
"Mas, ada Oma datang. " Kata Safira yang baru saja masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Oma Rahma di
"Oma. " Saut Daffa dengan berbaring di atas kasur.
"Bagaimana keadaanmu Daff? Apa kamu sudah menghubungi Dokter Kayla untuk kemari agar memeriksamu? " Tanya Oma Rahma.
"Bagaimana Oma tahu jika Daffa sedang sakit?"
"Papahmu yang memberitahu Oma, kalau begitu Oma akan hubungi Dokter Kayla dulu, agar kemari untuk memeriksa keadaanmu."
Oma Rahma pun mengambil benda pipih miliknya di dalam tas untuk menghubungi Dokter Kayla.
Tiba-tiba saja suara bel kembali berbunyi, Safira pun kembali turun untuk membukakan pintu depan.
Ceklek.
Baru saja Safira membukakan pintu, wanita paruh baya langsung menerobos masuk dengan tatapan tajam.
"Mamah..." Panggil Safira seraya meraih tangan Aida berniat untuk menciumnya.
Namun dengan cepat Aida langsung menepis tangannya yang hendak di raih oleh Safira. Dan langsung berjalan menaikki anak tangga satu persatu untuk menemui Daffa.
Safira yang baru saja diacuhkan oleh mertuanya pun hanya menghela napasnya panjang untuk menata kesabarannya.
"Daffa. " Panggil Aida yang baru saja masuk ke kamar. Dikuti Safira di belakangnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kepada mamah jika kamu sakit sih! Kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya mamah saat mendengar kamu sakit. " Kata Aida melanjutkan Oma Rahma yang melihat
kedatangan Aida pun hanya memberikan ekspresi datar.
"Bagaimana kamu ini! Masa mengurus suami saja tidak becus! " Bentak Aida kepada Safira.
"Ma-maaf, Mah" Gumam Safira lirih.
"Mamah! Jangan salahkan Safira, tidak ada kaitan sakitnya Daffa dengan dia. Lagi pula Fira sudah merawat Daffa dengan sangat baik." Kata Daffa membela Safira.
Aida pun mendengus kesal ketika Daffa begitu membela istrinya.
"Sekarang kamu sudah beran membentak Mamah hanya karena wanita ini, Daff? Pasti dia sudah mempengaruhimu kan?!"
"AIDA! Cukup." Bentak Oma Rahma yang sedari tadi sudah geram melihat menantunya terus menyalahkan Safira.
"Bu.." Gumam Aida lirih ketika mendapati bentakan dari wanita yang tidak lagi muda.
"Harusnya kamu tidak perlu kemari jika terus membuat masalah." Ucap oma Rahma dengan menaikkan nada bicaranya.
"Mas Daffa, aku ke dapur dulu ya." Ucap Safira yang membuat atensi ketiga orang lainnya beralih ke arahnya.
"Iya sayang."
__ADS_1
Safira pun memutuskan keluar dari kamarnya dan memberikan ruang untuk ketiga orang berbeda generasi itu.
"Apa kamu sudah makan Daff? " Tanya Aida kepada Daffa.
"Belum mah. " Jawab Daffa seadanya.
"Lihat Bu, padahal matahari sudah tinggi. Tapi Daffa belum juga sarapan. Apalagi suaminya sedang sakit, istri macam apa itu!" Kata Aida membicarakan Safira dengan geram.
"Mah, Safira sudah memberikan Daffa sarapan tadi. Tetapi Daffa memuntahkannya dan tidak ingin memakannya. " Tutur Daffa.
"Pasti karena istrimu tidak becus masak kan? Jadi kamu tidak ingin memakannya karena rasanya tidak enak. "
"Bukan mah, perut Daffa memang--"
Ucapan Daffa terhenti ketika Oma Rahma dengan cepat memotongnya.
"Bisa tidak jangan terus menyalahkan menantumu itu, Ibu tahu kamu tidak menyukainya. Tapi tidak seharusnya semua kesalahan yang kamu pikirkan itu di lemparkan kepada Fira. Apa tidak bisa bertanya baik-baik, kenapa Daffa melewatkan sarapannya?"
"Benar apa yang Oma katakan mah, Daffa melewatkan sarapan bukan karena masakan istri Daffa yang tidak enak. Tetapi karena perut Daffa memang sedang bermasalah, kerap kali Daffa memakan sesuatu, langsung Daffa muntahkan saat itu juga. "
"Mas, ada Dokter Kayla datang. "
Ucap Safira dengan membawa nampan berisi lima gelas air beserta camilan ringan lainnya.
