Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
93. Seperti Berlian


__ADS_3

Linda melihat ke arah Kartika yang baru saja masuk ke dalam rumahnya dengan tatapan penuh tanya, ketika mendapati putri semata wayangnya pulang dalam keadaan lusuh tidak seperti biasanya.


"Ya ampun Tika! Kenapa penampilan kamu berantakan sekali sih, apa yang terjadi?" Tanya Linda, mendekatkan dirinya ke arah Kartika.


"Aku habis berlari di bawah terik matahari Mah, karena saat di rumah sakit tadi, hampir saja aku ketahuan oleh Daffa. Beruntungnya aku langsung lari, sehingga Daffa tidak sempat melihat keberadaanku di sana" Jawab Kartika memaparkan.


"Sekarang mobil kamu di mana, Tik? Kenapa pulangnya malah naik taksi?" Tanya Linda, dengan mengedarkan pandangannya ke arah luar.


"Mobilku masih di rumah sakit., Mah." Jawab Kartika seadanya.


"Kok bisa?"


"Mana sempat aku pergi ke parkiran, Mah. Kalau aku sampai ketahuan oleh Daffa, bagaimana?" Jawab Kartika dengan balik bertanya, yang disambut anggukan kepala oleh Linda.


"Ya sudah, untuk urusan mobil, nanti Mamah akan menyuruh sopir untuk mengambilnya ke sana."


Sedangkan Kartika hanya menanggapi ucapan Linda dengan anggukkan kepala pelan.


"Aku ke kamar dulu ya Mah, ingin membersihkan diri. Rasanya sekujur tubuhku sudah terasa lengket."Ucap Kartika yang sudah ingin beranjak pergi.


"Eh, tunggu dulu. Ceritakan dulu kepada Mamah bagaimana kejutan tadi, apakah semua berjalan dengan lancar?" Cegah Linda dengan cepat, hingga Kartika mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya.


Sementara Kartika hanya memasang senyuman pada wajahnya tanpa mengatakan apa pun, hingga Linda semakin dibuat penasaran oleh Kartika.


"Cepat ceritakan, Tik. Jangan buat Mamah penasaran." Desak Linda kepada Kartika.


"Mamah tidak perlu khawatir, semua rencana kita berjalan dengan mulus,"


"Lalu, bagaimana dengan istri Daffa, dan Aida? Apakah kamu sempat melihat mereka di rumah sakit?"


"Mamah tahu apa yang terjadi di sana? Bukan hanya Tante Aida saja yang dituduh oleh Daffa atas kecelakaan ini, ternyata Fira juga pergi dari rumah sakit setelah mendengar percakapan antara Daffa


dan Tante Aida." Terang Kartika memaparkan.


"Bagus! Tanpa kita berbuat banyak, wanita itu sudah menyingkir dengan sendirinya." Saut Linda dengan wajah penuh kemenangan.


"Aku tidak menyangka, Mah. Jika kemenanganku sudah berada di depan mata. Rasanya, aku sudah tidak sabar ingin segera bersanding dengan Daffa di pelaminan nanti." Kata Kartika, yang pikirannya sudah dipenuhi dengan angan-angan tentangnya bersama Daffa.


"Mamah juga tidak sabar menunggu waktu itu tiba." Ujar Linda menimpali.

__ADS_1


Yang semula wajah Kartika terlihat bahagia, sesaat, Kartika mengubah ekspresinya ketika baru menyadari sesuatu.


"Mah, bagaimana jika orang yang Mamah bayar untuk menabrak Fira ditangkap oleh polisi? Jika itu terjadi, berarti kita dalam bahaya besar." Tanya Kartika dengan wajah


menegang.


"Kamu tidak perlu khawatir sayang, Mamah sudah memberikan dia uang dengan jumlah yang banyak, agar dia pergi ke negara lain."


"Thank you, Mah. Mamah memang paling bisa diandalkan." Puji Kartika, seraya menghamburkan pelukannya kepada Linda.


"Bagaimanapun, kebahagiaanmu yang paling utama bagi Mamah, sayang." Ucap Linda lembut.


***


Keesokan harinya, Oma Rahma yang sudah berjanji kepada Safira akan mengunjunginya kembali, pun sudah berada di rumah sakit pagi itu.


Namun, bukan dengan Bagaskara Oma Rahma datang, melainkan bersama Aida, yang membuat Daffa dan Safira mengerjapkan matanya cepat karena tidak percaya.


"Kok salam Oma tidak dijawab." Protes Oma Rahma, yang berhasil membuyarkan lamunan Daffa dan Safira secara bersamaan.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Daffa dan Safira, seraya mencium tangan kedua wanita berbeda usia yang baru saja tiba.


Sesaat Oma Rahma hanya bergeming menatap keadaan Safira yang terdapat perban pada beberapa bagian tubuhnya.


