Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
68. Tamparan Dari Oma


__ADS_3

"Bagaimana, dok? " Tanya Daffa tidak sabar, ketika dokter Kayla selesai dari memeriksa Safira.


"Semuanya baik baik saja tuan."


"Syukurlah." Gumam Daffa lega seraya menyenderkan diri nya pada dinding tembok.


"Maafkan suami saya dok, jika permintaan nya terlalu merepotkan." Ucap Safira yang merasa tidak enak.


"Iya, nona. Tidak apa-apa"


Tiba tiba saja ponsel milik Daffa bergetar, terlihat nama oma Rahma pada layar ponsel milik Daffa.


"Halo oma, assalamu'alaikum." Ucap Daffa saat menerima panggilan suara dari oma Rahma.


"Wa'alaikumussalam, kamu sekarang lagi di mana Daff? Oma ada di depan rumahmu, tapi tidak ada orang' Kata oma Rahma.


"Daffa lagi di rumah sakit, oma"


'Apa? Kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang, oma akan menyusul kalian ke sana'


"Nggak perlu oma, lagi pula Daffa dan Fira sekarang mau pulang"


'Bagaimana keadaan Fira sekarang?' Tanya oma Rahma.


"Alhamdulillah baik-baik saja, oma. Kalau begitu Daffa pulang dulu ya, assalamu'alaikum"


'Iya Daff, hati-hati di jalan.Wa' alaikumussalam' Pungkas oma Rahma dengan menutup sambungan Suara.


"Mas, oma bilang apa? " Tanya Safira ketika Daffa sudah selesai dari percakapan melalui telepon nya.


"Oma saat ini berada di rumah kita sayang" Jawab Daffa.


"Sebaik nya kita cepat pulang mas sekarang. Kasihan oma, pasti beliau menunggu kita di luar" Kata Safira.


Saat mobil milik Daffa telah sampai di halaman rumah milik Daffa dan Safira. Dengan cepat Safira pun turun dari mobil milik Daffa dan menghampiri mobil milik oma Rahma yang terparkir tidak jauh dari


rumahnya.


Karena sebelumnya, ketika oma Rahma baru saja sampai di kediaman Daffa dan Safira mendapati gerbang rumahnya terkunci, jadi oma Rahma pun memilih menunggu kedatangan kedua nya di dalam mobil milik nya.


"Assalamu'alaikum oma" Ucap Safira dengan mencium tangan oma Rahma bersamaan dengan Daffa.


"Wa'alaikumussalam sayang aduh, harus nya kamu menunggu di depan rumah saja sayang. Nanti oma juga kan akan ke sana. " Kata oma Rahma kepada Safira.


"Nggak papa, masuk yuk oma. Maaf ya, buat oma jadi menunggu lama. " Ajak Safira dengan menggandeng tangan oma Rahma lembut.


"Nggak papa sayang."


Saat Safira dan oma Rahma sudah masuk ke dalam rumah milik Daffa dan Safira, Safira pun mempersilahkan oma Rahma untuk duduk di sofa diikuti oleh Daffa


setelahnya.

__ADS_1


Melihat jarak dirinya dan Daffa tidak terlalu jauh, oma Rahma pun tiba tiba menjewer telinga Daffa dengan cukup keras, membuat Daffa meringis kesakitan.


"Bisa bisanya kamu tidak memberitahu oma, kalau Fira disandera oleh Friska!" Ucap oma Rahma kesal.


"Aww, sakit oma. Lepaskan. " Pekik Dafa kesakitan.


"Nggak! Kamu harus oma beri pelajaran."


"Bagaimana oma bisa tahu?" Tanya Daffa dengan telinga yang masih di jewer.


"Oma tahu dari berita di televisi!" Jawab oma Rahma.


"Maaf oma, Daffa tidak sempat memberitahukan karena siang tadi Daffa panik"


"Lain kali, jika ada hal seperti ini segera beritahu oma" Titah oma Rahma kepada kedua nya.


Tidak terasa, oma Rahma sudah setengah jam berada di kediaman milik Daffa. Tidak ingin menganggu waktu istirahat Safira, oma Rahma pun akhirnya pamit untuk pulang.


"Daffa, jaga Fira baik-baik! Kalau ada apapun segera hubungi oma. Oma tidak ingin Safira terluka sedikitpun."


