Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
77. Berkunjung Ke Desa


__ADS_3

Sepanjang perjalan pulang, Kartika terus melipat wajahnya karena kesal akibat mendapati tamparan dari Aida.


"Tik, ada apa dengan wajahmu?" Tanya Linda yang baru sadar bahwa wajah anaknya terlihat ada bekas tamparan meskipun samar.


Kartika yang sedang sibuk menyetir mobilnya pun saat itu juga meraba sisi wajahnya.


"Oh ini." Ucap Kartika yang tidak memberikan jawaban apa-apa.


"Apa baru saja wajahmu ditampar oleh seseorang?" Tanya Linda kembali karena sebelumnya tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Kartika.


"Aku baru saja di tampar oleh tante Aida, Mah." Jawab Kartika dengan pandangan lurus melihat ke arah jalan.


"Apa? Berani sekali dia menamparmu!" Ucap Linda denganmata yang terbelalak sempurna.


"Bukankah sebelumnya kamu mengatakan kepada Mamah, jika Aida mendukungmu untuk mendapatkan Daffa? Tapi kenapa malah Aida menamparmu? Apakah kamu


melakukan kesalahan yang fatal


kepadanya?" Lanjut Linda kembali dengan sederet pertanyaan.


"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun kepada tante Aida, Mah." Jawab Kartika.


Linda pun berpikir sejenak.


"Atau jangan-jangan, Aida sudah mulai menerima wanita itu sebagai menantunya?"


"Aku juga berpikir seperti itu, Mah."


"Apa kamu ingat ketika di meja makan tadi, Tik? Saat Aida menjawab pertanyaan dari Mamah, di mana dia mengakui wanita itu sebagai menantunya."


"Iya Mah, aku ingat."


"Kamu jangan khawatir sayang, Mamah tidak akan membiarkan perjuanganmu untuk mendapatkan Daffa menjadi sia-sia. Jika Aida sudah tidak lagi mendukungmu, maka Mamah yang akan membantumu


untuk menyingkirkan wanita itu agar


kamu bisa mendapatkan Daffa."


"Benarkah, Mah?"


"Tentu saja! Anak Mamah yang cantik ini berhak mendapatkan keinginannya."


"Terimakasih banyak, Mah." Ucap Kartika dengan wajah sumringah, tidak seperti sebelumnya.


***


"Apa kamu tidak ingin masuk ke kantor lagi hari ini? Kenapa jam segini belum siap-siap?" Tanya Bagaskara kepada Daffa yang sedang menyantap hidangan sarapan.


"Hari ini Daffa dan Fira ingin pergi ke Bandung untuk beberapa hari, Pah." Jawab Daffa.


"Apakah pamanmu baik-baik saja, Nak?" Saut Oma Rahma dengan bertanya kepada Safira.


"Alhamdulillah baik, Oma. Fira dan Mas Daffa hanya ingin main ke sana saja."


"Syukurlah, kamu harus menjaga Fira dengan hati-hati ya Daff selama di sana. Jangan biarkan Fira kemana-mana sendirian, pokoknya kamu harus terus di samping istrimu." Titah Oma Rahma kepada Daffa.


"Tapi Fira, Papah takut jika laki-laki yang bernama siapa itu... Ah iya, Baron! Papah takut jika Baron masih mengejarmu." Saut Bagaskara yang khawatir jika keselamatan


menantunya terancam.


"Bagaimana Papah tau mengenai Kang Baron?" Tanya Safira kepada Bagaskara.

__ADS_1


"Tidak penting Papah tau dari mana, yang terpenting sekarang, apa kamu yakin jika laki-laki itu tidak lagi mengejarmu? Apalagi saat ini kamu sedang hamil, Nak." Ucap Bagaskara.


Sesaat Safira pun bergeming ketika mendapati pertanyaan dari mertuanya itu. Daffa yang menyadari bahwa istrinya kini sangat ingin bertemu pamannya, Daffa pun


akhirnya membuka suara.


"Pah, tidak perlu khawatir. Lagi pula ada Daffa di sisi Fira. Daffa juga tidak akan membiarkan jika bajingan tengik itu menyentuh istri Daffa seujung kuku pun." Ucap Daffa meyakinkan Bagaskara.


"Baiklah, tapi Papah akan memerintahkan ajudan Papah agar menjaga kalian selama di sana. Papah tidak ingin terjadi sesuatu nantinya."


"Baiklah, terserah Papah saja."


Sedangkan Aida yang berada di meja makan, hanya mendengarkan obrolan yang lainnya tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Setelah Aida selesai dari aktivitas sarapannya, Aida memilih pergi lebih dulu dan kembali ke dalam kamarnya. Ketika Aida sudah berada di dalam kamarnya, Aida pun mengambil ponsel miliknya yang


berada di atas nakas untuk menghubungi seseorang.


"Halo Bram, saya ada tugas untuk kalian." Ucap Aida pada benda pipih miliknya.


***


Setelah melakukan perjalan dari Jakarta menuju Bandung dengan mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir, kini mobil milik Daffa pun sudah terparkir di balaman depan rumah Ardi.


Sedangkan kelima ajudan yang Bagaskara utus untuk mengawal anak dan menantunya selama di bandung hanya memantau dari jarak yang tidak begitu jauh, sesuai permintaan Daffa agar Safira merasakan nyaman bersama keluarganya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Safira seraya mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Ardi yang baru saja membukakan pintu.


"Eh... Ya Allah Neng Fira, Daffa. Mari masuk." Titah Ardi setelah Safira dan Daffa mencium tangannya.


