
"Kenapa Papah tidak membicarakan ini dulu denganku?" Tanya Fitria tidak habis pikir dengan Arya yang seenaknya mengambil keputusan tanpa berbicara dengannya terlebih dahulu.
Meskipun Fitria adalah anaknya namun apa salahnya jika meminta pendapatnya dulu
sebelum mengambil keputusan? Batin Fitria kesal.
"Loh, kenapa memangnya? Bukankah tadi kamu mengatakan telah menerima perjodohan ini?" Tanya Arya balik.
"Ya, aku memang mengatakan seperti itu. Tetapi bukan berarti aku siap untuk menikah bulan depan juga, Pah!" Ucap Fitria yang mulai menaikkan sedikit nada bicaranya.
"Bulan depan ataupun tahun depan itu sama saja, Fitria. Pada akhirnya kamu juga akan menikah dengan Agathakan? Apa Papah salah?" Ujar Arya yang disambut
gelengan kepala oleh Fitria.
Fitria benar-benar tidak habis pikir dengan
Arya yang hanya memikirkan keinginannya saja tanpa memilkirkan keinginan dirinya. Sungguh egois sekali! Batin Fitria kecewa.
"Apa perjodohan ini saja tidak cukup, hingga Papah tega menikahkanku dalam waktu secepat ini? Apa aku tidak berhak menikmati masa lajangku sedikit lama lagi? Hmm?" Tanya Fitria menatap Arya penuh kecewa.
"Fit, menurut Mamah ucapan Papah ada benarnya juga. Menikah bukan berarti tidak bisa menikmati waktumu, kan? Justru kamu bisa menikmatinya bersama Agatha
nantinya, bukankah itu lebih menyenangkan?" Timpal Evi membuat Fitria semakin kecewa kepada kedua orang tuanya itu.
Benar-benar tidak ada satu pun yang
memihak dirinya saat ini.
"Mamah dan Papah sama saja, aku kecewa kepada kalian!" Pungkas Fitria pergi meninggalkan keduanya.
"FITRIA, BERHENTI!" Bentak Arya mencegah putri semata wayangnya, namun tidak dihiraukan oleh Fitria.
"Pah, biarkan Fitria menenangkan diri dulu. Dia juga butuh waktu untuk menerima
semuanya." Kata Evi menenangkan agar suaminya tidak tersulut emosi.
Fitria yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung menyambar mini bag berisi ponsel, dompet, dan juga kunci mobil
miliknya. Tanpa berpikir panjang Fitria langsung keluar kembali untuk pergi dari rumah orang tuanya yang sebenarnya Fitria pun tidak tahu kemana dia akan pergi.
Fitria, mau pergi kemana kamu malam-malam seperti ini?" Tanya Arya membuat Fitria menghentikan langkahnya sejenak.
"Apakah itu penting bagi Papah?" Tanya Fitria yang disambut tatapan tajam dari Arya.
Tidak ingin membuat suasana semakin panas, Fitria melanjutkan langkahnya kembali yang sempat terhenti, dan berjalan keluar menuju mobilnya.
Setelah Fitria sudah berada di dalam mobil, Fitria pun langsung melajukan mobilnya membelah gelapnya jalan yang saat itu sudah cukup sepi.
Di tengah-tengah perjalanannya yang tidak memiliki tujuan itu, tiba-tiba Fitria mengingat Rosa, wanita paruh baya yang baru saja dikenalnya namun sudah
membuatnya nyaman berada di dekatnya.
Tanpa pikir panjang Fitria langsung mengemudikan mobilnya menuju toko Rosa untuk bertemu dengannya, meskipun
kemungkinannya sangat kecil.
Dengan nmenempuh jarak yang memakan waktu kurang lebih empat puluh menit, kini mobil Fitria sudah sampai di depan toko milik Rosa. Dan benar saja, toko itu terlihat sudah tutup.
