
"Fiona ada di balkon atas kak.. belum turun dia!!" sahut Arga yang sadar melihatku celingukan kanan kiri. Aku membalasnya dengan anggukan kecil.
Arga bilang, Fiona takut menemuiku setelah perbincangan kami yang kurang mengenakkan kemarin. Pantas saja dia tidak berani turun menyambut kedatanganku.
Bukan salah Fiona sih..saat marah dan emosiku sedang tidak stabil, aku berpotensi untuk melakukan hal-hal yang diluar batas. Tidak lain tidak bukan, ini adalah salah satu efek dari Post-Traumatic Stress Disorder yang kualami.
Apakah aku sudah sembuh? No! Sampai detik ini, aku masih konsultasi dengan psikiater dan dokter khusus yang menanganiku. Rupanya kenangan burukku di masa lalu masih terus menghantui dan tidak pernah mau hilang dari mimpiku di setiap malam. Aku masih harus berjuang untuk kesembuhanku.
Tapi, dalam dua tahun terakhir belakangan kondisiku mulai membaik dari sebelum-sebelumnya. Paling tidak aku sudah ber-progress! Buktinya saat Fiona dan Papa membahas tentang topik pernikahan, aku tidak lagi membanting barang-barang yang ada di sekitar.
Marah memang iya, tapi dengan sekuat tenaga aku memilih pergi sebelum kebablasan. Sebuah upgrade, karena biasanya rumah berubah jadi kapal pecah kalau aku sedang tidak terkendali.
Menahan amarah yang sudah hampir diubun-ubun tentunya memiliki after effect tersendiri bagiku. Sekujur tubuhku keringat dingin, kepalaku pusing, dan rasanya ingin mengeluarkan semua yang ada didalam perutku. Ya..segitu buruknya memang! Seperti yang kurasakan saat ini...
Aku baru saja mengelap mulutku dengan air dari wastafel setelah memuntahkan seluruh isi perutku. Ini adalah after effect yang aku maksud. Efek dari pembicaraanku dengan papa yang membahas soal pernikahan di halaman rumah tadi. Atau bisa jadi, ini karena aku tidak melihat Fiona bergabung bersama di ruang tengah..dan mendadak ingat akan perkataannya beberapa hari lalu.
Sebenarnya sudah daritadi aku menahan rasa yang bergejolak di tubuhku. Tapi karena kelihaian-ku dalam menutupi sesuatu, orang-orang tidak menyadarinya. Hanya mama satu-satunya orang yang peka. Untungnya aku tidak bereaksi berlebihan. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sudah mulai membaik.
TOKKK...TOKKK...TOKK
Pintu kamar mandi ini diketuk dari luar, sepertinya itu Arga. Tadi aku memang berjalan cepat meninggalkannya secara tiba-tiba...saat dia memberitahuku dimana Fiona berada.
"Kak Ian, are you okay inside?", ucap Arga.
(Kak Ian, apakah kakak baik-baik saja didalam)
Mengetahui Arga yang sedang menunggu, aku langsung memutar knob pintu dan keluar dari kamar mandi. "I'm completely fine, kakak barusan buang air kecil aja."
Arga mengerutkan dahinya dan bertanya, "Are you sure Kak? you look so pale and you're sweating..."
(Apakah kakak yakin? Kakak terlihat sangat pucat dan berkeringat...)
Ini sudah waktunya aku untuk minum obat, aku akan meminta Arga untuk mengambil air minum supaya perhatiannya teralihkan dan dia tidak curiga, "Boleh tolong ambilkan kakak air minum?"
__ADS_1
"Okay kak, aku ambilin..tunggu ya..." jawab Arga.
Sambil menunggu Arga mengambil membawa air minum di dapur, aku mengambil tisu untuk mengelap keringatku yang mulai bercucuran.
"Kak Ian..." terdengar suara lirihan yang tiba-tiba muncul entah darimana.
Saat aku menoleh, ternyata Fiona berada dibelakangku. Kemungkinan dia menguping pembicaraanku dengan Arga tadi, makanya dia datang membawa segelas air putih yang sudah pasti untukku.
"Ini Kak, aku bawa air putih untuk kakak!' tepat seperti dugaanku.
"Makasih" jawabku singkat seraya mengambil segelas air itu dari tangannya.
Aku mengeluarkan sebotol obat yang berisi suplemenku. Aku tidak merasa sungkan membukanya didepan Fiona. Ini sudah bukan rahasia umum lagi, orang tua dan adik-adikku tahu mengenai hal ini.
Aku bisa melihat ketegangan diraut wajah Fiona, "Kamu kenapa Fio, mau bicara sesuatu sama kakak?"
