Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
81. Misi Penyelamatan


__ADS_3

Ardi pun menceritakan bagaimana Daffa dan Safira menghilang kepada Bagaskara.


"Maafkan saya, Pak. Saya kurang menjaga mereka." Kata Ardi yang merasa tidak enak.


"Tidak, Pak. Ini semua sama sekali bukan kesalahan Pak Ardi. Tolong beritahu saya jika ada sesuatu yang terjadi lagi ya, Pak Ardi. Saya akan menghubungi para ajudan saya yang berada di sana agar mereka


segera menemukan Daffa dan Fira." Pungkas Bagaskara dengan terputusnya telepon.


"Jadi bagaimana, Neng? Apa kamu bersedia menikah dengan Akang?" Tanya Baron kepada Safira.


"Tidak, Kang! Tidak akan, aku adalah istri Mas Daffa, mana mungkin aku menikah dengan Kang Baron." Jawab Safira dengan suara bergetar.


"Itu adalah perkara yang mudah, kamu ceraikan laki-laki ini, maka dia akan selamat. Tetapi jika kamu menolak, maka dia akan sekarat. Pilihan ada di tanganmu, Neng." Kata Baron memberikan opsi.


Safira pun bergeming menatap Daffa dengan tatapan sendu.


"Jangan pernah kamu terima tawaran konyol itu sayang, lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan kamu kepada laki-laki bengis seperti dia." Ucap Daffa kepada Safira.


"Berisik!" Bentak Baron yang tersulut emosi.


BUGH.


BUGH.


BUGH.


Tidak bisa lagi menahan emosinya yang sedari tadi sudah dia redam, Baron pun akhirnya memukul Daffa tanpa henti.


"Mas Daffa, hiks hiks hiks." Gumam Safira dengan cairan bening yang mulai membasahi cadarnva.


"Jangan menangis sayang, aku baik-baik saja." Kata Daffa berusaha tegar.


"Apa Akang ini manusia? Harusnya Akang sadar, kenapa aku tidak menyukai Akang dari dulu, Akang tahu kenapa? Karena sifat


Akang itu seperti iblis!" Kata Safira yang akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya.


Ucapan Safira berhasil menghentikan Baron yang sedang memukuli Daffa sebelumnya, sedangkan Baron yang kesal dengan penuturan dari pujaan hatinya itu


pun mendekat ke arah Safira.


"Coba katakan sekali lagi, Neng." Titah Baron ketika dirinya sudah berada di


hadapan Safira.


"Akang seperti iblis!"


PLAK!


Sebuah tamparan dari tangan kekar, berhasil mendarat pada wajah Safira.

__ADS_1


BRAK!


Tiba-tiba saja pintu yang dijaga ketat oleh anak buah Baron berhasil di dobrak dari arah luar.


Laki-laki berpostur tinggi sebanyak sepuluh orang telah berhasil menerobos masuk ke bangunan tua yang dijadikan Baron sebagai tempat untuk menyekap Daffa dan Safira, padahal sebelumnya Baron sudah


menugaskan beberapa dari anak buahnya untuk berjaga di depan.


Namun kesepuluh laki-laki itu tetap saja bisa melumpuhkan para anak buahnya.


Baron yang merasa panik punbdengan cepat mengeluarkan pisau belati miliknya, dan menodongkannya ke arah Safira.


Sedangkan Daffa yang melihat itu pun seketika membelalakkan matanya sempurna.


"Brengsek! Jauhkan pisau itu dari istri gue!" Bentak Daffa penuh emosi.


Tidak lama, anak buah Baron yang lainnya pun datang, dan langsung berkelahi dengan para laki-laki yang menerobos masuk tadi.


"Apakah Tuan baik-baik saja?" Tanya salah satu laki-laki berpostur tinggi yang menghampiri Daffa.


Sedangkan Daffa yang merasa asing dengan wajah dari para laki-laki itu pun tidak banyak bertanya.


Salah satu laki-laki yang baru saja menghampiri Daffa pun langsung membantu melepaskan tali yang mengikat tangan dan juga kaki Daffa.


Ketika tangan dan kaki Daffa sudah berhasil terlepas dari ikatannya, Daffa pun langsung bangkit untuk menolong Safira.


