa menolaknya, Ta! Katakan saja kepada Om Bayu, kalau kamu tidak menginginkan pernikahan ini." Desak Fitria berharap agar Agatha bisa membatalkan perjodohan itu.
"Kalau gue tidak menerima perjodohan ini, pasti Papah akan mengirim gue ke Amerika. Sedangkan gue tidak ingin meninggalkan Mamah Rosa di sini sendirian. Meskipun ada Abang Arkana, tetapi tetap saja gue ingin selalu berada di sisi beliau. Bagaimana jika Mamah jatuh sakit lagi seperti tempo hari? Arrgghh.. Kenapa pilihan ini begitu sulit." Monolog Agatha dalam hati yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kalau lo ingin menolak perjodohan ini, lo bisa mengatakan sendiri kepada Papah gue, dan juga Om Arya," Ucap Agatha tidak perduli.
"Agar gue bisa memiliki alasan untuk menolak pergi ke Amerika, karena gagalnya perjodohan ini bukan disebabkan dari gue,
melainkan lo, Fitria." Agatha melanjutkan ucapannya dalam hati.
Fitria benar-benar dibuat geram kepada laki-laki yang di hadapannya saat ini. Bagaimana bisa, dia tidak ada niatan untuk menolak perjodohan itu sedikit pun.
"Baiklah, jika lo memang tidak ingin mengatakannya. Maka gue sendiri yang akan menolak perjodohan ini." Ucap Fitria menatap Agatha kesal.
__ADS_1
Tidak lama dari perdebatan antara Agatha dan Fitria, Evi datang menghampiri keduanya untuk mengajaknya makan malam.
Setelah itu, Evi pun berjalan menuju ruang makan, diikuti oleh Agatha dan Fitria di belakangnya. Meja makan berbahan dasar kaca tebal yang menampakkan kesan
mewah itu sudah tertata banyak hidangan yang menggugah selera.
Arya dan yang lainnya, pun langsung mulai menikmati hidangan itu, setelah Agatha dan Fitria telah duduk bergabung di sana.
Di sela-sela makan malam yang tengah berlangsung, mulut Fitria yang rasanya sudah sangat gatal ingin membuka suara, pun akhirnya memulai percakapannya.
"Pah. aku tidak ingin menerima perjodohan ini." Ucap Fitria tiba-tiba, membuat Arya dan Evi menghentikan aktivitas makannya sejenak.
"Kenapa? Bukankah sebelumnya kamu sangat menggebu-gebu ingin mengenalkan Agatha kepada Papah dan juga Mamah sebagai kekasihmu?" Tanya Arya menginterogasi putri semata wayangnya itu.
Fitria yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang di tujukan kepadanya, karena takut akan kebohongan tentang hubungan ant
dirinya dan juga Agatha di ketahui, pun hanya diam mematung tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Kalau Arya sampai mengetahui tentang kebohongannya, bisa-bisa perjodohan itu bukannya dibatalkan, justru Arya bisa saja malah mempercepat pernikahan keduanya.
Sesaat, Fitria pun menatap ke arah Agatha dengan memberikannya isyarat untuk menminta bantuan dari pertanyaan Arya yang menginterogasinya.
Namun, bukannya Agatha menanggapi isyarat dari Fitria, dia justru hanya
mengedikkan bahunya seraya sibuk menikmati makan malamnya.
"Sialan! Bukannya menolong, malah asik sendiri di saat situasi gue seperti ini." Monolog Fitria kesal menatap tajam ke arah Agatha.
"Jawab pertanyaan Papah, Fit." Ucap Arya yang sudah menunggu jawaban dari Fitria sedari tadi.
Fitria yang tidak bisa menjawab, pun hanya hanya tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Pah. Aku mengatakan itu hanya iseng saja." Jawab Fitria yang disambut suara renyah dari tertawanya Arya dan Evi di ruangan itu.
"Ada-ada saja kamu ini, Fit." Ucap Arya, lalu melanjutkan makannya kembali yang sempat terhenti.
Sepanjang makan malam itu, Fitria yang masih kesal dengan insiden di mana Agatha secara terang-terangan menolak untuk membantu Fitria ketika sedang
__ADS_1
diinterogasi tadi, pun tidak henti-hentinya terus merutuki Agatha dalam hati tanpa henti.