"Apa kakak masih marah sama aku?" tanya Fiona. Sedangkan aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku masih ingin mendengar lebih jauh, pembelaan apa yang akan diucapkan Fiona.
"Aku minta maaf ya kak, please maafin aku..aku gak bisa terus dicuekin sama Kak Ian kayak gini..."
"Tergantung!" Fiona membelalakkan kedua bola matanya mendengar jawabanku.
Aku memang sayang pada adik-adikku. Tapi kalau mereka berbuat salah ya tetap salah, tidak akan aku tolerir.
"Jangan diulangi lagi! Kita semua sama-sama tahu kakak paling enggak suka membahas tentang itu."
"Iya kak..aku janji enggak akan ungkit-ungkit soal itu lagi deh...maafin aku yang udah lancang..aku kapok! Beneran!" Fiona mengacungkan dua jarinya membentuk peace.
Rasanya tak tega melihat Fiona ketakutan seperti ini, dia benar-benar menyesal. Aku pun berjalan kearah Fiona dan memeluknya, "Kakak maafin kamu Fio!"
"Beneran kak?" Fiona meragukannya.
"Iya, udah jangan nangis lagi!" Fiona mengangguk kecil. Setelah kami berdua melepaskan pelukan, aku mengusap air matanya yang jatuh di pipi.
__ADS_1
"Buruan ke ruang tengah sana! Kakak ada bawain oleh-oleh buat kamu dari Barcelona! Nanti punya kamu keburu diambil Athena!"
"Really? Thank you kak..I love you so much," Fiona melebarkan senyumannya dan mencubit kedua pipiku.
***
Setelah acara buka oleh-oleh di ruang tamu selesai, kami bertujuh menuju tempat makan yang terletak di taman belakang rumah untuk menikmati makan siang bersama.
Mama benar-benar serius saat berkata bahwa dia memasak makanan yang banyak hari ini. Bahkan menu-menu yang tersedia diatas meja adalah makanan kesukaanku semua.
"Ayo sayang dimakan...Mama ambilin yah, kesiniin piring kamu!" Mama menawarkanku.
Aku kemudian menyerahkan piringku ke mama. Setelahnya Mama mulai mengisi piringku dengan berbagai macam makanan. "Mah, udah..jangan banyak-banyak nanti enggak habis!" kataku pada Mama.
"Gak apa-apa sayang, biar kenyang..ini Mama masak banyak buat kamu juga!" sejujurnya, aku agak sedikit tercengang melihat porsinya. Tapi ya sudahlah, terlanjur juga.
"Mama pilih kasih tuh, sayangnya sama Kak Ian aja..yang diperhatiin dari tadi Kak Ian terus!!" protes Arga yang melihat Mama mengambilkan makanan untukku.
"Bener Arga, Papa aja yang suaminya malah gak diambilin makanan. Langsung ke Adrian...mana ini semua makanan kesukaan Adrian lagi!" ucap Papa dengan nada bercanda.
Athena yang tadinya diam jadi ikut-ikutan menambahi, "Iya nih..aku juga mau diambilin makan sama Mama!"
Mendengar itu, Mama mulai mengomeli adik-adikku, "Aduh..masa gitu aja iri, kakak kalian itu kan jarang-jarang kesini..jadi wajar mama kasih perhatian lebih! Udah pada gede masih rebutan perhatian aja sih...ini juga Papa, udah tua ikut-ikutan jealous!", kata Mama.
"Iya Mah..cuman bercanda tadi..ya udah yuk kita makan siang aja, papa udah laper nih!"
Hari Minggu yang cerah ini pun kami habiskan dengan makan siang bersama. Sesekali kami juga bercanda ria untuk mengusir kesunyian. Mama dan Athena membahas baju-baju keluaran terbaru dari brand ternama untuk edisi musim panas. Fiona dan Arga yang berniat untuk pergi ke konser musik bersama. Sedangkan papa dan aku berbincang-bincang tentang bisnis, kami sedikit bertukar pikiran tentang perkembangan ekspansi perusahaan Natadipura Group.
Untuk urusan bisnis, Papa memang lebih lama terjun dalam dunia itu dan sangat berpengalaman. Tapi kalau berbicara tentang kesuksesan, aku jauh lebih unggul dibandingkan Papa.
Adrian Corps saja sudah 5 langkah lebih maju dari Natadipura Group. Maka dari itu, Papa dan Arjuna banyak meminta banyak saran dariku. Terutama Arjuna, dia sangat excited sekali kalau membahas tentang bisnis. Maklum, saat ini Arjuna sedang dalam proses belajar, jadi aku memberikan banyak masukan untuknya.
__ADS_1
Ternyata rasanya tidak terlalu buruk, jika menghabiskan waktu weekend bersama keluarga...