"Selamat pagi Tuan, bagaimana kabarnya?" Sapa Dokter Kayla kepada Daffa.
Dokter Kayla pun mulai memeriksa keadaan Daffa dan menanyakan keluhan yang Daffa rasakan. Sesaat Dokter Kayla pun melirik ke arah Safira dengan
tersenyum penuh arti.
"Saya sarankan, Tuan dan Nona coba untuk menemui Obgyn, karena yang saya tangkap dari keluhan tuan itu seperti sindrom couvade, atau biasa dikenal dengan sebutan kehamilan simpatik. " Ujar Dokter
Kayla.
Terlihat raut wajah sumringah yang langsung terpancar pada wajah Daffa ketika mendengar ucapan Dokter Kayla.
Begitu pula dengan Oma Rahma. Sedangkan Aida hanya bergeming tidak memasang ekspresi apa pun.
"Sayang, kemarilah. " Titah Daffa kepada Safira agar mendekat ke arahnya.
Safira pun menuruti dan berjalan ke arah Daffa.
"Jadi ini, yang membuat Papah tidak nafsu makan. " Ucap Daffa seraya mengusap perut Safira.
CUP.
"Sehat-sehat ya sayang, di dalam perut Mamah. " Lanjut Daffa kembali setelah mencium perut Safira.
"Mas Daffa. " Gumam Safira lirih dengan wajah yang sudah merah padam.
__ADS_1
Daffa pun memeluk perut Safira dengan sangat erat seraya menciumi perut Safira tanpa henti.
"Ingat, Dokter Kayla baru menyarankan. Jadi belum di pastikan bahwa istrimu itu hamil. " Sindir Aida dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Oma Rahma hanya menggelengkan kepalanya yang tak habis pikir melihat sikap Aida. Tidak ingin mengacaukan suasana, Oma Rahma pun memutuskan untuk mengajak Aida pulang.
"Daffa, Fira. Oma pulang dulu ya. Oma tunggu kabar baik dari kalian, " Ucap oma Rahma.
"Iya Oma, salam buat Papah ya. " Jawab Daffa.
"Iya nak, assalamu'alaikum," Pungkas Oma Rahma.
"Ayo pulang!" Lanjut Oma Rahma kembali seraya menarik tangan Aida.
"Tidak Bu, aku masih ingin bersama Daffa di sini. " Kata Aida dengan mencoba melepaskan tangannya dari Oma Rahma.
"Daffa butuh istirahat banyak, lebih baik kita pulang sekarang." Titah Oma Rahma dengan terus menarik tangan Aida.
"Tapi Bu--"
"Sudah jangan banyak bicara!" Oma Rahma terus menarik tangan Aida.
Aida pun akhirnya pasrah menuruti Oma Rahma untuk pulang. Dan dikuti oleh Dokter Kayla setelahnya.
"Mas Daffa sarapan dulu ya?" Tanya Safira setelah mengantarkan para tamunya ke depan.
"Perutku sangat mual sayang, sungguh. Rasanya aku ingin makan rujak saja untuk saat ini."
"Lihat kondisi mas Daffa sekarang, mas Daffa terlihat begitu pucat."
"Hmm, oh iya sayang. Bagaimana jika kita ke Obgyn sekarang? Aku sudah tidak sabar ingin memastikan ucapan Dokter Kayla tadi. " Ucap Daffa tidak sabar.
"Tidak, sebelum mas Daffa sarapan dulu. "
"Sayang.. " Gumam Daffa lirih dengan raut wajah memelas.
Sedangkan Safira tidak menanggapi ekspresi dari wajah suaminya, Safira justru berjalan ke arah pintu dan akan keluar kamar.
"Baiklah, aku akan sarapan." Kata Daffa saat Safira hendak meraih gagang pintu.
Setelah Safira dan Daffa mendengarkan penjelasan dari Dokter spesialis kandungan, keduanya pun saling memandang.
"Mas... Aku hamil." Ucap Safira penuh haru.
"Iya sayang, aku mendengarnya." Kata Daffa seraya memeluk Safira.
Siapa sangka jika laki-laki yang dulunya sedingin es balok bahkan sampai menangis ketika mendengar bahwa istrinya tengah mengandung darah dagingnya sendiri.
"Kita akan segera memiliki anak, Mas, "
__ADS_1