
***
Linda yang tengah bersantai di ruang keluarga sibuk dengan pikiran nya mengenai perjuangan Kartika yang rela meninggalkan karir nya di Jerman, hanya demi seorang laki laki yang sudah jelas
tidak menyukai nya.
Tidak ingin
perjuangan putri nya sia sia, Linda pun lantas berpikir keras untuk membantu Kartika agar bisa mendapatkan Daffa.
Sebuah ide tiba-tiba saja muncul, Linda yang tidak ingin banyak membuang waktu pun langsung bergegas pergi ke kamar Kartika.
Tok tok tok.
"Masuk." Titah Kartika yang tengah bermalas malasan di kamar.
"Tika, bagaimana kamu bisa mendapatkan Daffa, jika kerjaan kamu saja hanya bermalas malasan seperti ini." Gerutu Linda kepada Kartika.
Bukan nya menanggapi ucapan Linda, Kartika justru memasang earphone pada telinga nya, yang membuat Linda semakin geregetan.
"Apa kamu sudah menyerah untuk mendapatkan Daffa?!" Bentak Linda seraya mengambil earphone yang terletak pada telinga Kartika.
"Tidak, tidak akan!"
"Lalu? Mengapa kamu masih bisa bersantai seperti ini? Harusnya kamu itu menyusun rencana, Tika!" Ucap Linda dengan berkacak pinggang.
"Tenang saja, Mah. Aku sudah memiliki rencana sendiri."
Linda yang semula kesal kepada putri nya, kini merubah ekspresinya seketika. Linda yang tidak sabar ingin mendengarkan nya pun segera mendudukkan diri nya di sisi ranjang.
"Katakan kepada Mamah, apa rencanamu?" Tanya Linda penasaran.
"Nanti Mamah juga akan tahu sendiri."
"Baiklah," Saut Linda yang tidak ingin tahu lebih jauh.
"Sekarang bersiaplah, kita akan ke rumah Aida." Sambung Linda kembali.
Kartika yang semula tidak bersemangat, seketika langsung berdiri dari posisi nya saat ini.
__ADS_1
"Ada urusan apa Mamah ke sana?" Tanya Kartika
"Sudah, jangan banyak bertanya. Lebih baik kamu bersiap siap sekarang juga."
***
"Bagaimana rasanya sayang? Enak?" Tanya Daffa yang melihat Safira makan dengan lahap. Padahal saat ini tubuh Safira sedang kurang sehat, tetapi tidak mengurangi nafsu makan nya.
"Enak, Mas. Mas Daffa kenapa tidak makan?"
"Aku masih kenyang, sayang. Aku makan nya nanti saja."
Disela-sela aktivitas makan Safira, tiba-tiba saja Safira teringat sesuatu yang membuat nya diam sejenak.
"Ada apa sayang? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Daffa yang mengira porsi hidangan yang Bi Asih bawa tidak cukup.
"Tidak, aku hanya tiba-tiba memikirkan sesuatu, Mas."
"Apa yang menganggu pikiranmu? Katakan kepadaku."
"Apa Kang Baron tidak akan keluar dari penjara, Mas? Apalagi dia memiliki kekuasaan di desa, bisa saja dia meminta bantuan dari orang lain agar mengeluarkannya dari sana. Aku takut jika kejadian kemarin terulang lagi. Apalagi jika sampai Kang Baron tahu aku sedang hamil, aku takut jika anak kita menjadi korbannya, Mas." Ujar Safira yang terlihat cemas.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang, kekuasaan Baron tidak ada apa apanya dari pada kekuasaan keluarga Bagaskara, itu semua tidak akan pernah terjadi. Jadi jangan cemas." Kata Daffa yang
menenangkan Safira.
Tok tok tok.
"Cih, siapa lagi sih ini!" Kata Daffa geram.
Daffa pun dengan malas berjalan ke arah pintu.
"Ada apa lagi sih, Bi?" Tanya Daffa dengan menaikkan nada bicara nya, tanpa melihat lebih dulu siapa yang datang.
Wanita paruh baya sudah menatap Daffa dengan tajam, Daffa yang baru saja sadar jika yang mengetuk pintu tadi bukanlah Bi Asih. langsung memasang ekspresi tersenyum hingga memperlihatkan
gigi nya.
"Sebentar lagi Dokter Kayla akan datang untuk memeriksa istrimu." Kata Aida memberitahu, setelah itu langsung pergi meninggalkan Daffa.
__ADS_1
"Hanya itu saja? Aneh sekali sikap Mamah."
"Tunggu di sini sebentar ya Nyonya, Non. Bibi akan panggilan Nyonya Aida dulu." Kata Bi Asih kepada Linda dan Kartika yang baru saja tiba di kediaman Bagaskara.
Setelah Bi Asih memanggil Aida di kamar nya, Bi Asih pun langsung menyiapkan minuman dan juga camilan untuk menjamu Linda dan Kartika.
Sedangkan Linda dan Kartika yang masih menunggu kedatangan Aida, tiba-tiba saja melihat Dokter Kayla yang baru saja masuk dan berjalan menuju lantai dua, dengan
diantarkan oleh salah satu asisten rumah tangga yang lain nya.
Tidak lama, Bi Asih pun datang dengan membawa nampan yang berisi minuman beserta camilan di atas nya, kemudian meletakan nya di atas meja.
"Bi, siapa yang sakit?" Tanya Linda yang ingin tahu.
"Maksud nya, Nyonya?" Jawab Bi Asih yang belum mengerti.
"Baru saja saya melihat ada Dokter datang, apakah ada yang sedang sakit?" Tanya Linda kembali.
"Oh itu, Dokter Kayla tadi ingin memeriksa Nona Fira, Nyonya."
"Ada apa dengan Fira, Bi?" Tanya Kartika menimpali.
"Itu Non, setelah Nona Fira pulang dari desanya, kesehatannya jadi menurun. Menurut yang bibi dengar sih, katanya Nona Fira dan Tuan muda sempat disekap," Tutur bi Asih keceplosan.
"Eh, ya ampun gusti! Kebiasaan." Gumam Bi Asih dengan menepuk kening nya yang didengar oleh Linda dan Kartika.
Sedangkan Linda dan Kartika saling melemparkan pandangan setelah mendengarkan penuturan dari asisten rumah tangga Bagaskara itu.
"Disekap? Gak mungkin kalau itu musuh Daffa, karena setau gue, Daffa tidak memiliki musuh. Ini pasti ada kaitan nya dengan Safira. Gue harus cari tahu." Monolog Kartika menyeringai.
"Maaf ya Jeng, jadi menunggu lama." Kata Aida yang baru saja tiba.
"Ah, iya Jeng tidak papa. Lagi pula kami sedang tidak buru-buru juga." Saut Linda tersenyum ramah.
"Oh iya, Jeng. Ini ada oleh oleh dari Paris. Kemarin Papahnya Tika baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya, dan membawakan ini."
"Ya ampun Jeng, padahal tidak perlu repot repot sampai dibawakan oleh oleh segala. Terimakasih banyak ya."
"Iya Jeng, sama-sama. Oh iya, menantumu kok tidak kelihatan, Jeng? Padahal aku juga ingin sekali berkenalan dengan istrinya Daffa."
__ADS_1
"Tante, apa boleh aku berbicara sebentar dengan Fira? Aku ingin meminta maaf kepadanya, Tan. Boleh ya?" Timpal Kartika.