
Dipaksa Menikah Bagian 26
Oleh Sept
Rate 18 +
Atmosphere kecanggungan terasa di kamar hotel bintang biasa tersebut. Bagaimana tidak, Garda yang habis mandi berjalan dengan santainya mendekati Sofi.
Pria itu kemudian bertanya, apa Sofi mau mandi. Karena pasti tubuhnya lengket. Meski dingin, mereka habis perjalanan jauh. Kalau mandi, mungkin tubuh akan kembali segar, pikir Garda.
"Mandilah," titah Garda. Sofi langsung menggeleng.
Untuk apa ia mandi. Hujan begitu deras, hawa di dalam kamar juga terasa amat dingin.
"Ya sudah!" ujar Garda kemudian. Pria itu kemudian mengambil baju ganti dan kembali ke kamar mandi untuk ganti pakaian.
Sementara itu, Sofi masih terpaku. Ia kemudian memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ada rasa canggung yang menyeruak. Apalagi, aroma sabun dan shampoo yang Garda pakai barusan. Membuat pikirannya traveling ke mana-mana.
Beberapa saat kemudian, karena rasa kantuk menyerang. Akhirnya Sofi pun tertidur. Begitu juga dengan suaminya. Pria itu juga nampak lelah. Ia lantas langsung merebahkan tubuhnya di samping Sofi.
Hujan di luar sangat deras sepanjang malam, petir juga tidak henti-hentinya bersautan.
DUARRR ...
Sofi yang tidur kaget, apalagi petir kembali mengelegar.
DUARRR ...
Lagi, lebih keras suara petir berikutnya. Membuat Sofi reflek memeluk tubuh Garda karena ngeri.
"Masih malam. Tidurlah lagi." Garda menutup matanya lagi karena sempat terbangun akibat suara petir.
"Aku takut!" kata Sofi.
"Tidurlah," titah Garda
"Bagaimana bisa tidur?" batinnya. "Ya Tuhan, kenapa aku jadi konslet begini!" Sofi meratap, memarahi dirinya sendiri dalam hati. Mengapa kini ia malah sempat-sempatnya berdebar dalam pelukan hangat pria itu.
DUARRR
Kali ini petir menyambar dengan keras, membuat Sofi tersentak. Tanpa sadar tangannya mencengkram tubuh suaminya.
"Tidak apa-apa!" Garda yang tahu bahwa istrinya sedang ketakutan. Mencoba menenangkan Sofi. Karena sama-sama masih diliputi rasa kantuk, akhirnya mereka pun tidur. Hanya tidur!
***
Pagi hari, mata Garda mengerjap kemudian diliriknya Sofi masih lelap dalam pelukannya. Terdengar dengkuran halus yang berirama. Tapi, lama-lama ia merasa kesemutan, membuat ia bergeser sedikit. Namun, hal itu malah membuat Sofi terbangun.
Kaget karena tidur memeluk tubuh atletis itu, dengan canggung Sofi menarik diri. Merasa malu.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah terlihat rapi. Garda bahkan sudah check out beberapa saat lalu. Kini mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke kota.
Sepanjang jalan, Sofi malah tertidur. Karena hampir membentur jendela, akhirnya Garda merelakan bahunya untuk bersandar. Wajahnya masih saja dingin. Entah apa yang ada di kepala pria itu.
Berjam-jam sudah berlalu, akhirnya mereka sampai di sebuah hunian yang besar tapi terlihat sangat sepi. Hanya ada penjaga dengan wajah-wajah serius.
__ADS_1
Mungkin Sofi terlalu lelah, begitu keluar dari mobil, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Perjalanan panjang membuat tubuhnya terasa kaku.
"Masuk ke kamar, istirahat di dalam sana," suara Garda membuat Sofi langsung duduk.
[Kamar mana? Mana ia tahu mana kamar suaminya? Ini bukan rumah mertuanya seperti waktu itu]
Seolah mengerti tatapan Sofi, Garda langsung melangkah mendahului wanita itu.
"Ini kamarku," ucap Garda membuka sebuah kamar dengan menekan sandi terlebih dahulu. Membuat Sofi masam.
"Bukannya aku penasaran, hanya saja ... apa sandinya? Aku takut bila tidak bisa keluar," ucap Sofi jujur.
Garda kemudian mengeluarkan bolpen dari sakunya. Ia menarik tangan Sofi dan menulis di telapak tangan istrinya.
Dahi Sofi berkerut, apa ia salah lihat. Mau bertanya lagi, keburu ponsel Garda berbunyi. Alhasil ia kembali ditinggal.
