Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
91. Kesalahpahaman


__ADS_3

SEBELUMNYA.


Di tengah perdebatan kecil antara Daffa dan Aida di rumah sakit, ternyata ada Kartika yang diam-diam sengaja menguping pembicaraan keduanya dari jarak yang tidak begitu jauh dari kamar inap Safira.


Kartika merasa puas ketika Aida disudutkan oleh Daffa, itu berarti rencana yang dia susun bersama Mamahnya, pun berjalan dengan mulus.


Kartika terus menyeringai sepanjang dia mendengarkan perdebatan antara Anak dan Ibu itu.


"Selamat menikmati rasa sakit yang aku rasakan, Tan. Bagaimana rasanya disudutkan Seperti itu? Aku akan buktikan, bahwa ucapanku bukan main-main." Monolog Kartika ketika melihat Aida pergi dari hadapan Daffa.


Hari ini Kartika Seperti mendapatkan doorprize besar, bukan hanya Aida saja yang berhasil Kartika buat wanita itu merasa tersudutkan, namun Safira, pun menyingkir dengan sendirinya tanpa Kartika minta.


"Bagaimanapun, pemenang akan selalu menang!" Ucap Kartika menyeringai.


Tidak lama, Kartika tersentak kaget ketika melihat Daffa berjalan menyusuri setiap sudut rumah sakit itu. Kartika yang tidak ingin persembunyiannya diketahui oleh


Daffa, tanpa pikir panjang Kartika langsung buru-buru pergi dari tempatnya saat ini dengan berlari.


Namun, karena dirinya panik, bukannya Kartika pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya, Kartika justru terus berlari hingga sanmpai di bahu jalan.


Dengan pandangan yang terus melihat ke arah belakang untuk memastikan bahwa dirinya telah jauh dari jangkauan mata Daffa, tiba-tiba saja Kartika tersentak kaget hingga terjatuh ketika dirinya hampir


tertabrak oleh sebuah mobil berwarna


hitam.


Rosa yang melihat ekspresi tidak biasa dari Agatha, pun lekas bertanya.


"Apakah kamu mengenal dia, Ta"


Sebelum Agatha menjawab pertanyaan dari Ibunya, Agatha buru-buru menarik tangan Rosa yang semula Rosa ulurkan ke arah wanita yang hampir Agatha tabrak tadi.


"Aku tidak mengenalnya, Mah. Hanya sąja yang ku tahu bahwa wanita itu adalah ular. Lebilh baik kita pergi saja dari sini, Mah. Jangan mengotori tangan kita untuk


membantu ****** seperti dia."


"Bedebah! Beraninya lo menyebut gue seperti itu!" Ucap wanita itu, beranjak berdiri dari posisi sebelumnya.


"Tapi ucapan gue gak salah 'kan, Tik?" Ejek Agatha meremehkan.


Kartika yang merasa kesal karena dirinya telah dihina, pun akhirnya melayangkan salah satu tangannya untuk memberikan tamparan pada wajah Agatha.


"Fira, Fira.." Tiba-tiba saja suara Daffa terdengar di telinga ketiga orang di sana, yang membuat Kartika mengurungkan niatnya untuk menampar wajah Agatha.


Karena posisi mobil Agatha yang saat ini tengah berhenti persis di depan jalan rumah sakit, sehingga suara Daffa yang terus memanggil ketiga orang tersebut.


Agatha pun menoleh ke arah Daffa berada, kemudian berganti ke arah Kartika yang saat ini terlihat begitu panik dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


"Sial!" Umpat Kartika sebelum bergegas pergi.


"Tunggu, mau kemana lo, Tik?" Cegah Agatha meraih tangan Kartika berniat untuk menahannya, sampai Daffa melihat keberadaan Kartika berada.


"Lepasin tangan gue!" Kata Kartika mencoba memberontak dari cengkraman Agatha.


"Nggak akan!" Tolak Agatha tegas.


Kartika yang sudah panik bukan main, akhirnya menendang bagian sensitiv milik agatha dengan cukup keras, agar dirinya bisa terlepas dari cengkraman Agatha.


"Aww!" Pekik Agatha meringis kesakitan.


"Mampus lo!" Umpat Kartika sebelum pergi meninggalkan Agatha.


Daffa terus berjalan mencari keberadaan Safira hingga keluar dari area rumah sakit. Sepanjang bahu jalan terus Daffa susuri dengan harapan bisa menemukan keberadaan istrinya yang Daffa yakini belum begitu jauh, melihat kondisi Safira


yang belum begitu baik pasca kecelakaan yang dialaminya.


"Sayang, kamu di mana sebenarnya." Gumam Daffa, dengan mengedarkan pandangannyak ke setiap penjuru tempat.