"Siapa Pak?" Tanya Rani yang baru keluar dari kamarnya.


"Neng Fira kenapa gak telepon dulu kalau mau ke sini?" Tanya Rani setelah memeluk Safira.


"Fira sengaja ingin memberikan kejutan, Bi. Hehehe." Saut Safira terkekeh kecil.


"Pasti capek ya nyetir mobil dari Jakarta ke Bandung sendiri, Daff?" Tanya mang Ardi kepada Daffa.


"Lumayan Mang, alhamdulillah." Jawab Daffa.


"Bu, tolong siapkan makan untuk Fira dan suaminya, mereka pasti sangat lapar karena perjalanan jauh." Titah Ardi kepada Rani.


"Tidak perlu, Mang. Fira dan Mas Daffa belum lapar." Tolak Safira lembut, yang tidak ingin merepotkan.


"Tidak usah di dengarkan, Bu. Buatkan saja makan untuk mereka." Kata Ardi yang sepertinya paham bahwa keponakannya tidak ingin merepotkan orang lain.


"Apakah ada sesuatu yang mendesak Neng?" Tanya Ardi kepada Safira.


"Tidak, Mang. Aku hanya merindukan Mang Ardi dan yang lainnya." Jawab Safira.


"Syukurlah, Mang Ardi jadi lega. Mang Ardi kira ada sesuatu yang mendesak,"


"Terimakasih banyak ya Daffa, sudah menjaga keponakan Mang Ardi dengan sangat baik." Lanjut Ardi kembali.


"Iya, Mang. Itu sudah menjadi tanggung jawab Daffa sebagai suaminya Fira." Saut Daffa.


"Oh iya, Mang Ardi baru ingat kalau tempo hari Reyhan pamit kemari. Katanya ada interview kerja di Jakarta. Apa kamu pernah berpapasan dengan Reyhan selama di Jakarta Neng? Meskipun Jakarta luas,


tapi barangkali saja pernah bertemu

__ADS_1


di jalan."


"Pernah Mang, bahkan kita satu kantor." Jawab Safira.


"Kebetulan sekali ya. Eh, apa tadi Neng? Satu kantor? Berarti maksud Neng Fira, Reyhan bekerja di kantor milik Papahnya Daffa?" Tanya Ardi yang baru saja paham.


"Iya, Mang."


Disela-sela obrolan ketiganya, tiba-tiba saja Rani datang dengan membawa nampan berisi nasi dan juga mie instan.


"Silahkan dimakan Neng Fira, Daffa. Tapi mohon maaf jika hanya ada mie rebus dan nasi saja." Kata Rani dengan meletakan piring dan mangkuk yang berisi nasi dan juga mie instan.


"Iya, Bi. Terimakasih banyak ya. Maaf jadi merepotkan." Timpal Safira.


"Aduh, Neng Fira kayak sama siapa aja." Kata Rani.


Sedangkan atensi Daffa tertuju ke arah meja yang sudah ada nasi dan juga mie instan di sana.


"Sayang, maksudnya nasi dan mie instan itu bagaimana?" Bisik Daffa kepada Safira bingung.


Karena Daffa terlahir dari keluarga berada, jadi Daffa tidak mengerti jika ada sebagian orang yang menikmati makan mie instan


dengan nasi agar kenyang. Karena Daffa biasanya menikmati mie instan hanya menggunakan telur dan sayuran saja, atau dengan yang lainnya, tetapi tidak dengan nasi.


Bagi Daffa, itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal, bagaimana bisa


karbohidrat bertemu dengan karbohidrat.


"Mie instannya untuk lauk, Mas." Jawab Safira.


"Apa makanannya tidak enak?" Tanya Rani yang membuat Daffa buru-buru mengambil piring yang berisi nasi dan langsung


memakannya.


"Mienya kenapa gak di makan, Mas?" Tanya Safira.


"Bagaimana cara makannya sayang? Apa aku habiskan dulu mienya, baru habiskan nasinya. Atau sebaliknya?" Tanya Daffa polos.


"Hahaha apa sebelumnya Nak Daffa tidak pernah makan nasibersama mie instan?" Tanya Ardi dengan tertawa terbahak-bahak.


"Tidak pernah mang." Jawab Daffa meringis hingga jejeran giginya sedikit terlihat.


"Pantas saja Daffa seperti orang bingung, ya sudah kalau begitu biar Bi Rani belikan lauk saja ke depan." Ucap Rani yang hendak membereskan makanan yang


sebelumnya dia bawa.


"Nggak perlu, Bi. Ini saja sudah cukup," Cegah Safira.


Safira pun memutuskan untuk menyuapi Daffa agar suaminya tidak canggung ketika makan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Daffa makan dalam waktu bersamaan.


Daffa yang sedari tadi sudah menahan mual, namun berusaha keras untuk menahannya agar Bi Rani tidak tersinggung, barangkali nanti Bi Rani mengiranya bahwa Daffa tidak menyukai makanannya.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya." Kata Daffa.


Meskipun Daffa sudah berusaha keras menahan suaranya agar tidak terdengar, namun tetap saja suara dia terdengar hingga ruang tamu.


"Suamimu kenapa sampai muntah-muntah seperti itu Neng?" Tanya Ardi kepada Safira.


"Sebenarnya.. Fira lagi hamil, Mang. Dan Mas Daffa yang merasakan mual-mualnya."


***

__ADS_1


"Bos, Safira telah kembali" Tutur seorang laki-laki berbadan kekar dengan tato naga di lengannya.


__ADS_2