Sofi pun ke kamar sendirian. Ia kemudian berbaring. Menikmati ranjang empuk yang lembut tersebut. Saat ia memejamkan mata, terdengar derap langkah yang semakin mendekat. Panik, Sofi langsung bergegas bangkit.
"Teruskan saja, aku hanya mengambil berkas."
Garda muncul berjalan ke samping lemari, ia merunduk. Membuka brangkas. Dari atas ranjang, Sofi hanya melirik.
"Istirahtlah!" seru pria itu, ia sudah berdiri lagi sembari membawa sebuah dokumen di tangan.
"Mau ke mana?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja.
"Ada urusan, mungkin aku akan kembali nanti malam."
Wajah Sofi langsung masam ketika melihat Garda menghilang dari pandangan. Selepas pria itu pergi, kini Sofi bingung. Mau tidur tapi tidak merasa kantuk lagi.
***
Sofi mondar-mandir seperti setrikaan. Ia kesal karena tidak bisa tidur gara-gara kepikiran suaminya. Dan ketika terdengar deru mobil di halaman depan, tanpa sadar ia menjadi antusias.
[Ya ampun, ada apa denganku?]
Sofi heran, menanti kedatangan Garda malah seperti menanti pacar. Ia merasa ada yang salah dengan isi kepalanya.
Tap tap tap,
KLEK
"Belum tidur?"
Sofi menggeleng ketika pria itu masuk dan menatapnya.
"Kenapa? Apa kau tidak nyaman di rumah ini?" tanya Garda sambil melongarkan dasi.
"Rumah ini terlalu sepi," celetuk Sofi.
"Aku memang suka sepi," balas Garda. Pria itu kemudian pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Garda merebahkan tubuhnya di sisi Sofi yang sudah lelap.
Begitulah malam-malam mereka, berlalu begitu saja. Sejak Garda mengendus keberandaan Amelia, ia jadi dingin pada Sofi.
__ADS_1
Seminggu kemudian
Sofi nampak termenung sarapan seorang diri. Garda ada meeting pagi. Jadi, ia pun makan sendiri. Ia juga merasa aneh dengan sikap Garda akhir-akhir. Pria itu, pria yang selalu menindas dan memaksanya, kenapa seminggu ini terlihat begitu tenang. Selalu pulang telat dan sepertinya semakin aneh saja.
Bosan, ia pun minta ijin ke rumah orang tuanya. Aneh sekali, tanpa meminta-minta Garda mengijinkan begitu saja saat Sofi ijin lewat telpon. Dari sini Sofi semakin curiga. Ia merasa sejak dari villa suaminya jadi aneh.
***
Jam makan siang, mama memaksa Sofi mengantar makanan ke kantor.
"Ma, memangnya lagi sekolah? Nggak!" tolak Sofi.
"Aduh, Sofi. Udah ... pokoknya antar ke tempat suamimu. Dia pasti senang kamu kirim makanan. Ini Mama masak spesial buat mantu Mama," bujuk mama.
"Nggak, Ma!"
Mama menghela napas panjang, kemudian meletakkan kotak makanan di pangkuan Sofi.
"Kamu gak kasihan Mama capek-capek masak buat kalian? Anter ya?" rayu mama.
Alhasil, Sofi pun ke kantor. Lagian dia juga tahu alamat suaminya.
Dengan menggunakan mobil lamanya yang masih ada di rumah sang mama, Sofi pun menuju kantor Rajasa Group.
***
Setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih, akhirnya ia sampai di perusahaan. Ia belum masuk area parkir, tapi malah melihat mobil Garda meninggalkan perusahaan.
"Itu mobilnya, kan? Mau ke mana?"
Mendadak ia kepo. Sofi pun membuntuti dari belakang. Ia terus mengamati mobil milik suaminya, jangan sampai kehilangan jejak.
Ternyata, mobil itu berhenti di sebuah cafe.
[Apa mau makan siang?]
Seketika Sofi keluar dari mobil, ia membawa kotak makan yang sudah mamanya siapkan. Mubazir kalau tidak dimakan. Sambil tersenyum geli, ia berjalan masuk menuju kafe.
"Duduk di mana ya dia?" Sofi memindai seluruh ruangan cafe, dilihatnya Garda berjalan ke salah satu meja.
"Nah, itu dia."
Tap tap tap
Sofi berjalan mendekat suaminya.
"Surprise!" seru Sofi langsung duduk di salah satu kursi kosong. Namun, matanya kemudian menatap sebuah tas yang ada di sebelahnya. Sebuah tas wanita.
BERSAMBUNG
__ADS_1