
"Apa di dunia ini penjual kue klepon hanya dia? Pokoknya Oma tidak mau tahu, kamu harus segera mendapatkan kue klepon itu sekarang juga untuk cicit, Oma!" Titah Oma
Rahma kepada Daffa.
"Oma, masalahnya si Fira hanya ingin memakan kue klepon dari penjual itu saja, bukan yang lain." Kata Daffa.
"Tunggu sebentar." Ucap Oma Rahma lalu berdiri dari duduknya dan berjalan seraya berteriak memanggil seseorang.
"Roy... Roy... " Panggil Oma Rahma kepada ajudan pribadinya.
"Iya Nyonya besar, apa ada yang dibutuhkan?" Tanya Roy setelah berlari mendekat ke arah Oma Rahma.
"Tolong ke kantor Bagaskara sekarang, dan cari tahu alamat penjual kue klepon yang biasa keliling di sana." Titah Oma Rahma kepada ajudannya.
"Baik Nyonya besar."
Drt drt drt
"Tunggu, jangan pergi dulu. Aku angkat telepon ini sebentar. Siapa tahu dari penjual kue klepon itu." Cegah Daffa kepada Roy ketika mendapati panggilan masuk pada
ponsel miliknya.
Roy yang semula hendak pergi untuk melaksanakan tugas dari Oma Rahma pun mengurungkan niatnya sesaat.
"Halo, selamat siang." Ucap Daffa pada benda pipih miliknya.
'Siang, Tuan. Apa ini benar nomor Tuan Daffa?' Tanya laki-laki melalui sambungan Suara.
"Iya Pak, benar."
"Saya penjual kue klepon, Tuan.Saya mendapatkan nomor ini dari spanduk yang di pasang di depan kantor."
"Ini Abang penjual klepon? Saat ini lokasinya di mana Bang?" Tanya Daffa dengan cepat.
"Saya di depan kantor yang ada spanduk itu, Tuan."
"Tunggu di sana, dan jangan kemana-mana ya, Bang. Saya akan memanggil mobil truk untuk membawa Abang, beserta gerobaknya kemari."
"Saya bisa ke sana sendiri, Tuan. Tinggal diberitahu saja alamatnya di mana." Kata penjual kue klepon itu.
"Lokasinya jauh Bang, lagi pula istri saya sedang ngidam."
"Baiklah Tuan, saya akan menunggu di sini." Pungkas penjual kue klepon itu bersamaan
terputusnya sambungan suara.
__ADS_1
"Gimana, Daff? Ada penjual kue kleponnya?" Tanya Oma Rahma setelah Daffa selesai dari teleponnya.
"Ada Oma, kita tinggal menunggu saja di sini,"
"Syukurlah..." Ucap Oma dengan tersenyum lega.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Sebentar lagi kue kleponnya datang." Kata Daffa seraya mengusap lembut perut Safira dan menciumnya.
"Mas, sepertinya tidak perlu sampai memanggil mobil truk segala, untuk membawa gerobak penjual kue itu kemari." Ucap Safira yang merasa tidak enak karena merepotkan banyak orang.
"Itu harus sayang! Oma tidak ingin, jika Cicit Oma tidak kesampaian memakan kue itu." Timpal Oma Rahma.
Safira pun hanya menghela napasnya panjang. Tanpa mereka sadari dari balik
tembok ada Aida yang sedari tadi mendengarkan percakapan ketiganya.
Tidak ingin keberadaannya di ketahui, Aida pun dengan langkah pelan meninggalkan tempat yang saat ini menjadi persembunyiannya.
"Kacau! Kenapa bisa wanita miskin itu hamil sih! Daffa benar-benar bodoh, bagaimana bisa dia menitipkan benihnya pada wanita yang tidak memiliki kualitas yang baik!" Gerutu Aida ketika sudah
masuk ke dalam kamarnya seraya
memijat pelipisnya.
Terdengar suara mobil yang baru saja datang di halaman depan, namun bukan mobil milik Bagaskara yang biasa digunakan, atau pun mobil koleksi Bagaskara yang lain. Namun suara mobil ini cukup asing di dengar.
Daffa pun dengan cepat berlari ke depan untuk memastikan ucapan Oma Rahma.
"Sayang... Ayo ke depan, penjual kue kleponnya sudah datang." Kata Daffa dengan berlari ke arah Safira.
