
Setelah mendengar kabar dari Jack bawahan anaknya, kedua pasangan itu tergopoh-gopoh berjalan di lorong rumah sakit. Tuan dan Nyonya Williams benar-benar terkejut saat mendengar kabar bahwa putra bungsunya masuk ke rumah sakit, kerena yang mereka tahu putranya tengah berada di luar negeri bersama kedua cucunya.
"Sayang, apakah ini kamarnya?" tanya Nyonya Williams pada sang suami.
"Hm, benar ini ruangannya sebaiknya kita masuk." timpal Tuan Williams.
Klik. Pintu terbuka dan benar saja di sana tengah duduk Jack yang tengah menunggu putra bungsunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Astaga putraku sayang." Pekik Nyonya Williams langsung menghambur ke arah Sean.
Jack cukup terkejut dengan kedatangan orang tua Sean, dia memang telah memberitahu kedua nya. Tapi, dia merasa tak enak karena tak menyadari kedatangan mereka, Jack langsung saja membungkuk dan memberi salam pada Tuan besar nya.
"Tuan, maaf saya tidak menyadari Kedatangan Anda." Ujar Jack sambil membungkuk tubuhnya.
"Tidak apa Jack, saya paham. Tapi terlepas dari itu, tolong jelaskan mengenai kondisi putraku. Sebenernya apa yang terjadi? Lalu di mana kedua cucu saya?" Tanya Tuan Williams secara beruntun.
"I..tu cerita nya panjang Tuan, sebaiknya Tuan duduk terlebih dahulu. Saya akan ceritakan mengenai kondisi Tuan Sean terlebih dahulu." Ucap Jack.
"Baiklah." Tuan Williams berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya. "Ah, kenapa putra-putraku selalu memberikan kejutan seperti ini." Gerutu Tuan Williams memegang kepalanya yang terasa mau pecah. "Katakanlah Jack, Saya sudah siap mendengarnya."
"Baik Tuan."
Jack mulai menceritakan kondisi Crystal yang tengah kritis, tentu saja Tuan dan Nyonya itu langsung terkejut bahkan Nyonya Williams yang amat mencintai menantunya itu langsung terduduk lesu di lantai.
"Sayang, kau tidak bisa mengerahkan koneksi mu untuk mencari pendonor itu?" Tanya Nyonya Williams.
__ADS_1
Tuan Williams sejenak berpikir. "Entahlah, karena memang sulit mencari pendonor yang tepat bahkan Sean telah mengusahakan semua nya." Jawab Tuan Williams amat menyesal.
"Astaga! Kenapa semua ini terjadi pada gadis malang itu? Crystalku maafkan Eomma yang tidak membantu mu selama ini hikss.. Menantuku..."
"Ny-nyonya jangan menangis, maafkan saya karena tidak memberitahu hal ini pada kalian sebelumnya."
"Tidak perlu meminta maaf Jack, anak itu mana mungkin mau memberitahu masalah ini pada kedua orang tuanya." timpal Tuan Williams menatap putra bungsunya yang masih terbaring. "L-lalu, bagaimana dengan kondisi Sean? Kenapa dia belum tersadar juga?" Lanjutnya.
"Tuan, Sean mengidap penyakit...." Jack sedikit ragu mengatakan kondisi Tuan nya, tapi dia tak ingin menyesal untuk kedua kalinya. "Sakit Tumor." Sambungnya.
Deg.
"A-pa?" Nyonya Williams benar-benar terkejut. "Katakan sekali lagi, jangan mengada-ada Jack."
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang tengah terjadi ini." Pekik Nyonya Williams sedikit histeris, bukan hanya menantunya yang sakit parah tapi juga putra nya. Itu merupakan pukulan kuat untuk nya.
"Tenanglah, kita dengarkan terlebih dahulu penjelasan Jack." perintah Tuan Williams pada Istrinya.
"Bagaimana bisa tenang, kau lihat putraku terbaring lemah di sana." Nyonya Williams menunjuk ke arah Sean. "Dan lagi, Menantuku tersayang Ya Tuhan. Bagaimana nasib cucu-cucuku, bagaimana nanti aku menjelaskan mengenai kondisi orang tua nya."
Tuan Williams menatap Istrinya yang tengah menangis, dia sebagai kepala keluarga tak bisa melakukan yang terbaik. "Seberapa berbahaya kondisi Sean saat ini?"
"Setelah hasilnya keluar, Dokter menjelaskan bahwa Tumor Tuan Sean termasuk tumor jinak. Hanya saja, meski tumor jinak yang berada di kepala Tuan Sean ukuran nya yang besar harus segera dilakukan operasi. Jika tidak, Tumor itu akan menyempitkan saraf Tuan Sean dan itu berbahaya untuk kondisinya." Jelas Jack.
Tuan Williams menarik nafas dengan panjang, setelah mendengar penjelasan dari Jack dia langsung memerintahkan pada Jack untuk melakukan yang terbaik pada putra nya.
__ADS_1
"Jack, lakukan apapun itu untuk menolong Sean. Dan tolong kau hubungi pihak sana untuk mengetahui kondisi lebih lanjut soal Menantuku." Ucap Tuan Williams, memberikan perintah pada Jack.
"Baik Tuan, akan Saya lakukan segera." Jawab Jack, setelah itu dia pamit undur diri untuk menemui Dokter yang menangani Sean.
...****************...
Layaknya sebuah keajaiban yang Tuhan tunjukan pada mereka, di detik-detik terkahir Crystal Kritis. Kai dan Istrinya Jenni datang ke New Zealand dan membawa kabar baik untuk mereka semua, rasa sedih yang mendalam beberapa saat yang lalu kini menguap keluar.
"Sayang." Bisik Wendy meremas jari jemari Suaminya dengan kencang, keringat dingin keluar dari lengannya.
"Tidak apa, Kita harus yakin bahwa operasi Crystal kali ini berhasil." Ucap Kevin menguatkan Istrinya sambil mengusap pundak tangan Istrinya dengan lembut.
"Benar Dokter Wendy, adik Ipar bukanlah wanita yang lemah." Timpal Kai Kaka dari suami Crystal yang juga tengah menunggu di depan ruang Operasi.
"Ah Tuan Kai. Saya bingung harus mengatakan apalagi.... Ditengah-tengah keputus asa-an ini kau dan Istrimu datang."
"Jangan berterimakasih padaku, ini juga berkat Tuhan. Sehingga Istri Saya bisa membantu adik ipar." ucap Kai tersenyum hangat.
"Ah yah, bagaimana dengan keadaan kedua ponakan Saya?" tanya Jenni.
"Tenang saja Nona Jenni, saat ini baik Cleo dan Ana sudah saya berikan pada pengasuh di rumah. Karena saya tidak ingin mereka terlalu lama di rumah sakit, tidak baik untuk mereka juga." Jawab Wendy.
"Ah syukurlah, aku senang mendengarnya. Tapi, Dokter Wendy tolong panggil Saya Jenni saja."
"Ah, baiklah."
__ADS_1