
Prankkkk...
Gelas kaca itu jatuh begitu saja dari lengan mungilnya sesaat dia menerima kabar dari jack bahwa Sean di larikan ke rumah sakit.
"NYONYA..." Teriak Jack cukup terkejut, dia segera menghampiri Nyonya nya yang terlihat hampir saja terjatuh.
"S-sean.." Gumam Crystal berdesir, sekujur tubuhnya bergetar, hatinya penuh dengan rasa yang tak bisa dia tafsirkan sendiri olehnya. Dia meremas dadanya, air matanya tumpah. "S-sean, bawa Aku ke Sean.." Ujarnya dengan wajah yang memucat.
"Tenang Nyonya, saat ini Tuan Sean tengah mendapat perawatan Insentif dari Dokter." Ucap Jack, mencoba menenangkan suasana hati Crystal.
"Tidak Jack, bawa Aku ke Sean sekarang." Ujar Crystal tetap memaksa kehendaknya.
"Saya akan mengantar Anda ke tempat Tuan Sean, tapi Saya mohon tenangkan diri Anda terlebih dahulu Nyonya." pinta Jack menatap wajah Crystal.
Crystal menatap Jack, sedikit demi sedikit dia mulai tidak memberontak dan berusaha menenangkan pikirannya.
"Maaf Jack, Aku benar-benar takut Sean kenapa-kenapa." ucap Crystal dengan suara yang berat menahan tangisnya.
"Tidak apa Nyonya, saya mengerti." Jawab Jack, mencoba membantu Crystal untuk berjalan.
"Lebih baik Nyonya duduk terlebih dahulu, tenang kan pikiran Nyonya. Saya akan menyiapkan mobil untuk pergi ke Rumah Sakit di mana Tuan di rawat."
Crystal hanya mampu menganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan Jack.
Jack pun meninggalkan Crystal, menyiapkan mobilnya.
......***************......
Setelah setengah jam perjalanan, tibalah Crystal dan Jack di Rumah Sakit di mana Sean di bawa oleh Kai. Tanpa menunggu lama, Crystal melangkah dengan tergesa mengikuti Jack menuju ruangan yang di tunjukan Jack padanya.
Jack yang berada di samping nya menatap khawatir Nyonya nya, tak bisa di pungkiri wajah Crystal sangat pucat pasi.
"Nyonya, di sini." Ujar Jack, setelah sampai di depan pintu ruang VVIP.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, Crystal langsung menerobos masuk ke ruangan Sean berada.
"Sean.."
Kai yang sejak tadi menemani adiknya, Sean. Langsung mengalihkan pandangannya ke arah Crystal. "Crystal..." Gumamnya pelan.
"Apa yang terjadi sebenarnya, kau kenapa.." Ucap Crystal bertanya-tanya dengan suara yang bergetar, lengannya mengusap wajah yang terlihat lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Intrupsi Kai, mencoba menenangkan Crystal. Tapi, sepertinya Crystal benar-benar terpukul dengan mengenai kondisi Sean. Sehingga wanita itu tak sekalipun menyahuti ucapan Kai.
"Panggilkan Dokter..." ucap Crystal di tengah keheningan ruangan itu.
Jack menatap Kai mencoba meminta persetujuan.
Kai hanya mengangguk pelan, sambil menyenderkan kepalanya pada kursi menatap penuh kekhawatiran mengenai kondisi adik dan adik iparnya.
Beberapa menit setelah Jack keluar, dia kembali lagi dengan seorang Dokter pria yang sudah paruh baya.
Crystal menatap Dokter dan bertanya, "Bagaimana kondisi Suamiku? Katakan padaku bahwa dia baik-baik saja."
Mendapati pertanyaan itu, sang Dokter hanya bisa menarik nafas dalam. "Kami baru akan mengetahuinya setelah hasil CT Scan Tuan Sean keluar, Nyonya. Dan butuh waktu 1x24 jam untuk mengetahui hasilnya, kami akan memberitahukan secepat mungkin kepada Anda setelah hasilnya keluar." Jelas Sang Dokter.
Crystal mengepalkan tangannya kuat saat mendengarkan penjelasan mengenai Suaminya, dia tau ini tidak baik-baik saja.
"D-okter, tolong ka-takan diagnosa yang kau lihat dari suamiku?" Crystal menatap Dokter itu dengan wajah serius. "T-olong katakan padaku." pinta Crystal sekali lagi.
Jack dan Kai merasa cemas, keduanya merasa khawatir apa yang akan terjadi jika Crystal mengetahui kondisi Sean yang sebenarnya.
"Dokter, tolong katakan." lagi, Crystal meminta penjelasan mengenai kondisi Sean dengan suara yang memelas. "Saya mohon."
Dokter menatap ragu ke arah Crystal, kedua matanya menatap Kai.
Kai sendiri, hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Mungkin ini memang jalan terbaik dengan Crystal mengetahui kondisi Sean.
__ADS_1
"Nyonya, Anda tidak perlu-"
"Diamlah Jack, " potong Crystal, kedua matanya menatap intens sang Dokter.
"Sebaiknya Anda menerima nya dengan lapang dada Nyonya," ujar Dokter, membuat Crystal mengerutkan dahinya bingung.
"Tuan Sean, memiliki tumor di kepalanya." Ucap Dokter.
Kedua bola mata Crystal terbelalak mendengar hal itu, omong kosong macam itu. Dia mengalihkan wajahnya ke arah Sean yang masih terbaring lemah, dia... kenapa? Hati Crystal terus berkecamuk.
"Kita harus mengoperasinya bukan? kenapa tidak segera Anda lakukan." Crystal menatap tajam Dokter paruh baya itu, kedua lengannya gemetar bahkan mungkin seluruh tubuhnya.
"Crystal, tenanglah." timpal Kai.
"Ckk, tenang? Oppa bilang tenang?" Crystal berbicara sambil mendesis, air matanya telah jatuh dari kelopak matanya yang memerah.
"Maaf Nyonya, tapi presentasinya kecil karena tumor ini telah menjadi ganas." Dokter kembali menjelaskan kondisi Sean. "Kami akan menunggu hasil CT Scan dan mencoba mencari cara untuk kebaikan Pasien....."
Dokter terus menjelaskan apa yang akan mereka lakukan untuk menangani Sean, namun semuanya terasa mengambang. Crystal tak dapat mencerna semuanya, hatinya merasa sakit kepalanya terus berputar memikirkan semuanya membuat nya sakit.
Kai menatap Crystal yang gak bergeming, "Baiklah Dokter, terimakasih untuk penjelasannya Anda boleh pergi sekarang." Ucap Kai dirasa cukup.
"Baik Tuan, saya pamit undur diri."
Tepat pintu itu tertutup setelah kepergian Dokter.
"CRYSTAL"
"NYONYA"
Teriak keduanya panik, Jack yang posisinya dekat dengan Crsytal langsung dengan sigap menahan tubuh Crystal yang hendak jatuh ke lantai.
Kai langsung menghampiri dan membantu Jack memapah Crystal yang pingsan.
__ADS_1