"Oma... Jangan menatapku seperti itu, aku tidak ingin Oma sedih hanya karena keadaanku seperti ini." Ujar Safira lirih, dengan mengusap lembut tangan wanita berusia senja itu.


Oma Rahma pun langsung memeluk Safira.


"Lekas sembuh ya, Nak." Ucap Oma Rahma lembut.


Aida yang sedari tadi hanya melihat keduanya, tanpa mengatakan apa pun, ikut hanyut oleh kedekatan menantu dan Ibu mertuanya itu.


"Selama ini aku terlalu sibuk untuk membenci dia, sehingga aku tidak bisa melihat bahwa dia seperti berlian yang mengagumkan. Aku mengerti, kenapa dari dulu hingga saat ini Daffa tetap memilihnya." Monolog Aida dalam hati.


"Mah," Panggil Daffa lirih. Sedangkan Aida hanya menoleh ke arah Daffa tanpa mengatakan apa pun.


"Maafkan aku, Mah. Tidak seharusnya aku mengatakan seperti itu kemarin." Ujar Daffa yang merasa bersalah.


"Mamah mengerti, Daff. Apalagi Mamah banyak berbuat salah kepada Fira dan keluarganya di masa lalu, jadi wajar saja jika kamu sempat mengira bahwa Mamah yang melakukannya." Terang Aida memaparkan. Daffa yang masih diselimuti rasa bersalah, pun langsung menghamburkan pelukannya kepada Aida.

__ADS_1


"Maafkan aku yang sudah kurang ajar kepada Mamah." Kata Daffa dengan susah payah menahan tangisnya.


"Iya, Daff. Mamah juga minta maaf kepada kalian selama ini, maafkan Mamah yang sempat berusaha memisahkan kalian berdua," Kata Aida menimpali.


"Terimakasih banyak, Mah. Sudah menjaga kami kemarin melaluibperantara orang lain." Ujar Daffa dengan melepaskan pelukannya dari Aida.


"Iya Daff, sama-sama," Jawab Aida.


"Dan untuk Fira, Mamah benar-benar sangat menyesal atas tindakan Mamah terhadap kedua orang tuamu di masa lalu." Sambung Aida, dengan berbicara kepada Safira, seraya berjalan mendekat ke arah


menantunya itu.


Safira yang masih tidak menyangka dengan perubahan dari Aida, hanya menganggukkanbkepalanya sebagai jawaban tanpa banyak berkata-kata.


"Terimakasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku." Gumam Safira dalam hati, dengan netra yang sudah berkaca kaca karena terharu atas kejadian itu.


Sedangkan Oma Rahma yang hanya menyaksikan ketiga orang itu, pun tidak luput dari rasa bersyukur atas perubahan Aida yang sudah bisa menerima kehadiran Safira.


***


"Pah, pokoknya aku tidak mau di jodohkan dengan anak teman Papah itu." Tolak Fitria tegas, dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Usiamu saat ini bukan remaja lagi, Fit! Sudah saatnya kamu menikah." Ujar Arya, Papah Fitria.


"Aku tahu, Pah. Tapi bukan berarti aku harus dijodohkan seperti ini, 'kan? Lagi pula ini bukan zaman Siti Nurbaya, jadi biarkan aku sendiri yang menentukan dengan siapa aku menikah nanti."


"Nanti? Sudah berapa kali kamu mengatakan itu kepada Papah?"


"Pah! Pokoknya aku tidak mau dijodohkan." Dengus Fitria kesal.


"Baiklah, Papah akan memberikan waktu satu bulan untukmu, jika dalam satu bulan kamu tidak membawa laki-laki yang siap


menikahimu, maka kamu harus menerima perjodohan ini." Kata Arya, memberikan penawaran.


Sedangkan Fitria hanya terngaga ketika mendengar ucapan Arya tadi, bagaimana bisa laki-laki paruh baya itu memberikan penawaran yang sangat tidak masuk akal seperti itu, bukankah ini lebih tepatnya dikatakan jebakan daripada penawaran? Batin Fitria menggerutu.


"Satu bulan? Bagaimana bisa aku membawa laki-laki yang siap menikahiku dengan waktu yang sangat singkat seperti itu, Pah." Protes Fitria.


"Jika kamu memang tidak bisa menyanggupi, berarti kamu harus siap menerima perjodohan ini. Gampang, 'kan?" Kata Arya menimpali.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bawa laki-laki yang siap menikahiku di hadapan Papah." Ucap Fitria penuh keyakinan.


"Gawat, di mana gue harus mencarilaki-laki yang mau menikah dalam waktu satu bulan?" Monolog Fitria dalam hati, yang sebenarnya merasa ragu dengan pilihan yang diambilnya.


__ADS_2