"Mas, gak perlu sampai berlari seperti itu. Lagi pula penjual kuenya tidak akan pergi kemana-mana." Tegur Safira kepada Daffa.
Dengan napas yang tersengal-sengal Daffa pun langsung menggendong Safira ala bridal style dan membawanya ke depan dikuti oleh oma Rahma di belakangnya.
"Mas, aku bisa jalan sendiri." Cicit Safira.
"Nggak, aku gak mau kamu capek sayang. Kasian anak kita nantinya." Ucap Daffa yang enggan menurunkan Safira.
Ketika sudah sampai di depan, Daffa pun pelan-pelan menurunkan Safira. Sedangkan Oma Rahma yang sudah tidak sabar pun buru-buru mencari penjual kue klepon itu.
"Bang, tolong buatkan kue klepon yang sangat enak ya. Kasian cicit saya sudah menunggu dari tadi." Kata Oma Rahma kepada penjual kue klepon yang baru saja keluar dari samping kemudi.
Padahal gerobaknya saja belum di turunkan dari mobil truk.
"Baik, Nyonya. Tunggu sebentar ya." Gerobaknya masih di atas soalnya Karena tidak sabar, Oma Rahma pun memanggil Roy.
__ADS_1
"Roy, tolong panggilkan seluruh ajudan beserta satpam dan tukang kebun lainnya agar kemari untuk membantu menurunkan gerobak itu secepatnya." Titah Oma Rahma yang geregetan.
"Baik, Nyonya besar." Ucap Roy lalu pergi.
Bagaskara yang baru saja tiba di halaman rumahnya, memicingkan matanya ketika melihat suasana yang cukup ramai tidak seperti biasanya.
Karena penasaran, Bagaskara pun segera turun dari mobilnya dan mendekat ke arah sekumpulan orang yang Bagaskara kenal.
"Ada apa ini?" Tanya Bagaskara yang baru saja bergabung dengan Ibu, dan anak menantu serta para pekerjanya.
"Ini Pah, kue kleponnya sudah datang." Saut Daffa yang sedang sibuk menyuapkan kue klepon itu kepada Safira.
"Loh? Bagaimana bisa penjualnya bisa kemari? Padahal jaraknya kan cukup jauh." Tanya Bagaskara bingung.
"Tuh.." Ucap Daffa dengan mengarahkan pandangannya ke arah mobil truk.
"Jadi, kamu membawa penjual beserta gerobaknya kemari dengan mobil truk itu?" Tanya Bagaskara tak percaya.
"Bukan Daffa, tapi sopir truknya yang membawa gerobak serta penjualnya kemari." Jawab Daffa dengan bergumam seraya menganggukkan kepalanya sebagai
jawaban.
"Sama saja, sopir itu tidak akan mengantarkan kemari, jika kamu tidak memanggilnya." Kata Bagaskara.
"Hehehe." Daffa hanya terkekeh.
"Apa Papah mau kue kleponnya?" Tanya Safira menawarkan.
"Tentu saja Papah mau, Papah juga penasaran dengan rasa kue yang sedang cucu Papah inginkan," Jawab Bagaskara.
"Oh iya, Fira. Apa perlu Papah pekerjakan penjual kue ini di rumahmu? Jadi, jika sewaktu-waktu kamu menginginkan kue klepon ini lagi, kamu tidak perlu pakai acara menunggu, bagaimana?" Tanya
Bagaskara yang membuat Safira tersedak mendengarnya.
Pasalnya tawaran dari mertuanya itu sungguh berlebihan menurut Safira.
"Tidak perlu, Pah. Lagi pula keinginan seperti ini hanya sewaktu-waktu saja." Ucap Safira kepada Bagaskara.
"Ya sudah, tapi jika kamu menginginkan yang lain, jangan sungkan untuk mengatakan kepada Papah ataupun Oma, ya."
"Iya, Pah.,"
Secara tidak sengaja, Bagaskara melihat ke arah jendela kamar Aida, yang terlihat Aida sedang melihat ke arahnya saat ini. Sedangkan Aida yang menyadari bahwa Bagaskara melihat ke arahnya, Aida pun
buru-buru menutup gorden Bagaskara yang selesai mencicipi beberapa kue klepon pun
__ADS_1
memutuskan untuk menemui Aida di kamar.
"Kalau gitu Papah masuk duluan ya, nanti kita lanjutkan lagi obrolannya saat makan malam." Pungkas Bagaskara sebelum masuk ke dalam rumahnya.