"Jauhkan pisau itu sekarang juga! Titah Daffa kepada Baron.


"Itu tidak akan pernah terjadi! Jadi jangan banyak berimajinasi." Saut Daffa yang enggan menuruti keinginan Baron.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, jika aku tidak bisa memiliki Neng Fira, maka aku tidak akan membiarkanmu bisa memiliki dia juga!"


"Maksud lo apa?" Tanya Daffa yang mengulur waktu untuk mencari celah agar bisa menyerang Baron.


"Aku akan melenyapkan dia." Ucap Baron yang semakin mendekatkan pisau itu ke arah Safira.


Daffa hanya berkacak pinggang, kemudian membalikkan tubuhnya kebelakang, beberapa detik kemudian, Daffa pun langsung membalikkan badannya kembali seraya menendang kaki Baron.


BRUK.


Dengan cepat Daffa pun langsung menarik tangan Safira ketika Baron telah jatuh ke lantai.


Tidak ingin Baron kembali menyerang Daffa dan Safira, beberapa laki-laki berpostur tinggi itu pun siap mendaratkan pukulannya pada tubuh Baron.


"Jangan sentuh dia, biarkan saya sendiri yang akan menghabisinya !" Titah Daffa kepada beberapa laki-laki yang dia duga sebagai ajudan Bagaskara.


"Baik, Tuan muda." Jawabnya bersamaan.


"Sayang, kamu duduk di sini dulu ya. Jika kamu tidak sanggup melihatnya, kamu bisa pejamkan matamu." Titah Daffa kepada Safira ketika sudah melepaskan ikatan tali

__ADS_1


pada tangan istrinya.


"Mas, apa yang ingin kamu lakukan? Ku mohon jangan--" Belum sempat Safira menyelesaikan Ucapannya, Daffa sudah


memotongnya lebih dulu.


"Sayang, jangan khawatir. Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya ingin memberikan dia kenang-kenangan sąja." Ucap Daffa lalu pergi mendekat ke arah Baron.


BUGH.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Daffa dengan menggertakkan giginya.


"Cuih! Ini tidak menyakitkan sama sekali." Ucap Baron dengan meremehkan.


"Oh ya?"


BUGH.


BUGH.


BUGH.


"Itu kenang-kenangan dari gue untuk lo, Bajing*n sialan! Yang sudah berani menyentuh istri gue tadi." Ucap Daffa meluapkan emosinya dengan memberikan pukulan kepada Baron secara brutal.


"Kamu yang merebutnya dariku--"


BUGH.


"Belum kapok juga lo ternyata?! Gue akan pastikan lo, dan semua anak buah lo itu membusuk di penjara!" Kata Daffa dengan mencengkram rambut Baron kuat.


Dengan amarah yang sudah berada di puncaknya, Daffa pun terus menghajar Baron hingga laki-laki yang terobsesi dengan istrinya itu pun lunglai tak berdaya.


"Serahkan mereka kepada polisi sekarang juga!" Titah Daffa kepada kesepuluh laki-laki yang membantunya melumpuhkan semua komplotan Baron.


"Baik, Tuan muda."


Tidak ingin berlama-lama di sana, Daffa pun langsung membawa Safira dengan menggendongnya ke luar.


Saat Daffa sudah berada di luar bangunan tua itu, kelima ajudan Bagaskara terlihat baru saja tiba.


"Tuan muda, apakalh Tuan dan Nona baik-baik saja?" Tanya kelima ajudan Bagaskara.


"Kalian dari mana saja? Apakah kalian dibayar hanya untuk bermain-main, sehingga ajudan yang lain yang harus turun tangan."


"Apa yang Tuan maksud? Kami diperintahkan Tuan besar hanya berlima m saja. Dan maaf Tuan, tadi kami tiba-tiba diserang oleh segerombolan laki-laki sebanyak dua puluh orang."


"Jadi, sebelum aku dan Fira dibawa, rupanya Baron sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang ajudan Papah agar perhatiannya teralihkan, lalu anak


buah yang lainnya bisa dengan mudah membawaku dan Fira kemari? Cih! Cerdik juga bedebah itu." Gumam Daffa menyeringai.

__ADS_1


"Lantas siapa yang menolong saya tadi?" Tanya Daffa kepada kelima ajudan itu.


__ADS_2