Namun, tiba-tiba saja langkah Daffa terhenti di depan sebuah mushola kecil yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah sakit.


Entah mengapa kaki Daffa ingin sekali masuk ke dalam mushola itu, entah karena Daffa yang ingin beristirahat sejenak di sana, atau karena alasan yang lainnya.


Dengan langkah ragu-ragu, Daffa memutuskan untuk mengikuti keinginan hatinya untuk masuk ke dalam mushola tersebut.


"Fira..." Gumam Daffa dalam hati, dengan mata berbinar bahagia ketika mendapati istrinya baik-baik saja.


"Ya Allah, Maafkan aku yang memilih lari seperti ini, aku tahu tindakan ku ini tidak baik, aku tahubtidak semestinya aku pergi seperti ini. Tetapi aku terlalu takut ya Allah, aku takut jika keselamatan anakku terancam, aku tidak ingin anakku bernasib sama dengan kedua orang tuaku dulu. Jika ini takdir yang harus aku jalani, ku mohon kepada-Mu ya Allah, lembutkan hati Mamah Aida agar beliau bisa menerimaku dengan hati yang lapang." Ucap Safira dalam doanya dengan isak tangis.


Daffa yang sudah duduk di belakang Safira, pun turut mendengar untaian doa yang baru saja dipanjatkan oleh istrinya itu.


Safira yang mendengar suara napas dari seseorang di belakangnya, langsung menoleh ke arah tersebut.


Safira tersentak kaget ketika mendapati keberadaan Daffa di sana.


"Mas Daffa..." Gumam Safira lirih, yang masih terdengar oleh Daffa.


Tanpa mengatakan apa pun Daffa langsung memeluk Safira erat.


"Sayang, bukankah kamu pernah berjanji saat kita honeymoon dulu, bahwa kamu tidak akan meninggalkanku?" Tanya Daffa yang masih memeluk Safira.


"Iya, Mas. Aku mengingatnya, maafkan aku telah perg--"


CUP.


Ucapan Safira terhenti ketika Daffa mendaratkan sebuah kecupan pada bibir mungil Safira yang dilapisi oleh cadar.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu, sayang. Aku yang tidak menjagamu dengan baik."


"Tidak, Mas. Ini kesalahanku."


CUP.


Untuk kedua kalinya, Daffa mendaratkan kecupannya agar Safira berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa kamu mendengar percakapanku dengan Mamah saat di rumah sakit tadi?" Tanya Daffa lembut.


Namun Safira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sayang, aku mengatakan itu hanya berdasarkan dugaan saja, belum disertai bukti. Belum tentu juga Mamah yang melakukan ini semua, jadi maafkan aku yang membuatmu jadi salah paham seperti


ini," Ucap Daffa memaparkan.


"Lebih baik kita kembali ke rumah sakit, ya?" Ajak Daffa yang berharap Safira menyetujuinya.


"Iya, Mas." Ucap Safira setuju.


***


Agatha yang tengah menyetir mobil, pun tidak lepas dari banyak pertanyaan mengenai gerak-gerik Kartika yang terlihat begitu gugup saat mendapati Daffa di sana.


Seolah Kartika benar-benar menghindari laki-laki itu, padahal Kartika sebelumnya begitu gencar untuk merebut Daffa dari Safira.


"Apakah wanita ular itu telah membahayakan Safira?" Monolog Agatha dalam hati.


"Ta, bagaimana bisa kamu mengenal wanita tadi?" Tanya Rosa, yang berhasil menyadarkan agatha dari lamunannya.


"Aku tidak mengenalnya, Mah. Aku hanya tahu saja." Jawab Agatha, yang membuat Rosa mengerutkan keningnya samar.


"Tidak mengenal, tapi hanya tahu? Bagaimana sih Ta, maksudnya?" Tanya Rosa kembali, yang masih dilanda rasa penasaran.


"Aku tahu dia, saat aku menolong seorang wanita, Mah."


"Menolong? Sejak kapan kamu suka ikut campur dengan urusan orang lain?" Tanya Rosa penuh selidik.


"Bukankah sesama manusia memang harus saling menolong ya, Mah?" Jawab Agatha menghindari kontak mata dengan Rosa.


"Jangan-jangan kamu menyukai wanita yang kamu tolong itu, ya? Iya,kan Ta? Dugaan Mamah benar, 'kan?" Tanya Rosa menerka-nerka.


"Apa sih, Mah." Jawab Agatha yang fokus melihat ke arah depan, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh


selidik.


"Jadi dia, yang membuat kamu menolak perjodohan itu, dan menolak belajar bisnis di Amerika." Kata Rosa menggoda Agatha.

__ADS_1


"Aku tidak berhak menyukainya, Mah. Karena dia sudah menjadi milik orang lain." Gumam Agatha dalam hati.


__ADS_2