"Iya oma, tenang saja. " Saut Daffa.


"Fira, oma pulang dulu ya nak. Lain waktu mampirlah main ke sana." Kata oma Rahma kepada Safira dengan lembut.


"Iya oma, insya Allah nanti Fira dan mas Daffa main ke sana.


"Assalamu'alaikum" Ucap oma Rahma setelah Safira dan Daffa mencium tangan nya.


"Hati hati di jalan ya oma. Sambung Safira.


"Iya nak."


Mobil milik oma Rahma pun telah melaju membelah jalan raya dengan di kemudikan oleh Roy, sang ajudannya.


"Roy, antarkan saya untuk menemui wanita ****** itu di penjara" Titah oma Rahma kepada ajudan nya.


"Baik, nyonya besar. " Jawab Roy.


***


"Oma... " Panggil Friska ketika baru saja tiba di ruangan khusus kunjungan dengan ditemani seorang petugas kepolisian.


Sedangkan oma Rahma yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Friska pun hanya menatap ke arah nya dingin tanpa


mengeluarkan suara dan reaksi apa pun.


"Oma apa kabar? Bagaimana oma bisa tahu aku berada di sini?" Tanya Friska dengan tersenyum, sepertitidak melakukan kesalahan sebelum nya.


"Aku tahu kalau Daffa yang meminta oma kemari untuk membebaskan aku kan? " Ucap Friska dengan meraih tangan oma Rahma.


Namun dengan cepat oma Rahma pun menepis tangan Friska ketika hendak meraih tangan nya.

__ADS_1


"Oma... " Gumam Friska lirih yang tak percaya dengan sikap dingin oma Rahma terhadap nya.


PLAK


"Oma, apa salahku? Kenapa oma menampar wajahku?" Tanya Friska dengan memegangi sebagian wajah nya yang baru saja mendapati tamparan.


"Kamu masih tidak tahu apa salahmu Baiklah, saya akan memberitahumu agar kamu paham, di mana letak salahmu!" Kata oma Rahma dengan menaikkan nada


bicara nya.


PLAK


Untuk kedua kalinya oma Rahma menampar wajah Friska, membuat friska membelalakkan mata nya sempurna.


"Harusnya kamu sudah paham di mana letak salahmu sekarang, setelah mendapatkan dua tamparan dari saya!"


Namun Friska hanya tersenyum simpul ketika mendapati tamparan di wajahnya kembali.


"Jadi ini karena cewek sialan itu." Kata Friska dengan suara penuh penekanan.


"Jaga bicaramu! Saya tidak akan tinggal diam jika ada yang berani menyentuh dia apalagi menyakiti nya!" Bentak oma Rahma.


"Hahaha kenapa? "


"Saya tidak akan membiarkanmu sedikitpun menyentuh Safira. Dan, saya akan pastikan kamu mendekam di sini dalam waktu yang lama agar kamu jera!"


Ancam oma Rahma dengan rahang mengeras. Setelah mengatakan itu, oma


Rahma pun berdiri dari posisi nya saat


ini, dan pergi meninggalkan Friska.


BRAK


"Argh.. Ini semua karena oma! Jika saja oma tidak menjodohkan Daffa dengan cewek sialan itu, ini semua tidak akan terjadi!" Teriak Friska dengan menggebrak meja yang membuat langkah oma Rahma


terhenti, dan berbalik lagi ke arah nya.


"Kalaupun Daffa tidak menikah dengan Safira, saya pun tidak akan membiarkan Daffa untuk menikah denganmu, ******!" Ucap oma Rahma lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Sial! Dasar tua bangka!" Teriak Friska dengan menatap kepergian oma Rahma.


***


"Sayang, sayang. " Panggil Daffa dengan menuruni anak tangga satu persatu untuk mencari keberadaan Safira.


Ketika Daffa mendengar ada aktivitas di dapur, Daffa pun mempercepat langkah nya.


"Sayang, sudah ku katakan jangan banyak bergerak kan?" Kata Daffa dengan memeluk Safira dari belakang dan mendaratkan dagu nya pada pundak Safira.


"Mas Daffa... Tapi aku harus menyiapkan untuk makan malam, lebih baik mas Daffa duduk saja, dan tunggu sampai makan malam nya siap.

__ADS_1


__ADS_2