Sementara Fitria yang masih ingin di sana lebih lama, pun memilih duduk di dalam mobilnya dengan netra yang terus menatap ke arah toko milik Rosa.
Selama setengah jam Fitriabberada di sana. Fitria memutuskan untuk pergi. Tiba-tiba saja datangnseorang wanita paruh baya dengan menggunakan ojek turun tepat di depan toko itu.
__ADS_1
Fitria memicingkan matanya dari balik kaca untuk memastikan siapa kira-kira wanita
yang saat itu tengah berdiri tepat di depan rolling door milik toko Rosa.
"Tante, Rosa." Gumam Fitria setelah mengetahui siapa wanita itu.
Fitria pun langsung keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Rosa.
"Tante, apa yang terjadi?" Tanyanya, ketika melihat Rosa tengah kesulitan, membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget
mendengarnya.
"Fitria? Sejak kapan kamu berada di sini?"
"Sejak tadi, Tante." Jawab Fitria membuat Rosa mengerutkan keningnya heran.
Pasalnya dari awal dia datang sama sekali tidak melihat siapapun berada di sana, kecuali sebuah mobil yang terparkir saja di
depan tokonya.
"Ah, apakah itu mobilmu?" Tebak Rosa mengira, yang dijawab anggukkan kepala oleh Fitria.
"Aku kira toko Tante masih buka, makanya aku datang kemari. Tapi ternyata sudah tutup."
"Ya ampun, Tante lupa mengatakan kepadamu kalau toko Tante memang tutup jam delapan malam, Fit." Ujar Rosa memberitahu.
"Apa yang terjadi, Tan?" Tanya Fitria yang masih penasaran dengan apa yang dilakukan Rosa.
"Ini Fit, Tante lupa memasang gembok di rolling door toko, maklum namanya sudah tua jadi banyak lupanya." Jawab Rosa setelah selesai nemasang gemboknya.
"Bagaimana jika aku antarkan Tante pulang?" Tanya Fitria menawarkan tumpangan.
"Apakah tidak merepotkanmu, Fit? Apalagi Ini sudah malam."
"Baiklah jika kamu mengatakan seperti itu."
Setelah Rosa memastikan gemboknya sudah terpasang dengan baik, keduanya pun mulai masuk ke dalam mobil.
Sesuai dengan ucapan Fitria, Fitria pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Rosa untuk mengantarkannya pulang.
"Fit, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Rosa di tengah-tengah perjalanan keduanya.
"Tidak ada, Tante." Jawab Fitria yang sempat bergeming sesaat.
Rosa yang menyadari jika Fitria sedang tidak ingin bercerita, pun memilih tidak melanjutkan lagi pertanyaannya yang sebenarnya masih banyak pertanyaan yang Rosa ingin ajukan kepada Fitria.
Tidak lama, mobil Fitria pun telah sampai di rumah yang terlihat sederhana, yang jauh berbeda dengan milik orang tuanya.
Kemudian keduanya pun mulai keluar dari mobil itu.
"Terimakasih banyak ya Fit sudah mengantarkan Tante pulang." Ucap Rosa ramah.
"Iya Tante, sama-sama."
Sesaat Rosa diam sejenak melihat wajah murung Fitria yang sepertinya tengah membutuhkan teman.
"Fit, apakah ada yang ingin kamu bicarakan kepada Tante?" Tanya Rosa agar Fitria mau bercerita.
"Hmm. Nggak ada, Tan." Jawab Fitria memilih bungkam.
"Baiklah, jika saat ini kamu belum mau bercerita, Tante siap mendengarkan ceritamu kapan saja jika kamu mau." Ucap Rosa membuat Fitria terharu.
__ADS_1
"Padahal Tante Rosa bukanlah orang tuaku, namun kenapa Tante Rosa lebih mengerti isi hatiku daripada Papah dan Mamah?"
Gumam Fitria dalam hati.
"Apakah kamu akan langsung pulang?"
"Sepertinya aku akan bermalam di hotel malam ini, Tan." Ucap Fitria yang membuat Rosa semakin yakin jika wanita yang berada di depannya ini sedang ada masalah.
"Daripada kamu menginap di hotel, kenapa kamu tidak menginap saja di rumah Tante, Fit?" Ajak Rosa yang disambut gembira oleh Fitria.
"Apa boleh, Tan?" Tanya Fitria cepat.
"Tentu saja boleh." Jawab Rosa membuat Fitria berlari menghamburkan pelukannya.
"Terimakasih banyak, Tante." Ujar Fitria senang.
"Iya Fit, sama-sama. Kalau begitu lebih baik kita masuk ke dalam sekarang. udara di luar semakin dingin nanti kamu bisa demam." Ajak Rosa yang disambut anggukkan kepala oleh Fitria.
Di sisi lain, Arya yang begitu cemas karena Fitria belum juga pulang setelah dua jam lamanya dia pergi dari rumah. Arya terus berjalan mondar-mandir di teras depan untuk menunggu kedatangan putri semata
wayangnya itu.
Berkali-kali Arya menghubungi Fitria namun tidak bisa membuat Arya semakin cemas.
"Kemana perginya anak itu sebenarnya? Apakah dia tidak berpikir bahwa kita
mencemaskannya?" Ucap Arya yang terus berusaha menghubungi Fitria.
"Ini semua salah Papah, seharusnya Papah tidak terlalu keras kepadanya. Dia itu anak perempuan kita satu-satunya Pah, kalau sampai ada apa-apa dengan Fitria di luar
sana, bagaimana? Hiks hiks hiks" Ujar Evi menangis terisak.
"Coba Mamah hubungi Fira,bsiapa tahu Fitria berada di rumahnya." Seperti memiliki harapan, Evi pun langsung menghubungi Safira detik itu juga.
"Tidak ada jawaban dari Fira, Pah." Ucap Evi lemas.
"Papah akan coba hubungi Agatha, barangkali saja dia mengetahui keberadaan Fitria saat ini Arya pun langsung menghubungi Agatha melalui benda pipih miliknya.
"Halo, Om.' Ucap Agatha setelah menerima panggilan dari Arya.
"Ta, apakah kamu tahu di mana Fitria sekarang?" Tanya Arya tanpa basa-basi.
"Tidak Om, apakah Fitria pergi dari rumah?'
"Iya Ta, dia pergi sejak tadi dan belum pulang juga sampai sekarang. Apakah kamu bisa membantu kami untuk menemukan Fitria?" Pinta Arya meminta bantuan.
"Baik Om, aku akan menghubungi Om Arya jika sudah menemukan keberadaan Fitria." Ujar Agatha menyanggupi.
"Terimakasih banyak ya, Ta. Kami tunggu kabar baiknya.' Pungkas Arya sebelum mengakhiri panggilannya.
Di sebuah kamar yang didominasikan warna hitam, Agatha yang baru saja selesai berbicara dengan Arya melalui benda pipih
miliknya, pun langsung menghubungi Fitria namun tidak bisa. Berkali-kali Agatha mencoba, namun hasilnya tetap sama.
"Kemana perginya dia? Sungguh merepotkan banyak orang, apa dia tidak berpikir dulu sebelum bertindak?" Monolog Agatha menyugar rambutnya kasar setelah
berkali-kali menghubungi nomor Fitria namun terus saja tidak mendapatkan hasil.
Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk pada ponsel nmilik Agatha, membuat laki-laki tampan itu dengan cepat membukanya.
"Ta, Malam ini Fitria menginap di rumah Mamah, sepertinya dia sedang ada masalah." Tulis Rosa pada pesan yang dikirimkan kepada Agatha membuat Agatha menghela napasnya lega setelah membaca pesan itu.
__ADS_1
Agatha yang ingin memastikan keadaan Fitria apakah baik-baik saja atau tidak, pun langsung menyambar hoodie dan kunci mobilnya, kemudian langsung pergi menuju
kediaman Rosa.